
"Ya, habisnya kamu.. ngelamun saja dari tadi.. kesambet baru tahu rasa lo.." Ujar Vadim.
"Ya, bukan urusan kamu lah.." Ujar Sabrina dengan kesal.
"Eh, mendingan kamu ikut Aku yuk.." Vadim langsung menarik tangan Sabrina. Sabrina pun dengan malas berjalan. Vadim membawa Sabrina ke ruang musik.
"Ngapain kamu bawa Aku kesini?" Tanya Sabrina.
"Mending kamu nyanyi deh, biar bete kamu hilang.. Males liat muka kamu kalau lagi bete.. kucel banget." Ujar Dae.
"Enak aja lu kalau ngomong.. Eh ini muka sudah Aku rawat ya.." Sabrina ga Terima dikatakan kucel. Vadim pun langsung mencubit hidung Sabrina.
"Sudah, cepetan lo nyanyi." Ujar Vadim.
Sabrina pun mulai duduk di depan piano. Dan Sabrina pun langsung memainkan piano tersebut. Sabrina menyanyi lagu yang sangat melow.
Hanya Tuhan yang Tahu
Aku mencintaimu tulus dari hatiku..
Sayang kau belahan jiwaku..
Aku tak perlu mengungkapkan kepadamu..
Hanya.. Tuhan yang tahu perasaan ini..
*Sayang.. Aku akan selalu mencintaimu..
Ku ingin selalu bersamamu... Mendampingi...
Dirimu selamanya... Perasaan ini akan tetap sama sampai nanti..
Hanya Tuhan yang tahu..
Perasaan ini.. aku akan selalu ada untukmu..
__ADS_1
walau kau benci, walau kau tak ingin lagi melihat diriku.. tapi Aku akan selalu mencintai dirimu..
Sampai nanti tangan ini sudah tidak lagi bisa menggenggam..
Sampai raga ini terlepas dari jiwaku..
Sampai jantung ini tak lagi berdetak..
Hanya Tuhan yang tahu*....
Tidak terasa Sabrina meneteskan air mata ketika menyanyikan lagu tersebut. Sabrina teringat Dae Hyung. Entah mengapa hati Sabrina merasa sakit ketika Dae Hyung tidak mempedulikannya lagi.
Vadim juga melihat Sabrina sedang menghayati lagu. Vadim pun bertepuk tangan. Ekspresi Sabrina sangat membuat Vadim kagum. Karena Sabrina dapat mengekspresikan lagu tersebut.
Meskipun mendapat tepuk tangan dari seorang Vadim, tetapi Sabrina merasa biasa saja. Vadim pun sangat heran dengan Sabrina.
"Eh, kenapa lo kelihatan biasa saja sih.. ketika gue tepuk tangan?" Vadim menarik pundak Sabrina.
"Terus, gue harus bilang wow gitu?" Kata Sabrina.
"Eh, gue itu seorang artis idola. Semua cewek-cewek pada histeris liatin gue.. Apalagi liat gue tampil di panggung. Apalagi kalau gue tepuk tangan untuk mereka, mungkin mereka sudah kejang-kejang. Ini, idola tepuk tangan untuk kamu, malah kelihatan biasa saja.. dasar aneh.." Ujar Vadim.
Vadim melihat Sabrina pun tertawa ngakak. Karena Sabrina bertingkah lucu. Sabrina yang melihat Vadim tertawa karenanya, seketika terhenti. Dan menahan tawa.
"Lo, kenapa tertawa?" Tanya Sabrina.
"Habisnya lo lucu tau ga sih.. Alaynya kelihatan. " Jawab Vadim.
"Ya, habisnya kamu.. Aku suruh kayak gitu.. Gimana sih, giliran Aku kejang-kejang malah ketawa." Sabrina malah heran.
"Ya, ga gitu juga konsepnya. hahaha.." Vadim masih tertawa. Dan Sabrina pun ikut tertawa karena tertawanya Vadim telah menular.
Secara tidak langsung, Vadim telah menghibur Sabrina. Dan galaunya Sabrina seketika hilang. Vadim pun mengajak Sabrina ke kelas. Dan mereka keluar dari ruang musik, terlihat oleh Melisa.
Melisa merasa geram dan kesal. Langsung saja melisa berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Dengan langkah cepat, Melisa pun langsung menghampiri Sabrina.
__ADS_1
"Plak!" Melisa menampar pipi Sabrina. Sabrina memegang pipinya yang sedang sakit. Dengan brutal, Melisa langsung menjambak rambut Sabrina. Sabrina memegangi rambutnya karena memang sakit.
"Dasar cewek ga tahu malu.. rasain ini.." Sambil menjambak rambut Sabrina.
Vadim yang melihat itu, langsung merelai mereka berdua. Vadim merasa kesulitan untuk merelai mereka yang berantem. Dan akhirnya Vadim kena tampar oleh melisa. Vadim memegangi pipinya. Melisa pun terkejut melihat Pipi Vadim tertampar.
Vadim merasa emosi dan langsung mendorong Melisa. Melisa terlihat gugup. Vadim merasa emosi terhadap melisa. Vadim pun langsung mendorong melisa. Vadim langsung pergi dengan membawa Sabrina.
Melisa sangat kesal terhadap mereka. Bisa-bisanya mereka mengabaikan melisa.
Melisa pun langsung memposting sesuatu di sosial medianya.
"Hai guys, kali ini saya ingin bercerita.. gimana sih rasanya, kalau diselingkuhin? Saya pengen tahu jawaban kalian jika kekasih kita direbut wanita lain? hiks, hiks, hiks.. karena saya sedang ngalamin itu guys.. ini guys saya tunjukin foto perselingkuhan mereka." Melisa langsung menunjukkan foto Sabrina dan Vadim di sosial medianya.
Dengan secepat kilat, foto itu langsung tersebar ke berbagai penjuru. Terutama di kalangan kampus mereka. Semua mahasiswa dan mahasisiwi kampus A.N.
"Wah, ga nyangka ya.. Ternyata Sabrina perebut pacar orang.. Aku kira dia anak baik, cool, pendiam, ternyata.." Kata salah satu mahasiswa.
Sabrina pun sedang asik bejalan menuju gerbang luar. Semua mahasiswa pada ngelihatin Sabrina. Sabrina merasa ada yang aneh. Sabrina melirik kanan dan kiri. Semua mahasiswa kampus melihat dirinya.
"Kenapa semua orang ngelihatin aku seperti itu ya?" Gumamnya.
"Wah, ga nyangka ya.. ternyata seorang Sabrina jadi pelakor juga.." Kata salah satu teman melisa. Seketika langkah Sabrina terhenti. Dan Sabrina pun berbalik badan dan berjalan ke arah mereka.
"Lo bilang apa barusan? Coba ulang sekali lagi." Kata Sabrina tanpa senyum.
"Hahaha.. Sudahlah, ga usah sok lugu.. kita semua sudah tahu kelakuan busuk lo..Dasar pelakor." Sambil sedikit mendorong Sabrina.
Sabrina hanya diam saja, tetapi Sabrina sambil melirik mereka dengan tatapan tajam. Sabrina pun mendorong balik Teman melisa yang mendorongnya.
"Maksud lo itu apa hah?" Sambil balik mendorong.
"Siapa yang jadi pelakor? Memang gue rebut lakinya siapa? Hah?" Ujar Sabrina dengan kesal.
"Lo, itu sudah merebut Vadim dari gue.. ngerti lo.. Gue heran sama si Dae Hyung.. kok bisa-bisanya ya, mau sama wanita kaya lo.. Semua laki-laki lo deketin. Vino, Vadim, Dae, semua lo mau.. Kenapa si lo ga pergi ke tempat sosialita saja.. Banyak tu laki-laki hidung belang di sana. Memang lo pantasnya ada di sana bukan di sini." Melisa dengan puasnya dan bangganya menghina Sabrina. Sabrina mengepalkan kedua tangannya dan merasa emosi terhadap kata-katanya melisa.
__ADS_1
"Plak, plak!" Sabrina menampar pipi melisa kanan dan kiri. Melisa mengadu kesakitan. Dan Sabrina pun dengan emosinya memegang kerah baju melisa.
"Coba sekali lagi lo bilang.. Bisa ga, satu hari aja ga usah fitnah gue.. Kalau lo mau dideketin sama mereka, sama cowok-cowok tajir incaran lo.. Sana deketin sendiri.. Dan kalau mereka ingin mengejar lo.. Jadi perempuan itu yang baik, bukan cuma julidin orang.. Mending lo perbaiki hidup lo.." Sedikit mendorong melisa.