
Pak tua itu kembali mendapatkan barang yang dia inginkan, meski pun harus menerima perlawan sengit dari tamu VIP di ruangan lain.
Hingga harga tertinggi yang harus di bayar olehnya adalah 5.600 koin emas, tentu itu menunjukkan betapa sangat berharga seonggok daging Naga.
Zen mendengar kabar jika segala sesuatu yang di miliki oleh naga adalah harta karun dan memiliki banyak manfaat.
Jika seseorang memandikan diri di dalam darah naga, maka mereka akan mendapat ketahanan fisik yang luar biasa dan kenal terhadap senjata setinggi logam platinum.
Begitu pula saat mereka memakan jantung atau hati naga, itu akan memberi kesembuhan atas segala macam penyakit serta awet muda.
Lain halnya dengan kulit dan tulang naga, dua bagian tubuh itu bisa dijadikan zirah tempur dan senjata dengan kualitas menyamai logam Adamantium.
Ada pun ketika mereka menelan batu jiwa milik naga, peningkatan pesat dari seorang pecundang akan menjadi ahli sihir jubah Saint.
Dan juga dengan daging naga yang kaya akan kandungan nutrisi, tentu manfaatnya sangat banyak untuk meningkatkan kekuatan tubuh.
Namun sayangnya, kehadiran makhluk yang masuk kategori Legenda ini hampir tidak pernah terlihat lagi dalam kurun waktu seratus tahun.
Selain jumlah mereka yang bisa di hitung oleh jari tangan dan kaki, mereka juga hidup menyendiri dan tersembunyi di tempat berbahaya, begitu pun dengan siklus waktu hibernasi waktu tidur seekor naga bisa mencapai lima puluh tahun.
Zen penasaran, dari mana dan siapa orang yang bisa mendapatkan daging naga itu, meski usianya masih muda, hanya 500 tahun, tapi untuk membunuh naga adalah hal luar biasa sulit.
Acara lelang pun berakhir, Zen membawa Lify keluar ruangan untuk mengambil uang yang dia dapat dari penjualan batu jiwa binatang iblis seharga 4.000 koin emas.
Empat kantong penuh koin emas tergeletak di atas meja.
"Untuk biaya administrasi, dan segala urusan lain.... Total yang anda terima adalah 3.600 koin emas, silakan di hitung kembali." Ucapnya sopan.
"Baiklah." Zen mengangguk paham.
Meski Zen merasa malas dan tidak ingin merepotkan diri dengan menghitung satu persatu isi di dalamnya, tapi dia jauh lebih tidak mau ada kecurangan.
Sehingga semua koin emas dia keluarkan dan mulai menyusunnya per seratus keping.
Mata Lify terbuka lebar, dia baru pertama kali melihat uang yang begitu banyak hingga bertumpuk di atas meja.
"3.599... 3.600. ya semuanya sesuai."
"Terimakasih tuan, kami akan tunggu kedatangan anda di hari nanti."
__ADS_1
Segera memasukkan semua ke ruang penyimpanan khusus dia pun berpamitan untuk undur diri.
Hingga saat Zen membawa Lify pergi dari rumah lelang, ada dua puluh orang yang secara sengaja menunggu sampai dia keluar.
Sikap Lify terlihat takut, dia bersembunyi di belakang tubuh Zen karena tahu jika sosok yang kini menghadang mereka adalah tuan kejam dari Lify sebelumnya.
"Apa yang kalian inginkan dariku." Tanya Zen waspada.
"Tuan, kau sudah mengambil budak kecil kami yang manis dan kami ingin membawanya kembali." Ungkap lelaki itu untuk niat buruknya.
Tapi Zen sejenak tertawa...."Lucu sekali, aku sudah membelinya dari pelelangan, dan kenapa aku harus menyerahkan Lify kepada kalian."
"Kau memang mendapatkannya di dalam rumah lelang, tapi sekarang kita ada di luar, jadi kau harus tahu apa yang kami inginkan." Jawabnya dengan logika tidak biasa.
"Jangan bercanda, aku bahkan tidak tahu bagaimana harus tertawa." Jawab Zen dengan wajah datar.
"Tuan, jika kau tidak mau memberikan Lify dengan baik-baik, maka jangan salahkan kami akan menggunakan cara kasar."
"Lakukan saja, aku akan tidak takut." Balas Zen menantang.
Kedua puluh orang itu sudah siap dengan senjata mereka, di dunia gelap tidak ada hukum yang mengatur tentang tindak kejahatan, siapa pun bisa berbuat seenaknya bahkan jika harus saling membunuh.
"Jika kalian berani mengganggu kenalan ku, maka jangan berpikir aku akan membiarkan kalian tetap hidup." Ucap pak tua itu berjalan datang dengan tubuh sedikit terbungkuk.
Merasa tersinggung, satu dari mereka cukup berani untuk mengacungkan pedang ke arahnya.
"Siapa kau pak tua, jika kau tidak ingin terlibat dengan masalah kami, sebaiknya kau pergi saja."
Zen sadar, lelaki tua itu adalah sosok yang sama dengan pak tua yang dia kenal di dalam ruang VIP.
Tanpa topeng untuk menekan auranya, kini Zen tahu seberapa kuat dia, memang benar apa yang dia duga, jika pak tua itu bukan sembarangan. Tingkat energi sihir di tubuhnya setara seorang ahli sihir jubah Saint bahkan mungkin lebih tinggi lagi.
Satu kawan penjahat itu mulai berbisik...
"Kakak, sebaiknya kita pergi."
"Ada apa ?. Jangan pikir kau takut, mereka hanya berdua dan kita berdua puluh, ini akan sangat mudah." Balasnya.
Bisik-bisik.... "Tapi kak, dia... Orang tua itu adalah...."
__ADS_1
Seketika wajah lelaki yang berlagak sebagai pemimpin menjadi pucat pasi, bercak keringat muncul di dahinya dan tubuh pun gemetar.
Mencoba bersikap tenang dan penuh wibawa, lelaki itu secara sengit menatap Zen.
"Untuk sekarang kau beruntung karena kami memiliki urusan lain, jadi kami akan pergi." Dia beralasan untuk menyelamatkan diri.
Zen tersenyum sendiri karena mereka begitu takut kepada orang tua satu ini. Bukan berarti Zen merasa akan kalah, tapi dia tentu penasaran tentang asal usul dari pak tua.
"Terimakasih karena sudah menyelamatkan ku." Sopan Zen di depan pak tua.
Tapi pak tua tertawa terbahak-bahak...."Tidak, tidak, aku tidak bodoh, aku lah yang menyelamatkan mereka, bukan sebaliknya, jika aku biarkan maka kau pasti membunuh semua penjahat itu."
"Itu tidak salah, tapi tetap saja, mereka lebih takut ketika kau datang pak tua."
Pak tua terkejut..m"Jadi kau mengenal ku, padahal kita bertemu saat menggunakan topeng."
"Topeng itu hanya lelucon saja, meski menyembunyikan wajah dan aura, tapi tidak dengan janggut mu." Jawab Zen.
Pak tua dan Zen tertawa, Lify pun ikut tertawa meski sebelumnya dia ketakutan melihat orang-orang itu.
"Seperti yang aku janjikan, aku ingin kau datang ke pesta hari pernikahan istriku dan membuat makanan besok, apa kau mau ?." Ungkap pak tua atas janji sebelumnya.
"Aku tidak bisa menolak, berikan saja alamat rumah mu, aku pasti akan kesana." Balas Zen.
Pak tua pun menuliskan beberapa kata di secarik kertas dan menyerahkan kepada Zen.
"Apa ini ?, Jelek sekali tulisannya." Sindir Zen.
Pak tua tidak merasa tersinggung..."Maaf saja kalau begitu, itu alamat rumah ku, kau hanya perlu bertanya kemana harus pergi, tua-tua begini aku cukup terkenal di dunia gelap."
"Baiklah pak tua."
"Oh katakan siapa namamu ?."
"Pak tua bisa menyebutku sebagai Hanzen." Zen masih menyembunyikan identitas aslinya.
"Itu bukan masalah, jadi aku tunggu kedatangan mu."
Setelah berbincang singkat dan memperkenalkan diri. Pak tua pun beranjak pergi bersama dua pengawal yang membawa barang-barang hasil lelang .
__ADS_1