KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Labirin besar


__ADS_3

Darah hitam membasahi pakaian dan tubuh dari sayatan besar akibat serangan burung Carmalin. Sena tampak panik dan segera mengeluarkan sihir penyembuhan untuk menutup luka itu.


"Zen....Jangan mati, jangan mati Zen." Teriak Sena keras.


"Hei tenanglah, aku tidak akan mati karena luka kecil ini." Jawab Zen yang mulai menggerakkan tangannya untuk mengelus rambut Sena.


"Kau membuatku takut."


"Bagaimana pun aku juga memiliki jiwa pahlawan dan tubuh iblis, selama aku bisa sadar, efek regenerasi akan memulihkan semua luka yang aku terima." Zen tertawa sendiri.


Tawa itu sangat menyakitkan, terlebih dengan luka besar hingga membuat tulangnya terlihat. Wajah Sena yang rumit segera memberi pelukan erat.


Zen tidak bisa mengekspresikan diri, antara dia merasa senang dan juga ngilu...."Jika kau memelukku seperti itu, aku rasa luka ku akan tambah parah."


"Biarkan saja."


"Baiklah, baiklah, tapi jangan berlebihan ini masih terasa sakit." Jawab Zen.


Dalam beberapa menit, luka di punggung Zen akhirnya tertutup kembali, namun tidak dengan baju yang robek, tapi dengan adanya skill pencipta, Zen tidak perlu repot-repot membeli baju baru, semua tersedia secara gratis.


Sena tidak senang..."Kenapa kau tidak bilang, bisa membuat baju dengan skill mu."


"Kau tidak tanya." Santai Zen menjawab.


"Harusnya kau sadar, sejak awal, aku merasa malu dengan baju robek seperti ini." Keluh Sena.


"Padahal aku lebih tertarik jika melihat mu tanpa baju." Balas Zen sedikit menggodanya.


"Jangan bicara yang tidak-tidak...."


'Padahal kau bisa meminta itu nanti.' gumam Sena memberi tambahan.


Setelah memberi sepasang pakaian ganti kepada Sena, kini mereka berdua sudah memasuki lantai ke 47.


Kesulitan pun lebih berat dari tebing curam di lantai 46, dimana saat ini lokasi yang mereka masuki adalah labirin, tapi berbeda dengan labirin awal tempat masuk Dungeon.


"Karena kita tidak memiliki petunjuk apa pun tentang labirin ini, satu-satunya cara adalah berjalan maju." Sena mengambil inisiatif untuk masuk terlebih dahulu.


"Sebaiknya kau jangan sembarangan berjalan...." Baru saja Zen memberi peringatan.


Satu jebakan labirin terinjak oleh kaki Sena dan tiang besar berduri tiba-tiba saja jatuh dari atas langit-langit labirin. Itu hampir saja, jika Zen tidak menarik tubuh Sena, tentu sudah hancur kepalanya terhantam oleh jebakan.

__ADS_1


Sena hanya bisa melongo di pelukan Zen ketika melihat duri-duri itu menancap di lantai.


"Aku pikir, aku akan mati."


"Sudah aku katakan untuk tidak berjalan sembarangan."


Labirin yang mereka harus lalui sekarang jauh lebih berbahaya, rute yang lebih sulit, lebih panjang, lebih banyak jebakan dan monster-monster yang jauh lebih kuat.


"Baiklah, sekarang kau berjalan di belakang ku."


"Aku mengerti...." Sena pun patuh untuk perintah Zen.


Hingga satu hari berlalu begitu saja, mereka berdua mencari rute jalan menuju lantai selanjutnya, namun labirin terlalu rumit dan memiliki banyak cabang yang menyesatkan.


Terlebih lagi, ada banyak pula monster penghuni labirin di setiap belokan yang mereka jelajahi.


Salamander besi, laba-laba hitam beracun, ular Doua duri, Undead tingkat tinggi, jendral orc, goblin king beserta pasukannya dan masih banyak lagi. Semua adalah makhluk-makhluk kategori A.


Dan yang paling menakutkan, bahkan seorang pahlawan seperti Sena memilih mundur seperti terkena serangan mental, yaitu kecoa.


Jangan salah, berbeda dari kecoa yang biasa mereka temui di bumi.


Kecoa dalam dunia baru Dios, memiliki besar hingga tiga meter, racun berbahaya di mulutnya, ketahanan fisik dari semua serangan element dan yang terpenting gerakan begitu gesit.


Mudah bagi Zen membunuh kecoa dengan pedang, selama pedang yang Zen gunakan memiliki kekuatan di atas cangkang baja dari Kecoa.


Zen sadar jika Sena bukan tidak mampu membunuh kecoa itu, melainkan dia tidak mau melakukannya.


"Aku tidak merasa jika kecoa ini menakutkan." Santai Zen bicara.


Dan Sena tetap tidak mau melihat, dia merengek seperti anak kecil...."Jangan bicarakan itu, aku benar-benar trauma dengan kecoa, bahkan yang kecil seukuran ibu jari aku hampir pingsan, dan kini sebesar gajah. Aku ingin pulang."


"Tapi Kau harusnya mampu mengalahkan mereka dengan mudah."


"Mungkin sebaiknya aku menggunakan Basoka." Ucap Sena putus asa.


Zen menghentikan niat Sena..."Apa kau ingin kita terkubur hidup-hidup."


"Tapi...."


"Baiklah, serahkan kecoa-kecoa itu padaku, kau urus yang lain."

__ADS_1


Mendengar jawaban gagah berani di hadapan Sena, itu membuatnya terpana.


"Aku mungkin bisa jatuh cinta kepadamu..." Ucap Sena tanpa merasa malu.


Tapi senyum Zen seperti mengejek.... "Jika hanya dengan membunuh kecoa akan membuat wanita jatuh cinta, mungkin sebaiknya para lelaki jomblo harus melakukannya mulai sekarang."


Ini jelas di luar dugaan, dia merasa perjalanan turun menuju lantai 50 akan cepat, tapi karena belum pernah ada Hunter mencapai Lantai 47, sehingga tidak ada peta atau petunjuk arah yang bisa Zen andalkan.


Menggunakan kertas dan pensil, dia membuat gambar denah lokasi demi menghindari jalan berputar-putar atau tersesat tanpa tahu jalan kembali. Dalam labirin tidak ada siang atau pun malam, mereka hanya akan berhenti ketika lelah dan kembali melanjutkan perjalanan setelah beristirahat secara bergantian.


Bahkan tidak perlu khawatir soal makanan, daging binatang iblis yang mereka kalahkan bisa di masak. Kecuali goblin dan Kecoa, Sena banyak mut'ah saat Zen becanda soal Sup kecoa.


"Hei aku hanya bercanda, ini adalah sate daging burung Carmalin yang kau inginkan... Jadi makanlah, atau kau akan sakit jika perutmu kosong."


"Pahlawan memiliki ketahanan fisik terhadap segala penyakit, jadi kau tidak perlu khawatir, aku mampu tidak makan selama satu Minggu." Jawab Sena.


Zen sadar jika Sena benar-benar marah, dia yang biasanya makan banyak seperti orang kesurupan, kini tidak tertarik meski itu adalah daging burung Carmalin bakar bumbu kecap.


"Ayolah, aku akan menyuapi mu." Zen coba merayu.


Entah apa yang terjadi, Sena berbalik dan menatap malu kepada Zen...."Apa itu benar ?."


"Sebenarnya aku hanya bercanda, tapi baiklah, aku akan melakukannya."


Dia benar-benar menyuapi Sena sepotong demi sepotong dan pada akhirnya tiga tusuk daging burung Carmalin dia habiskan seorang diri.


Selesai dengan makanan di hari itu....


Sena dan Zen sejenak beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.


"Zen, bagaimana jika kita tidak bisa keluar dari Dungeon ini." Ucap Sena tiba-tiba saja terdengar pesimis.


Itu tidak seperti dirinya yang selalu bersemangat untuk segala hal.


"Jangan bicara sesuatu yang menakutkan, kita pasti bisa keluar dari tempat ini."


Senyum di wajah Sena terasa begitu lega..."Aku senang kau bersama denganku sekarang. Jika aku sendirian, aku mungkin akan putus asa."


"Aku pikir itu tidak mungkin, kau wanita kuat yang sangat egois, jadi harusnya kau mampu berjuang meski pun sendirian."


"Apa kau tidak menyukai keegoisan ku ?."

__ADS_1


"Tidak juga, kau memiliki sifatmu sendiri, meski terkadang menyusahkan, tapi aku pikir itu menjadi hal baik. Karena jika kau tidak egois mungkin kita tidak sedekat ini sekarang." Balas Zen tersenyum memberi sedikit pujian agar Sena merasa lebih baik.


Bagi Sena, Zen menunjukkan sifat yang benar-benar berbeda dari pertemuan pertama mereka. Dia bukan pecundang atau pun pengecut, Zen adalah sosok realistis untuk hidup seperti keinginannya.


__ADS_2