
"Hai, sudah lama nunggunya?" Ucap Sabrina sembari menggeser kursi kemudian mendaratkan bokongnya ke kursi restoran.
"Enggak kok.. Aku juga baru sampai disini." Ucap Yeon. Sembari mengaduk minuman dengan sedotan.
"Tumben kamu memanggil kakak kesini? Kan kita bisa omongin di rumah." Ucapnya sambil menyeruput minuman.
"Ada sesuatu yang ingin Aku omongin sama kakak.." Ucap Yeon dengan mimik wajah serius.
"Apa dek?" Sabrina penasaran.
"Kak, Aku merindukan niki, adik perempuan kita. Apa kabarnya ya?" Ucapnya sembari mengaduk minuman dengan wajahnya yang menghadap ke meja. Dan terpampang raut wajah sedih.
"Dek, kakak juga kangen sama Niki. Sudah sangat lama kakak tidak menemuinya. kakak juga rindu dengan Ayah dan Ibu di sana." Ucap Sabrina sembari menggenggam tangan Yeon.
Niki adalah adik perempuan mereka. Semenjak Sabrina dibawa oleh angela, Sabrina tidak pernah bertemu dengan Niki lagi. Karena Niki harus menyelesaikan sekolahnya.
Sementara Yeon, Iya tidak lagi bertemu dengan Niki semenjak Yeon memutuskan untuk kuliah dan meraih cita-citanya. Sekarang cita Yeon Seok sudah tercapai.
Sedangkan Niki, mereka tidak tahu nasibnya sekarang. Dan mereka juga rindu terhadap orang tua mereka. Dalam semester ini, mereka berencana untuk terbang ke tempat asal mereka. Mereka ingin mengunjungi orang tua mereka.
Selesai makan, mereka langsung menuju keluar restoran hendak ingin pulang. Sementara Vadim dan Mr Xx juga ingin langsung keluar dari restoran itu hendak menuju ke hotel.
Sabrina, Yeon dan Vadim, Mr Xx keluar secara bersamaan. Namun mereka tidak menyadarinya. Tiba-tiba saja petir menggelegar. Hujan pun segera turun. Terpaksa Sabrina dan Yeon menunda untuk pulang. Begitu juga dengan Vadim dan Mr Xx juga menunda untuk kembali ke hotel. Karena hujan turun dengan sangat lebat.
Sabrina dan Vadim berdiri berdampingan sembari menyilangkan kedua tangannya sambil mengusap lengannya karena dingin. Hujan turun dengan sangat deras dan berdurasi cukup lama.
Sabrina dan Vadim tidak menyadari keberadaan satu sama lain. Sabrina hanya fokus menunggu hujan reda. Kemudian, Yeon Seok pun membukakan payung untuk Sabrina dan dirinya menuju mobil.
Mereka pun menuju mobil terlebih dahulu. Dengan segera, Sabrina menyalakan mobilnya dan segera melajukan mobilnya. Dan diikuti oleh Yeon.
Sesampainya di rumah, Sabrina langsung menuju ke kamarnya untuk berganti pakaian. Tiba-tiba HP Sabrina berdering. Sabrina mengambil HPnya yang terletak dalam tasnya.
Sabrina melihat siapa yang menelfon di layar HPnya. Ternyata seorang sekertaris kantornya menghubunginya. Iya mengatakan bahwa besok, kantornya akan kedatangan tamu. Dan tamu itu berasal dari negara asalnya.
...****************...
Pagi mulai menyapa. Sabrina menyiapkan makanan untuk sarapan pagi. Setelah semuanya selesai, Sabrina segera memanggil Yeon Seok untuk segera turun dan sarapan pagi.
Tak lama Yeon Seok pun turun. Yeon Seok terkejut dengan menu makanan yang dimasak oleh Sabrina. Yeon Seok langsung menggeser kursi makannya dan mendaratkan bokongnya.
__ADS_1
Yeon Seok mencium aroma makanan di meja makan. Yeon Seok sangat menyukai aroma makanan yang baru saja selesai dimasak oleh Sabrina.
"Sudah ga di ragukan lagi, kakak memang jago dalam memasak.." Ucapnya memuji. Sabrina hanya tersenyum kecil mendengar pujian dari adiknya.
Mereka pun menikmati sarapan pagi. Tiba-tiba, bel rumah berbunyi. Yeon ingin beranjak dari tempat makan hendak membuka pintu. Namun, Sabrina menahannya.
"Biar kakak saja yang buka. Kamu lanjutin makan dulu." Sabrina pun beranjak dari tempat makan. Dan segera berjalan cepat menuju pintu.
Sabrina membukakan pintu rumahnya. Dan Sabrina tertegun ketika melihat siapa yang datang.
"Yeon ada di rumah?" Tanya Dae Hyun sembari menaikkan alisnya.
"Ada. Lagi sarapan. Kamu sudah sarapan belum?" Sabrina mengangguk dan menjawab pelan.
"Kebetulan sekali, Aku belum sarapan." Ujarnya sembari mengulas senyum.
"Kalau begitu kita sarapan bareng yuk.." Ajak Sabrina.
Dae pun ikut sarapan bareng bersama Sabrina dan Yeon. Dae sudah tidak heran dengan masakan Sabrina. Karena Dae sudah sering mencicipi semua masakan Sabrina.
Diam-diam, Dae melirik Sabrina. dan merasa Sabrina semakin hari semakin cantik. Ingin sekali Dae mengungkapkan perasaannya. Namun, Iya tidak memiliki keberanian.
...****************...
Sabrina telah tiba di kantor. Sabrina memarkirkan mobilnya dengan gaya elegan. Setelah itu, Sabrina membuka pintu mobil dan langsung turun dari mobilnya. dan segera menutup pintunya.
Sabrina berjalan menuju kantor dengan langkah gontai. Sekertaris dan semua karyawan menyambut Sabrina. Sabrina membalas sambutan mereka dengan ramah.
"Tamunya sudah menunggu Ibu di ruang tunggu." Ujar sekertaris.
"Ok, saya akan segera ke sana." Jawabnya. Sabrina pun langsung menuju ke ruangan itu.
Setelah sampai di sana, Sabrina langsung memasuki ruang tunggu. Sabrina melihat dua orang laki-laki yang sedang duduk di sofa ruangan.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" Sambil berjalan mendekati kedua tamunya. Dan kedua laki-laki itu berdiri.
Sabrina kaget melihat siapa yang ada di depannya. Seketika Sabrina menjadi tertegun melihatnya. Laki-laki itu juga tertegun melihat Sabrina.
"Sabrina.." sapanya dengan memberi senyum karena merasa sangat bahagia ketika bertemu Sabrina.
__ADS_1
"Vadim.." Ucapnya. Sabrina menelan salivanya sendiri sembari memalingkan wajah dengan menunduk. Sabrina tidak membalas senyum Vadim sedikitpun.
"Apa kabar nona Sabrina?" Sapa Mr Xx. membuat Sabrina berpaling ke arahnya.
"Saya baik." Ucapnya singkat.
"Nona, saya banyak melihat berita tentang Anda. Saya sangat salut dengan kehebatan Anda. Dan setelah saya pikir-pikir, saya ingin mengajukan kerjasama dengan Anda. Dan dibantu nantinya dibantu oleh bapak Vadim." Ucapnya tak lupa memberi senyum.
"Boleh saya pelajari dulu proposalnya?" Pinta Sabrina.
"Oh boleh, silahkan.. ini proposalnya." Memberikan sebuah proposal kepada Sabrina. Sabrina pun mengambil dengan sopan.
"Ok, saya akan pelajari dulu.. Dan tunggu kabar selanjutnya dari saya." Ucapnya tegas. Mr Xx itu mengangguk, tak lama kemudian mereka berpamitan.
"Senang bertemu dengan anda hari ini." Ucapnya sembari mengulurkan tangannya ingin berjabat tangan.
"Terimakasih.. saya juga senang bertemu dengan Anda." Membalas uluran tangan Mr Xx.
Vadim juga mengulurkan tangannya kepada Sabrina dan Sabrina pun juga membalas uluran tangan Vadim. Sabrina terlihat biasa saja ketika melihat Vadim.
Entah apa yang dirasakannya, Tetapi Sabrina harus profesional dalam bekerja. Meskipun perasaannya bercampur aduk.
...****************...
Sabrina melihat jam di tangannya. Ternyata tidak terasa waktunya sudah pulang. Sabrina membereskan Semua berkas-berkas. Setelah itu, Sabrina pun langsung keluar ruangan dan menuju parkiran.
Ketika hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba ada yang memanggil Sabrina dari belakang. Seketika Sabrina mengurungkan niatnya untuk membuka pintu mobil dan menutupnya kembali.
"Vadim.." Ucapnya.
Tanpa berkata apa-apa, Vadim pun langsung bertekuk lutut di hadapan Sabrina. Air matanya mengalir di kedua pipinya. Sabrina yang melihat itu dengan reflek menelan salivanya.
"Apa yang kamu lakukan? Bangun Vadim." Sembari sedikit membungkukkan badan.
"Sabrina, Maafkan Aku.. Aku sudah terlalu banyak menyakiti kamu.. Aku minta maaf." Ucapnya sambil memeluk kaki Sabrina.
"Vadim bangun.. malu dilihat orang." Ucap Sabrina. Vadim pun berdiri kembali.
"Sabrina, selama ini Aku mencari kamu.. Aku sadar bahwa kamu adalah perempuan yang baik. Selama ini Aku terlalu buta untuk melihat ketulusan kamu. Sabrina maukah kamu kembali kepadaku?" Ucapnya penuh ketulusan.
__ADS_1
"Vadim, hubungan kita sudah lama berakhir, Aku sudah memaafkan kamu.. Tapi Aku tidak bisa kembali ke kamu.." Ucap Sabrina.