KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Memburu iblis


__ADS_3

Di dalam kamar yang terlihat mewah atas segala perabotan berkilau itu, seorang lelaki berbaring di atas ranjang bersama tiga wanita cantik tanpa sehelai kain pun menutupi tubuh mereka.


Dia adalah Pangeran Alvardo dengan para wanita yang dia bawa untuk bermain-main di dalam kamar.


Tidak perlu khawatir tentang para penjaga di istana, karena mereka tidak mungkin berani melarang sang pangeran atas dasar alasan apa pun.


Bahkan jika senjata milik pangeran itu hanya sebesar jari kelingking, tapi dengan ketampanan wajah Alvardo membuat wanita mana pun tertarik dan mereka juga benar-benar pandai dalam hal merayu.


Ada banyak keuntungan saat bisa mendapat perhatian sang pangeran, tapi kehadiran mereka hanya sebatas teman bermain yang datang ketika diminta, sedangkan tujuan utamanya adalah wanita tercantik di kerajaan Villian, pahlawan utusan Dewa, Sena.


Tapi saat dia beranjak dari tempat tidur, seorang wanita di sana pun membuka mata.


"Pangeran, anda mau pergi kemana." Panggilnya mesra.


"Aku ada banyak urusan, jadi aku pergi dulu." Jawab Alvardo seakan tidak peduli sama sekali.


"Baiklah pangeran."


Membenahi pakaian dan berjalan ke kamar lain. Saat Pangeran sudah tiba, satu sosok Assassin kini membungkuk di hadapan pangeran Alvardo untuk memberi laporan atas perintahnya mengawasi Sena.


".... Jadi apa yang kau lihat di sana ?." Tanya pangeran Alvardo serius.


"Seperti dugaan anda tuan Alvardo, Nona Sena pergi untuk bertemu seorang lelaki di dalam hutan Orindo, mereka terlihat sangat dekat jika dikatakan sebagai teman." Ucap Assassin itu dengan apa yang dia lihat sebelumnya.


Tangan pangeran Alvardo menghantam meja, dia marah karena sekarang tersadar bahwa selama ini kecurigaannya terhadap Sena terbukti. Satu-satunya wanita yang dia inginkan telah menaruh hati kepada lelaki lain.


"Sial... Aku benar-benar tertipu, aku pikir Sena tidak memiliki hubungan apa pun dengan seorang lelaki. Jadi apa kau tahu siapa lelaki yang bersama Sena ?." Kembali Pangeran Alvardo bertanya.


"Ya tuan, dia adalah putra dari keluarga Mivea. namanya Zenhan Arta Mivea."


Mendengar kata Mivea, tentu ingatan Alvardo masih hangat soal kehadiran iblis yang menyamar sebagai manusia beberapa waktu lalu.


"Mivea ?, dia anak dari keluarga iblis Mivea yang di usir oleh ayahku."


"Itu benar tuan."

__ADS_1


Senyum jahat di tunjukan oleh pangeran Alvardo, dia berdiri dari atas kursinya dan memiliki niat kepada sosok Zenhan.


"Panggil orang-orang mu, aku akan mengejar iblis itu, kita bunuh dia... Tentu ini akan menjadi kebanggaan karena bisa membawa kepala seekor iblis." Ucap Alvardo tujuannya.


"Baik tuan."


Assassin itu pun secara tiba-tiba lenyap dan Pangeran Alvardo beranjak keluar kamar untuk bersiap pergi memburu seekor iblis.


*******


Ada tiga jalan untuk orang-orang keluar masuk wilayah kerajaan Villian.


Pertama rute jalan hutan besar Orindo, kedua bukit barisan Ribbon, dan ketiga melalui kota perbatasan Corz.


Jika mencari rute yang tercepat adalah melalui hutan besar Orindo karena wilayah hutan terbagi menjadi dua bagian kerajaan.


Namun ketika mencari rute yang aman, orang-orang akan memilih jalan di kota perbatasan Corz di bagian barat kota kerajaan Villian dan menyebrangi sungai agar bisa masuk ke kerajaan tetangga.


Tapi untuk rute untuk bukit barisan Ribbon, sangat di hindari oleh siapa pun, karena tempat yang harus mereka lalui terlalu berbahaya dengan jalanan menanjak, jurang curam dan juga berbatu.


Tapi tujuan Zen adalah meninggalkan kerajaan Villian, sehingga rute tercepat untuk sekarang dengan melewati hutan besar Orindo.


Ini juga yang membuat Zen berpikir tentang Remus dan Tifa, mereka berdua tentu ingin sesegera mungkin meninggalkan wilayah kerajaan Villian dan memutuskan pergi ke kerajaan terdekat.


Meski pun memang menjadi tempat menakutkan bagi para penduduk kerajaan Villian, dimana menjadi sarang binatang iblis kategori A yang berbahaya, tapi semua itu tidak berarti karena Zen cukup kuat mengalahkan semua binatang iblis.


Zen hanya mengikuti jalan setapak yang selalu digunakan oleh para Hunter untuk menjelajahi hutan besar Orindo.


Baru seperempat hari Zen memasuki hutan Orindo. Sudah lebih dari dua puluh binatang iblis kategori B hingga A datang menyerangnya dan semua selesai tanpa perlu Zen mengangkat tangan.


Skill pencipta memang kemampuan luar biasa, dia bisa mengarahkan pedang ciptaannya dari sudut mana pun, sehingga baru saja binatang iblis itu muncul dan meraung-raung, pedang Zen jatuh tepat di atas kepala mereka kemudian tewas.


Zen tidak membiarkan semua binatang iblis itu terbuang sia-sia, dia memasukkannya ke dalam dimensi penyimpanan khusus yang mungkin suatu hari nanti bisa digunakan untuk bahan makanan ataupun dia jual ke guild Hunter.


"Jika semua ini aku jual, tentunya aku tidak perlu khawatir soal ongkos perjalanan." Gumamnya sendiri.

__ADS_1


Tapi tidak lama berselang, Zen bisa mendengar suara langkah kaki kuda bergerak cepat menuju ke tempatnya sekarang.


Tanpa perlu merasa takut dengan tujuan para pengendara kuda, Zen tetap berdiri seperti menunggu kehadiran mereka. Dan ternyata itu adalah gerombolan pengawal pribadi milik pangeran Alvardo bersenjata lengkap.


Tentu Zen bertanya-tanya tujuan pangeran Alvardo membawa pengawal pribadi itu, jika dikatakan sedang mengisi waktu luang untuk berburu binatang iblis, jelas menggunakan kuda adalah hal yang kurang efektif.


Dan kini tepat saat mereka melihat Zen yang menepi di pinggiran jalan, pangeran Alvardo berhenti dengan tatapan mata sinis seakan sedang mengejek.


"Pangeran Alvardo ada apa gerangan datang ke hutan yang berbahaya seperti ini." Tanya Zen masih bersikap sopan.


"Untuk apa kau bertanya ?." Namun sikap Pangeran Alvardo tidak terlihat senang.


"Apa salahnya dengan itu. Aku hanya bersikap sopan kepada anda." Balas Zen.


"Aku baru tahu jika seorang iblis bisa bersikap sopan, ini lucu sekali." Tawanya keras dengan nada mengejek.


Sejenak Zen tertegun, ternyata identitasnya sudah di ketahui oleh pangeran Alvardo, Zen merasa akan ada masalah yang terjadi dengan kehadiran banyak prajurit di sini.


"Jadi apa yang anda inginkan ?." Tanya Zen secara langsung.


"Tentu saja memenggal kepala mu dan membawanya ke hadapan sang raja." Pangeran Alvardo menarik pedang dan mengacungkan di depan wajah Zen.


"Itu tidak mungkin, aku masih membutuhkannya. Jadi anda tidak bisa membawanya begitu saja." Jawab Zen.


Tindakan pangeran Alvardo hanya sebuah pengalih perhatian Zen, dimana seorang Assassin melompat dari atas pohon dan berniat membunuhnya dengan pisau yang dia genggam.


Tapi, tanpa perlu Zen melihat ke belakang sebilah pedang melesat untuk memotong kepala Assassin itu dan jatuh ke tanah begitu saja.


Pangeran Alvardo dan semua prajurit terkejut bingung...'Apa yang terjadi ?.'


Zen menggelengkan kepala.... "Padahal aku sudah berbaik hati untuk pergi dari kerajaan Villian tanpa berniat membalas dendam, tapi sekarang... Kalian benar-benar tidak tahu diri. Aku bukan orang yang bisa bersabar setelah perbuatan kalian kepada keluarga ku."


"Jangan banyak bicara, bunuh iblis ini." Teriak pangeran Alvardo memberi perintah.


Tidak Zen sangka, dari balik bayang-bayang pohon masih ada sembilan Assassin lain yang masih tersisa, begitu juga dengan pasukan berkuda pengawal pribadi pangeran Alvardo.

__ADS_1


Sejak awal sang pangeran tidak berniat untuk membiarkan Zen pergi begitu saja dan memang ingin membunuhnya tanpa bisa tawar menawar.


__ADS_2