KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Taruhan


__ADS_3

Eri dan Lify diarahkan ke ruangan berbeda, mereka secara khusus menjadi tamu untuk menunggu di aula tempat acara pesta bersama para undangan yang lain.


Di sinilah Zen sekarang, sebuah tempat yang penuh dengan kobaran api di bawah kuali baja. Sebuah dapur milik kediaman keluarga besar bandit Sanziu.


Ada lebih dari lima puluh orang tiada henti-hentinya mengaduk kuali yang berisi daging, sayur-sayuran dan segala macam bahan makan untuk di jadikan sebuah masakan.


Secara khusus Zen datang atas permintaan pak tua Xin Sanziu untuk membuat satu satu hidangan spesial yang memiliki cita rasa luar biasa nikmat seperti saat pak tua itu mencicipi sup daging burung Carmalin.


Satu orang lelaki paruh baya datang menghampiri, dia memiliki postur tubuh yang gemuk, tinggi besar dan ada bekas luka berbentuk silang di depan wajah.


Dia berdiri menghadap Xin Sanziu dan juga Zen dengan membawa sebilah pisau daging di tangannya. Tatapan mata tajam dan serius ketika melihat Zen yang begitu santai melirik ke dalam dapur.


Sung Cheng, kepala juru masak di kediaman Xin Sanziu yang membawahi lima puluh tujuh orang anak buah.


"Tuan Xin, siapa lelaki ini apa dia karyawan baru yang ingin membantu di dapur." Tanya lelaki gemuk dengan sopan.


"Tidak-tidak, Sung Cheng, dia adalah orang yang aku ceritakan kemarin." Jawab Xin Sanziu menggeleng.


Semakin sengit lelaki gemuk itu memandangi Zen, terlihat bagaimana dia meremehkan dan dianggapnya pujian atas Xin Sanziu tentang kenikmatan sup burung Carmalin hanya omong kosong belaka.


"Hmmm jadi itu kau... Jadi apa yang membuat tuan Xin Sanziu membawa lelaki ini ke dapur ?." Ungkapan Sung Cheng terasa tidak menyenangkan bagi Zen.


"Aku ingin dia membuat masakan." Jawab pak tua Xin Sanziu.


Sedikit terkejut dan terlintas ketidaksenangan dari Sung Cheng..."Tunggu tuan Xin, aku baru mendengar itu sekarang."


"Apa iya ?, Sepertinya aku lupa mengatakannya kepadamu." Tawa pak tua Xin Sanziu keras.


Sung Cheng menghembuskan nafas panjang seakan pasrah karena mengetahui faktor usia pak tua Xin Sanziu menjadikannya pikun dan sering lupa.


"Lalu bagaimana dengan orang-orang ku ?. Aku sudah banyak membuat makanan untuk para tamu." Tanya Sung Cheng bingung.


"Tidak apa-apa, kau lakukan saja seperti biasa, aku hanya meminta bantuan Zen untuk satu masakan khusus." Pak tua Xin Sanziu tidak mempermasalahkannya.


"Masakan seperti apa ?." Sung Cheng penasaran.

__ADS_1


"Daging Naga."


Semakin terlihat ekspresi wajah Sung Cheng terkejut dengan sedikit emosi marah...."Tuan apa, tuan bercanda ?."


"Aku tidak berpikir sedang melawak di sini." Balas pak tua dengan rumit.


"Tidak bukan seperti itu, apa anda yakin ingin menyerahkan tugas memasak daging naga kepada bocah ini. Daging naga sangat berharga, tidak ternilai dan juga sangat mustahil dibuat oleh seorang amatiran. Aku tidak setuju." Penolakan keras dari Sung Cheng.


Kali ini Zen merasa sedang di remehkan, memang benar dia tidak memiliki sertifikat sebagai ahli masak atau pun gelar master chef.


Tapi jika dibandingkan dengan masakan di dunia Dios, citarasa Zen dalam membuat sebuah masakan adalah yang terbaik, itu pun mendapat pengakuan langsung dari pak tua Xin Sanziu.


Itu karena Zen memiliki ingatan soal makanan dan resep masakan dari dunianya... Di bumi sana, ada ratusan ribu resep dengan citarasa yang beraneka ragam, tapi satu hal pasti adalah masakan Indonesia adalah yang terbaik.


"Tuan Sung, maaf anda sepertinya tidak percaya dengan keahlian ku."


"Tentu saja, lihat aku, aku yang sudah berpengalaman dan diakui oleh asosiasi juru masak benua selatan ini pun sedikit ragu untuk menggunakan daging naga, tapi kau anak ingusan ingin memasak, itu hanya akan mengacaukannya saja."


"Baiklah jika anda tidak percaya dengan keahlian ku, bagaimana kalau kita bertaruh."


"Biar aku yang memasak dan jika itu gagal, aku akan memberikan seribu koin emas sebagai kompensasi dan satu tangan ku untuk di potong."


Xin Sanziu tertawa terbahak-bahak mengetahui seberapa nekad anak muda yang dia kenal baru kemarin ini. Tapi keyakinan Zen untuk mempertahankan satu tangan itu semakin membuat Xin Sanziu penasaran, bagaimana dia begitu percaya diri dengan keahlian masakannya.


Tapi bagi Zen pertaruhannya hanya akan kehilangan uangnya saja, sedangkan jika tangan pun harus terpotong maka efek regenerasi akan mengembalikan dalam kondisi utuh.


"Kau sangat berani anak muda, aku terima taruhan mu." Jawab Sung Cheng tegas dan berani.


"Jadi bagaimana jika masakan ku berhasil, apa yang akan kau berikan ?." Zen bertanya.


"Jabatanku sebagai juru masak kediaman Sanziu akan aku beri kepadamu." Ucapnya penuh percaya diri.


"Aku tidak butuh." Tolak saja Zen.


Seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar...."Apa yang kau katakan ?, Tidak butuh ?, Jika kau menjadi juru masak di sini, kau akan menerima gaji 700 koin emas setiap bulannya, itu sangat besar, kau tahu."

__ADS_1


Juru masak memang memiliki reputasi besar sebagai pekerjaan dengan gaji tinggi, itu akan mencakup 100 hingga 500 koin emas perbulannya.


Bahkan untuk seorang berjabatan Chef seperti Sung Cheng, dia tentu memiliki gaji lebih tinggi karena sudah berpengalaman dan menjadi bagian dalam asosiasi juru masak di benua selatan.


"Itu memang menggiurkan, tapi aku tidak berniat menetap di dunia gelap, aku adalah seorang petualang dan ingin menjelajah ke bermacam tempat." Ucap Zen atas keinginannya sendiri.


"Hmm baiklah, aku akan menggantinya dengan 2 kali gaji bulanan ku, apa kau setuju ?." Sung Cheng mengganti tawarannya.


"Tentu selama anda tidak keberatan." Balas Zen.


"Bagi seorang juru masak, cita rasa adalah harga diri, jika kau mampu melampaui cita rasa yang aku miliki, aku harus mengakuinya." Ungkapnya tersenyum bangga.


Zen sedikit berburuk sangka terhadap Sung Cheng, dia meremehkan Zen karena tidak ingin cita rasa dalam masakan acara pesta kacau karena kehadirannya.


Sebagai penanggungjawab atas urusan masakan, harga dirinya dipertaruhkan jika para tamu kecewa.


"Bagaimana menurut anda pak tua Xin." Tanya Zen.


"Kenapa tidak, aku senang melihat orang bertaruh." Jawab Xin Sanziu tertawa.


"Baiklah, jadi apa yang bisa aku gunakan di sini."


"Semuanya, kau boleh memakai bahan-bahan, peralatan dan segala hal yang ingin kau gunakan." Kata Sung Cheng.


"Itu terdengar bagus."


Zen mulai berkeliling, dia melihat-lihat setiap bahan-bahan di dalam dapur. Mencium dan merasakannya dan Zen sedikit terkejut, ada beberapa bahan yang dianggap mirip seperti bumbu di bumi.


Lengkuas, sereh, merica, jintan, pala, kayu manis, kelapa dan kunyit. Mungkin bentuk dan ukurannya berbeda, tapi aroma serta rasa dari bahan-bahan itu sama.


Awalnya Zen hanya ingin membuat semur daging naga atau pun sate daging naga seperti biasa, cukup itu saja sudah menjadi makanan terlezat di dunia Dios.


Tapi ketika melihat semua bahan yang dia temukan di dalam dapur ini, Zen terlintas satu resep makanan istimewa dan luar biasa.


Salah satu hidangan Nusantara terbaik dan mendapat pengakuan penduduk bumi, yaitu Rendang.

__ADS_1


__ADS_2