Kisah Cinta Gadis Desa

Kisah Cinta Gadis Desa
Kelakuan Indri


__ADS_3

"Maksud Aku, calon.." Ucap Indri dengan percaya diri.


"Calon apa ya?" Tanya Sabrina.


Indri mengelilingi Sabrina dengan pandangan sinis.


"Rupanya kamu belum tahu ya, hubungan Aku dengan Dae. Siap-siap aja sebentar lagi kamu bakalan ditendang dari kehidupan Dae." Ucapnya.


"Oh iya? Terus Aku takut gitu? Sorry ya Indri.. Aku sudah tahu tuh bagaimana kamu dengan Dae.. Jadi, ga usah kepedean.." Ucap Sabrina.


"Hahaha... Tapi, Aku lebih tahu bagaimana sifat Dae.. Aku pasti bisa dapatin Dae, dan Dae akan berpaling ke Aku.." Ucap Indri berusaha membuat Sabrina panas.


"Kamu pikir, Aku bakalan panas gitu? Kamu keliru.. Aku lebih kenal dulu sama Dae daripada kamu. Jadi kamu ga usah kepedean.. kalau pun apa yang kamu ucapkan itu terjadi, Aku tidak akan membiarkannya. Dan kamu itu, cuma partner kerja..kalau bukan karena ijin dari Aku, kamu ga bisa jadi partner kerjanya Dae..jadi ga usah macam-macam.. Paham kan cantik?" Ujar Sabrina dengan senyuman.


Sabrina pun pergi meninggalkan Indri. Indri semakin kesal dengan jawaban Indri. Indri memandangi Sabrina yang semakin menjauh dengan kesal.


...****************...


Dae sudah pulang dari kantor, Iya mendapati istrinya berada di ruang tamu.


"Loh, kok kamu ada disini sayang? Ini sudah malam loh.." Tanyanya.


"Aku nungguin kamu pulang sayang.." Jawab Sabrina.


"Kalau sudah begini, pasti ada yang kamu mau nih.. Kamu pengen apa sayang?" Tanya Dae lembut.


"Aku pengen sate sayang.." Ucap istrinya.


"Kamu pengen sate ya.. nih, kebetulan Aku bawain kamu sate.." Ucap Dae sembari memberikan sate bawaannya.


Sabrina tersenyum senang, karena melihat sang suami membawakan makanan yang iya inginkan..


"Pas banget sih sayang.. Makasih ya, udah ngertiin Aku.." Ucapnya.


"Iya dong, apa yang kamu inginkan juga keinginan Aku.." Ucapnya


Sabrina pun memakan satenya dengan lahap. Dae memandangi istrinya dengan senang. Dae senang jika melihat istrinya makan dengan lahap.


"Kenapa kamu lihatin Aku kayak gitu?" Tanya Sabrina.


"Ga apa-apa sayang.. Aku cuma senang aja melihat kamu makan dengan lahap, biar anak kita lahir dengan sehat nantinya.." Kata Dae.


"Iya sayang.. ini kan sudah 7 bulan, bawaannya pengen makan terus.." Kata Sabrina.


"Iya sayang.. malah Aku senang, kalau kamu lahap makannya." Ucapnya sembari mengelus perut istrinya.

__ADS_1


...****************...


Hari minggu telah tiba. Dae mengajak sang istri untuk berlibur refreshing. Sabrina pun bersiap-siap untuk pergi liburan.


Dae dan Sabrina menikmati suasana liburan. Terlebih lagi dengan Sabrina, Iya merasa segar menghirup udara luar yang lebih sejuk.


"Gimana sayang? Kamu suka ga dengan tempatnya?" Tanya Dae.


"Suka banget sayang.. apa lagi udaranya segar.." Jawabnya.


"Maaf ya sayang.. Aku belum bisa bawa kamu jalan-jalan ke luar negeri.." Ucap Dae sembari meraih tangan sang istri.


"Kamu itu bicara apa sih? Aku ga suka kamu bicara seperti itu.. Asal kamu tahu, Aku ga butuh dengan yang seperti itu..gini aja Aku sudah senang.." Ucapnya.


Sabrina memejamkan mata sejenak. Iya menikmati udara yang sejuk itu, Iya seperti orang yang melakukan meditasi mencoba membuat pikirannya menjadi rileks.


"Hai, rupanya kita bertemu di sini.." Tiba-tiba saja suara Indri membuyarkan semuanya.


Sabrina pun membuka kedua matanya. Seketika moodnya jadi hilang karena diganggu oleh Indri. Sabrina membuang nafas kasar. Iya merasa mulai tidak nyaman.


Yang awalnya Iya merasa senang dan nyaman di tempat itu, kini suasananya berubah seketika. Begitu juga dengan Dae.


"Loh, kenapa pada diem si? Ada orang nyapa loh, masak iya ga disapa balik? Ga baik loh.." Ucapnya.


"Sayang, kita pergi dari sini yuk.." Ajak Dae kepada istrinya sembari memegang tangan istrinya. Sabrina juga menyetujui apa kata sang suami. Tanpa sepatah kata pun yang terucap dari Sabrina, Mereka langsung beranjak pergi dan tidak menghiraukan Indri.


"Mau kamu itu apa sih? Bisa ga, sehari aja ga usah kita?" Sungutnya.


"Loh, memangnya salah kalau Aku cuma nyapa kalian? Bukannya wajar ya, kalau saling sapa dengan orang yang kita kenal? Terus, memangnya Aku pengganggu?" jawabnya.


"Kamu tuh ya?" Ucap Dae kesal dan hendak ingin menghajar Indri. Namun, Sabrina menahannya. Sabrina langsung membawa pergi Dae Hyun.


Indri tersenyum sinis melihat mereka. Karena iya berpikir telah berhasil mengganggu ketenangan mereka.


"Tunggu aja, sebentar lagi kalian pasti akan bertengkar hebat.." Pikirnya.


...****************...


"Kenapa sih, dia selalu jadi pengganggu.." Gerutu Dae.


"Sudahlah, ga usah dihiraukan. Anggap saja kuman.. kuman kan sukanya nempel sama manusia, mengganggu lagi.." Ucap Sabrina. Dae tersenyum mendengar ucapan istrinya itu.


Sesampainya di rumah, Sabrina langsung istirahat. Karena iya merasa sudah cukup refresingnya.


Ibu hamil besar, memang mudah sekali lelah. Sehingga iya memutuskan untuk istirahat. Dae mencium kening istrinya dan membiarkannya istirahat.

__ADS_1


Karena tidak bisa tidur, Sabrina merasa bosan. Iya pun iseng merapikan jas dan kemeja suami yang sudah di pakai.


Iya ingin menaruhnya ke dalam mesin cuci. Iya mudah sekali boring, jika harus berdiam diri. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang jatuh dari saku jas suami.


Sabrina meraih benda itu. Dan ternyata benda itu adalah sebuah lipstik. Iya mengamati lipstik tersebut.


"Lipstik ini kan.." Iya berfikir sejenak mengingat warna lipstik itu. Karena warna itu pernah dipakai oleh seseorang.


Sabrina pun teringat dengan lipstik tersebut. Iya ingat bahwa warna lipstik itu pernah dipakai oleh Indri. Iya juga tidak sengaja melihat bekas lipstik di kemeja Dae. Warnanya pun juga sama.


Sabrina adalah wanita yang cerdas, iya tidak ingin berburuk sangka terlebih dahulu kepada suaminya. Iya tahu betul bagaimana Dae Hyun. Iya pun menyimpan lipstik itu baik-baik.


Sabrina melanjutkan aktivitasnya. Meskipun iya merasa sedikit kesal dengan Indri. Sabrina akan menyelidikinya sendiri.


...****************...


Di kantor, Seperti biasa Indri membantu pekerjaan Dae. Indri berpikir keras bagaimana caranya agar dapat mencuri perhatian Dae.


"Aduh, mataku kelilipan.." Keluhnya.


Dae tidak menghiraukan keluhan Indri. Iya tetap saja fokus melakukan pekerjaannya.


"Dae, bantu Aku dong.. mataku Aku kelilipan ini.." Pintanya.


"Terus Aku harus bagaimana?" Ucapnya cuek.


"Bantu tiup dong.." Ucapnya.


"Tiup aja sendiri!" Ucap Dae.


"Mana bisa? Kamu jangan aneh-aneh deh.. apa salahnya sih, cuma bantu doang.. ini bagaimana pekerjaan mau cepat kelar, kalau ga ada kerjasama.. profesional dikit kek.." Gerutunya.


Seketika Dae terhenyak. Iya melihat ke arah Indri. Dae merasa kalau Indri memang benar-benar kelilipan dan butuh bantuan. Dae pun beranjak, dan menghampiri Indri.


"Sebelah mana yang kelilipan?" Tanya Dae.


"Sebelah sini." Tunjuk Indri. Dae mulai membantu Indri yang kelilipan.


Ketika Dae fokus ingin meniup mata Indri, Tiba-tiba saja indri menarik tubuh Dae. Hingga Dae jatuh ke pelukannya.


"Dae, apakah kamu tidak ingin tubuh yang seksi ini?" Bisik Indri.


"Kamu apa-apaan sih? lepasin!" Berontak nya.


"Ayolah Dae.. kali ini aja.. lagian disini juga ga ada siapa-siapa.." Bisiknya. Indri terus saja menggoda Dae. Bahkan, iya ingin memeluk Dae, dan ingin berbuat mesum dengannya.

__ADS_1


Sementara Dae terus saja menolak.


__ADS_2