
Sosok roh Argous memang menunjukkan wujudnya dengan aura kekuatan yang tidak biasa. Setiap kehidupan di sekitar hutan tempat kemunculan roh itu, kini menjadi gelisah.
Binatang iblis kecil dan lemah merasa ketakutan, mereka semua berlari pergi dengan terburu-buru demi menyelamatkan diri atas kemunculan sosok berbahaya.
Namun perhatian roh Argous tertuju kepada Pangeran Alvardo yang terlihat begitu kecil seperti seekor tikus di sebelah telapak kakinya.
"Apa yang kau persembahkan karena sudah memanggil ku ?, wahai keturunan Villian." Ucap Roh Argous.
"Tujuh hari masa hidupku, kau bisa mengambilnya."
Tawa keras roh Agous menggelegar di sekitar hutan. Itu terasa seperti dia sedang mengejek jawaban dari pangeran Alvardo.
"Terlalu murah, dengan kekuatanmu yang sedemikian lemah, tujuh hari masa hidup milikmu tidak membuatku kenyang." Roh itu benar-benar berani mengejek seorang pangeran.
Rumit wajah pangeran..."Apa lagi yang kau inginkan."
"Aku menginginkan lebih, karena kau hanya keturunan dari Villian dan manusia yang aku anggap majikan sudah lama mati."
Roh kontrak bernama Argous tidaklah di miliki oleh Pangeran Alvardo secara langsung, cincin batu yang menjadi simbol perjanjian roh kontrak adalah barang warisan yang di berikan leluhur kerajaan Villian secara turun temurun.
Sehingga saat dia akan menerima kekuasaan kerajaan Villian, pangeran Alvardo pun di beri cincin dari leluhurnya.
"Satu bulan masa hidup."
"Masih belum cukup, dua tahun baru aku akan mematuhi apa yang kau perintahkan." Roh Argous menaikkan harga.
Tapi Pangeran Alvardo merasa keberatan..."Satu bulan setengah, setuju atau tidak, aku tidak akan memaksamu."
Zen agak bingung, mereka yang sibuk tawar menawar untuk membuat kesepakatan bersama agar bisa saling menguntungkan. Sedangkan dirinya tidak memiliki banyak waktu melihat perdebatan dua makhluk itu.
"Baiklah, aku setuju, jadi dimana iblis yang harus aku bunuh."
"Dia ....." Tunjuk pangeran ke depan.
Hingga Roh Argous itu melihat, sekali lagi dia tertawa keras, Zen merasa seperti penghinaan terhadap dirinya.
__ADS_1
"Kau benar-benar keterlaluan Alvardo, kau memanggilku untuk membunuh makhluk kecil ini. Hanya dengan ludahku saja itu sudah cukup membunuhnya." Ejek Roh Argous dengan wajah tidak senang.
Kini Pangeran Alvardo bisa tersenyum ketika tahu bahwa roh yang dia panggil memiliki kepercayaan diri tinggi karena bisa membunuh Zen dengan mudah.
"Itu benar, dia hanya iblis rendahan yang coba menantang ku agar menunjukkan kekuatan roh kontrak terkuat. Jadi aku percaya kau tidak akan mempermalukan aku Argous." Beralasan pangeran Alvardo agar tidak diremehkan oleh roh kontraknya.
"Bahkan aku yang merasa di permalukan karena telah menganggap jika kau memanggilku untuk melawan sosok kuat luar biasa." Mengeluh roh itu malas.
Ini jelas tidak menyenangkan saat Zen mendengar ocehan yang sedang mengejeknya, dia merasa terhina dan juga marah.
Langkah kaki roh Agous berjalan mendekat, meski roh adalah makhluk spiritual tapi setelah menjalin hubungan kerjasama dengan makhluk lain, mereka akan mendapat tubuh yang bisa digunakan.
Terasa jelas getaran setiap kali kaki itu menepak di atas tanah. Tubuh buntal tinggi kurang lebih tiga puluh meter, kapak di tangan yang mungkin mudah menebas pohon besar dengan mudahnya dan juga kekuatan energi setara binatang iblis kategori S.
Tentu bagi Hunter kelas lencana gold dan platinum sekali pun, roh Argous menjadi lawan yang benar-benar sulit untuk mereka kalah kan. Begitu juga dengan cara pandang roh itu kepada Zen, dia tidak merasa tertantang atau tertarik karena lawannya terlihat begitu lemah.
"Aku beri kau kesempatan memilih bagaimana keinginan mu untuk mati." Ucapnya kepada Zen.
"Kenapa kau bertanya seakan-akan sudah pasti akan menang." Jawab Zen tidak senang.
"Ya aku berpikir untuk menginjak mu, mengunyah mu atau aku potong kecil-kecil tubuhmu itu sedikit demi sedikit. Terserah kau mau memilih yang mana, karena pada akhirnya kau akan mati." Roh Argous memberikan pendapat.
"Tapi sisakan kepalanya, itu akan menjadi bukti jika dia sudah mati." Ucap pangeran atas tujuannya.
"Baiklah." Roh Argous pun setuju.
Zen tidak bisa ikut tersenyum setelah mendengar ucapan dua makhluk durjana yang seenak jidat memandang rendah dirinya.
Tentu anggapan roh Argous tentang seberapa lemah Zen adalah karena tekanan aura energi yang dia miliki sangat kecil, padahal mereka tidak tahu, Zen secara sengaja menahan semua auranya agar tidak menarik perhatian orang-orang di sekitar.
"Biar aku tunjukkan sedikit perlawanan ku." Zen meminta.
Seakan paham dengan permintaan Zen..."Oh. Kau ingin coba berjuang terlebih dahulu, aku tidak masalah, aku anggap ini permintaan terakhir mu, jadi silakan serang aku dengan cara apa pun."
"Untuk ukuran seekor roh yang sombong, kau benar-benar baik. Kalau begitu aku tidak akan sungkan." Jawabnya sedikit tersenyum.
__ADS_1
"Lakukan apa pun yang kau inginkan, karena kau tetap akan mati oleh ku."
Cahaya merah menyala terang di atas tangan Zen, dia sudah sangat marah untuk ocehan mereka berdua yang memandang rendah dirinya.
Sejenak Roh Argous tampak kagum, dia pun bersiap dengan segala macam serangan dari Zen. Tapi dalam beberapa detik setelah cahaya di tangan Zen lenyap. Tidak ada yang terjadi, melihat sekeliling pun, semua masih biasa saja.
"Apa kau sedang main-main denganku ?, Tidak ada apa pun di sini."
"Jangan khawatir, itu akan datang sebentar lagi." Balas Zen tersenyum santai.
Dan tiba-tiba saja, dari atas langit sebilah pedang besar yang mungkin dua kali lipat besar tubuh buntal Argous jatuh tepat di atas kepala.
Tanah di sekitar tempat roh Argous berdiri terbelah menjadi dua, guncangan akibat jatuhnya pedang terasa seperti gempa besar hingga meruntuhkan tanah.
Kini tubuh nyata roh itu pun terbelah dua dan tergeletak di tanah tanpa bisa bergerak lagi, hingga tidak berselang lama, wujud itu berubah menjadi debu dan lenyap terbawa angin.
"Aku benar-benar benci manusia sombong yang memandang rendah aku ini." Gumam Zen membersihkan debu di pundaknya.
Pangeran Alvardo sendiri terlempar jauh karena gelombang pedang milik Zen, dia menatap bingung saat tahu bahwa roh tingkat tinggi yang menjadi harta warisan leluhur kerajaannya tewas dengan mudah.
Melihat Zen yang berjalan mendekat, membuat Pangeran Alvardo ketakutan, namun dia tidak bisa pergi, karena posisinya sekarang terhimpit oleh pepohonan yang tumbang.
Sedikit demi sedikit menyeret tubuhnya untuk mundur, tapi dia telah tertahan oleh tumpukan pohon, hingga Zen kini sudah berdiri tepat di depan mata pangeran Alvardo.
"Apa kau tahu, aku memang ras iblis, tapi selama aku hidup dan sampai sekarang, aku tidak pernah berniat menyakiti manusia yang tidak mencari masalah denganku. Tapi kenapa orang seperti mu yang memiliki segalanya tanpa harus berusaha, menganggap ku seperti hama." Sorot mata Zen tajam dengan sebilah pedang yang dia ciptakan.
Segera pangeran Alvardo bersujud...."Maafkan aku, maafkan aku, aku tidak akan mencari masalah lagi denganmu, Zenhan, tidak... Tuan Zenhan, akan aku berikan segala yang kau inginkan, jadi...."
Tapi suara pangeran Alvardo telah berhenti ketika ujung pedang di tangan Zen kini ada di mulutnya.
"Semua sudah terlambat, kau berniat membunuhku sebelumnya, jadi aku tidak memiliki alasan untuk mengampuni mu." Ucap Zen menatap tajam.
Tanpa rasa bersalah sedikitpun, ayunan pedang itu menebas leher pangeran, Zen sedikit memberi belas kasih agar tidak menjadi kematian yang menyiksa.
Atas kematian pangeran Alvardo ini, kerajaan Villian harus mencari penerus kekuasaan yang baru dan rahasia Zen dengan Sena tidak akan diketahui oleh orang lain.
__ADS_1