
Dia tahu, sihir yang Hiyo gunakan adalah sihir kegelapan : ruang gravitasi, dimana segala sesuatu di dalam wilayah jangkauan lingkaran sihirnya akan menerima efek Gravitasi. Itu juga yang menjadi alasan kenapa burung Carmalin jatuh seperti di tarik paksa oleh kekuatan misterius.
Setelah Zen mengambil bunga Rios, dia kembali turun untuk menghampiri Hiyo. Sedangkan ketiga burung Carmalin masih tertahan di bawah dan tidak bisa bergerak sama sekali.
"Aku tidak tahu kau bisa menggunakan elemen gelap." Saut Zen dengan kagum.
"A-aku memang bisa menggunakannya, tapi hanya sebatas ini saja, aku tidak terlalu mahir." Jawab Hiyo yang memalingkan wajahnya karena malu.
Meski Hiyo menyangkal bahwa dia memiliki bakat dalam kemampuan sihir, Zen tetap merasa senang, dimana anggapannya tentang potensi Hiyo terbukti benar.
Bagi Zen ini aneh, jika Hiyo adalah ahli sihir yang menggunakan elemen api, air, tanah dan angin, itu sangat wajar, karena semua manusia memiliki satu dari keempat element dasar.
Tapi pengguna sihir element cahaya dan Gelap, sangatlah langka, 1 : 100.000 kelahiran manusia yang memiliki salah satu element khusus itu.
Jika sihir element cahaya lebih ke arah sihir penyembuh dan pelindung, tapi dalam tingkat yang lebih tinggi dari pada sihir penyembuhan biasa. Sihir element gelap adalah sihir ruang dan ilusi, kehadiran mereka selalu di inginkan oleh setiap akademi sihir.
Zen menarik tangan Hiyo sebagai bentuk apresiasi..."Tapi ini luar biasa, bahkan aku baru pertama kali melihat seorang pengguna sihir gelap."
"Tolong jangan terlalu banyak memuji, aku malu." Hiyo tidak berani menatap mata Zen, karena mereka sekarang benar-benar dekat.
"Kenapa harus malu, bakat sihir adalah anugerah, jadi kau harusnya bangga atas berkah yang kau miliki." Zen tetap memaksa agar Hiyo bisa sedikit berubah.
Dan tanpa sengaja, mata mereka pun saling berhadapan, dari balik poni panjang yang menutupi wajah itu. Pipi Hiyo merah merona untuk diperlihatkan kepada Zen.
Cepat Hiyo melepas genggaman tangan Zen dan berbalik badan agar tidak terlalu lama di dekat seorang lelaki yang akan membuatnya bingung sendiri.
"Jadi sekarang apa yang harus kita lakukan dengan ketiga burung Carmalin ini." Tanya Hiyo menghindar pertanyaan Zen.
Tanpa ragu Zen menjawab..."Sebaiknya kita bunuh."
__ADS_1
"Tu-tunggu aku merasa kasihan, karena burung-burung ini hanya ingin melindungi sarang mereka saja." Balas Hiyo, dimana dia tidak senang ketika harus melihat burung Carmalin tewas.
Zen tidak percaya dengan perkataan Hiyo, karena dia ingat saat gadis ini cukup menikmati makanan dari daging panggang burung Carmalin di pertemuan pertama. Tapi ketika harus membunuh mereka, dianggapnya sebagai tindakan tidak manusiawi.
"Kau harusnya sudah terbiasa sebagai Hunter, binatang iblis menjadi sumber penghasilan yang kau cari dan juga daging burung Carmalin sangat enak. Apa kau tidak ingin memakannya." Ucap Zen coba memberi pencerahan kepada Hiyo.
Di saat itu lah keragu-raguan muncul di wajah gadis lugu, dia membandingkan antara rasa kasihan dan rasa lapar di perut.
"A-aku ingin, tapi...." Hiyo tidak bisa menolak kenikmatan makanan yang Zen berikan kemarin.
"Kau tidak perlu melihatnya. Biar aku yang mengurus burung-burung ini." Balas Zen dengan pedang di tangan sudah siap melakukan tugasnya.
Dia segera membalik badan dan suara tebasan pedang ketika membelah leher burung Carmalin di sertai jeritan suara yang terdengar jelas. Meski pun Hiyo merasa tidak nyaman, tapi dia coba menahan diri dan berusaha tetap tenang.
"Semua sudah aku masukkan ke dalam ruang penyimpanan, ayo kita pergi ke tempat bunga kalivira." Ucap Zen dengan menepuk pundak Hiyo.
"Baiklah." Lemas Hiyo berjalan.
Tapi pada akhirnya, kekayaan alam itu sendiri menjadi alasan permusuhan antara dua kerajaan, sudah banyak pertumpahan darah antara kedua belah pihak.
Zen tidak ingin ikut campur untuk masalah ini.
Sedangkan di dalam hati Zen, dia masih belum bisa memahami, kenapa Hiyo yang memiliki kekuatan sihir element gelap namun reputasinya di kota Ser Din tidak pernah dikenal.
Padahal, jika akademi sihir tahu tentang keberadaan Hiyo, mereka pasti menawarkan beasiswa untuk dia belajar di sana.
"Hiyo, apa kau menyembunyikan kemampuan sihir gelap itu dari teman-teman mu." Tanya Zen.
"Tidak juga, mereka tahu."
__ADS_1
"Ini aneh, biasanya orang dengan kekuatan sihir langka akan terkenal, tapi kenapa kau terlihat seperti tidak ingin orang lain tahu ?." Balas Zen kembali bertanya.
"Sejak awal, aku bukan orang yang berbakat dalam sihir, aku selalu ragu-ragu dan penakut, jadi aku tidak ingin menggunakannya jika nanti akan menjadi masalah untukku sendiri." Jawaban Hiyo itu cukup masuk akal.
Karena ini juga berlaku pada Zen, bahkan Hiyo masih lebih baik karena dia tahu batasan untuk ketidakmampuan dirinya jika menghadapi sebuah masalah.
Sedangkan Zen, dia menyembunyikan kekuatan pahlawan utusan Dewa dari semua orang karena keinginan pribadi, dia tidak ingin menjadi alat untuk urusan pertengkaran Dewa dan iblis.
"Tapi apa kau tahu, masa depanmu akan menjadi lebih baik dengan kekuatan itu."
"Aku tidak mau, aku tidak ingin hidupku berubah lagi." Ucap Hiyo menolak pendapat Zen.
"Apa salahnya hidupmu berubah, jika itu menjadi lebih baik, kau akan sangat beruntung."
"Apa kau bisa diam dan tidak mengurusi tentang hidup orang lain, memang kau tahu apa ?, berkata seakan perubahan adalah hal baik, itu mungkin berlaku kepada orang lain, tapi tidak denganku." Kali ini sikap Hiyo berubah, suaranya terdengar keras dan marah.
Sejenak Zen tertegun, ketika dia melihat wajah Hiyo di balik poni panjangnya itu hampir menangis dan segera berlari pergi.
Zen merasa bersalah dan coba memperbaiki suasana hati Hiyo. Mencari dimana gadis lugu itu bersembunyi, hingga suara isakan tangis terdengar dari balik batu.
Dia berjalan mendekat dan memberikan saput tangan untuk menyeka air mata itu jatuh.
"Maaf jika perkataan ku salah." Ucap Zen.
"Aku hanya takut, karena aku tidak pernah menginginkan hidup seperti sekarang." Lirih suara Hiyo menjawab.
Zen merasa jika Hiyo memiliki hidup yang berat, dia tidak peduli soal kekuatan langka atau menjadi sosok hebat, dia seperti menyesal telah hidup.
Tapi menjadi seorang Hunter bersama Eri, Durl, Senko dan Erlan membuatnya sedikit lebih baik, dan dia berharap untuk tidak pernah berubah.
__ADS_1
Memang benar, perubahan adalah suatu hal yang menakutkan dalam hidup, entah akan menjadi lebih baik atau pun lebih buruk di setiap sisinya, tergantung bagaimana cara kita menjalani perubahan itu.
Bagi Zen hidup di dunia baru Dios adalah berkah, meski pun banyak masalah terjadi, tapi Zen tidak ingin menyesal. Sehingga tidak pantas bagi dia memberi pendapat kepada Hiyo, tanpa pernah tahu hidup yang gadis itu miliki.