
Yeon Seok merasa sesak dan sakit ketika membaca diary Sabrina. Ternyata Sabrina sangat merindukan dirinya.
Yeon Seok merasa kesal dengan Vadim. Ternyata, selama ini Vadim tidak memperlakukan Dia dengan baik. Selama ini ternyata Vadim memperlakukan Dia dengan buruk.
Yeon Seok pun segera bergegas untuk mendatangi kantor Vadim. Dan Yeon Seok berniat untuk memberi pelajaran terhadapnya.
Yeon Seok dihalangi oleh penjaga ketika ingin masuk kantor. Yeon Seok yang cerdik, menghadapi mereka dengan cara elegan.
"Saya ada janji dengan bos kalian. Kalau kalian menghalangi jalan saya.. maka saya pastikan, kalian tidak lagi bekerja disini besok.." Ucap Yeon. Dan penjaga pun memberikan jalan terhadap Yeon Seok.
Yeon Seok pun berjalan menuju ruangan Vadim. Dan dengan langkah yang elegan, Yeon menjadi pusat perhatian cewek-cewek kantor. Mereka melihat Yeon sangat tampan. Dengan segera, Yeon langsung masuk ke ruangan Vadim.
Yeon melihat Vadim sedang bermesraan dengan melisa. Vadim dan melisa pun kaget melihat Yeon. Vadim pun langsung berdiri dan menatap Yeon.
"Hei, siapa kamu? Beraninya masuk kesini." Ucap Vadim. Vadim pun langsung menarik kerah baju Vadim. Dan langsung memukulnya.
"Dasar cowok brengsek." Ucap Vadim.
"Hei, you crazy.. Siapa kamu?" Tanya Vadim tidak mengerti. Dengan cepat, Melisa memanggil security. Dan Security pun segera datang. Mereka memegangi Yeon Seok. Namun, Yeon Seok berhasil melepaskan diri.
"Tunggu, kalian ga perlu memegangi saya.. karena sebentar lagi, saya akan pergi dari sini. Saya hanya perlu sebentar dengan orang ini." Ujarnya sambil menunjuk ke arah Vadim.
"Aku tahu kamu adalah suami dari kakak Aku, Sabrina. Aku tahu, selama ini kamu tidak memperlakukan dia dengan baik. Selama ini kakakku menderita gara-gara perbuatan kamu. Ketulusan kakak Aku, tidak ada artinya bagi kamu. Suami macam apa kamu?" Sambil menunjuk ke arah Vadim.
"Tap, tap, tap," Suara tepuk tangan Yeon Seok.
"Selamat tuan Vadim, anda telah berhasil membuat kakak saya hancur. Selamat Anda telah berhasil merusak mental kakak saya. Dan selamat, kamu sudah membuat keponakan saya meninggal. Padahal Dia adalah darah daging kamu sendiri. Tapi kamu tega membiarkan dia tidak dapat tertolong. Hanya demi perempuan ini." Ujar Yeon dengan penuh amarah. Vadim hanya terdiam.
"Tuan Vadim, awalnya saya mendukung hubungan kalian. Tapi, sekarang saya tidak akan membiarkan kakak saya bertemu dengan anda. Saya kecewa dengan anda. Sekarang kamu lihat ini! Lihat kondisi kakak saya sekarang, Dia depresi berat gara-gara perbuatan anda. Puas kamu sekarang?" Kata Yeon dengan air mata karena rasa marah. Dan Yeon pun memperlihatkan video Sabrina yang berada di rumah sakit jiwa.
Setelah puas melampiaskan kekesalan, Yeon Seok pun pergi. Vadim masih tertegun dengan perkataan Yeon Seok.
__ADS_1
...****************...
Yeon Seok menghadiri pertemuan dengan Mr. chan. Yeon Seok masih kepikiran dengan kakaknya. Yeon Seok tidak fokus dengan pembicaraan Mr. chan.
Mr. chan yang sangat pengertian, tidak menegur Yeon Seok. Selesai acara meeting, Mr. Chan memegang pundak Yeon Seok yang terlihat murung.
"Tuan Yeon, ada dengan kamu? Kenapa kamu terlihat murung?" Tanya Mr. Chan penuh perhatian.
"Maafkan saya Mr. Chan, saya tidak fokus di acara meeting ini. Saya sedang memikirkan kakak saya yang mengalami depresi berat." Jawab Yeon Seok.
"Kenapa bisa?" Mr.Chan semakin penasaran.
Yeon Seok pun menceritakan semua tentang hal yang membuat kakaknya depresi parah. Mr. Chan mendengarkan cerita Yeon dengan seksama.
"Yeon, saya turut prihatin dengan hal yang menimpa kakak kamu.. Semoga kakak kamu cepat pulih." Ujarnya menyampaikan rasa empatinya.
***
Sabrina yang menggunakan baju putih, rambut terurai dan berantakan duduk terdiam dan menatap dengan pandangan kosong. Sabrina sambil mengayun-ayunkan dirinya.
"Kakak, Ini Yeon kak.. Yeon rindu dengan kakak.. Yeon ingin kita bersama-sama lagi seperti dulu kak.. Yeon mohon, kakak cepat kembali.." Ujar Yeon sambil menangis. Yeon pun memberanikan diri memeluk kakaknya.
Pelukan hangat dari seorang adik membuat Sabrina merasa tenang. Sabrina tidak mengamuk. Sabrina seperti merasa nyaman ketika Yeon memeluk.
"Yeon pulang dulu ya kak.. Besok Yeon kesini lagi jenguk kakak.." Ujarnya sambil mencium kening kakaknya.
Sebenarnya berat bagi Yeon meninggalkan kakaknya. Tapi mau bagaimana lagi, ini semua demi kebaikan kakaknya. Yeon berharap, kakaknya cepat pulih.
***
Vadim pun merenungi ucapan Yeon tadi pagi. Entah mengapa seperti ada perasaan bersalah di hati Vadim.
__ADS_1
"Eits, cukup Vadim, jangan pernah memikirkan Sabrina. Bukankah ini yang kamu mau? Sabrina pergi itukan kemauan kamu." Ujarnya ingin masa bodoh.
"Vadim.." Vadim mulai berhalusinasi Sabrina memanggil dirinya dengan senyum. Vadim pun mengucek kedua matanya. Dan Vadim pun tidak ingin melihatnya lagi.
Vadim pun mulai menutup mata agar dapat melupakan bayangan Sabrina. Untuk menghilangkan kejenuhan, Vadim pun menelfon melisa. Tapi, telfon melisa malah dirijek. Vadim pun sangat kesal. Lalu Vadim tidur dengan menutupi wajahnya dengan selimut.
Namun Vadim tidak dapat tidur. Iya terus kepikiran tentang Sabrina. Akhirnya Vadim pun pindah ke ruang tengah. Vadim pun langsung menonton film kesayangannya. Dan disitulah Vadim mulai melupakan hal yang mengganggu pikirannya.
Tidak terasa Vadim pun tertidur dengan membiarkan TV menyala.
Seorang anak kecil dengan wajah tampan, putih dan menggunakan baju putih. Anak kecil itu melihat ke arah Vadim. Anak kecil itu memberikan senyuman kepada Vadim. Vadim juga membalas senyuman anak kecil itu.
Vadim pun menghampiri anak kecil tersebut. Dan berjongkok di hadapannya. Vadim sangat menyukai anak kecil itu.
"Hai, siapa namamu?" Tanya Vadim.
"Nanda papa.." Ucap anak kecil itu.
"Nanda.. Ayo kita pergi sayang.." Panggil seseorang di belakang anak itu. Anak itu pun langsungnya menoleh ke belakang.
"Mama.." Panggil Nanda.
Sabrina pun menggendong Nanda. Nanda dan Sabrina menoleh ke arah Vadim. Dan mereka melambaikan tangan. Vadim mengejar mereka. Namun, mereka terlalu cepat berjalan.
Tiba-tiba Vadim terbangun dari tidurnya. Ternyata hanya mimpi. Vadim hampir jantungan dengan mimpinya. Vadim pun kembali ke kamar. Dan di kamar, tidak sengaja menemukan foto hasil USG. Ternyata USG itu adalah milik Sabrina.
Vadim senyum-senyum sendiri melihat hasil USG itu. Ternyata foto janin itu terlihat lucu.
"Lucunya kamu nak.. Ternyata ini anak Aku.." Ucap Vadim tanpa sadar. Entah mengapa Vadim hatinya seperti terenyuh. Ketika melihat foto tersebut.
"Maafin papa.. papa tidak bisa menjaga kamu sayang.." Ucapnya lirih.
__ADS_1
Vadim pun menaruh benda itu dengan baik. Vadim berencana ingin mengunjungi makam anaknya besok pagi. Entah perasaan seorang ayah timbul.