KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Gurun pasir


__ADS_3

Tidak perlu waktu lama Zen melempar Salamander hidup untuk dijadikan umpan memancing ikan hiu magma. Satu ekor berhasil mereka tarik keluar dari dalam kolam.


Ikan Hiu magma mencoba memberontak, mengibaskan ekor sebagai bentuk perlawanan, tapi diluar kolam magma yang menjadi habitat mereka akan menjadi sangat lemah. Tanpa perlu melepas serangan dan hanya menunggu beberapa jam, ikan hiu itu akan tewas dengan sendirinya.


Kulit luar ikan Hiu magma menyerupai batu, sangat keras dan mustahil di konsumsi. Tapi setelah merobek bagian kulit, terlihat jelas warna daging keputihan dengan goresan merah.


Binatang iblis satu ini, menyerap energi panas magma dengan kulit mereka dan menjadikannya sebagai sumber kekuatan untuk bertahan hidup. Goresan merah itu sendiri seperti urat nadi yang mengalirkan energi panas ke dalam batu jiwa.


"Berbeda dengan kulitnya, daging ikan ini bisa kita makan." Ucap Zen setelah merobek bagian kulit.


Sena tersenyum, dia merasa tertarik..."Kalau begitu kita pancing semua ikan hiu itu."


"Untuk urusan makanan, kau menjadi bersemangat." Zen terbiasa dengan sifat wanita satu ini.


"Apa salahnya, manusia perlu makan sebagai sumber energi. Jadi itu penting...ya, benar-benar penting." Sena membela diri.


Mengikuti keinginan Sena, Zen lanjut memancing hingga dua ekor ikan hiu magma berhasil mereka tangkap.


Harusnya ini menjadi lantai Dungeon yang sangat berbahaya, tidak hanya soal tiga ekor binatang iblis ikan hiu magma, tapi juga gas belerang yang sangat beracun bagi manusia.


Hanya saja, Zen dan Sena berbeda, mereka lebih menganggap lokasi lantai 48 seperti tempat pemancingan umum dan sedikit terpuaskan karena bisa makan daging ikan hiu. Meski sedikit berbeda dari ikan hiu yang mereka kenal.


Beranjak pergi ke pintu batu menuju lantai 49.


Sekali lagi, pemandangan berubah ketika mereka membuka pintu. Kali ini apa yang terlihat hanya lingkaran sihir bermacam simbol.


"Apa mungkin lantai selanjutnya ada di suatu tempat ketika melewati lingkaran teleportasi ini." Tanya Sena bingung.


"Tunggu Sena, lingkaran sihir teleportasi sangatlah berbahaya, mereka bisa mengirim kita ke bermacam-macam tempat yang tidak diketahui."


"Tapi hanya ini yang kita temukan, tidak ada jalan lain lagi untuk kita harus pergi ke lantai 49." Sena tidak bisa bersabar.


Zen pun memikirkan hal yang sama, di seluruh tempat, hanya pintu ini tujuan mereka sekarang.... "Baiklah. Kita harus mencoba."


Zen mengambil tangan Sena, menariknya masuk ke atas lingkaran sihir dan secara otomatis rangkaian sihir teleportasi aktif. Merasa khawatir jika akan terpisah secara acak, Zen mendekap Sena erat.


Dan apa yang terjadi adalah mereka di pindahkan ke sebuah gurun pasir.


Tentu hal ini sangat aneh untuk siapa pun lihat, karena bagaimana mungkin Dungeon yang berada puluhan kilometer di dalam tanah terdapat sebuah gurun pasir luas sepanjang mata memandang.


"Kenapa gurun pasir ?."


"Lah kenapa menanyakan itu kepadaku, aku pun tidak tahu..." Jawab Zen.


"Apa kita dibawa keluar dari dalam Dungeon."

__ADS_1


"Itu tidak mungkin."


"Memang ada yang salah."


"Aku tidak melihat cahaya bintang di langit." Zen menyadari hal itu.


Memang benar, dunia baru Dios memiliki cahaya sinar seperti matahari, tapi di Padang pasir yang mereka berdua lihat, langit biru tanpa ada cahaya di atasnya.


Tentu ini menunjukkan bahwa mereka tidak keluar dari dalam Dungeon, melainkan disinilah lokasi dari lantai 49 berada.


Dungeon memang sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh akal sehat, sosok 'aneh' itu membentuk bermacam-macam tempat ajaib dan menakjubkan. Seperti halnya gurun pasir, labirin besar, tebing curam, kolam magma, rawa-rawa, dan banyak lagi.


"Sebaiknya kita berjalan maju. Mungkin ada sesuatu yang bisa kita temukan." Ujar Zen tidak menemukan hal lain untuk di lakukan.


"Ya itu satu-satunya pilihan kita sekarang." Sena pun setuju.


Namun kenyataannya, sudah lebih dari 50 kilometer Zen dan Sena berjalan ke depan tanpa berbelok sedikit pun, tapi pemandangan gurun pasir tidak lepas dari mata mereka.


Dengan bantuan sihir air dan pasokan makanan yang tersimpan di dalam dimensi penyimpanan khusus, mereka tidak khawatir akan kelaparan dan juga kehausan.


Mendirikan tenda ketika langit-langit Dungeon menjadi redup. Tertidur kemudian melanjutkan perjalanan saat langit kembali menyala.


Hingga tiga hari berlalu begitu saja.


Zen duduk sendiri di depan api unggun, sedangkan Sena ada di dalam tenda untuk menikmati waktu membersihkan tubuhnya.


Memang benar adanya, tanpa ada kegiatan selain berjalan dan makan, semua terasa membosankan.


"Paling tidak muncukan sesuatu agar bisa menjadi hiburan."


Ketika Zen mengeluh untuk semua kebosanan yang membuatnya stress sendiri, Sena kini berada dalam tenda, dia sedang mandi dan bisa terdengar gemericik air jatuh melewati tubuh mulus tanpa cacat itu.


Terbayang-bayang dalam pikiran Zen, seberapa indah bentuk bulat yang tersimpan di balik baju Sena, Semakin kebawah, semakin tidak bisa dia kendalikan semua khayalan itu.


"Kenapa aku bersemangat di saat seperti ini." Zen yang berusaha menenangkan diri.


Mencoba mencari kegiatan lain, Zen membuat sebuah barbel dan mulai menghitung setiap kali dia mengangkatnya.


Tapi tiba-tiba saja....


"Ahhhhhhh." Sena berteriak keras.


Cepat langkah Zen masuk kedalam tenda, dia sudah bersiap dengan pedang di tangan.


"Ada apa ?, ada apa ?, Giant red Scorpion, Ular Doua, minotaur, goblin, naga, singa, gajah, jerapah, kucing atau....." Melirik Zen ke arah Sena yang jatuh tanpa satu helai kain pun menutupi tubuh basahnya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa aku hanya tergelincir saja." Jawab Sena.


"Oh.... Begitu..." Zen tidak bisa berkedip ketika melihat jelas pemandangan yang luar biasa di depan mata.


Dalam 0,2 detik di pikiran Zen, dia sudah membayangkan banyak hal luar biasa. Tapi berusaha fokus dan mengembalikan kesadaran dari hipnotis Sena, dia pun segera berbalik badan.


"Maaf, Sena, maaf...." Zen keluar secepat mungkin.


'Si'al, itu jauh lebih menakjubkan dari bayanganku.'


Sejenak Zen termenung dengan ingatan yang tertinggal di dalam tenda, dia tidak bisa mengendalikan diri, mencoba untuk mengangkat barbel dan push up.


Setelah Sena merapikan diri, dia berjalan keluar.namun dia bingung ketika melihat Zen.


"Apa yang sedang kau lakukan." Tanya Sena


"Berolahraga."


"Ini sudah malam."


"Tidak apa-apa, jangan khawatirkan aku." Zen coba memfokuskan perhatian.


Zen berhenti dan menoleh ke arah Sena, dia menggunakan pakaian tipis, bahkan lebih seperti pakaian dalam namun terlihat jelas bentuk bulat yang begitu sombong dan penuh kebanggaan.


Sena berjalan semakin dekat, Zen mundur selangkah.


"Ada apa ?, kau terlihat aneh begitu ?."


"Benarkah, sepertinya itu perasaan mu saja." Jawab Zen tertawa selagi mengalihkan pandangan.


Sena sedikit kesal, dimana mata Zen menoleh ke arah lain saat berbicara kepadanya.


"Hei... Lihat aku."


Zen melirik kemudian menghindarinya lagi.


"Bukankah kau yang mengatakan kalau lebih senang jika melihatku tidak pakai baju."


"Maaf aku hanya bercanda." Cepat Zen menjawab.


Senyum Sena turun, dia merasa kesal untuk sikap Zen yang menjadi pengecut setelah dia berusaha menunjukkan diri agar Zen tertarik.


"Kau selalu mengatakan 'Bercanda, bercanda, bercanda'... Kenapa kau tidak bisa melihat ku dengan serius."


Satu tegukan air liur ditelannya masuk ke tenggorokan. Mencoba memberanikan diri ketika sorot mata Sena menatapnya serius, namun sayangnya keragu-raguan muncul kembali dan membuat Zen menghindari Sena.

__ADS_1


Dia sadar, jika hubungan yang dia inginkan terlalu rumit. Ini bukan tentang perasaan, tapi takdir hidup mereka sangatlah berbeda.


__ADS_2