
Saat Sena terbangun dia hanya bisa melihat cahaya dari batu kristal yang terpancar di dinding. Ingatannya masih jelas ketika terjatuh oleh kemunculan sebuah tangan besar di bawah tanah.
Berusaha untuk berdiri dengan rasa sakit di sekujur tubuh, ada banyak luka lebam dan goresan masih baru. Namun itu bukan masalah, dimana semua pahlawan memiliki kemampuan regenerasi sel kulit yang terluka.
Hanya saja, Sena tidak bisa mengembalikan kondisi bajunya yang sudah sobek dari segala sisi seperti sekarang.
"Harusnya aku membawa pakaian ganti." Gumam Sena.
Dari ujung lorong, sosok bayangan muncul. Sena pun seperti siap mengeluarkan sebuah serangan.
Tapi itu adalah Zen yang berjalan menghampiri..."Kau sudah sadar Sena."
Sena pun bisa bernafas lega...."Zen, dimana kita sekarang."
"Sebuah goa di dalam lantai 46."
Mereka benar-benar terjatuh hingga mendekati dasar Dungeon.
"Apa kau yang membawaku kemari." Tanya Sena.
"Ya, kita berdua hampir tewas karena jatuh dari lantai 10, sebuah keberuntungan karena aku bisa membawamu ke sarang ini hingga tidak mendapat luka fatal." Jawab Zen.
Goa ini adalah sarang dari salah satu binatang iblis jenis burung yang hidup dalam Dungeon. Mengetahui bahwa ukuran sarang cukup luas, sehingga bisa dibayangkan seberapa besar burung yang hidup di sarang itu.
Tapi semua sudah di bersihkan oleh Zen, dimana dua tumpuk mayat burung berwarna merah tergeletak di belakang Sena.
"Bukankah ini burung Carmalin binatang iblis kategori A." Sena cukup terkejut dengan itu.
Binatang iblis jenis burung Carmalin sendiri hidup di tebing-tebing jurang, mereka sangat sulit untuk diburu, tidak hanya soal kecepatan terbang yang luar biasa, tapi bulu-bulunya tajam seperti pisau.
Lepas dari bahaya memburu burung Carmalin, dagingnya sangatlah enak, mirip seperti ayam kampung tapi lebih lembut dan beraroma khas. Harganya sangat mahal, bahkan seorang raja pun jarang menikmati daging burung Carmalin.
"Jangan berpikir kau ingin memakannya sekarang." Zen bisa membaca isi pikiran Sena.
"Aku tidak serakus itu, tapi ya mungkin cocok jika dijadikan Sate."
Zen pun setuju...."Kau benar, kita bisa simpan untuk nanti. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana cara keluar dari Dungeon ini."
__ADS_1
Mereka berdua tahu seberapa berbahaya lantai dasar dari Dungeon, meski pun Sena dan Zen memiliki kekuatan sebagai pahlawan utusan Dewa, masihlah sulit untuk melawan para monster yang terbilang sangat kuat.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang." Tanya Sena.
"Hanya ada dua pilihan, kita naik kembali ke atas atau turun ke bawah. Dua-duanya sangat sulit di lakukan."
Jika naik ke atas akan memerlukan waktu lama hingga 7 hari dan dipastikan mereka melawan banyak binatang iblis selama perjalanan.
Begitu juga dengan turun ke bawah, menuju lokasi keberadaan penguasa lantai 50 dan menghancurkan inti jiwa Dungeon akan membawa mereka keluar secara otomatis.
Namun itu menjadi pilihan sama buruknya. Meski pun jarak hanya 4 lantai, karena semua monster yang harus mereka berdua lawan masuk dalam kategori A dan S.
"Berbahagialah Sena, karena untuk pertama kalinya, aku menuruti keinginan mu, kita turun kebawah, itu satu-satunya jalan tercepat kita keluar dari sini." Ucap Zen yang sudah memikirkan matang-matang.
Zen tidak bisa main-main dalam kondisi berbahaya seperti sekarang, dia harus mengeluarkan semua kemampuan demi bertahan hidup.
Dari sudut pandang Sena, dia melihat Zen penuh kekaguman, sejak awal mereka bertemu dianggap lelaki itu hanya seorang pengecut yang tidak mau ambil resiko. Tapi sekarang dia begitu serius, sorot mata tajam begitu tegas dan sifatnya jelas berbeda.
"Kenapa kau melihatku aneh begitu." Zen merasa tidak nyaman.
"Tidak, aku hanya merasa malu ketika menyebut mu pengecut."
Tapi Sena tersenyum mendengar perkataan Zen..."Aku yang salah, kau tidak pengecut, kau hanya bersikap bijak agar tidak membuat masalah untuk keluarga mu."
Tepat dari belakang punggung Zen, tangan Sena melingkar dan memberi sebuah pelukan.
"Apa yang kau lakukan." Zen coba menghindar, tapi tindakan Sena terlalu mendadak.
"Hanya sebagai ucapan terimakasih."
"Kau bisa berterimakasih setelah kita berhasil keluar dari tempat ini."
Sena tetaplah seorang wanita, di kehidupannya yang lalu atau pun sekarang.
Sebelum dipanggil ke alam Dewa untuk menerima gelar sebagai pahlawan, Sena adalah seorang gadis SMA kelas 2 jurusan IPS bernomor absen 28 atas nama Salsabila Serin.
Sebagai remaja gadis yang cukup populer di sekolah, Salsa juga pernah memiliki kekasih, mereka saling mencintai dan bermesra-mesraan seperti pasangan pada umumnya.
__ADS_1
Namun satu kejadian ketika Serin bersama kekasihnya, dia panggil ke alam Dewa dan membuat semua berubah, menjalani hidup baru dengan suasana baru, tentu awalnya Serin tidak bisa menerima kenyataan, kehilangan keluarga, kekasih, hal-hal indah yang dia miliki di dunia lama.
Lambat laun, dia menyadari bahwa tidak mungkin hanya diam dan menyesal akan hidupnya, Serin pun menerima ketetapan Tuhan Sejati untuk mengemban tugas dari para Dewa.
Hingga 17 tahun dia hidup ada banyak hal terjadi, mengenal keluarga Ars sebagai salah satu bangsawan kelas menengah di kerajaan Villian. Mempelajari kekuatan energi sihir di dalam tubuh. Berlatih macam-macam teknik bertarung. Mengenal banyak orang di akademi sihir Zezzanaza. Dimanfaatkan oleh keluarganya demi mendapat status anggota keluarga kerajaan dan mendapat misi untuk melawan para renkarnasi iblis.
Hampir tidak terpikir sedikit pun jika seorang gadis SMA biasa seperti Salsa hadir sebagai sosok pahlawan. Tapi untuk semua yang dia alami, pertemuan dengan Zen membuatnya sedikit lebih baik.
Lebih dari sekedar seorang teman dunia lamanya yang sama-sama hidup di dunia baru Dios, Zen menjadi obat kerinduan atas masakan penuh cita rasa dan sosok yang mungkin memahami dirinya.
Perjalanan berlanjut, dimana untuk mencapai lantai 50, Zen dan Sena harus melalui 4 lantai lagi, termasuk tempat mereka sekarang. Sebuah tebing curam yang hanya bisa di lewati dengan jalan sempit di pinggiran tebing.
Tidak hanya itu, kesulitan yang sebenarnya adalah sekumpulan binatang iblis kategori A burung Carmalin. Di jalan sempit sangat beresiko untuk melakukan pertarungan, terlebih kecepatan terbang burung Carmalin sulit di tangani.
"Sena kau gunakan ini." Sebuah tali Zen berikan kepada Sena.
"Tali ?, Untuk apa ?."
"Ikat tubuhmu, kalau sampai tergelincir aku bisa menyelamatkan mu." Jawabnya.
Sena paham maksud dari rencana Zen, jalanan sempit menyulitkan mereka bergerak dan perlawanan terhadap burung Carmalin hanya bisa menggunakan serangan jarak jauh. Tapi tidak menutup kemungkinan terjadi hal buruk seperti jatuh karena salah pijakan. Mereka harus saling membantu dalam kondisi sulit.
Senapan Laras panjang yang diubah bentuk seperti sniper dari skill sembilan senjata sudah siap ditangan Sena, mereka harus membunuh burung Carmalin sebelum datang.
Bergerak selangkah demi selangkah, perlahan namun pasti, waspada mengawasi setiap pergerakan burung Carmalin dan Sena melepas tembakan berskala kecil untuk mengurangi dampak kerusakan di sisi luar tebing.
Jumlah burung Carmalin terhitung mencapai 50 ekor, mereka secara bergantian, tapi itu mempermudah Sena untuk melawan balik. Termasuk Zen sudah siap dengan skill pencipta dengan bilah pedang menyerang otomatis, meski pun tidak terlalu efektif dimana gerakan musuh terlalu cepat.
Tiba-tiba saja, puluhan monster terjun dari ketinggian seperti sengaja menjatuhkan diri lewat lubang di tempat mereka terjatuh.
Ini menjadi sangat berbahaya, monster-monster itu merusak dinding tebing, runtuhan batu bisa saja menimpa kepala mereka.
"Pintunya sudah terlihat, kita harus cepat."
"Lari Zen, lari...."
Tapi sayangnya, tepat sebelum mencapai pintu, sebuah bongkahan batu memotong jalan. Tidak ada pilihan lain, Zen memegang tangan Sena dan melemparnya jauh menuju pintu.
__ADS_1
Tindakan Zen berhasil Karena Sena sudah mencapai lokasi, namun sebelum dia melompat, dari belakang burung Carmalin menyerang, tidak ada kesempatan Zen menghindar, luka sayatan besar merobek punggungnya.
Pijakan Zen runtuh, dia jatuh tapi karena tali yang masih mengikat tubuh mereka berdua, Sena berhasil menariknya untuk naik ke atas.