
Daging naga jelas berbeda dengan daging sapi, terlebih lagi dalam segi urat, lemak dan daging itu sendiri.
Jelas daging makhluk terkuat di dunia Dios memiliki tekstur kenyal serta keras karena dalam kandungan daging naga sedikit lemak dan lebih banyak urat atau ototnya.
Zen tidak bisa memungkiri jika memasak daging naga sangat beresiko tinggi akan gagal, dimana saat memasak terlalu singkat atau terlalu lama, maka itu berakibat menjadikannya sangat keras.
Namun rendang adalah jenis masakan yang membutuhkan waktu lama, sehingga dia harus mengatur teknik memasak agar mengurangi resiko kegagalan.
Ada dua cara, pertama adalah dengan memasukkan daging bersama bumbu dan memasaknya secara langsung.
Hal ini memang akan membuat citarasa masakan daging rendang menjadi spektakuler, tapi dia ingat bahwa bahan yang digunakan bukanlah sapi, melainkan naga.
Zen memilih cara kedua, yaitu memisahkan antara perebusan daging naga dan bumbu rendang. Ini menjadi cara terbaik karena dia bisa memastikan tekstur daging naga sudah empuk terlebih dahulu kemudian barulah Zen mencampur bersama bumbunya.
Untuk satu ini, Zen mengurangi resiko kegagalan memasak ketika bumbu yang sudah matang namun daging naga masih keras dan sulit di kunyah.
Pertama-tama Zen mengambil semua daging naga memotong kecil dalam waktu singkat menggunakan pedang Excalixer.
Selanjutnya, dia mulai melumuri setiap potong daging naga menggunakan cairan kuning keemasan, yaitu madu.
Zen menyimpan madu dari salah satu binatang iblis Lebah ekor api yang hidup di sebuah sarang saat perjalanan ke kota kerajaan Zorgan.
Tahu bahwa madu sangat baik untuk kesehatan, meski Zen tidak memerlukannya karena dia tidak pernah sakit, tapi itu masih berguna saat mulut ingin makan sesuatu yang manis.
Nyatanya madu yang dia simpan benar-benar berguna, walau pun harusnya dia memilih perebusan dengan buah nanas, tapi sayang, Zen tidak menemukan buah nanas di sini, dia pun mengganti dengan madu.
Madu memiliki zat enzim yang sama untuk memperlunak daging, Zen yakin itu berhasil karena segala jenis binatang, mau binatang iblis atau binatang lain, selama mereka bisa di makan dalam tubuhnya memiliki protein. Sehingga nanas dan madu adalah solusinya.
Setelah semua daging selesai di lumuri oleh madu, Zen menyimpannya untuk beberapa waktu hingga menjadikan tekstur daging naga menjadi empuk.
Xin Sanziu dan Sung Cheng, melihat bagaimana cara Zen memasak.
Ibarat juri saat lomba masak memasak, Xin Sanziu bertanya dan Sung Cheng memberi komentar.
"Bagaimana menurut anda, chef Sung Cheng dari cara tuan Zen ini memasak." Tanya Xin Sanziu.
Menggeleng kepala Sung Cheng...."Hmm ini tidak biasa."
__ADS_1
"Tidak biasa seperti apa maksud anda ?."
"Aku baru tahu jika cairan Damnu, bisa digunakan untuk daging, biasanya hanya di gunakan sebagai pemanis minuman saja." Ungkapnya berpikir serius.
'Damnu' sendiri adalah cairan yang di hasilkan oleh binatang iblis lebah, atau sama juga nama lain dari madu dalam kamus bahasa dunia Dios.'
"Lalu bagaimana dengan cara anda ?." Tanya kembali Xin Sanziu.
"Aku akan menggunakan buah Na'as untuk mengempukkan daging Naga." Balas Sung Cheng.
Zen yang mendengar komentar itu, segera mendekat... "Kenapa kau tidak menyediakan buah Na'as itu di dapur, sejak awal aku mencarinya kau tahu."
"Ya aku pikir hari ini kami tidak menggunakannya, jadi aku simpan." Jawab Sung Cheng tertawa sendiri.
"Sudahlah itu bukan masalah besar."
Tanpa perlu membuang-buang waktu, Zen kembali untuk menyiapkan bahan lain...
Lengkuas, sereh, merica, jintan, pala, kayu manis, kelapa dan kunyit dalam jumlah banyak... Karena sekarang dia harus membuat bumbu rendang untuk seratus lima puluh kilo daging naga.
Zen menghaluskan lengkuas, sereh, bawang merah, kunyit, bawang putih, jintan, pala, kayu manis merica dan cabai merah besar. Seperti biasa, disini tidak ada blender, sehingga Zen hanya bisa pasrah menggunakan ulekan atau cobek.
Kini Zen harus membuka kelapa untuk di peras santannya saat mencampur dalam memasak daging.
Menggunakan pedang Excalixer Zen mengupas kulit kelapa itu semudah membalikkan telapak tangan, hanya saja satu hal merepotkan adalah memarut daging kelapa.
Bisa terbayang seberapa lama dia harus memarut kelapa sebanyak dua puluh butir. Hingga pada akhirnya Zen memilih cara sederhana, yaitu menghancurkan semua daging kelapa itu menjadi bubur dan memeras semua santannya.
Untuk kurun waktu yang sudah dia tentukan, proses pengempukan daging naga pun sudah cukup. satu kuali besar yang dia isi dengan air, kemudian memasukan semua daging agar di rebus setengah matang.
Hanya perlu waktu satu jam untuk pemasakan, karena dengan madu itu sudah membuat daging empuk dan kemudian meniriskan semua airnya hingga kering.
Xin Sanziu dan Sung Cheng berjalan mendekat melihat-lihat bumbu yang Zen haluskan dengan mencium aromanya.
Sung Cheng pun memberi komentar.
"Apa kau yakin tuan Zen, dengan semua campuran bahan ini, kau akan membuat rasa dagingnya acak-acakan." Ucap Sung Cheng memberi pendapat.
__ADS_1
Tapi Zen tetap tersenyum untuk menjawab atas keyakinannya sendiri...."Hmmm acak-acakan yang chef Sung Cheng maksudkan, bagiku adalah cita rasa yang kaya akan rempah-rempah."
"Aku penasaran bagaimana nanti rasanya."
"Saat semua matang nanti, kau akan tahu bahwa masakan ini adalah yang terbaik di seluruh jagat raya, kecuali rumah makan Padang." Karena Zen sadar, dia hanya mengikuti resep yang diketahuinya.
Sedangkan masterpiece sebuah rendang ada di rumah makan Padang.
"Rumah makan Padang, dimana itu..." Sung Cheng penasaran mendengar nama yang Zen sebut.
"Suatu daerah, di tempat tinggal ku dulu." Setidaknya itu memang benar.
Sung Cheng hanya mengangguk-anggukkan kepala berlagak seperti orang pintar.
Zen menuangkan minyak goreng yang terbuat dari lemak hewan, dan menumis bumbu campuran rempah-rempah itu.
Ternyata anggapan Sung Cheng tentang bumbu yang Zen buat akan acak-acakan segera sirna, dimana dia dan Xin Sanziu bisa Aroma harum setelah ditumis.
"Aku merasa jika masakan daging naga ini akan sangat luar biasa." Xin Sanziu tidak bisa menyembunyikan ekspresi tertariknya.
Namun berbeda dengan Sung Cheng, dia masih belum mengakui itu, dia ingin tahu bagaimana rasa masakan Zen saat semua telah selesai.
Zen memasukan daging naga dan santan kedalam bumbu.
Disaat inilah Zen harus berhati-hati, daging naga sudah empuk sempurna, tapi jika api terlalu besar atau pun tangan berhenti mengaduk maka bumbu akan gosong.
Selama dua jam Zen tidak berhenti menggerakkan tangannya untuk terus mengaduk 200 kilo daging naga beserta bumbu dan juga santan.
Di depan kobaran api yang panas dan juga beban berat dari daging rendang selama dua jam, itu ibarat sebuah latihan fisik cukup menguras tenaga.
Memberikan garam, gula dan penyedap rasa yang dia ciptakan sendiri, hingga santan tercampur dengan bumbu mulai larut menjadi satu, warna pun berubah coklat yang menandakan telah matang sempurna.
"Ini adalah rendang, tidak salah lagi." Ungkap Zen tersenyum bangga dengan dirinya sendiri.
Zen mengambil satu potong kecil daging rendang naga dan mencicipinya.
Sejenak tertegun, air matanya menetes, rasa masakannya memang tidak seenak rumah makan Padang, tapi kenangan nostalgia akan daging rendang yang dibuat oleh ibunya terlintas dalam pikiran.
__ADS_1
"Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa rindu dengan masakan ibu ku." Gumam Zen.
Kerinduan itu hanya menjadi kerinduan semata, keluarganya di bumi sana sudah tiada, sebatang kara dan berjuang keras untuk tetap hidup. Namun di sini dia memiliki keluarga baru yang harus di jaga olehnya.