
Rose panik ketika tahu bahwa Haze menunjukkan niat membunuh, dia bergerak cepat dan mengeluarkan pedang untuk menangkis serangan Haze sebelum membunuh lelaki yang berdiri tanpa sedikitpun tidak rasa takut.
Dia sadar, jika mustahil bagi dirinya menghentikan pedang Excalixer karena itu adalah senjata Dewa yang memiliki kekuatan khusus.
Dimana keistimewaan pedang Excalixer ada tiga. Pertama, mampu membalik semua serangan dari lawan secara mutlak. Kedua, memberi suplai energi kepada penggunanya tanpa batas. Dan ketiga yang paling mengerikan, mampu melepas kekuatan energi sihir diperkuat hingga lima kali lipat.
Atas tindakan Rose yang spontan itu, dia tidak berpikir tentang nyawanya sendiri, sedangkan serangan Haze mustahil di hentikan.
"Nona, ini berbahaya, kau terlalu berlebihan nyawamu bisa lunas nanti." Suara lelaki itu santai bicara dengannya.
Ketika Rose membuka mata, tatapan semua orang terkejut seperti lupa untuk bernapas, dan memang benar saja, jika saat ini ada sebilah pedang besar dua kali tubuh manusia tertancap di tanah menghentikan serangan dari pedang Excalixer.
"Bagaimana bisa, sejak kapan. Pedang ini..." Rose bingung bahkan untuk bertanya.
"Nona bisa pergi dulu sebentar, aku mau menyingkirkan sampah masyarakat ini ke tempat yang seharusnya. Setelah itu jika nona mau dekat-dekat denganku juga gak apa-apa." Ucap Zen sedikit merayu.
Haze pun sama terkejutnya dengan semua orang, tapi dia masih bersikap tenang agar terhindar dari rasa malu.
Sedangkan ini adalah hal yang salah bagi Zen jika ingin menyembunyikan diri atas kekuatannya, namun satu hal pasti, bahwa dia tidak bisa melihat seorang wanita terluka.
"Aku tidak menyangka, ada orang di kota kecil ini mampu bertahan, setelah aku menggunakan pedang Excalixer." Ucap Haze menatap tajam dengan nada permusuhan.
"Tidak perlu terkejut, ini masih belum apa-apa, aku masih bisa melakukan hal lain yang lebih luar biasa." Jawab Zen membalas ejekan itu tanpa rasa takut.
Namun atas pernyataan yang begitu berani dari Zen, Haze sejenak berpikir, bahwa tidak mungkin seorang Hunter biasa memiliki kekuatan sama seperti dirinya.
"Apa kau adalah pahlawan utusan Dewa seperti ku ?." Tanya Haze.
"Aku bukan pahlawan, tapi aku bingung, kenapa kau menyebut dirimu sebagai pahlawan ?. Mungkin maksud mu adalah sampah masyarakat yang menggunakan statusnya untuk memaksa orang lain, jelas aku bukan pahlawan seperti mu." Zen membalas pertanyaan Haze dengan sindiran tajam.
Raut wajah Haze merah saat menahan emosi, urat-urat di kepalanya pun ikut menegang dan menatap tajam seperti ingin membunuh.
"Aku tidak suka dengan caramu bicara, aku anggap kau siap menerima konsekuensinya." Haze tegas menunjukkan diri untuk bertarung.
"Suka atau pun tidak, itu urusan mu, aku hanya mengatakan kenyataannya saja."
Ditariknya pedang Excalixer di tangan...."Kalau begitu akan aku buat kau bersujud dan memohon ampun."
__ADS_1
"Mau sampai kapan kau akan bicara, aku tidak memiliki banyak waktu untuk mengurus mu, kalau kau ingin bertarung aku siap sekarang." Jawab Zen yang sama-sama menarik pedang di tangannya.
Pedang Excalixer menyala terang ketika energi sihir Haze alirkan, Zen pun sudah siap dengan pedang lain yang dia ciptakan sendiri.
Langkah cepat melesat maju dengan ayunan lurus dari atas kepala, Zen bisa melihat gerakannya, dan dia coba menangkis secara langsung.
Benturan dua senjata itu saling beradu, tapi memang pedang Excalixer bukan sembarangan, pedang yang diberikan langsung oleh para dewa. Meski pedang di tangan Zen adalah pedang dari logam platinum, tapi itu masih belum mampu menahan aliran energi yang Haze lepaskan.
Zen tahu ketika menerima serangan pertama sudah membuat mata pedangnya retak dan dia pun segera melompat mundur.
Haze merasa bangga dan sombong..."Aku bahkan belum mengeluarkan separuh kekuatanku, dan lihat, pedang yang kau miliki itu tidak lebih seperti kerupuk untuk Excalixer."
"Kalau memang satu tidak cukup, bagaimana dengan sepuluh." Balas Zen.
Ketika tangan Zen terangkat ke atas, partikel cahaya menciptakan sepuluh pedang platinum bermacam bentuk, semuanya melayang dan terbang maju ke arah Haze.
Tatapan semua orang di sekitar melihat penuh rasa takjub. Bahkan beberapa orang merasa tidak asing untuk kemampuan yang dikeluarkan oleh Zen.
"Aku ingat, bukankah saat penyerangan koloni semut hitam, ada banyak pedang berjatuhan dari atas langit, apa mungkin bocah Zen itu yang melakukannya."
"Jangan-jangan memang benar, jika sebenarnya bocah itu adalah seorang pahlawan."
Meski begitu, pernyataan bahwa Zen bukan pahlawan menjadi kebingungan bagi semua orang yang pernah melihat kekuatannya.
Kembali ke pertarungan Zen dan Haze.
Nyatanya serangan Zen itu masih belum cukup untuk menghadapi kekuatan dari Excalixer, satu persatu pedang yang datang ke arah Haze, dia mampu menangkis dan menghancurkannya dengan mudah.
Ekspresi wajah Haze menatap sombong ke arah Zen, dimana seakan-akan dia sudah menang atas pertarungan antara mereka berdua.
"Kalau begitu, bagaimana dengan ini." Zen melakukan serangan yang lain.
Berbeda dari sebelumnya, hanya ada satu pedang yang muncul di atas langit, namun semakin dekat pedang itu jatuh, terlihat jelas bahwa wujudnya jauh lebih besar.
Orang-orang segera pergi dari halaman depan guild karena merasa khawatir jika mereka akan terkena dampak dari serangan pedang milik Zen.
Haze bersiap, di pegangnya erat pedang Excalixer dengan nyata cahaya keemasan semakin besar, satu ayunan tangan membentuk sayatan energi sihir yang melesat naik untuk menghancurkan pedang itu.
__ADS_1
Gelombang energi sihir pecah, dimana terdengar pula suara gemuruh di sertai kilatan petir diatas langit kota Ser Din, bertahan untuk waktu yang singkat dan ledakan besar saling menghancurkan satu sama lain.
"Sekali lagi lihat, serangan mu bahkan tidak berarti apa pun untukku, jika kau memiliki cara lain, keluarkan semua. Aku tidak takut." Kesombongan Haze semakin tinggi.
Zen tidak menyukai provokasi dari Haze, karena dia sendiri sadar, semakin kuat serangan dikeluarkan mungkin akan berdampak kepada orang-orang di sekitarnya.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan."
Skill pencipta : replika (skill sembilan senjata.)
Kini lingkaran sihir muncul di atas langit kota, sembilan senjata melesat turun dan berputar di sekitar tubuh Zen. Pedang suci Excalixer sama kuatnya dengan skill sembilan senjata milik Sena.
Sehingga tidak ada pilihan lain bagi Zen untuk melawan senjata dengan kekuatan yang seimbang. Diambilnya satu pedang panjang dan di arahkan langsung ke hadapan Haze.
"Majulah."
"Kau akan menyesal." Tidak perlu menunggu lama hingga Haze yang bergerak terlebih dahulu.
Pedang Excalixer bergerak maju dengan ayunan cepat di tangan Haze, tapi senjata yang Zen gunakan kali ini berbeda, setiap kali kedua pedang bertemu menghasilkan percikan api.
Tidak ada kerusakan di mata pedang dari skill sembilan senjata, hanya saja, keunggulan dari skill sembilan senjata terletak kepada kemampuan masing-masing senjata yang dia gunakan.
Sedangkan pedang Excalixer memiliki semua keunggulan dalam satu wujud, sehingga Haze bisa mengeluarkan banyak teknik bertarung yang lebih sederhana.
Haze mendorong mundur tubuh Zen atas kemampuan pembalik serangan, dia di untungkan karena pedang Excalixer secara mutlak tidak akan terpengaruh oleh serangan dari lawannya.
Zen mengambil senapan laras panjang, di tembakkan tiga peluru sihir menuju Haze, tapi itu hanya pengalihan, ketika Haze sibuk menangkisnya, Zen bergerak maju dan kembali mengganti senjatanya dengan kapak besar yang di hantamkan langsung dari sisi sebelah kanan sebelum pedang Excalixer di posisi menangkis.
Tubuh Haze terpental jauh hingga tersungkur ke tanah, pedang Excalixer jatuh dari pegangan tangan, dia masih menahan rasa sakit karena mungkin tulang rusuknya patah.
Dia tetaplah seorang pahlawan yang memiliki kemampuan regenerasi, namun sosok Zen sudah berdiri untuk mengambil pedang Excalixer sebelum Haze kembali bangkit.
"Apa kau berniat menggunakan senjataku, itu percuma, karena pedang Excalixer hanya bisa digunakan oleh orang yang terikat dengannya." Haze menertawakan Zen.
Tapi senyum di wajah Zen menunjukkan niat lain...."Kalau begitu kau bisa melihatnya."
Skill pencipta : Copy.
__ADS_1