KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Lebih besar


__ADS_3

(Bagian khusus... Mohon bijak saat membaca, segala konsekuensinya ditanggung sendiri, selaku author hanya menuangkan imajinasinya saja, terimakasih.)


Hanya satu pelukan, cukup efektif membuat pikiran Zen bisa membayangkan lekuk tubuh yang terlihat biasa saja, bahkan jika dianggap orang lain Eri tidak memiliki daya tarik, tapi itu salah.


Aset pribadinya tersimpan rapat dari balutan kain baju kini melekat di punggung Zen dengan rasa lembut, meski pun tidak begitu besar.


Namun cepat Zen melepaskan diri dari kacaunya pikiran, sebelum Eri sadar bahwa bagian bawah dirinya sudah bersemangat dan melakukan hal lain yang melampaui batas.


"Kau salah Eri, aku pun sama, aku juga harus berusaha tetap tenang untuk bisa menahan diri, tapi tolong jangan buat ini menjadi sulit." Zen memohon dan coba menjauh darinya.


"Kenapa kau menganggap ini sulit, jika kau ingin, aku tidak akan menolak apa pun yang kau inginkan." Ungkap Eri menatap dengan senyum nakal.


Sebuah pernyataan serius yang membuat jantung Zen berdetak kencang. Namun dia sadar, bahwa sifat Eri menjadi jauh berbeda setelah menerima esensi energi iblis miliknya.


Selama dia melakukan perjalanan bersama gadis ini, Eri selalu menjaga jarak dengannya, begitu malu-malu ketika berdekatan, dan juga tidak mau bicara tentang hal-hal dewasa.


Tapi sekarang, Perlahan Eri melepas balutan kain tipis yang menutupi tubuhnya itu, Zen berada tepat di depan mata tanpa bisa untuk berkedip.


Eri memiliki kulit kuning kecoklatan, tubuh ramping yang atletis, bentuk perut terbentuk rapi enam lekukan bergelombang, aset pribadi tampak bulat sempurna tidak lebih besar dari kepalan tangan.


Mengambil tangan Zen yang dia letakan tepat untuk menyentuh aset pribadinya. ekspresi Eri seakan penuh harapan, dia pasrah tanpa mau melawan.


Begitu pula dia yang semakin agresif menggoda, dimana tangan kecilnya itu beranjak membelai sesuatu dari balik celana Zen.


"Aku pikir, milikmu ini jauh lebih jujur dari pada tuannya." Ungkap Eri yang tersenyum menggoda.


Lampu hijau muncul di dalam pikiran Zen, mulai menghasut insting lelaki penuh nafsu yang telah lama tidak merasakan tubuh wanita.


Terlebih lagi, belaian tangan Eri mulai mengusap lembut tanpa ada rasa malu seperti sifatnya sebelum menjadi iblis.


Namun seketika Zen menampar keras di wajah sendiri, jiwanya dia tarik paksa untuk kembali sadar dan tidak mengikuti nafsu lelaki yang durjana.


"Maaf Eri, ini salahku, jika aku tidak mengubah dirimu menjadi iblis, kau tentu tidak akan seperti sekarang." Zen coba menolak.


"Kenapa kau masih berpikir tentang hal itu, kau sudah menyelamatkan ku, aku pun ingin tetap hidup dan menjalani petualangan bersama denganmu. Jadi tidak ada yang salah disini... Bahkan aku merasa senang karena bisa jujur dengan perasaan ku sendiri." Jawab Eri masih menatap Zen dengan wajah merah.


Jika Eri yang sebelumnya hanya akan malu dan diam saja ketika berada di dalam pelukan Zen. Sekarang perubahan besar membuat Eri lebih berani tanpa perlu menahan diri lagi.


Emosi di dalam jiwa Zen menjadi tidak terkendali. Harum aroma sabun di tubuh Eri yang basah, membuat semangatnya semakin menjadi-jadi.


Hingga tanpa Zen sadari, celana yang menutupi harta kebanggaannya kini sudah terlepas dan sesuatu tegak menantang pun akhirnya keluar dari sangkar.


Tanpa bisa menolak, atau lebih tepatnya, Zen tidak ingin menolak, dimana akal sehat telah jatuh ke dasar dan hasrat penuh nafsu jauh mendominasi.

__ADS_1


Tatapan Eri seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat di depan mata.


"Ini jauh lebih besar saat aku melihatnya langsung." Ungkapnya.


"Jangan bicara aneh." Zen merasa malu sendiri.


Ada senyuman lain di wajah Eri terlihat yang begitu nakal, dia seperti menantikan pernyataan Zen untuk dirinya.


"Tapi aku senang, kau ternyata melihat ku sebagai wanita." Zen kembali menggoda.


"Memang selama ini aku menganggap mu lelaki ?, tentu tidak mungkin, jika kau tahu seberapa banyak aku berusaha." Tegasnya.


"Lalu kenapa untuk sekarang kau tidak menolak ku ?." Pertanyaan sulit di ucapkan Eri kepada Zen.


"Aku tidak ingin dikatakan sebagai lelaki bodoh dan naif, saat menolak wanita cantik yang membuatku merasa kacau." Jawab Zen seakan kalah.


Genggaman erat tangan Eri membelai perlahan milik Zen, semakin panas dan semakin menegangkan pula, ketika jari jemari Eri bermain-main dengan harga diri yang sudah di ujung tanduk.


Tapi cepat Zen menahan tangan Eri agar tidak melanjutkannya.


"Hmmm, apa hanya dengan itu kau sudah puas ?, Apa tidak ada hal lain yang ingin kau lakukan kepadaku ?." Ucap Eri memeluk mesra.


Atas pertanyaan Eri itu membuat Zen ingin melampiaskan semua emosi yang dia tahan begitu lama. Mengangkat tubuh kecil Eri dengan mudah, bahkan bisa dianggap sangat ringan untuk ukuran wanita setinggi dadanya.


Sekali lagi, sekali lagi dan satu kali lagi dengan durasi cukup lama yang lebih intens hingga saling beradu mekanik lidah penuh nafsu tanpa mau melepaskan diri.


"Jangan menyesal karena sudah menggodaku Eri." Ungkap Zen membulatkan tekad.


"Tidak pernah aku memikirkan tentang penyesalan." Jawabnya berani.


Erat Zen menahan pergelangan kedua tangan Eri, diangkatnya dua kaki itu naik, dan ujung senjata pun mulai bergerak masuk perlahan namun pasti. Penuh sesak, sempit dan sedikit basah, Zen sejenak berhenti, dia merasa kesulitan untuk menerobos lebih dalam.


Begitu juga dengan Eri, dia yang awalnya tersenyum menggoda, penuh semangat dan nakal, kini tampak aneh dengan ekspresi wajah menahan rasa sakit.


"Apa kau baik-baik saja ?, Jika itu sakit aku akan berhenti." Tanya Zen khawatir.


"Aku tidak apa-apa, lanjutkan saja, aku akan menahannya."


"Baiklah kalau itu keinginan mu."


Meski Eri menganggap semua akan berjalan mulus tanpa hambatan, tapi bagi ukuran senjata Zen yang terbilang besar, sangatlah sulit bergerak maju karena ini adalah pertama kalinya bagi Eri


Menekan kuat sedikit demi sedikit mulai di bergerak, hingga separuh senjata telah tertelan, namun Zen bisa melihat bagaimana perjuangan Eri yang menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit luar biasa.

__ADS_1


Hingga tanpa sadar, darah pun mulai menetes membasahi ranjang, Eri pun mendekap erat tubuh Zen dan melampiaskan rasa sakit itu dengan cakaran di punggungnya.


Ini karena tubuh Eri terbilang kecil sehingga yang dia miliki di bawah sana pun akan seperti apa adanya, tapi Zen tidak lagi bisa menahan diri, dia menolak berhenti dan tiga perempat senjata pun berhasil mencapai ujung perjalanan.


Suara Eri mengerang kuat, tubuhnya gemetar dan menegang dengan cengkraman yang erat memeras senjata milik Zen.


"Aku tidak bisa melanjutkannya, kau terlihat begitu kesakitan, aku akan menariknya keluar."


"Tidak...." Tolak Eri.


Tapi siapa sangka, Eri tidak ingin melepaskan Zen begitu saja, dia segera bangkit untuk menjatuhkan tubuhnya kebawah dan berubah posisi yang membuat Eri berada di atas.


Dia mulai bergerak sendiri, naik, turun, naik, turun, naik lagi, turun lagi namun saat ketiga kali turun, Eri tidak kuat mengangkat tubuhnya untuk naik. Hingga seketika dia jatuh dalam pelukan Zen karena sudah mencapai batas staminanya.


"Aku merasa kaki ku mati rasa." Ucapnya.


Zen tahu jika terlalu berlebihan..."kau sendiri yang memulainya."


"Aku tau itu, aku hanya tidak ingin kau kecewa karena aku tidak memiliki pengalaman saat melakukan hal ini dan itu." Jawabnya sedikit murung.


"Untuk apa aku kecewa ?."


Murung wajah Eri, dia ingin bicara sesuatu namun ragu-ragu hingga berusaha menjelaskannya dengan perasaan rumit.


"Aku tahu kau memiliki wanita lain yang jauh lebih berpengalaman, dan lihat aku... Ini sangat kecil dan tidak menarik." Ujar Eri dengan tangan memegang dadanya sendiri.


Dari ucapan Eri, sekilas bayangan Sena pun muncul dalam pikiran Zen. Dia tahu bahwa tindakannya bersama Eri adalah salah, karena sudah melanggar janji kepada Sena.


Mengartikan suasana diam dari Zen..."Jadi itu benar..."


"Aku tidak bisa membohongi mu, tapi jika tentang membandingkan kau atau wanita lain itu salah. Aku tidak mungkin melakukannya." Zen beralasan


"Benarkah itu..."


"Ya tentu saja, kau tidak perlu khawatir dengan kegelisahan yang ada dalam pikiran mu." Jawab Zen.


Atas jawaban Zen, seperti memberi semangat baru dimana Eri segera bangkit untuk melanjutkan kenikmatan yang tertunda.


"Aku tidak peduli jika kau berhubungan dengan wanita lain, satu atau pun dua, aku hanya berharap kau tetap memiliki waktu untukku juga."


"Aku tidak tahu harus menjawab apa." Bingung Zen sendiri.


Eri tidak segan-segan lagi saat memasukan senjata Zen kembali ke dalam tubuhnya, dan itu membuat mereka menikmati kegiatan semalaman penuh.

__ADS_1


__ADS_2