
Inilah yang terjadi, ketika bintang pagi datang, Eri sudah berpindah tempat, dari awal dia masih tertidur lelap di atas ranjangnya tapi sekarang Eri menindih tubuh Zen.
Dia tipe gadis yang tidak bisa tidur dengan tenang, karena itu juga Zen selalu meminta dua kamar atau membuat dua tenda agar tidur secara terpisah.
Meski begitu beberapa kali, ketika Eri tidur, tanpa sadar dia coba menerobos masuk dan berusaha memukuli Zen. Entah apa yang terjadi dalam mimpi gadis itu, tapi akan berbahaya jika sampai Eri menggunakan senjatanya.
"Hei, mau sampai kapan kau akan tidur, cepat bangun." Zen memanggil.
Namun kedua tangan Eri dengan kuat menjepit tubuh Zen. Tanpa ragu dia mencubit pipi itu hingga mata Eri perlahan mulai terbuka.
"Pagi Zen." Ucap Eri lirih.
"Iya pagi, bisakah kau segera bangun." Jawab Zen.
Eri kini sadar jika posisinya sekarang tidak lagi berada di atas ranjang melainkan dalam pelukan Zen.
"Loh. Kenapa begini...." Eri terkejut.
"Jangan banyak tanya, aku tidak bisa bangun jika kau tetap disini."
Eri menatap aneh...."Zen apakah kau ..."
"Kau sendiri yang turun ke tempat ku tidur. Jangan berpikir kalau aku melakukan sesuatu kepadamu." Segera Zen menjelaskan agar tidak ada kesalahpahaman.
Karena Eri masih kebingungan atas kejadian yang dialaminya. Zen tidak bisa menunggu sampai Eri paham, dimana tidak peduli jika ini hanya kecelakaan atau ketidaksengajaan, dia tetaplah lelaki dan Eri wanita. Tentu sesuatu akan bangkit saat mereka terlalu lama saling menempelkan tubuh.
Memang Eri tidak memiliki sesuatu yang besar untuk disombongkan, tapi dibalik itu semua, tubuh Eri langsing, otot perutnya terbentuk baik dan seksi.
Zen tentu masih menganggap Eri adalah wanita dan dia harus menjaga diri agar tidak terbawa emosi, dia mengangkat tubuh Eri dan meletakkan kembali ke atas ranjangnya.
"Kau rapikan pakaianmu itu, aku akan mandi." Ucap Zen yang bersiap.
Eri pun tidak bisa menyembunyikan rasa malunya, karena dia terbiasa tidur hanya menggunakan pakaian dalam. Meski awal semua pakaian masih utuh, tapi selama Eri bermimpi dia mulai melepas satu persatu. Dan kini hampir tidak ada kain tersisa kecuali yang menutupi aset pribadinya.
"Kau harus menghilangkan kebiasaan mu, untung saja aku lelaki baik-baik, jika tidak, kau akan menyesal."
Wajah Eri merah karena malu...."Tidak perlu menjelaskan lebih detail, aku tahu itu, tapi aku pun tidak sadar, jadi mau bagaimana lagi."
"Ok baiklah, kau tidak perlu marah."
"Kalau begitu kau cepatlah pergi, aku malu juga kau terus melihat ku." Teriak Eri mengusir.
Lepas Zen dan Eri merapikan diri untuk melihat-lihat kota kerajaan Zorgan.
__ADS_1
Selama perjalanan Eri merasa aneh untuk dirinya sendiri, dia yang hampir tidak memiliki rasa malu ketika bicara dengan lawan jenis, tapi sekarang dia masih teringat kejadian pagi tadi.
Hingga Eri berjalan membelakangi Zen cukup jauh dan tetap diam tanpa bicara setelah keluar dari penginapan.
"Hei, mau sampai kapan kau marah Eri."
"Aku tidak marah." Jawabnya keras.
"Kalau memang tidak marah, kenapa cara bicara mu ngotot begitu." Ucap Zen sedikit menggoda Eri.
Eri tidak mau mengakui..."Bukan urusanmu."
"Padahal kau sendiri yang salah, tapi kenapa aku seperti jadi penjahatnya." Lemas Zen menggeleng kepala.
Eri pun tahu itu, tapi entah kenapa dia tidak bisa menjaga sikap dan suasana antara mereka pun menjadi canggung.
Saat ini, apa yang Zen lakukan dengan berkeliling kota adalah untuk mencari informasi tentang keberadaan Tifa dan Remus.
"Paman apa kau pernah melihat dua orang ini." Tanya Zen kepada salah satu pedagang buah dengan menunjukkan gambar lukis yang dia buat sendiri.
"Sepertinya tidak." Jawabnya.
Pergi ke tempat lain, Zen coba bertanya ke seorang penjual kain.
Berulang kali, Zen terus menanyakan kepada setiap orang di sekitar jalanan kota, tapi tetap saja, jawaban yang sama kalau mereka tidak melihat Tifa dan Remus.
Zen tidak merasa aneh, Tifa dan Remus tentu lebih berhati-hati untuk menjaga rahasia mereka sebagai iblis, sehingga meminimalkan interaksi kepada orang lain.
Tapi tanpa sengaja, Zen yang masih berjalan menyusuri kota, mendapati seorang kuli panggul barang terjatuh ketika mengangkut tumpukan karung di atas pundaknya.
Zen pun mendekat dan membantu lelaki kuli panggul itu berdiri..."Paman apa kau baik-baik saja."
"Ya, aku hanya salah melangkah...."
Namun jelas jika pergelangan kakinya mengalami cidera karena ada sebuah bekas luka cukup besar. Sedikit memberi energi penyembuhan sehingga rasa sakit akibat kaki yang terkilir menjadi lebih baik.
"Terimakasih tuan, karena sudah menolong orang asing seperti ku." Ucapnya tersenyum lembut.
"Ini hanya sekedar kewajiban untuk membantu orang yang sedang kesulitan saja." Balas Zen.
Sejenak tertawa lelaki paruh baya itu..."Kau mengatakan sesuatu yang sama seperti tuan Serhan."
"Siapa tuan Serhan ?." Zen penasaran.
__ADS_1
"Aku pun tidak tahu siapa, tapi beliau adalah orang yang membantuku saat mendapat luka ini." Ungkapnya.
"Aku yakin dia orang hebat."
"Itu benar, jika semua orang memiliki hati besar seperti anda dan tuan Serhan, tentu hidup akan menjadi lebih baik."
Selesai memberi sedikit bantuan, Zen menanyakan sesuatu kepadanya.
"Tuan apa kau tahu tentang dua orang seperti di gambar ini." Zen mengeluarkan gambar di dalam saku.
Sejenak melihat dan memperhatikan secara seksama, mata lelaki kuli panggul itu terbuka lebar. Dia seperti memiliki petunjuk tentang orang yang Zen cari.
"Ini dia, dia adalah tuan Serhan dan istrinya, Yusari...."
Kini Zen sadar, Remus dan Tifa secara sengaja mengubah nama mereka berdua sekarang. Kemungkinan dia tidak ingin berita tentang kejadian di kerajaan Villian membuat keduanya dalam masalah.
Menemukan informasi Zen kembali bertanya...."Jadi tuan, apa anda tahu kemana mereka berdua sekarang berada."
"Sayang sekali, aku tidak tahu lebih banyak soal mereka kecuali namanya saja."
"Begitu kah." Lemas Zen dimana sedikit harapannya pupus.
"Tapi... Ya, tuan Serhan bertanya kepadaku, tentang cara pergi ke perserikatan Lomania."
Zen tidak tahu tujuan Remus dan Tifa pergi ke perserikatan Lomania. Tapi jawaban itu sudah cukup untuk Zen mendapat petunjuk lain kemana dia harus pergi.
Perserikatan Lomania adalah sebuah negara dengan wilayah kekuasaan yang dipimpin oleh beberapa bangsawan untuk membentuk suatu pemerintahan terorganisir.
Tidak ada masalah apa pun antara perserikatan Lomania dan kerajaan Zorgan keduanya bisa dikatakan baik-baik saja.
Tapi yang menjadi masalah adalah wilayah perbatasan antara kerajaan Zorgan dan perserikatan Lomania, tempat itu bernama negara oligarki Lishare.
Berbeda dengan masalah antara kerajaan Zorgan dan kerajaan Villian yang saling berebut tambang mineral di bukit Ribbon.
Negara Lishare terbentuk akibat kudeta para bangsawan yang memberontak terhadap kerajaan Zorgan dan memerdekakan wilayah mereka sendiri.
Sehingga cukup sulit masuk ke wilayah perserikatan Lomania melalui perbatasan kerajaan Zorgan, karena harus melewati zona konflik negara Lishare.
Cara lain adalah melewati hutan besar Orindo, dengan kata lain, Zen harus mengambil jalan berputar untuk kembali menuju kota Ser Din. Tapi itu memakan waktu hingga dua bulan lamanya.
"Jadi apa tuan tahu cara pergi ke perserikatan Lomania dari tempat ini ?."
"Satu-satunya jalan yang bisa lewati oleh setiap orang adalah dengan masuk secara ilegal, menggunakan lingkaran teleportasi milik kelompok bandit Olopus." Jawabnya.
__ADS_1
Tidak ada pilihan lain, karena jika ada orang yang ketahuan menerobos perbatasan Zorgan untuk pergi ke Perserikatan Lomania, negara Lishare akan menganggap mereka sebagai musuh.