KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Perubahan sikap


__ADS_3

Eri yang ada di atas atap rumah penduduk, mudah saja melepas anak panah kepada satu orang ketika dia berniat menunjukan niat membunuh secara jelas.


Namun itu barulah peringatan, jika memang Zen ingin membunuh mereka, dia tidak perlu meminta Eri yang menyerang secara sembunyi-sembunyi. Hanya menjadikan pelajaran, bahwa orang-orang yang dianggap lemah cukup kuat saat melawan balik.


Santai Zen berdiri dengan tangan menyilang di dadanya.. "Jadi apa kalian ingin bicara baik-baik denganku atau tetap bersikeras melawan. Aku tidak memberi kesempatan kedua, jika kalian menolak maka jangan salahkan aku untuk apa yang akan terjadi nanti."


Zen memberi penawaran agar mereka bisa berpikir bijak.


"Memang apa yang bisa kalian berdua lakukan...Hou, kau atasi wanita itu di atas." Satu orang memberi isyarat kepada teman lain.


"Baiklah..." Satu orang pergi melompat naik ke atap rumah untuk melawan Eri.


Tapi tidak perlulah dia merasa khawatir, Eri yang sekarang berada di tingkat lebih tinggi, itu karena dia telah menerima esensi energi iblis dan membuat kekuatannya beranjak naik.


"Sungguh kalian terlalu menganggap lemah kami berdua." Tawa Zen sebagai ejekan.


"Tidak perlu banyak bicara, semua yang kau katakan hanya omong kosong."


"Terserah kalian mau menganggap ini hanya omong kosong atau bukan, tapi aku peringatkan sekali lagi. Jika kalian ingin membunuhku, maka kalian harus menerima konsekuensi yang sama." Tunjuk Zen di depan wajah semua orang.


Kemarahan mereka berempat sudah di ujung tenggorokan, menolak untuk mempertimbangkan ucapan Zen, kini tiga dari mereka bergerak maju.


"Diam dan matilah."


"Jika memang kalian siap mati, aku tidak akan segan." Jawab Zen.


Tanpa perlu menggunakan senjata, Zen sudah siap bertarung dengan tangan kosong. Tiga pedang datang dari segala arah, kiri, kanan dan belakang. Namun mudah saja Zen menghindar satu langkah ke samping.


Pukulan telak menghantam perut satu lelaki di depan, terpental jauh dan jatuh keras dengan suara tulang yang patah.


Serangan tangan kosong Zen cukup untuk menghancurkan batu besar, sedangkan tubuh para Hunter ini lebih seperti kerupuk dari pada sebuah batu.


Dua orang lain tidak berhenti, meski terkejut saat melihat temannya terlempar jauh. Ayunan pedang cepat bergerak dengan teknik beladiri senjata yang cukup tinggi.


'Ilmu pedang Dewa utara.'


'Ilmu pedang Dewa selatan.'

__ADS_1


Hebat nian nama jurus yang dia gunakan. Tapi nama tetaplah nama, sedangkan ilmu kelas Dewa hanya di miliki oleh para pahlawan dan penguasa iblis saja.


Meski Zen adalah petarung pengguna senjata, bukan berarti dia tidak bisa melawan hanya dengan tangan kosong.


Dia lihai menghindari setiap arah serangan pedang yang berayun acak-acakan dari segala arah. Melihat satu ruang besar karena langkah kaki dua musuhnya terlalu lebar, Zen pun membalas untuk dua tamparan keras di wajah mereka.


Suara menggema di sekitar gang yang sunyi dan gelap, hingga cukup membuat lima gigi mereka terlepas dan wajah bengkak merah mengeluarkan darah.


Tidak kuat menahan rasa sakit luar biasa setelah berulang kali menerima tamparan tangan Zen, seketika mereka berdua jatuh hingga hilang kesadaran.


Hingga sekarang, masih tersisa satu orang yang terkena anak panah milik Eri. Merasa kalah tanpa bisa membalas, satu orang lain itu pun melepas sihir element api yang langsung menuju ke arah Zen.


"Mati kau...." Keras teriakannya marah.


"Benarkah begitu." Santai Zen menjawab.


Tangan Zen menepis bola api hingga terlempar jauh ke atas dan meledak di langit malam.


Orang-orang yang tanpa sengaja melihat pun akan bingung, dimana ledakan itu membuat mereka penasaran tentang siapa orang bermain di malam seperti ini.


Zen berjalan maju, mendekati satu orang yang masih selamat karena tidak berani melawan setelah tangannya terluka.


Dia membawa teman lain yang tidak lagi bernyawa dengan tertancap lima panah hingga menembus ke belakang kepala.


Sehingga pasrah saja ketika Zen berada di depan mata dengan aura intimidasi.


"Katakan padaku, siapa yang menyuruh kalian ?, Hamza ?, Atau orang lain ?." Tanya Zen.


"Tidak, ketua tidak memerintahkan kami untuk melawan kalian, tapi kami lah yang ingin melakukannya sendiri." Jawabnya gemetar ketakutan.


Eri tidak senang untuk sikap orang-orang ini yang sudah menganggu waktu bersantainya dengan Zen.


"Sebaiknya, kita bunuh saja mereka dan buang ke sungai, itu jauh lebih baik." Usul Eri.


Namun Zen sadar, ketika Hamza tahu kalau anggota kelompoknya tewas di tangan mereka, dia akan melaporkan ke guild dan ini juga menjadi keributan.


"Itu terlalu berlebihan. Mereka bahkan tidak sampai membuatku terluka." Ucap Zen tersenyum.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan orang ini, aku sudah membunuhnya ?." Eri mudah saja melempar mayat di tangan tanpa rasa bersalah.


Zen merasa, darah iblis di tubuh Eri mengubah kepribadiannya menjadi kejam...."Tidak apa-apa, anggap saja dia memang pantas mendapatkan konsekuensi."


Kembali ke satu orang itu...


Kini Zen menatap tajam dengan aura intimidasi..."Aku ingin kau katakan kepada Hamza, jika sampai mengusik kehidupan kami lagi, aku pastikan tidak ada kesempatan lain, apa kau mengerti ?."


Lelaki itu menganggukkan kepalanya cepat.


"Sekarang kau bawa semua sampah ini pergi." Ucapnya keras.


Zen tidak perlu lagi merasa terganggu oleh gangguan kelompok Hamza, tentu ancaman yang dia berikan sudah cukup membuat mereka semua trauma.


Melihat Eri yang tampak santai dan biasa-biasa saja meski tangan masih berlumuran darah.


Dia pun bertanya..."Apa kau baik-baik saja setelah membunuh manusia ?."


"Entah kenapa aku tidak merasa bersalah. Apa itu buruk ?."


"Tergantung situasinya, selama kau tidak membunuh manusia secara sembarangan, itu bukan masalah." Ucap Zen agar Eri lebih bisa menahan diri.


"Aku akan mengingat itu."


Kemungkinan besar perubahan sikap dan kepribadian Eri terjadi karena esensi darah iblis milik Zen membawa kepribadian yang sama seperti dirinya.


Dan anggapan itu benar terjadi, ketika Zen dan Eri kembali ke penginapan.


Ketika Zen melepas lelah di atas ranjang dan menunggu Eri selesai membersihkan diri. Sosoknya berjalan keluar dari kamar mandi hanya berselimut kain tipis, terlihat jelas lekuk tubuh rampingnya.


Zen memalingkan wajah, berdiri dan berniat untuk pergi membasuh tubuh lepas Eri selesai.


Tapi secara terang-terangan, Eri mendekatinya dengan berani. Namun itu membuat Zen terkejut, dimana tanpa angin atau hujan, Eri memberi pelukan dari belakang.


"Apa yang kau lakukan ?, Kau terlalu berlebihan Eri."


"Bagaimana mungkin kau tidak merasa terganggu, berada di kamar yang sama tapi kau masih bersikap tenang, sedangkan aku harus menahan diri."

__ADS_1


Zen tentu merasa sulit untuk tidak menganggap bahwa semua baik-baik saja, Eri adalah wanita dan memiliki daya tarik tersendiri sebagaimana telah dia akui itu.


__ADS_2