
Aku angela. Aku adalah adik dari Amir. Aku memutuskan untuk tinggal di kota bersama suamiku. Aku dan suamiku hidup bahagia. Sayangnya, Aku tidak bisa memberikan keturunan untuk suamiku.
Awalnya suamiku mengatakan tidak masalah jika tidak memiliki keturunan. Mungkin karena suatu desakan dari orang tuanya dan kerabat terdekatnya. Mereka selalu mengejek karena kami belum memiliki keturunan.
Entah, apa yang telah diperbuat oleh suamiku. Aku juga tidak mengerti. Suamiku selalu bertingkah aneh dan membuatku curiga.
Diam-diam Aku mulai menyelidiki suamiku sendiri. Aku mengikuti kemana suamiku pergi. Aku melihat suamiku berhenti di depan sebuah rumah. Entah itu rumah siapa waktu itu.
Aku mengamati dari jauh suamiku. Aku melihat seorang perempuan yang keluar menemui suamiku. Mungkin perempuan tersebut sedang mengandung. Dari sinilah kecurigaan ku bertambah.
Aku mulai memberanikan diri untuk menyelidiki lebih dekat. Aku mengintip di balik jendela. Dan kebetulan sekali, kelambu jendela itu berwarna putih transparan. Jadi Aku dapat melihat dengan jelas tingkah mereka dan yang mereka bicarakan.
"Sayang, 2 bulan lagi.. baby pasti akan lahir. Oh ya.. kemarin hasil USG baby perempuan atau laki-laki?" Tanya suami angel.
"Laki-laki mas.." Jawabnya.
Apa? Sayang? Siapa Dia? Apakah Dia adik suami ku? Tapi suamiku selama ini tidak pernah cerita kalau dia punya adik.
Aku pun mendengarkan lebih detail lagi tentang percakapan mereka. Dan tingkah mereka juga sangat aneh.
"Sayang.. Aku kangen.. boleh enggak aku minta sesuatu?" Ujar suami angel.
"Minta apa itu mas?" Tanyanya.
"Ya itu.. masak ga ngerti? Biar lahirannya lancar." Ujarnya.
"Tapi mas?" Ucap perempuan itu.
"Kita sudah nikah, ya.. meskipun secara sirih sih.." Ucapnya.
Aku sangat terkejut apa yang telah diucapkan oleh suamiku waktu itu. Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Seluruh badanku terasa gemetar. Dadaku terasa sesak.
Aku tidak percaya dengan apa yang Aku lihat hari itu. Aku menyaksikan sendiri dengan mata kepalaku. Mereka tega melakukan itu dihadapan ku.
__ADS_1
Aku berharap ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang pernah Aku alami. Aku tidak menyangka suamiku tega mengkhianati ku. Rasanya Aku ingin sekali melabrak mereka.
Tapi Aku tahu, melabrak bukanlah kelasku. Aku tidak bisanya berlama-lama menyaksikan cumbuan mereka. Aku pergi dengan perasaan kecewa.
Ingin sekali rasanya Aku minta pisah darinya. Tapi, Aku teringat pesan Ibuku. Dan juga pesan Ibu mertua ku. Bahwa mereka meminta untuk menerima suamiku kebaikan serta keburukannya.
Ya Tuhan.. apa yang harus Aku lakukan? Hati Aku terasa sakit sekali. Sepanjang perjalanan pulang, Aku tidak dapat berhenti untuk menangis. Akhirnya Aku memberhentikan mobilku di sebuah tepi danau.
Aku pun duduk di tepi danau tersebut sambil melemparkan sebuah batu kecil ke dalam air. Aku berteriak sekencang mungkin. Aku menumpahkan kekesalan dan kekecewaan Aku.
Setelah Aku merasa lega, Aku pun kembali ke rumah.
...****************...
Sesampainya di rumah. Aku merebahkan tubuhku di kasur. Aku mencoba untuk menghilangkan segala kejadian itu.
Aku melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam. Mungkin suami ku terlalu asyik dengan istri sirihnya itu.
Rasa kecewa ku masih hangat. Aku bawa kekesalan ku dengan menonton TV. di ruang tengah. Hal inilah yang Aku lakukan untuk menghibur diri Aku.
"Rupanya kamu disini sayang?" Ucapnya sembari duduk di sampingku. Aku sengaja tidak menghiraukan perkataannya.
"Kenapa kamu belum tidur?" Pertanyaan selanjutnya.
Rasanya, Aku muak melihat wajahnya. Aku muak mendengar panggilan sayangnya. Yang ternyata juga memanggil sayang terhadap wanita lain.
Rasanya Aku jijik berada di dekatnya. Aku pun menggeser bokongku agak menjauh darinya. Rasanya Aku sangat jijik berada di sampingnya saat ini.
Aku masih terbayang dengan apa yang telah dia lakukan tadi pagi bersama selingkuhannya. Suamiku juga menggeser bokongnya mendekat ke arahku.
"Sayang.." Ucapnya sembari ingin merangkulku. Namun, Aku menepis rangkulannya menggunakan bahuku. Aku tidak sudi dirangkul olehnya. Apalagi tangannya sudah bekas orang.
"Kamu kenapa sih sayang?" Tanyanya.
__ADS_1
Karena Aku muak dengan suara modusnya, secara spontan Aku mematikan TV. Dan Aku pun langsung berdiri di hadapannya.
"Bisa ga sih mas? Ga usah ganggu Aku hari ini? Aku tu lagi capek, Aku pengen nenangin pikiran Aku! Dan Aku ga pengen diganggu oleh siapapun. Termasuk kamu." Ucapku ketus.
Suamiku melihat raut wajahku dengan penuh pertanyaan. Belum sempat suamiku bertanya lagi, Aku langsung pergi meninggalkan Dia. Suamiku pun mengikuti Aku.
Aku dengan kesalnya, membereskan pakaian Aku. Suamiku heran melihat ku. Dia melihatku sedang membereskan pakaianku.
"Loh, ini mau dibawa kemana sayang?" Tanyanya tidak mengerti. Sejenak Aku berhenti sejenak membereskan pakaianku. Aku pun menengok ke arahnya dengan menghela nafas kasar.
.
"Mulai sekarang, Aku mau tidur di kamar tamu saja. Dan Aku, tidak mau satu ranjang dengan kamu. Paham!" Ucapku langsung. Aku berharap dia paham maksudku.
"Loh, sayang.. maksud kamu apa?" Tanyanya.
"Sayang? Kamu panggil Aku sayang? Lebih kamu berhenti panggil Aku sayang. Karena Aku ga sudi dipanggil sayang olehmu." Jawabku. Tanpa basa-basi lagi, Aku melangkahkan kaki Aku untuk pergi. Namun suamiku menahanku.
"Tunggu! Kamu itu kenapa sih? Salahku itu apa sama kamu?" Tanyanya pura-pura tidak tahu. Aku hanya tersenyum sinis dengan pertanyaannya.
"Memang benar ya? seorang pengkhianat tidak akan pernah ngaku kalau dirinya sedang berkhianat." Jawabku. membuat suamiku sedikit terhenyak. Mungkin Dia mulai memahami maksudku.
"Apa yang telah kamu ketahui?" Tanyanya ingin memastikan.
"Semuanya! Aku sudah tahu semua pengkhianatan kamu. Perselingkuhan kamu. Dan apa yang telah kamu lakukan tadi pagi." Ucapku.
"J-jadi.. kamu.." Suamiku terlihat gugup.
Aku tersenyum kecewa.
"Mana janji kamu? Bilangnya, tidak masalah jika tidak memiliki anak. Anak bisa diadopsi. Mana janji kamu yang itu?" Tuntut ku.
"Sayang.. kamu harus tahu, Aku pengen punya anak darah dagingku sendiri. Dan ini juga permintaan orang tua Aku. ingin punya cucu dari darah daging aku sendiri. Dan Aku juga malu tiap hari dapat bulyan dari teman dan kerabat. Karena Aku belum punya keturunan. Tolong kamu ngerti sayang.." Ucapnya.
__ADS_1
"Aku bilang stop panggil Aku sayang.. Sekarang Aku tahu, siapa kamu. Kamu mementingkan diri kamu dan keluarga kamu. Kamu tidak pernah berfikir kalau kamu akan menyakiti hati seseorang. Dan orang itu adalah istri kamu sendiri. Kamu egois mas, sangat egois.. Kamu minta Aku untuk ngertiin kamu kan, ok! Aku akan ngertiin kamu. Tapi Aku minta, kamu ngertiin Aku juga. Hargai keputusan Aku." Ucapku. Aku pun langsung pergi. Aku lebih baik berada di kamar tamu. Daripada Aku melihat wajahnya.