
Meskipun dalam keadaan hamil, iya rela menunggu suaminya yang sakit. Hingga pagi pun menyapa. Vadim pun agak mendingan, panasnya sudah turun. Vadim mulai sadar dan melihat Sabrina tertidur di sampingnya dengan posisi duduk.
Vadim pun langsung beranjak tanpa mempedulikan Sabrina. Tak lama Sabrina juga terbangun. Dan mendapati suaminya sudah tidak ada di tempat tidur. Sabrina kebingungan dan khawatir terhadap Vadim.
"Rupanya kamu ada disitu.. Apa kamu sudah mendingan?" Ucap Sabrina merasa lega karena suaminya berada di meja makan.
"Aku baik-baik saja.. ga perlu berlebihan khawatirnya." Ucap Vadim.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Aku lega mendengarnya." Kata Sabrina. Sabrina pun langsung beranjak ke dapur dan ingin memasak untuk Vadim.
Sabrina mulai menyiapkan makanan di meja. Dan tiba-tiba saja melisa datang dengan membawa kue kesukaan Vadim.
"Sayang, Aku bawain kue kesukaan kamu
nih.." Ujarnya sambil memeluk Vadim.
Vadim merasa sangat senang. karena melisa datang. Vadim mengira bahwa melisa menjenguknya dan perhatian kepadanya.
"Terimakasih ya sayang, kamu sudah perhatian sama Aku.. Aku beruntung punya pacar kayak kamu.." Ucap Vadim memuji melisa.
"Iya dong, harus gitu kan.. Ya sudah kamu makan kuenya ya.." Ucap melisa. Melisa hendak menyuapi Vadim. Namun, ditahan oleh Sabrina.
"Jangan suapi suami Aku dengan kue terlebih dahulu. Biarkan dia makan-makanan sehat terlebih dahulu." Ujar Sabrina.
"Heh, siapa kamu? ngelarang Aku menyuapi Vadim?" Melisa kesal.
"Saya bilang, taruh makanannya. Vadim itu semalam sakit demam, Dia harus makan-makanan yang bergizi." Ujar Sabrina tidak ingin kalah debat. Vadim pun langsung menggebrak meja dan langsung berdiri.
"Cukup Sabrina! Apa salahnya sih, Aku makan kue pemberian melisa? Nanti masakan kamu juga Aku makan juga kok.. Melisa ini pacar yang paling perhatian. Perhatian kamu tidak ada apa-apanya dibanding perhatian melisa." Ucap Vadim.
__ADS_1
Sabrina merasa kesal, Iya mengepalkan kedua tangannya. Sebenarnya Sabrina ingin melempar makanan itu ke lantai, namun Iya tahan. Dan Iya mengambil cara lain.
"Vadim, saya bilang makan nasi dulu. Kalau kamu tidak mau, saya panggil mama Berlin dan papa Arya untuk kesini loh ya.." Ancam Sabrina. Vadim kaget mendengar gertakan Sabrina. Akhirnya Vadim pun memakan masakan sehat dari Sabrina.
Dan Sabrina pun mencoba untuk mencium kue yang dibawa oleh melisa. Melisa menjadi heran dan sewot ketika Sabrina mencium kue miliknya.
"Kue apa ini? Ini tidak baik untuk kesehatan Vadim. Kue ini terlalu banyak soda.. Kamu mau buat Vadim sakit?" Ujarnya.
"Eh, ini kue kesukaannya Vadim. Kenapa kamu iri ya.. Karena kamu tidak bisa perhatian seperti aku terhadap Vadim? Sehingga kamu tidak dapat pujian Vadim.." Kata melisa mencemooh Sabrina.
"Kalau kamu memang perhatian sama Vadim, harusnya kamu tahu. Mana yang baik buat dia, mana yang buru. kamu perhatian sama orangnya, atau sama black card Dia?" Ujar Sabrina tidak mau kalah debat.
Melisa pun langsung kena mental mendengar perkataan Sabrina. Melisa pun langsung pergi dan mengadu kepada Vadim. Seketika Vadim pun langsung berhenti makan.
"Kamu jangan pernah menghina melisa lagi ya.. Yang memberikan Dia black card itu Aku. Aku aja ga keberatan memberikan black card Aku pada melisa. Jangan-jangan kamu iri lagi." Ucap Vadim.
"Aku ga menghina melisa, memang itu kenyataannya kok.. Lagian siapa juga yang iri sama dia. Justru Aku kasihan sama kamu, rela dimanfaatin. Dasar laki-laki bodoh." Ucap Sabrina. Dan langsung pergi ke kamarnya.
...****************...
Usia kandungan Sabrina sudah memasuki empat bulan. Dan Vadim masih tetap sama, Iya tidak ingin jika anak itu lahir. Vadim tidak menginginkan keturunan dari Sabrina.
Sabrina tahu dan sadar, bahwa sampai kapan pun Vadim tidak akan bisa menerimanya. Tapi, Sabrina tidak pernah berhenti berharap. Bahwa suatu saat Vadim akan menerima Dia dan darah dagingnya.
Sementara Berlin sudah tidak sabar menunggu cucunya lahir. Berlin pun mengadakan acara pengajian untuk 4 bulan. Berlin telah menyiapkan segala keperluan. Vadim merasa malas menghadiri acara tersebut.
Vadim lebih memilih bersama melisa daripada acara 4 bulan istrinya. Berlin dan Arya bingung mencari Vadim.
"Sabrina, Vadim kemana?" Tanya Arya.
__ADS_1
"Vadim lagi ada urusan mendadak pa.." Ucap Sabrina berbohong.
"Keterlaluan Vadim. Memangnya Dia ga tahu apa kalau ini acara penting?" Ucap papanya kesal.
"Sudah pa, jangan marahin Vadim. Vadim memang ada urusan penting pa.. Tolong dimaklumi ya pa.." Ucap Sabrina menenangkan papa mertuanya.
Tanpa menunggu Vadim datang, acara 4 bulan pun dimulai. Vino sedari tadi menahan kesal. Namun, iya tahan rasa kesalnya. Vino ingin membuka semua keburukan Vadim, namun iya teringat kata-kata dari Sabrina.
...****************...
Pulang-pulang, Vadim membawa melisa ke rumahnya. Vadim pun tidak ingin melisa cepat pergi. Vadim dan melisa melakukan adegan panas.
Sabrina terkejut melihat kelakuan mereka. Memang hal ini adalah hal yang biasa Sabrina lihat di depan matanya. Namun, hati Sabrina tetap sakit melihat suaminya bersama perempuan lain.
Langsung saja Sabrina ingin menghampiri mereka dan menampar wajah melisa. Namun, seketika niatnya terhenti. Sabrina lebih memilih pergi ke kamar dan tidak ingin melihat hal ini lagi.
Air mata Sabrina menetes. Iya merasa tidak sanggup ketika melihat perselingkuhan suaminya. Semua wanita pasti akan merasakan rapuh pada waktunya.
Tak lama, Vadim pun masuk ke kamarnya. Sabrina langsung mengusap air matanya. Vadim yang mengetahui Sabrina menangis pun tertawa. Vadim merasa puas karena menyakiti Sabrina.
"Kenapa? Kamu sakit hati melihat kemesraan Aku dengan melisa? Mending, kamu berhenti bermimpi. Dan segera gugurkan kandungan kamu.." Ucap Vadim.
"Plak!" Sabrina langsung menampar wajah Vadim.
"Aku tahu kamu tidak menginginkan anak ini. Tapi, Aku tidak akan pernah membunuh darah daging aku sendiri. Aku tidak berharap kamu mengakuinya. saya akan merawatnya sepenuh hati saya. Dan satu lagi, kamu mau ngapain aja sama dia, terserah kamu." Ucap Sabrina.
Vadim pun kesal dengan ucapan Sabrina. Kemudian, Vadim menyeret Sabrina keluar. Dan Vadim menyuruh Sabrina untuk tidur di luar. Sabrina pun akhirnya tidur di luar.
Sabrina menerima perlakuan Vadim. Tapi, hati Sabrina merasa sakit ketika Vadim menyuruh dia menggugurkan kandungannya.
__ADS_1
"Kasihan kamu sayang, kamu tidak pernah diharapkan oleh ayahmu. Mama janji, mama akan menjagamu dengan baik." Sambil mengelus perutnya.
Sabrina pun tertidur di sofa ruang tengah. Meskipun tidur di sofa, tetapi Sabrina merasa nyaman. Sabrina tetap bersyukur karena masih bisa tidur dengan tenang.