Kisah Cinta Gadis Desa

Kisah Cinta Gadis Desa
Kesembuhan Sabrina


__ADS_3

"Wah, ini sangatlah perkembangan yang luar biasa. Kamu adik yang hebat." Ucap suster itu sambil memuji.


Yeon pun mencium kepala kakaknya. Dan Yeon juga memeluk kakaknya. Keadaan Sabrina semakin hari semakin membaik.


Tidak terasa, 5 bulan sudah Sabrina berada di dalam rumah sakit jiwa. Yeon selalu rajin dan setia menjenguk kakaknya. Tiba-tiba Yeon mendapat telfon dari rumah sakit. Pihak rumah sakit, menyuruh Yeon untuk segera datang.


Yeon sangat panik takut terjadi apa-apa dengan kakak kesayangannya. Yeon pun cepat bergegas untuk melihat keadaan kakaknya.


"Ya Tuhan, ada apa lagi dengan kakak ku.. tolong.. beri dia kesehatan. Sudah cukup Dia menderita." Pikirnya sangat panik.


Sesampainya di rumah sakit, Yeon Seok segera berlari menuju ruangan Sabrina. Vadim tidak menemukan Sabrina di ruangannya.


Vadim merasa kebingungan. Iya bertanya dimana kakaknya berada kepada perawat. Perawat pun tidak menjawab pertanyaan Yeon. Yeon mengguncang tubuh perawat itu namun, iya hanya diam saja.


"Ya, Tuhan.. ada apa lagi dengan kakakku? Aku mohon, hentikan penderitaannya ya Tuhan.." Lirihnya sambil berdiri setengah lutut dan menutup kedua tangannya.


"Yeon.." Suara seseorang memanggil dari belakang. Seketika tangis Yeon terhenti. Dan Yeon Seok pun menoleh ke belakang. Yeon tercengang dengan apa yang Iya lihat.


"Kakak?" Sapanya terkejut. Kemudian Sabrina pun membuka kedua tangannya memberi isyarat untuk memeluknya. Yeon pun berlari dan memeluk kakaknya.


"Ini kakak kan?" Ucapnya tidak percaya. Sabrina pun melepas pelukannya.


"Iya, ini kakak.. seperti yang kamu lihat." Ujarnya sambil tersenyum bahagia. Yeon terharu melihat kakaknya sudah sembuh. Dan seakan-akan Yeon tidak percaya dengan apa yang dilihat hari ini.


Suasana baru itu mampu membuat orang yang melihat ikut terharu. Dokter dan perawat pun ikut meneteskan air mata karena terharu. Sungguh ini adalah kejutan yang luar biasa untuk Yeon.


"Kakak.. Jangan tinggalin Yeon lagi ya kak? Kakak harus janji sama Yeon, kalau kakak akan selalu bahagia." Ujar Yeon Seok.

__ADS_1


"Iya, kakak janji dek.. maafin kakak ya dek.. kakak selalu membebani kami.." Ucapnya.


"Kakak bicara apa sih kak.. Jangan ngomong begitu. kakak sungguh menyakitiku.." Jawab Yeon. Mereka pun berpelukan lagi.


Kerinduan yang dirasakan oleh seorang adik kepada kakaknya. Kini sudah terobati. Yeon dan Sabrina adalah adik kakak yang saling menyayangi. Meskipun mereka bukanlah saudara kandung. Yeon masih belum mengetahui siapa jati dirinya.


Sabrina selalu menutupi siapa jati diri Yeon selama ini. Hal itu tidak penting bagi Sabrina. Siapapun Yeon, Sabrina tetap sayang terhadap Yeon. Bagi Sabrina Yeon tetaplah adik Sabrina sampai kapanpun.


...****************...


Pernikahan Vadim dan melisa sudah berjalan dua bulan. Vadim merasa ada perubahan terhadap Melisa. Vadim merasakan bahwa melisa sangat malas. Vadim membuka tutup makanan di meja makan. Vadim kaget ketika tidak ada makanan sama sekali di meja makan.


"Sayang, kamu tidak masak?" Tanya Vadim.


"Ya enggak dong sayang, kamu kan bisa beli di restoran atau pesan melalui go food." Ucapnya enteng. Vadim menggelengkan kepala heran.


Vadim pun menyiapkan baju dan kemejanya sendiri ke kantor. Vadim melihat bajunya sudah habis di lemari. Hanya tinggal kemeja satu. Tidak ada lagi Vadim pun menggunakan itu ke kantor. Kemeja yang dikenakan Vadim sangatlah tidak rapi.


"Loh, kan bisa cuci di London sayang.. Udah ah Aku mau pergi." Ucapnya lagi.


"Kamu mau kemana?" Tanya Vadim.


"Aku mau pergi sama teman." Jawabnya singkat.


Vadim pun menghela nafas dengan kasar. Vadim tidak habis pikir dengan sikap istrinya itu. Vadim pun langsung berangkat ke kantor. Sesampainya di kantor, Vadim menjadi pusat perhatian para karyawannya.


Vadim terlihat perubahan yang drastis di mata karyawannya. Karyawannya melihat Vadim akhir-akhir ini sangatlah tidak rapi. Dan terlihat lusuh. Penampilan Vadim tidak menjiwai seorang CEO.

__ADS_1


"Kasian pak Vadim ya.. semenjak menikah dengan melisa pak Vadim tidak terawat." Kata salah satu karyawannya.


"Iya, coba deh lihat.. pak Vadim sangat tidak rapih, dan bukan seperti seorang bos." Ujar yang lain.


"Beda ya.. ketika pak Vadim bersama Ibu Sabrina, Pak Vadim terlihat tampan dan rapi. Sampai-sampai kita ga menyangka kalau dia sudah beristri. Tapi sekarang, pak Vadim berubah 180 derajat." Ujar yang lain dan terus asyik ngegosip bosnya.


"Hush hush hush.. bubar, bubar.. jangan pada ngegosip. Mending, kalian kerja yang benar sana." Usir sekertaris. Mereka pun langsung bubar bergosip.


"Dasar karyawan laknat.. bisa-bisanya mereka ngegosip seorang bos.." Ujar sekertaris sambil menggelengkan kepala.


Setiap hari melisa selalu seperti itu. Sehingga membuat vadim habis kesabaran. Melisa selalu menghamburkan uang untuk berbelanja hal yang tidak penting. Kesukaan melisa adalah mengoleksi barang-barang branded hingga menghabiskan uang puluhan juta perharinya.


Dan Vadim pun merasa bahwa Dia tidak mendapat perhatian dari melisa. Vadim merasa bahwa melisa hanya menikah dengan uang Vadim saja.


"Sayang, kenapa sih kamu tidak pernah masak? Dan kenapa baju-baju Aku tidak ada yang kamu setrika? Melisa kamu itu istri Aku loh." Ujarnya hilang kesabaran.


"Duh, ribet banget sih kamu jadi suami. Memangnya Aku itu pembantu kamu? Aku istri kamu.. harusnya kamu itu jadikan Aku ratu. Dan lagian uang kamu banyak, kenapa ga beli aja.. tinggal pesan doang ribet banget. Itu baju kamu juga. kan bisa kamu laundry.. ribet banget hidup lo.." Jawab melisa enteng.


"Dulu waktu Sabrina jadi istri Aku, selalu masak buat Aku. Dan Dia selalu mencuci baju Aku. Bahkan baju-baju Aku terlihat rapi. Dan dia selalu menyiapkan semua keperluan Aku ketika berangkat ke kantor." Ujarnya tanpa sadar.


"Oh iya? Itu kan Sabrina. Dia kan memang bodoh, mau saja melayani kamu.. dan karena kebodohannya dia, Dia sampai rela menjadi pembantu kamu.. Kalau Aku sih ogah. Lagian kan sudah keputusan kamu mau menikah dengan ku. Bukannya kamu sudah janji, mau menerima Aku apa adanya? Ya sudah Terima saja. Kamu kan sudah tahu sebelumnya kalau Aku kayak gini." Ucap melisa sambil terus berceloteh.


Vadim pun tertegun dengan ucapan melisa. Vadim seperti merasa terpukul dengan ucapan melisa. Dan melisa pun langsung pergi tanpa mempedulikan Vadim. Vadim hanya mematung melihat melisa pergi.


Selama ini, Vadim membayangkan akan bahagia ketika menikah dengan melisa. Vadim mengira bahwa melisa akan memberi perhatian lebih untuknya. Ternyata Vadim salah. Melisa tetaplah melisa yang tetap pada matre nya.


Vadim merasa tidak ada gunanya memiliki istri. Karena melisa hanyalah sibuk dengan dunianya sendiri. Vadim pun mulai teringat kepada Sabrina. Dulu waktu Sabrina masih menjadi istri Vadim, Vadim tidak merasa kesulitan.

__ADS_1


Vadim ingat, ketika Sabrina dengan tulus merawatnya ketika iya sakit dan dinyatakan lumpuh permanen. Vadim baru menyadari, bahwa yang tidak menerima dia adalah melisa ketika dia lumpuh. Vadim sadar, bahwa Sabrina yang selalu setia merawat, dan berusaha keras untuk kesembuhannya.


Yang selalu ada ketika dirinya sedang terpuruk adalah Sabrina. Vadim baru sadar dan menyesali perbuatannya terhadap Sabrina. Iya menyesali, kenapa selama ini gantinya tertutup dan tidak melihat ketulusan Sabrina. Dia juga menyesal bahwa Iya telah menyia-nyiakan Sabrina. Istri yang sangat baik dan tangguh.


__ADS_2