
Ini adalah ingatan tentang dirinya ketika masih berada di dunia lama sebagai Ryan.
Zen terbangun di sebuah kelas yang tampak familiar dalam ingatannya, dia melihat tembok usang bercat krem sedikit putih karena luntur oleh rembesan air hujan.
Sarang laba-laba yang hinggap seenaknya sendiri di setiap sisi ruangan membentuk keluarga harmonis antara ayah ibu dan dua anak.
Poster gambar pahlawan nasional sudah lusuh karena telah bertahun-tahun tidak dibersihkan. Begitu juga untuk dua foto pria paruh baya berpeci hitam dengan wajah mereka tampak tersenyum ramah, terpajang diantara sisi kiri dan kanan burung Garuda yang selalu menoleh ke arah kanan.
Semua benar-benar menjadi nostalgia indah dalam kenangan Zen, karena di tempat itu adalah awal ketika dirinya bertemu dengan satu wanita yang dia cintai, Rea fani Vilova.
Dari bangku tempatnya duduk di barisan belakang, sosok Rea selalu menjadi pusat perhatian bagi teman satu kelas. Dia ramah, baik, cantik, pintar dan juga memiliki suara indah.
Namun sayangnya hingga akhir kelulusan Zen hanya menjadi seorang teman dan Rea pergi menggapai impian di kota untuk menjadi penyanyi.
Hingga suatu ketika, Zen bertemu kembali dengan Rea setelah bertahun-tahun tidak ada kabar tentang dirinya.
Di sebuah kafe, Rea bekerja sebagai salah satu pelayan ketika mimpi Rea untuk menjadi penyanyi harus pupus dan menyisakan hidup dalam pekerjaan demi memenuhi kebutuhan.
Dia pun sama seperti Zen, membuang semua mimpi-mimpinya karena faktor ekonomi.
Pertemuan kembali itu, membuat Zen mengenal lebih dekat tentang kehidupan Rea. Tentu tidak bisa Zen bayangkan, jika di suatu hari dirinya memiliki kesempatan untuk mendapat cinta dari gadis yang dia inginkan.
Hanya saja, gambar ingatan bergerak cepat menuju masa depan yang tidak pernah diharapkan.
Sebuah masa dimana setelah hubungan antara Ryan dan Rea berakhir.
Kini Zen bisa melihat, dirinya duduk di depan layar komputer yang tetap menyala, tumpukan berkas menumpuk di sampingnya, sebatang rokok ditangan terhembus pula asap putih keluar dari dalam mulut.
Wajah tampak lusuh, tidak terlihat hidup, seharian penuh dia hanya diam tanpa beranjak dari semua pekerjaan.
Tiga gelas kopi sudah habis tanpa sisa. Seruputan yang baru dia teguk itu adalah sisa terakhir. Tapi tetap saja tidak membuat lelaki itu merasa lebih baik.
__ADS_1
Di rumah kontrakan sempit dan penuh barang-barang.
Ryan berjalan pergi dan melangkah ke atas kasur lantai untuk melepas lelah, dia telah mengorbankan waktu liburnya yang berharga demi tugas kantor hanya karena sebuah tanggung jawab.
Menatap ponsel, menggeser layar selagi melihat foto-foto wanita seksi berbikini. Mereka cantik, ya sangat cantik. Itu menjadi fantasi bagi setiap lelaki yang ingin mendekap tubuh mereka erat sebagai hiburan.
Tapi lelaki itu sadar, siapa lah dia, tanpa daya tarik yang akan mendapat perhatian untuk sesosok wanita cantik.
Sekali pun ada, dia telah dibawa pergi oleh lelaki lain dengan penuh tanggung jawab dan berani memberi masa depan pasti dalam pernikahan.
Sedangkan dirinya, terlalu takut memberi janji kepada Rea, dia tidak ingin membuat wanita yang dicintainya sengsara ketika harus hidup tanpa kepastian bersama karyawan bergaji kecil.
Menutup ponsel dan sejenak melamun, tatapan mata hanya tertuju ke atas plafon kontrakan dengan kipas angin yang terus menerus berputar.
Mulutnya lebar menguap, bukan karena dia sedang mengantuk, melainkan bosan, bosan dengan hidup yang dia miliki sekarang.
Dia tidak pernah ingat memiliki cita-cita sebagai karyawan kantor, tapi siklus hidup yang berputar-putar antara kebutuhan, pekerjaan dan penghasilan menjadi lingkaran setan tanpa bisa tawar menawar.
Hari berganti Minggu, Minggu berganti tahun, dia menjalani keseharian yang sama berulang kali. Hidup hanya karena dia masih hidup, tanpa sadar telah melupakan cita-cita yang dia banggakan saat sekolah dasar.
"Ini bukan tentang kau menikmatinya atau tidak kawan, tapi apa kau siap hidup menderita, menjadi pengangguran, menyusahkan orang tua demi cita-cita bodoh yang mustahil kau raih." Ucap satu sosok muncul di belakang dan itu adalah dirinya sendiri.
Benar sekali, kondisi perekonomian orang tua yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja selalu menjadi alasan klasik, dia harus menerima kenyataan dan rela mengorbankan sebuah impian dan kisah cintanya demi keluarga.
"Apa yang akan terjadi jika aku masih di sana."
"Mungkin aku akan tetap bekerja menjadi karyawan sampai mati... Dan juga mendapat penghargaan sebagai karyawan abadi di perusahaan."
"Aku bisa bayangkan itu." Tawa Zen kaku dan menyedihkan.
Kilas ingatan berganti.... Jiwanya ditarik paksa menuju satu tempat, sebuah acara pernikahan seorang wanita cantik yang duduk di atas pelaminan dengan senyum menawan menyambut para tamu undangan.
__ADS_1
Rea dan seorang lelaki lain duduk berdampingan, saling bercanda dan tertawa seakan dunia hanya milik mereka berdua.
Bingkai foto prewedding tergambar sebagai wujud keluarga harmonis dan bahagia yang selalu di inginkan oleh semua wanita.
Tidak ada yang salah dari pernikahan Rea, itu adalah pilihan terbaik bagi hidupnya. Sedikit hati Zen menyesal, tapi apa yang bisa dia lakukan. Meski waktu bisa terulang kembali dan Zen membawa Rea untuk menjadi keluarga.
Tapi Zen tidak yakin, akankah Rea bahagia untuk hidup bersama dirinya nanti.
Tragedi itu pun terjadi.... Dimana sebuah mobil menghantam Ryan hingga tewas.
Namun sosok bayangan Ryan yang berdiri di samping Zen menunjukkan sebuah senyum. Tapi pada dasarnya semua pemandangan ini adalah sebuah khayalan semata.
"Jadi ?, Apa kau bahagia dengan hidupmu sekarang." Tanya Ryan kepada Zen.
Terasa aneh memang, dimana pertanyaan itu datang dari dirinya sendiri.
"Aku tidak bisa mengatakan aku bahagia atau tidak, karena masalah akan selalu hadir selama kita hidup. Tapi ya... Aku merasa hidupku sekarang lebih baik, aku bisa menjadi apa pun yang aku mau, bersantai setiap hari, bermain kemana pun, dan aku juga mendapatkan wanita cantik yang mencintai ku. Meski pun aku tidak yakin apa hubungan kami berdua akan lancar." Bercerita Zen dengan suasana hati cukup baik.
Sena muncul dalam pikiran Zen. Hidup yang dia miliki di masa lalu berakhir tragis dan menyedihkan. Tidak hanya soal cinta, tapi juga pekerjaan dan masa depan, semua tampak suram.
"Aku senang mendengarnya." Ucap Ryan tersenyum.
"Maaf jika aku seperti melepas tanggung jawab dari hidup mu." Balas Zen.
"Jangan khawatir, ini bukan masalah serius, semua sudah berakhir dan kau memiliki hidup yang baru." Jawab Ryan santai.
Entah kenapa, Zen tersenyum sendiri, dia merasa lega, kesempatan kedua dalam perjalanan hidup baru di dunia Dios menjadi sebuah berkah.
Zen ingat tentang Sena...."Baiklah ... Aku harus kembali. Seseorang menunggu."
"Ya kau benar. Terimakasih... Sungguh aneh, aku berterimakasih kepada diriku sendiri.... Tapi semoga kau bahagia."
__ADS_1
"Aku akan berusaha untuk kebahagiaan itu." Jawab Zen.
Langkah kaki Zen berjalan keluar menuju pintu yang tiba-tiba saja muncul, dia membuka dan cahaya silau terpancar jelas menarik jiwanya pergi.