KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Empat hari kemudian


__ADS_3

Empat hari Zen pergi dari kerajaan Villian melalui hutan besar Orindo dan sekarang dia akan masuk ke wilayah kerajaan Zorgan setelah menyebrangi sungai besar Yohang.


Selama perjalanan di dalam hutan besar Orindo ada banyak binatang iblis menyerang, tapi semua bisa di hadapi oleh Zen dengan mudah, bahkan dia hanya perlu menggunakan skill pencipta dan mereka tewas sebelum muncul di depan Zen.


Sedikit merepotkan memang, tapi hutan besar Orindo menjadi satu-satunya rute tercepat bagi Zen untuk mencapai kerajaan Zorgan. Namun sekarang, Zen sudah bisa melihat jalan keluar dari balik semak belukar yang menutupi hutan.


Dia menarik nafas dalam-dalam dan berteriak...."Akhirnya keluar hutan...."


Di tempat dia sekarang, Zen berada di tepi hutan dengan sungai jernih dan tenang, di sebrang sungai juga terdapat padang rumput yang tampak luas membentang.


Suasana terasa nyaman, rindang pohon menghalau sinar cahaya langit dan udara sejuk berhembus lembut dari arah Utara.


Zen kini memiliki banyak waktu untuk bersantai dan membuat makanan di pinggiran sungai, hal itu menjadi sesuatu yang cukup menarik. Mengingat sepanjang perjalanan hanya ada pohon-pohon besar dan binatang iblis ganas di sekitarnya.


"Baiklah kita lihat, apa yang bisa di makan." Gumam Zen sendiri selagi membuka dimensi penyimpanan khusus.


Mengeluarkan daging burung Carmalin yang dia dapat dari dalam Dungeon, Zen ingat, jika saat itu Sena ingin membuat sate. Tidak perlu pikir panjang lagi, Zen pun mempersiapkan semua alat dan bahan menggunakan skill pencipta.


Zen sudah banyak mendengar kabar soal Kerajaan Zorgan, dimana kerajaan itu tidak lebih besar dari kerajaan Villian, entah dalam segi luas wilayah, kekuatan pasukan, sumber daya alam dan banyak lagi.


Tapi yang terpenting adalah, hubungan kedua kerajaan itu bisa dibilang tidak akur.


Masalah antara kedua kerajaan adalah perebutan wilayah, dimana tepat di garis perbatasan terdapat sebuah gugusan bukit yang memiliki kandungan mineral seperti emas, perak, platinum, dan batu sihir.


Pertambangan menjadi salah satu sumber perekonomian kerajaan Zorgan, namun kerajaan Villian pun ingin menguasainya. Bagaimana pun juga, batu sihir adalah barang berharga dengan nilai jual tinggi, tentu siapa pun orangnya tergiur untuk memiliki kekayaan alam sedemikian besar.


Lupakan itu, karena Zen tidak tertarik perihal pertengkaran mereka berdua, namun mengetahui kerajaan Villian saat ini dalam kondisi terpuruk akibat penyerangan monster Dungeon. Tentu Kerajaan Zorgan tidak akan tinggal diam, mereka mengirim pasukan untuk menguasai pertambangan.


Tujuannya di kerajaan Zorgan, adalah mencari keberadaan kedua orang tuanya yang sudah lebih dulu pergi.


Zen tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi Remus atau pun Tifa, mereka berdua sudah banyak menghabiskan waktu untuk berkelana di berbagai kerajaan demi melanjutkan hidup. Tentu mereka memiliki banyak pengalaman saat menghadapi bermacam masalah di dalam perjalanan.

__ADS_1


Kembali melihat kegiatan Zen yang duduk di samping api unggun selagi menunggu sate daging burung Carmalin matang.


Saat aroma harum dari daging yang dipanggang dengan bumbu kecap menarik banyak perhatian binatang iblis, mereka bergerak keluar hutan dan menuju tempat Zen sekarang.


Tapi tanpa perlu terganggu karena serangan binatang iblis itu, satu persatu tewas oleh senjata dari skill pencipta dan jatuh tepat di atas kepala mereka semua.


Hingga..... Sekelompok Hunter muncul dari balik padang rumput, mereka berlima terkejut ketika melihat ada puluhan binatang iblis tergeletak di pinggiran sungai dengan kepala berlumuran darah.


Segera menyebrang dan memastikan keadaan, karena mereka sekarang sedang dalam misi berburu, sehingga tidak bisa sembarangan memasuki hutan jika terjadi suatu masalah besar.


Satu lelaki bertubuh besar dengan balutan amor putih keperakan menunjukkan ekspresi di wajah yang tampak takjub sekaligus takut. Dia adalah Drull kapten kelompok Hunter Orsinan bersama dua orang lelaki lain.


"Apa ini, ada banyak binatang iblis tewas, siapa yang melakukannya ?." Berkata Drull bingung.


"Hampir semuanya binatang iblis kategori B dan A.... Beruang cakar perak, Giant red Scorpion, Rusa batu, serigala merah, burung Dotu... Ini juga, Ular Doua berduri." Ucap Senko mengikuti Drull dari belakang.


"Luar biasa." Terkagum satu orang lain karena tidak percaya, dia adalah Eland seorang Assassin dengan dua belati di pinggangnya.


Satu wanita dengan rambut pendek berwarna merah tampak bersemangat untuk mendekat. Sedangkan wanita lain yang menggunakan jubah hitam begitu ragu-ragu meski dipastikan semua sudah aman.


"Mungkinkah muncul binatang iblis predator yang lebih kuat dan membunuh mereka, kapten." Jawab Eri wanita tomboy itu atas spekulasinya.


Drull yang memiliki pengalaman menyanggah pendapat Eri..."Tidak, jelas sekali kematian semua binatang iblis ini bukan karena perkelahian seperti ingin mencari mangsa."


"A-apa maksud anda kapten ?." Hiyo wanita ahli sihir jubah hitam bertanya.


Ditunjukkannya ke arah luka pada bagian kepala...."Lihat di bagian kepala mereka, ada besar tusukan pedang, pasti ini perbuatan Hunter."


"Hunter ?, Jika itu benar, maka Hunter yang membunuh semua binatang iblis ini pastinya memiliki lencana platinum atau diatasnya." Eri menunjukkan ekspresi kagum.


Semua orang terpukau melihat banyaknya binatang kelas atas dan memiliki harga jual tinggi. Tentu karena tidak terlihat siapa pun di sekitar, terlintas pikiran lain untuk mendapat keuntungan.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita ambil satu, kapten... Ini, ular Doua duri, harga kulitnya mahal, kita tidak perlu berburu untuk satu Minggu." Ucap Senko yang merasa tergoda.


Drull yang memiliki sikap jujur dalam hidup sebagai manusia terhormat, tidak mau merugikan orang lain dengan tegas menolak...."Jangan lakukan itu. Ini adalah hasil buruan orang lain, kita tidak boleh mengambilnya."


Hanya saja, mereka kelompok Hunter kecil yang bahkan mustahil untuk bisa mengalahkan seekor binatang iblis ular Doua.


"Tapi tidak ada siapa pun di sini, bahkan jika kita hanya mengambil satu itu tidak membuatnya rugi." Eri pun seakan setuju atas tunjukan Senku.


Menggeleng kepala Drull ... "Kau itu... Hmmm, kita adalah pemburu, bukan pencuri."


"Baiklah..." Lemas jawaban Eri. Tapi dia tidak bisa membantah perkataan dari kaptennya.


Tidak berselang lama, Eri mulai merasakan sesuatu... "Tunggu.... Aku mencium aroma yang sangat enak."


"Mungkin karena aku kentut tadi." Asal saja Eland menjawab.


"Jelas berbeda, penciuman ku tidak pernah salah, ini aroma daging di bakar." Balas Eri membantah perkataan Eland.


Orang lain pun ikut mengendus, terlepas dari aroma amis darah dari bangkai binatang iblis di sekitar mereka, sensasi harum sebuah masakan jauh lebih kuat dan menggoda.


Mereka berlima mengikuti dimana datangnya aroma itu, dan tidak jauh dari sana, satu orang duduk santai selagi menikmati daging panggang di pinggiran sungai.


"Bagaimana mungkin ada orang bersantai di tempat penuh dengan bangkai ini." Ucap Senku bingung.


"A-apa mungkin dia Hunter yang melakukannya." Jawab Hiyo dari belakang punggung Eri.


"Aku sedikit ragu, lihat saja, dia terlalu kurus untuk dikatakan sebagai seorang Hunter yang kuat." Eri seakan tidak mau percaya.


Namun tanggapan Kapten Drull berbeda..."Jangan tepaku dengan penampilan, terkadang orang yang kita lihat biasa saja, memiliki kekuatan di atas rata-rata."


Mereka setuju, karena di sekitar tidak ada orang lain kecuali dia.

__ADS_1


"Baiklah, biar aku bertanya...." Sang kapten pun mengajukan diri untuk mendekati lelaki yang sedang memanggang daging di sana.


__ADS_2