KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
penyerangan


__ADS_3

Di permukaan luar, kota kerajaan Villian.


Berita besar tersebar cepat, dimana keanehan terjadi dalam Dungeon, para monster yang biasanya hanya tinggal di setiap lantai, kini datang secara berkelompok untuk menyerang Zona aman.


Ada banyak Hunter menjadi korban demi menyelamatkan orang-orang yang datang di zona aman. Tapi salah satu kegemparan dalam berita itu adalah hilangnya enam murid akademi Zezzanaza, dimana salah satunya adalah Sang pahlawan utusan Dewa, Sena Gelael Ars.


Namun, ketika orang lain merasa sedih dan syok karena kejadian buruk menimpa sang pahlawan.


Sedangkan di dalam kerajaan, sepuluh orang bangsawan dengan pakaian mewah berkumpul di ruang pertemuan bersama Raja Alberto Do Villian ke 5.


Mereka semua adalah para penasihat kerajaan Villian yang melakukan rapat darurat atas terjadinya kejanggalan di dalam Dungeon.


Di mana pun keberadaan Dungeon adalah salah satu sumber penghasilan ekonomi yang sangat menguntungkan. Akan ada banyak Hunter dari kerajaan-kerajaan lain sengaja datang demi menikmati wahana berburu di ruang bawah tanah.


Salah satunya adalah kerajaan Villian ini.


Sebagai tempat kemunculan Dungeon, perdagangan jual beli batu jiwa akan berpusat ke wilayah mereka dan pendapatan pajak keluar masuk pengembara ke kerajaan Villian pun tidak sedikit. Mustahil bagi siapa pun merelakan semua keuntungan itu dengan menutup Dungeon.


Kepanikan terlihat di masing-masing wajah orang tua yang saling berpendapat di hadapan sang raja.


"Tuan Alberto, Kita tidak bisa membiarkan terus seperti ini. Situasi akan menjadi tidak terkendali jika pahlawan Sena sampai terbunuh." Ucap sosok penasihat yang coba mencari bantuan demi keselamatan Sena.


Bagi kerajaan Villian, kehadiran pahlawan utusan Dewa di wilayah mereka adalah tentang tanggung jawab untuk melindunginya.


Namun keputusan lelaki tua dengan jabatan Marquis bernama Suhor Boviel, tidak bisa diterima begitu saja oleh penasihat lain.


"Hanya untuk mencari keberadaan satu orang, kita tidak bisa mengerahkan seluruh pasukan memasuki Dungeon. Aku jelas menolaknya." Jawab Evan Rolfe yang duduk di sebelah kiri Raja Alberto sang Duke.


Evan jelas memiliki jabatan yang lebih tinggi dari Suhor, sehingga dia ingin lebih banyak mendapat kepercayaan sang raja.


Penasihat lain tentu memahami kenapa Duke Evan tidak mau mengambil resiko untuk mengirim banyak pasukan ke dalam Dungeon hanya demi menyelamatkan satu orang, itu akan berakibat pada keamanan wilayah.


"Tuan Evan, kalau kita tidak segera mengatasi masalah ini, kerajaan akan mendapat kerugian besar. Tidak hanya soal pendapatan pajak dari penjelajah Dungeon, tapi tentang kehadiran pahlawan Sena. Bagaimana tanggungjawab kita kepada dewa." Tapi Suhor masih coba mencari alasan.

__ADS_1


"Persetan soal tanggung jawab, kita mementingkan orang lain, sedangkan diri kita sendiri akan dirugikan." Jawab Evan tegas masih menolak.


Selagi ketegangan terjadi kepada semua orang.


Tiba-tiba saja satu prajurit memasuki ruang rapat pertemuan dan menghadap ke hadapan sang raja dengan kondisi tubuh yang tidak baik-baik saja.


"Lapor tuan raja, para monster yang ada di dalam Dungeon kini naik ke atas permukaan." Ucapnya dengan membungkuk hormat.


"Apa...!!!." Evan Rolfe terkejut hingga berdiri dari tempatnya duduk.


Lanjut Evan atas ketidakpercayaan itu..."Bagaimana bisa monster Dungeon keluar dari wilayah mereka, ini tidak pernah terjadi."


"Tapi tuan Evan bisa melihatnya sendiri... Jika kini para monster sudah mencapai dinding perbatasan luar." Balas prajurit itu sedikit kesal.


Suhor yang sama terkejutnya bersikap lebih tenang...."Seberapa banyak."


"Lebih dari lima ratus monster kesetaraan kategori B dan tujuh puluh monster kategori A." Perjelasnya menjawab pertanyaan Suhor.


"Kau bercanda kan." Pasrah Suhor hingga jatuh kembali ke kursinya.


Dia benar-benar putus asa, tidak peduli jawabannya itu akan menjadi hukuman, tapi dia sudah pasrah, karena hidup mati seperti tidak ada harganya.


Tanpa ada banyak pertanyaan lagi. Sang raja segera berdiri dari kursi singgasananya, ketika sudah menyangkut soal kerajaan, dia tidak bisa tinggal diam.


"Siapkan pasukan untuk menahan serangan monster dan minta kepada guild mengumpulkan semua Hunter." Perintah dari sang raja kepada semua orang.


Dengan serentak semua menjawab..."Baik tuan."


**********


Di wilayah perbatasan bagian timur, kerajaan Villian.


Berdiri sebuah ruang sederhana dua lantai, terbuat dari susunan kayu dan batu, di sekitarnya ada taman-taman bunga kecil dan sebuah pohon oak besar yang memiliki ayunan menggantung.

__ADS_1


Tapi di dalam rumah sederhana itu, sesosok wanita paruh baya menangis tersedu-sedu, dimana dia adalah Tifa Retra Mivea, ibu dari Zenhan Arta Mivea yang ikut terlibat dalam insiden besar di dalam Dungeon.


Sedangkan seorang yang menjadi suami Tifa, Remus Rex Mivea mengelus pundak, untuk coba membuatnya sedikit lebih tenang.


"Tifa, jangan larut dalam kesedihan. Percayalah jika Zen akan baik-baik saja." Ucap Remus mengelus rambut Tifa.


"Ini sudah lima hari, tapi tidak ada kabar apa pun soal Zen, bahkan kerajaan memutuskan untuk menutup Dungeon karena terlalu berbahaya."


"Aku tahu, bersabarlah meski pun itu sulit. Zenhan pasti akan selamat aku yakin itu."


Dia memeluk Remus erat, membenamkan wajah dalam perlukan, tangis Tifa tanpa suara dan tidak bisa di bendung lagi.


Tifa yang mencoba untuk percaya, tapi semua tidaklah mudah. Banyak kenangan tentang Zenhan sebagai satu-satunya anak yang dia cintai, mustahil bagi Tifa menerima kenyataan sekarang bahwa Zenhan sudah tiada.


Tidak berselang beberapa lama, setelah Tifa sedikit lebih tenang. Saat itu juga, suara gemuruh terdengar keras, Tifa dan Remus segera berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Nyatanya, tiga puluh ekor monster yang cukup besar sudah melewati dinding perbatasan dengan naik ke atasnya.


Orang-orang yang hidup di sekitaran wilayah perbatasan timur mulai berlari meninggalkan rumah mereka demi menyelamatkan diri.


Diantara ketiga puluh, ada tujuh ekor monster kesetaraan kategori A, dua general orc, dua goblin king, satu Giant red Scorpion dan dua beruang punggung api.


Tentu kehadiran tujuh makhluk kategori A sudah cukup untuk meluluhlantakkan kota di wilayah perbatasan timur. Terlebih lagi sebagian besar para penduduk hanya pedagang atau pun pekerja, jadi tidak ada bagi mereka kesempatan membela diri.


Dan ketika satu ekor general orc datang, seorang ayah yang terjatuh dengan menggendong anaknya itu sudah siap menerima ajal, ketika ayunan palu di tangan Orc melayang dan akan menghantam mereka.


Hingga terjadi sebuah keajaiban, tubuh general orc terbelah menjadi dua, darah hitam menyembur keluar, kemudian jatuh tanpa ada kesempatan baginya meregenerasi diri.


"Tuan Sagon, apa kau baik-baik saja."


"Tuan Remus, terimakasih..."


"Cepat kau pergi, biar aku yang menjaga di sini." Jawab Remus melihat kekacauan di sekitar.

__ADS_1


Lelaki itu segera bangkit dan berlari membawa anaknya yang masih menangis untuk masuk ke wilayah perbatasan tengah. Dimana pusat kerajaan menjadi satu-satunya tempat aman bagi mereka sekarang.


__ADS_2