Kisah Cinta Gadis Desa

Kisah Cinta Gadis Desa
Apa maksudnya


__ADS_3

Sementara Dae terus saja menolak.


"Indri. Lepaskan.." Tolaknya.


"Aku ga akan lepasin kamu.." Ucap Indri.


Indri terus saja memeluk tubuh Dae, bahkan iya mulai membuka kancing baju Dae.


Cek lek!


Tiba-tiba seseorang sedang membuka pintu ruangan Dae.


Orang tersebut adalah Sabrina. Sabrina sedikit tersentak dengan adegan yang iya lihat di depan matanya.


"Dae.." Ucapnya. Seketika Dae dan Indri terhenyak. Dae segera mendorong Indri dengan sekuat tenaganya. Dae langsung menghampiri istrinya.


"Sabrina.. Sayang.." Ucapnya dengan memandang wajah Sabrina yang penuh pertanyaan.


Sabrina melihat kancing baju Dae yang terbuka. Dan menatap wajahnya kembali. Dae segera menyadari bahwa kancing bajunya terlepas. Dan segera memperbaikinya.


"Sayang, kamu jangan salah paham dulu.. Indri duluan yang mulai.. Dia berusaha menjebak ku. Dan Aku dari tadi menolak.. tolong percaya sama Aku Sabrina.." Ucapnya.


Tanpa sepatah katapun keluar dari mulut Sabrina. Iya terus memandang wajah suaminya. Sabrina pun menyunggingkan bibirnya. Iya kemudian berjalan ke arah Indri.


Kini Sabrina sudah berdiri di hadapan Indri. Sabrina melihat kancing baju Indri juga terbuka. Rambutnya pun acak-acakan.


Indri hanya tersenyum kemenangan.


Plak!


Sebuah tamparan melayang di wajah Indri. Indri pun memegang wajahnya karena merasa sakit.


Plak!


Sekali lagi, Sabrina menampar wajah Indri. Tanpa banyak kata-kata, belum reda pipi yang satunya, ditambah lagi tamparan yang kedua.


"Tamparan ini, ga ada apa-apanya.. dibanding dengan sakitnya hati kamu hari ini.. Ini tisu buat kamu.." Ucap Indri sembari menyodorkan sebuah tisu.


"Kamu pikir Aku bakalan sakit hati dengan semua ini? Oh.. kamu salah.. Aku lebih percaya suami Aku ketimbang kamu. Suami Aku ga mungkin tergoda dengan perempuan kuman seperti kamu. Atau, Jangan-jangan kamu lagi yang kebelet kawin.. sehingga suami orang pun kamu jadikan korban.. Kamu itu memang perempuan yang ga tahu malu ya.." Ucapnya yang dalam.


Indri dibuat emosi dengan perkataan Sabrina.

__ADS_1


"Dan ini punya kamu kan?" Menunjukkan lipstik milik Indri.


"Aku tahu, kamu sengaja kan.. meletakkan lipstik itu ke saku suami saya? Aku tahu kok apa yang ada di pikiran kamu. Tapi sayangnya, Aku sama sekali tidak terpengaruh dengan fitnah itu." Ucapnya tegas.


"Nih Aku kembalikan tisunya buat kamu. Siapa tahu kamu butuh.." Ucapnya sembari melempar tisu itu.


Sabrina pun membawa Dae pergi dari kantornya. Sabrina tersenyum penuh kemenangan. Sementara Indri, merasa sangat kesal karena rencananya gagal. Maksud hati iya ingin membuat Sabrina dan Dae bertengkar hebat.


Namun nyatanya, Iya yang kena senggol oleh Sabrina.


"Sial! Ternyata Sabrina tidak dapat dibodohi. Awas aja kamu Sabrina.. Suatu saat, Aku pasti dapatin Dae. Liat aja nanti Sabrina.." Gerutunya masih tidak ada jeranya.


...****************...


Sabrina dan Dae pergi ke sebuah restoran. Mereka menikmati makan siang di restoran tersebut. Sesekali Dae memandang wajah istrinya yang tanpa senyum.


"Sayang.. Aku ga nyangka kalau kamu akan sadis seperti tadi ke Indri." Ucapnya.


"Kenapa memangnya kalau Aku sadis?" Tanya Sabrina dengan raut wajah datar.


"Ya enggak apa-apa sayang.. malah Aku senang jika istriku bersikap demikian. Aku bangga sama kamu, karena rasa percaya kamu ke Aku sangat dalam.. Terimakasih ya sayang? Aku tidak akan pernah menjatuhkan kepercayaan kamu.." Ucapnya dengan memuji.


"Iya sayang.. Aku percaya kok.. bahwa Indri itu cuma menjebak kamu saja.. Aku sudah mengatakan kalau lebih kenal kamu daripada Indri. Dan, Aku tidak akan pernah percaya lagi sama kamu, kalau sendiri yang menunjukkannya ke Aku." Ucapnya.


Selesai makan siang, Dae dan Sabrina kembali ke kantor. Sesampainya di sana, Iya masih mendapati Indri. Sabrina menatap Indri dengan tatapan sinis.


"Kamu ngapain masih disini?" Tanya Sabrina.


"Ya kerja lah.. memangnya ga boleh? Kan selama tender itu belum mulai Aku akan dampingi pekerjaan suami kamu.." Sanggah nya.


"Oh.. iya Aku tahu.. kalau kamu itu cuma partner kerja disini. Jadi, jangan macam-macam.. Paham?" Ancamnya.


Indri tidak menjawab perkataan dari Sabrina. Sabrina pun pamit pulang kepada suaminya. Dengan sengaja, mereka berciuman di depan Indri. Tentu saja hal ini membuat Indri semakin panas.


...****************...


Di perjalanan pulang, Sabrina di hadang oleh beberapa orang yang tidak dikenal. Orang tersebut memaksa Sabrina untuk turun.


Tanpa rasa takut, Sabrina pun turun. Dan menghadapi orang-orang itu.


"Siapa kalian?" Tanyanya dengan penuh waspada.

__ADS_1


Tak lama terdengar suara langkah sepatu yang berjalan ke arahnya. Sabrina menoleh ke suara tersebut. Ternyata itu adalah Bisma.


"Bisma?" Sabrina tertegun.


"Apa kabar Sabrina? Sudah lama kita tidak berjumpa.." Ucapnya.


"Mau apa kamu? Jangan pernah macam-macam dengan saya.. saya tidak ingin berurusan lagi dengan kamu." Ucapnya.


"Oh, tenang aja Sabrina.. Aku tidak akan menyakiti kamu.. Aku hanya ingin memberitahu kamu.. agar kamu bersiap-siap.." Ucapnya dengan sambil Tersenyum.


Bisma beserta anak buahnya pun pergi. Sabrina menggelengkan kepala. Iya tidak habis pikir dengan Bisma. Sabrina pun masuk kembali ke dalam taksi.


Sudah lama Bisma tidak muncul di hadapannya dan sekarang, iya muncul kembali dan mengganggu. Sabrina memikirkan perkataan Bisma.


"Apa maksudnya menyuruh Aku untuk siap-siap? Apa Dia punya rencana licik lagi? Masih belum puas Dia menggangguku selama ini?" Pikirnya.


Tiba-tiba HP Sabrina berdering. Iya mengangkat telfon tersebut.


"Halo cantik.. masih ingat suaraku?" Ucapnya di seberang telfon.


"Indri? Mau apa kamu telfon saya? Dapat darimana nomor saya?" Tanya Sabrina heran.


"Oh, dapat darimana itu ga penting.. Jangan sebut saya Indri jika tidak bisa mendapatkan apa yang saya inginkan.." Ucapnya dengan Sombong.


"Apa mau kamu?" Tanya Sabrina dengan kesal.


Tanpa jawaban dari Indri, Indri langsung menutup telfonnya. Sabrina merasa heran dengan sikap perempuan satu itu. iya tidak mengerti apa maunya dia.


Sabrina berusaha mencerna perkataan Indri. Iya ingat kata-kata Indri yang terakhir di telfon.


"Oh, rupanya Dia ingin memberitahu Aku bahwa Dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan sesuatu? Termasuk suami Aku? Indri, Indri. Mungkin Dia pikir Aku akan takut dengannya? Ok, kalau Dia mau perang denganku, maka Aku akan mengobarkan bendera perang. Lihat saja nanti, siapa yang akan menang.. Aku tidak akan membiarkan Indri menguasai apa yang Aku miliki.." Batinnya.


...****************...


Sesampainya di rumah, Indri kaget. Iya melihat yeon sudah berdiri di ruang tamunya.


"Yeon?" Sapanya.


"Kak.." Sapa balik Yeon.


"Apa kabar kamu dek? Kamu sudah baikan?" Tanya Sabrina.

__ADS_1


"Seperti yang kakak lihat.." Ucap Yeon.


Sabrina merasa senang melihat adiknya kembali. Iya merasa terhibur dengan kehadiran adiknya itu. Seketika pikiran kesal Sabrina dengan Indri dan Bisma hilang ketika melihat Yeon.


__ADS_2