
Meski pun aura Zen benar-benar ditunjukkan seperti ingin membunuh, tapi itu hanya sebagai bentuk intimidasi agar Hamza bisa diam dan tidak mengusik dirinya.
Atas permintaan guild master Sabria, Zen melepaskan Hamza yang kini tidak bergerak dan hanya menatap Zen dengan tubuh gemetar.
Jika memang Zen serius, tanpa perlu satu jari untuk dia gerakkan, seorang Hunter lencana platinum sekali pun akan tewas sebelum mencoba melawan.
Beberapa orang bawahannya berjalan mendekat, mereka tentu bertanya-tanya bagaimana mungkin seorang Hamza yang tidak kenal takut saat berhadapan dengan para monster, kini seperti akan semaput.
"Ketua apa yang terjadi...." Tanya satu orang.
Mencoba mengatur nafas dan berdiri tegak, namun perasaan takut di hati Hamza tidak bisa di sembunyikan. Hanya saja, dia masih berusaha menunjukkan diri penuh wibawa.
"Aku masih lelah karena pertarungan melawan pasukan iblis sebelumnya, jika bukan karena ini, aku pasti menghajar lelaki itu." Tegasnya dengan sikap berani.
"Itu benar ketua, di lain waktu kalau kita bertemu dengan dia, sebaiknya kita beri pelajaran agar lebih bersikap hormat."
"Tidak perlu, biarkan saja, aku tidak ingin dianggap sebagai orang jahat yang senang menganiaya orang lemah."
"Ketua memang luar biasa."
Semua bawahan itu sudah terbutakan oleh sosok Hamza yang menjadi Hunter tingkat atas di kota kerajaan Zorgan. Sehingga tidak tahu apa pun, jika Zen berada di tingkat lebih tinggi dari pada siapa pun dan mustahil mereka kalahkan.
Di lantai dua kantor guild Master...
Zen dan Eri di bawa masuk oleh Sabria, dia ingin tahu secara pasti tentang alasan pasukan iblis menyerang.
Dan memang benar seperti yang dikatakan oleh Eri, jika ada tiga sosok lain dimana mereka adalah iblis tingkat tinggi, dua diantaranya menyerang kelompok Hunter.
Tapi satu hal yang pasti untuk Zen ungkap kepada Sabria... "Aku bertarung dengan penguasa iblis."
"Apa !!!?, Kau pasti bercanda." Kejutan di wajah Sabria tentu menunjukkan seberapa mengerikan sosok penguasa iblis.
"Untuk apa juga aku bercanda, ini adalah masalah serius dimana saat penguasa iblis sudah bergerak, maka perang besar antara pahlawan dan iblis pun akan segera terjadi." Jawab Zen menatap serius.
"Tapi kenapa penguasa iblis muncul di tempat ini." Sabria pun bertanya secara langsung.
Zen sudah mempersiapkan alasannya..."Dia ingin mengambil benih kebangkitan penguasa iblis lain yang ternyata, benih itu bersembunyi di dalam goa dekat perbatasan."
"Apa penguasa iblis itu berhasil mendapatkan benih kebangkitan ?."
__ADS_1
"Tidak, sebelum Penguasa iblis mendapatkannya, aku sudah menghancurkan benih kebangkitan yang dia cari." Meski pada kenyataannya Zen menyerap benih itu dan sekarang ada di dalam dirinya.
"Syukurlah...." Sabria sedikit bernafas lega.
Jika ini berhubungan dengan sosok iblis, setiap manusia tentu merasa khawatir akan kemunculan mereka yang sama seperti kehadiran bencana alam.
"Tapi aku tidak menyangka, jika tuan Hanzen mampu bertahan saat melawan penguasa iblis." Sabria memberi pujian.
"Ya nyonya Sabria tahu, terkadang keajaiban memang datang di saat yang tepat." Ungkap Zen memberi alasan lain.
"Keajaiban apa itu ?." Sabria penasaran.
"Entah atas dasar apa, penguasa iblis itu pergi dan melepaskan ku begitu saja." Zen jelas tidak ingin mengatakan yang sebenarnya.
"Itu memang sebuah keberuntungan." Sabria mengangguk setuju.
Nyatanya ucapan Zen hanya sebuah kebohongan kecil yang dia buat agar Sabria tidak memperbesar masalah ini. Seorang Hunter biasa lencana emas mampu memukul mundur penguasa iblis dimana notabenenya setara dengan binatang iblis kategori Legenda, itu jelas menjadi hal menakjubkan dan mustahil terjadi.
"Tapi kenapa dia pergi, yang aku tahu, para iblis senang membunuh manusia, mereka menganggap kita seperti mainan dan setelah mereka puas, mereka pun pergi." Sabria menjawab dengan perspektifnya sendiri.
"Entahlah, mungkin dia tahu jika memakanku akan sakit perut." Asal saja Zen bicara.
Tertawa Sabria dan Zen terbahak-bahak, meskipun itu bukan sesuatu yang lucu bagi mereka.
Berada di ibu kota kerajaan Zorgan suasana ramai saat malam hari adalah hal biasa, masih banyak para penduduk yang melakukan kegiatan tanpa peduli soal waktu tidur mereka.
Terlebih lagi bagi para Hunter, mereka selalu menikmati waktu luang, berpesta mabuk bersama teman-teman, atau pun menghibur diri sendiri di warung remang-remang dengan para wanita.
Itu menjadi hal wajar bagi masyarakat perkotaan, entah di dunia mana pun manusia hidup.
"Hei apa kau ingin makan sesuatu ?." Tanya Zen kepada Eri.
"Memang apa yang bisa kita makan di kota ini ?, Semua makanan tidak enak, aku lebih senang jika kau yang memasaknya." Jawab Eri.
"Baiklah, aku tidak keberatan."
"Kalau begitu aku ingin makan sup."
Suara jiwa Dungeon bergema dalam pikiran Zen...'Tuan ada lima orang mengikuti anda dengan niat membunuh.'
__ADS_1
'Kau tidak perlu mengatakannya aku sudah tahu.'
Zen hanya tersenyum dengan gelengan kepala... "Tapi sebelum kita makan, apa yang harus kita lakukan dengan para tikus di belakang."
"Tikus ?, Bukankah itu hal biasa di kota ini banyak tikus." Jawab Eri.
Zen menyadarinya, namun tidak dengan Eri, jika saat ini ada lima orang yang mengikuti mereka dari awal keluar kantor guild. Tidak hanya sekedar tahu bahwa ada niat buruk yang ingin mereka lakukan, tapi tentang siapa sebenarnya orang-orang itu.
"Hanya saja tikus yang bersembunyi sekarang, sangat besar, hitam, bau dan juga sombong." Tambah Zen dalam deskripsinya.
"Aku baru tahu jika tikus bisa sombong."
"Anggap saja begitu."
Zen menarik tangan Eri untuk masuk ke sebuah gang sempit dan juga sepi.
Kelima dari mereka adalah para bawahan Hamza yang ingin membalas perbuatan Zen karena sudah menghina sang ketua.
Bersembunyi di balik bayang-bayang gelapnya dinding rumah, berlari tanpa suara dan bergerak cepat menyelinap di titik buta pandangan mata.
Zen mengakui kemampuan mereka cukup ahli untuk sekelas Hunter lencana gold, hanya saja mereka salah memilih lawan. Dianggap kalau Zen hanya orang bodoh yang lemah, tentu menjadi kesalahan besar.
"Zen kenapa kita lewat tempat sepi, apa jangan-jangan kau... Bukankah lebih baik kalau di kamar saja."
"Kenapa kau berubah agresif setelah menjadi iblis, apa itu mempengaruhi kepribadian mu." Zen tidak habis pikir dengan sikap Eri sekarang.
Setelah Zen menjelaskan tentang ke lima orang yang ingin berbuat jahat kepada Eri, kini dia tahu bahwa tujuan Zen membawanya masuk ke gang sempit adalah untuk menghindar dari saksi mata ketika harus menghabisi mereka.
Eri pun segera melompat ke atas rumah penduduk dengan cepat dan meninggalkan Zen sendirian di gang kecil itu.
Memang benar saja, saat Eri pergi, kini dua sosok lelaki muncul di jalan depan dan tiga lainnya menghadang dari belakang.
"Siapa sangka, Kau sadar jika kami akan datang, dan kau membiarkan gadis kecil itu pergi agar bisa selamat, sungguh lelaki bijak."
Mereka berlima tidak memberi kesempatan kepada Zen untuk kabur, gang sempit ini hanya memiliki dua jalan, yaitu depan dan belakang.
Zen bersikap santai untuk menjawabnya...."Tuan-tuan sekalian, ada perlu apa kalian menghadang jalanku ?. Jika memang ingin bicara bukankah besok masih ada waktu."
"Kau tidak memiliki kesempatan untuk bisa bicara besok, karena hidupmu berakhir malam ini." Jawab mereka dengan ancaman.
__ADS_1
Tanpa perlu banyak bicara, satu orang segera menghunuskan pedang dan berniat menebas kepala Zen. Tapi pikiran itu terlalu naif jika menganggap semua akan berakhir dengan mudah.
Satu anak panah melesat dari atas dan menembus tangannya hingga pedang itu pun jatuh.