
Meski pun di katakan dunia gelap, tempat ini memiliki sistem Zona waktu yang sedikit unik. Dimana pergantian hari pun terjadi berdasarkan terbit dan tenggelamnya cahaya bintang dari permukaan luar.
Di bagian wilayah pusat kota terdapat satu menara tinggi dengan batu kristal besar yang menjadi penanda akan pergantian hari. Sehingga tiap kali cahaya batu kristal itu redup maka di permukaan luar adalah waktu malam, begitu pula saat menara mulai bercahaya itu menunjukkan siang hari.
Sehingga Zen tahu kapan waktu untuk dikatakan sebagai esok hari, dan dia pun harus menepati janjinya kepada pak tua Xin.
Namun kali ini, Zen tidak sendirian, Lify dan Eri pun meminta untuk ikut ke kediaman penguasa wilayah Xin Sanziu.
Tanpa perlu mengikuti petunjuk dari secarik kerta alamat rumah yang di tinggalkan oleh pak tua, atau pula bertanya kepada setiap orang di sekitar.
Mereka pun secara mudah bisa menemukan satu rumah terbesar di antara rumah-rumah penduduk sekitar. Tapi yang bisa menjadi patokan untuk Zen dan lainnya adalah keramaian acara hajatan hari pernikahan Xin Sanziu.
Saat ini, sebagian besar penduduk kota beramai-ramai datang ke tempat hajatan, dimana mereka tentu ingin melihat bagaimana Xin Sanziu membuat acara sedemikian mewah.
Meski begitu, hanya tamu penting dan memiliki undangan khusus saja diperbolehkan untuk masuk ke dalam acara, sedangkan orang biasa cukup melihat dari luar saat penari tiang melakukan atraksi panjat pinang.
Tapi di sisi lain... Zen, Eri dan Lify berjalan menuju gerbang utama, beberapa orang penjaga segera menghentikan mereka karena pakaian yang masing-masing gunakan tidak mencerminkan kewibawaan sosok tokoh penting.
"Tunggu, berhenti... Hanya orang yang berkepentingan saja, diperbolehkan masuk ke tempat ini." Saut penjaga menahan Zen untuk berjalan melewati gerbang.
Zen tetap bersikap tenang dan sopan, sebagaimana dia paham jika penjaga itu hanya melakukan tugasnya.
"Aku memiliki kepentingan, aku secara khusus di undang langsung oleh tuan Xin Sanziu." Jawab Zen.
"Kalau begitu tunjukan kartu undangan anda tuan."
"Tentu saja aku punya...."
Tanpa perlu ragu-ragu, secarik kertas yang di tulis oleh pak tua Xin Sanziu, Zen keluarkan dan biarkan penjaga itu menyesali tindakannya karena sudah menghentikan tamu penting.
"Lihat... aku bicara jujur, kau salah mengira jika aku bukan orang penting di sini." Zen sedikit menunjukkan ekspresi wajah penuh rasa bangga.
"Ini palsu." Jawab penjaga itu.
Pernyataan penjaga membuat Zen bingung, terlebih lagi untuk Eri dan Lify, mereka tidak tahu soal secarik kertas yang dia berikan.
"Huh ?, Palsu ?, Bagaimana bisa kau mengatakan jika surat ini palsu ?, Tuan Xin Sanziu sendiri yang memberikannya kepadaku." Zen coba menjelaskan.
"Tidak mungkin tuan Xin mengenal orang seperti anda, lihat pakaian anda, lusuh dan sederhana, sedangkan tamu lain menggunakan pakaian mewah." Dia memberi kesimpulan yang tidak bisa Zen terima.
Hingga dari arah belakang, seorang lelaki bertelan*jang dada penuh tato berjalan masuk hanya dengan menunjukkan surat undangan begitu saja.
Zen tentu saja semakin bingung dan ingin komplain.
"Apa kau rabun.... Dia saja bisa masuk bahkan tidak menggunakan ****** ***** saja, itu lebih dari sederhana, sangat minimalis... bukankah aku lebih baik, karena masih memiliki urat malu dengan berpakaian lengkap." Tegas Zen menolak pernyataan penjaga.
"Kau salah, dia adalah ketua suku manusia naga, sehingga wajar tidak menggunakan pakaian."
Rumit bagi Zen menerimanya..."Logika macam apa itu."
"Kalau kau tidak memiliki alasan lain, segera pergi, atau aku akan mengusir mu." Penjaga pun mengancam.
Zen merasa sedang terhina di sini, mengingat bahwa dia sudah berjanji kepada pak tua itu, tentu bagi dirinya melanggar janji adalah tindakan tidak terpuji.
"Kalau begitu, panggil saja tuan Xin Sanziu, kau akan tahu kebenarannya."
Melihat bagaimana Zen sangat ngotot untuk bicara, penjaga itu pun merasa kesal, bergegas masuk dan keluar dengan membawa orang lain.
Ternyata orang yang dia panggil bukalah tuan rumah, melainkan sosok lain yang terkejut ketika melihat Zen di luar gerbang.
__ADS_1
"Kau.... Akhirnya aku menemukanmu." Ucap sosok lelaki yang datang tersenyum tidak ramah.
"Siapa yah ?." Tanya Zen.
"Kau sudah mengambil mutiara hitam dariku." Jawabnya.
Zen pun merasa tidak asing dimana dia ingat jika pernah membuat masalah kepadanya tentang jual beli mutiara hitam.
"Tunggu, aku lah orang yang membeli mutiara hitam itu ?. Sembarangan kalau kau bicara, jangan seenaknya sendiri menuduh orang."
"Memang itu kenyataannya." Tidak ada kompromi.
"Aku lah orang yang membeli mutiara hitam, dan kau memaksa untuk menyerahkannya setengah harga, tentu kau sangat bodoh." Zen tetap membantah.
"Bicaralah kau sampai berbusa, di sini kau hanya orang asing, sedangkan aku punya kuasa, jika kau berani melawan maka kau akan menerima akibatnya... Jadi serahkan mutiara hitam itu baik-baik." Dia memiliki niat buruk untuk mereka.
"Apa kau tahu, aku adalah orang yang tidak suka di tuduh sembarangan dan di ancam." Zen seperti sudah siap dengan keputusannya.
"Memang kau lihat wajahku ini peduli ?."
Tanpa perlu panjang lebar untuk berdebat dan saling ejek satu sama lain, satu pukulan keras melayang lurus ke wajah lelaki itu hingga terpental jauh.
Lelaki yang sebelumnya bersikap sombong dan bicara seenaknya sendiri, kini hanya bisa menutup mulut karena sudah tidak sadarkan diri.
Dia tidak membuat keributan, hanya sebuah pelajaran untuk satu orang ini.
"Kau berani memukul ketua kami, kau harus membayar dengan nyawamu."
Para anggota bandit Sanziu yang berjaga di sekitar gerbang utama mulai mengelilingi Zen dan tetap saja, semua itu bukan masalah bagi Zen, karena dalam satu dua tiga puluh mereka jatuh dan terlelap seperti sedang tidur.
Hanya ada satu orang yang masih sehat, tapi dia melihat Zen penuh ketakutan, diangkat untuk berdiri, dibantu pula membersihkan debu di bajunya, kemudian Zen bicara.
Satu orang itu hanya mengangguk paham, berjalan terlunta-lunta untuk masuk ke dalam rumah.
Di tempat lain....
Pak tua itu, Xin Sanziu sedang berbincang-bincang mesra kepada satu wanita cantik dengan satu botol arak yang dituangkan ke dalam cangkir.
"Sayang, apa kau sudah mempersiapkan hadiah untuk acara kita ini ?." Ucap wanita itu sedang merayu.
"Tentu saja, aku sudah mempersiapkan banyak hal yang mungkin kau suka." Jawab pak tua tertawa senang.
"Benarkah ?."
"Kau harus melihatnya sendiri agar tahu seberapa banyak aku berusaha membuatmu senang."
Dalam kebahagiaan mereka berdua dengan rayuan gombal seorang lelaki tua berjanggut panjang, suara ketukan pintu terdengar tiba-tiba, hingga membuat Xin Sanziu menjadi kesal karena sudah mengganggu waktunya.
"Tuan maaf jika mengganggu waktu anda."
"Cepat katakan apa yang kau inginkan." Tanya pak tua Xin Sanziu keras.
"Di bawah ada seseorang yang mengacau dan memukul ketua Rolfo." Dia memberikan informasi lain.
"Apa kalian tidak bisa mengurus orang itu."
"Dia sangat kuat tuan, kami tidak mampu mengatasinya bahkan tuan Rolfo pingsan untuk sekali pukul."
Pak tua Xin Sanziu berdiri, dia merasa tertarik dengan ungkapan anak buahnya.
__ADS_1
"Baiklah aku akan turun...."
Membuka jendela dan menyipitkan mata, karena usia yang sudah tua itu membuatnya rabun jauh, sehingga tidak tahu sosok siapa di bawah sana.
Tapi tanpa perlu menggunakan tangga, pak tua Xin Sanziu melompat dari lantai lima rumahnya dan langsung menuju orang yang dianggapnya pengacau.
Satu pukulan di sertai energi sihir tingkat tinggi melayang jatuh ke arah sosok itu, tapi kejutan terjadi, dimana orang yang dia serangan menahan pukulannya dengan mudah.
Benturan dua energi sihir yang sama-sama kuat menghadirkan gelombang besar hingga setiap orang di sekitar harus terpental jatuh.
Xin Sanziu melompat mundur, dia seperti bersiap dalam serangan selanjutnya, namun sosok yang berdiri didepannya meminta untuk berhenti.
"Pak tua, ini aku ...." Ucap Zen.
"Eh ... Kau Zen, aku pikir kau orang yang mengacau di acara pesta ku." Balas Xin Sanziu bingung.
"Tentu bukan, aku hanya menerobos masuk dengan sedikit paksaan karena orang-orang ini tidak percaya kalau aku datang atas permintaan mu." Zen menjelaskan dengan sederhana.
Pak tua Xin Sanziu mengangguk paham, dia cukup cerdas untuk menebak apa yang sebenarnya terjadi sekarang. Bahwa Zen tidak diperbolehkan masuk, sehingga tidak memiliki pilihan dengan cara kasar.
"Apa kau tidak menyerahkan surat ku, aku yakin mereka bisa mengerti."
Lemas Zen tersenyum...."Sudah aku lakukan, tapi orang-orang mu menganggap ku penipu."
Atas pernyataan Zen, pak tua Xin Sanziu meminta kejelasan dari anak buahnya dan tanpa berani untuk berbohong mereka pun menjelaskan secara jujur.
"Maaf Zen, jika orang-orang ku berlaku kasar kepadamu, biar nanti aku berikan mereka hukuman." Xin Sanziu merasa tidak nyaman setelah anak buahnya berlaku kasar.
"Itu tidak perlu, selama semua sudah jelas, aku merasa senang."
Lepas dari masalah yang sudah berakhir, kini Pak tua Xin Sanziu membawa Zen, Eri dan Lify untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Tapi siapa sangka kau cukup kuat untuk menghentikan pukulan yang aku miliki." Ucap pak tua Xin Sanziu memuji.
"Aku sedikit percaya diri soal kekuatan. Meskipun itu tidaklah banyak." Zen coba merendah diri.
"Kau boleh berbangga diri, hanya sedikit orang yang bisa bertarung seimbang denganku di dunia gelap ini, ya paling tidak mereka haruslah setingkat ahli sihir jubah Saint."
Walau kenyataannya, kekuatan yang Zen gunakan untuk menahan serangan Xin Sanziu, hanya seperempat dari seluruh kekuatan yang dia miliki.
"Dan siapa gadis kecil yang baru ini, apa dia budakmu juga." Pak tua Xin Sanziu menunjuk ke arah Eri.
"Pak tua jangan asal bicara, aku bukan budak atau pun pembantu, aku adalah...." Eri bingung saat menjelaskan statusnya dan melirik ke arah Zen agar bisa menjawab.
"Dia adalah muridku, kurang lebih seperti itulah." Jawabnya.
Lirikan mata Xin Sanziu penuh makna kepada Eri...."Hmmm murid kah ?....Aku tidak berpikir dia pantas sebagai seorang murid."
"Apa maksud mu pak tua ?." Eri merasa risih.
"Dari tatapan matamu itu, aku seperti tahu kau tidak melihat Zen sebagai guru, melainkan lelaki yang kau suka." Ucapnya atas penilaian terhadap Eri.
Eri tertawa kaku, dia berusaha mengalihkan ucapan pak tua dan menghindar dari jawaban.
"Pak tua ini gila, mana mungkin aku menyukai mu, benar begitu Zen." Ucap Eri tanpa bisa menyembunyikan ekspresi aneh di wajahnya.
"Kau berani menyebut ku gila, kau harus tahu, aku sangat berpengalaman dalam hal wanita... Aku bahkan memiliki tujuh istri dan tiga puluh lima anak. Hanya sekedar mengetahui isi hati seorang wanita muda, itu hal yang mudah."
"Diam kau pak tua." Eri sedikit kesal tapi dia hanya berusaha mengalihkan perhatian Zen dari ucapan pak tua.
__ADS_1
Eri hanya bisa menyembunyikan ekspresi rumit itu dari Zen, dia jelas tidak ingin siapa pun menyadari tentang isi hatinya.