
Pertarungan antara Xeon Shiharder dan Rulhan Sonfall benar-benar luar biasa, dimana setiap kali mereka beradu kekuatan ledakan gelombang energi kuat meluluhlantakkan rumah-rumah di sekitar.
Ini terlalu bar-bar mereka sangat bernafsu untuk saling membunuh hingga tidak peduli soal nasib orang-orang di sekitar yang sudah menjadi korban.
Ketahanan dan kekuatan Xeon Shiharder hampir menyamai seekor naga asli, meski pun dalam hal fisik saja, sedangkan kekuatan sihir Xeon tidak lebih sebatas sihir peningkat kekuatan.
Tapi itu sudah cukup untuk menyudutkan sang penguasa iblis Rulhan Sonfall hingga terlihat begitu kelelahan. Ratusan bulu gagak tajam tidak mampu menembus lapisan kulit bersisik milik Xeon.
Begitu pula dengan dua pedang bulu panjang itu hanya menjadi goresan kecil, tampak seperti besi yang saling bersentuhan, percikan-percikan api menyambar tiap kali Rulhan Sonfall memberi serangan.
Zen dan Xin Sanziu melihat bagaimana kedua makhluk itu bertarung.
"Aku tidak tahu jika suku manusia naga bisa mencapai tingkat setara dengan penguasa iblis." Ucap Zen penuh kekaguman.
Ada senyum tersirat di wajah tua Xin Sanziu..."Tuan Zen kau terlalu meremehkan para penguasa dunia gelap, saat aku masih muda, aku pernah sekali bertarung dengan tuan Xeon, ternyata aku hanya mampu mengimbangi separuh kekuatan miliknya."
"Itu memang luar biasa, aku pun sadar anda mungkin sama kuatnya dengan ahli sihir jubah raja, tapi tuan Xeon masih berada di atas anda." Jawab Zen sedikit menebak-nebak.
"Hahaha, ahli sihir jubah Saint ?, Aku sudah melampaui mereka, aku adalah seorang ahli sihir jubah Saint." Ucap Xin Sanziu penuh rasa bangga.
Memang mengejutkan, karena seorang ahli sihir jubah Saint hanya sedikit orang mampu mencapai tingkatannya, di benua selatan ini pun tidak lebih dari seratus ahli yang menjadikan diri sebagai seorang saint.
"Tapi yang aku pikirkan adalah, kekuatan penguasa iblis itu, dia sangat kuat. Meski pun tuan Xeon tidak terkalahkan dalam wujud separuh naga, namun hanya untuk beberapa waktu." Xin Sanziu mulai terlihat kurang nyaman.
"Bukankah pertarungan jangka lama akan berakibat buruk."
"Aku harap itu tidak terjadi, semoga tuan Xeon bisa mengalahkannya sebelum batas waktu habis." Itu menjadi harapan Xin Sanziu.
Memang Zen sudah menyadari itu, mustahil bagi siapa pun mempertahankan kekuatan sedemikian besar dalam waktu yang lama.
Zen yang pernah melawan Penguasa iblis Edurali V Doomzar memang mengakui seberapa kuat dirinya, tanpa bantuan dari skill Limit over, tentu tidak mungkin Zen bisa melawan balik hingga membuat Edurali mundur.
Hingga Zen dan Xin Sanziu melihat jika satu hantaman pedang besar bersarang tepat menebas tubuh Rulhan Sonfall, dia terjatuh dan menerima luka besar yang merobek kulit dada.
"Kau datang di tempat yang salah, karena ada aku disini sebagai pelindung, dan kau harus menerima akibatnya telah membuat kerusakan di wilayah ku."
__ADS_1
"Ini menyenangkan, aku baru pertama kali merasa pertarungan kita sangat luar biasa." Tawa Rulhan Sonfall terdengar jelas begitu menikmati.
"Tertawalah sesuka hatimu, karena kau akan mati sekarang." Xeon tidak berniat memberi maaf.
"Benarkah begitu." Tapi jawaban Rulhan tidak takut sama sekali.
Tepat saat pedang Xeon akan di tancapkan, lonjakan aura milik Rulhan Sonfall meningkat drastis dan melampaui kekuatan yang dia keluarkan sebelumnya.
Tubuh Xeon terlempar keras hingga menghantam dinding perbatasan yang sedemikian jauh.
Secara fisik penguasa iblis itu mengeluarkan wujud nyata dan melepas segel energi, dimana sekarang dia benar-benar mirip seperti sosok iblis burung gagak hitam.
Entah itu Zen atau pun Xin Sanziu bisa merasakan kekuatan Rulhan Sonfall itu memberi tekanan kuat kepada mereka berdua, bahkan untuk Zen sendiri membandingkan antara Rulhan dan Edurali, Rulhan jauh lebih kuat dari Edurali.
Namun saat dia bertarung melawan Edurali, makhluk itu belum melepas segel wujud nyata sehingga ada kemungkinan bahwa Edurali masih memiliki kekuatan yang lebih tinggi lagi.
Pertarungan mereka berdua kembali berlanjut, tapi sekarang, Xeon berada di dalam situasi kalah, tubuh sisik naga yang sedemikian keras berhasil di tembus oleh cakar tajam di tangan Rulhan.
Darah mengalir deras, termasuk efek perubahan wujud Xeon hampir habis, jika pertarungan terus berlanjut, bisa dipastikan dia pun akan tewas.
Xeon bisa melihat kekalahannya sekarang, dia pun jatuh bersimbah darah karena kulitnya telah di robek oleh Rulhan hingga terkelupas mencapai tulang.
Di injak tubuh Xeon dan menatapnya tajam dengan lengkungan senyum mengejek.
"Kau harusnya bangga karena bisa merasakan kekuatan ku yang nyata." Ucapnya tertawa keras.
"Tidak ada kebanggaan karena harus kalah darimu, tapi aku bangga karena sudah berjuang sekuat tenaga meski pun pada akhirnya aku akan mati." Xeon masih belum menyerah.
"Ternyata kau memiliki sifat sebagai petarung yang gagah berani, aku menyukainya. Aku berikan kau pilihan, jadilah pengikut ku dan akan aku ampuni nyawamu... Tapi jika tidak, maka aku akan memberi kematian yang pedih."
"Tidak akan, lebih baik aku mati, daripada membungkuk di hadapan mu." Jawab Xeon tegas meski sudah di ujung kematian.
"Baiklah..."
Rulhan Sonfall terlihat menyesal, meski begitu, satu orang tidak bisa membiarkan Xeon terbunuh, itu adalah Zen, dia melesat cepat menahan cakar dengan sebilah pedang.
__ADS_1
"Tidak secepat itu, Sunandar... Ronde kedua baru akan di mulai."
Satu tendangan menghantam perut Rulhan dan itu cukup kuat hingga mendorong mundur dirinya agar melepas Xeon.
Xin Sanziu membawa Xeon pergi untuk segera diberikan penyembuhan, sedangkan Zen sudah siap bertarung dan menahan Rulhan Sonfall agar tidak mengejar mereka.
"Berani-beraninya kau mengganggu kesenangan ku." Teriak Rulhan keras dengan penuh emosi.
"Maaf kalau begitu, tapi kesenangan yang kau inginkan bisa aku ganti." Balas Zen tersenyum sendiri.
"Kau hanya makhluk rendahan."
Pedang Excalixer berayun ketika Rulhan datang dan siap mengarahkan cakarnya kepada Zen, dua kekuatan gelap dan emas saling bentrok, menghadirkan cahaya silau dia warna di setiap sisi.
Ledakan besar, gelombang energi menyapu bersih seluruh puing-puing bangunan yang menghalangi jalan, dimana hanya tersisa tanah lapang luas di sekitar mereka.
Zen tidak bisa bermain-main saat melawan Rulhan, dia penguasa iblis yang melepas segel wujud nyata, satu kali kesalahan dibuatnya maka habislah sudah.
Kemampuan khusus milik pedang Excalixer benar-benar bisa menjadi serangan balik untuk melawan energi gelap dari penguasa iblis.
Rulhan pun sadar, jika sosok yang melawan dirinya sekarang tidak bisa dianggap lemah, karena tiap kali dia mengarahkan cakar berselimut energi api, itu belum cukup untuk membuat musuh kalah.
Merasa aneh untuk kemampuan lawannya.... "Siapa kau sebenarnya ?, Aku tidak tahu jika di dunia gelap ini memiliki orang kuat selain manusia naga."
"Jika kau ingin tahu, maka tanyakan saja kepada Edurali." Jawab Zen.
Mata Rulhan terbuka lebar, dia tertawa keras setelah Zen menyebut nama Edurali.
"Jadi itu kau, kau iblis kecil yang sudah membuat Edurali terluka parah."
"Kau bisa menganggapnya seperti itu."
"Tapi kau salah jika menganggap aku lebih lemah dari Edurali, karena aku tidak pernah setengah-setengah saat bertarung." Ungkap Rulhan Sonfall serius.
Dan benar saja, pernyataan itu bukan sekedar kesombongan Rulhan semata, meski pedang Excalixer mampu membalikkan semua serangan, tapi penguasa iblis satu ini, seakan tahu cara untuk mengatasinya.
__ADS_1
Skill dewa : seribu mata gagak.