
Dua hari berlalu dengan cepat....
Setelah malam itu kecanggungan hadir antara Zen dan Sena.
Hanya diam tanpa sepatah kata pun mereka bicarakan selama melakukan perjalanan menyusuri gurun pasir. Kecuali untuk waktu istirahat dan makan, barulah Sena mendekat, meski pun kerumitan hadir di wajahnya.
Zen ingat tentang tatapan mata Sena itu, sadar akan perasaan rumit yang hadir di dalam hatinya. Jika dia masih seorang manusia, tentu tidak akan ada penolakan saat menerima hubungan bersama Sena.
Tapi sekarang, dia bukan lagi manusia, melainkan iblis, satu sosok yang menjadi musuh bagi para manusia dan ada kemungkinan jika kehadiran Zen membuat masalah di masa depan.
Saat ini malam ke tiga di dalam dunia gurun pasir sudah datang.
Nyala api unggun dan sepotong daging panggang terpantul jelas di depan mata masing-masing.
Seperti biasa, tanpa perlu menunggu untuk Zen menawarkan makanan kepada Sena, dia sudah memotong satu paha burung Carmalin yang telah matang.
Menggigit dengan cepat, menelan terburu-buru sebelum dua puluh dua kunyahan sehingga itu membuat Sena tersedak.
Zen membawa segelas air yang dia berikan kepadanya.
"Apa yang kau lakukan, minumlah... Makan dengan santai, ada banyak makanan disini jadi jangan khawatir."
Sena memegang tangan Zen selagi diarahkan gelas menuju mulut hingga air membasahi bibir mungilnya. Melihat itu sejenak Zen tertegun karena bagaimanapun dia mengakui kecantikan Sena yang begitu indah.
"Terimakasih..."
"Ya... Sama-sama."
Hanya itu ucapan Sena untuk dua hari terakhir yang bisa Zen dengar kembali.
Tapi setelah Sena menyelesaikan semua potongan daging di tangannya, dia segera masuk ke dalam tenda, meninggalkan Zen sendiri di depan api unggun.
Hal ini membuat Zen frustasi, dia tidak bisa memungkiri bahwa ada rasa tertarik sebagaimana seorang lelaki yang jatuh hati kepada wanita.
"Apa yang sebenarnya aku lakukan...." Gumam Zen menyesal.
Dia tidak ingin kecanggungan antara mereka terus berlanjut, karena di tempat ini Sena menjadi satu-satunya teman bicara. Akan sangat tidak menyenangkan jika dalam kondisi sulit seperti sekarang, mereka saling berjauhan.
"Baiklah. Kau harus melakukannya, jangan jadi pengecut karena keegoisan ku ini..." Zen memberi semangat kepada dirinya sendiri.
Zen berdiri di depan tenda yang tertutup, Sena ada di dalam sedang merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
"Sena..." Panggil Zen.
"Iya..." Jawabnya dengan suara terkejut.
Tapi dari balik bayangan itu Sena segera berdiri dan bisa Zen lihat jika dia sedang merapikan pakaiannya.
"Tidak apa-apa, kau tidak perlu keluar." Ucap Zen yang tahu kalau Sena cukup sibuk di dalam tenda.
"Ada apa Zen ?."
"Aku ingin minta maaf, jika sebelumnya aku mengatakan sesuatu yang membuatmu tidak senang."
"Kau tidak salah, akulah yang terbawa emosi... Harusnya aku sadar, aku bukan orang yang benar-benar kau sukai." balas Sena.
Ini adalah tentang kejadian malam itu. Zen merasa telah salah karena terlalu banyak menggoda Sena, sedangkan dia tetap seorang pengecut yang tidak bisa membalas perasaan wanita.
Sama seperti kehidupan yang lalu ketika masih menjadi seorang Ryan. Pada kenyataannya dia adalah seorang pecundang. Menyibukkan diri dalam pekerjaan sebagai alasan menghindar dari tanggung jawab menikahi Rea.
Saat itu Ryan terlalu takut memberi harapan kepada Rea untuk menjadi keluarga, masa depan yang tidak pasti sebagai karyawan bergaji kecil dan kemungkinan PHK akan membuat Rea sengsara.
Penyesalan pun datang dimana Ryan harus menerima takdir, jika Rea di jodohkan oleh kedua orang tuanya dengan pengusaha sukses yang menjamin masa depan penuh kebahagiaan dan kemewahan.
Tidak ada yang bisa dia lakukan, hanya menerima kenyataan dengan pasrah, bahwa kekasih hatinya, wanita tercintanya berakhir di pelaminan bersama lelaki lain.
Dia tidak ingin penyesalan itu datang kembali, Zen meyakinkan diri bahwa....
"Kau salah Sena, aku hanya berpikir, jika kau bersama denganku, masa depan mu tidak akan bahagia... Karena kau tahu, aku adalah iblis sekarang, bukan lagi manusia dan sangat buruk saat orang lain tahu tentang hubungan kita." Jawab Zen tersenyum pahit.
Setelah Zen menjelaskan kegundahan dalam hatinya itu, Sena tiba-tiba saja muncul, dia membuka tenda dan melompat untuk memeluk Zen dengan erat.
"Aku tidak peduli dengan iblis atau pun manusia, aku sudah jatuh cinta kepadamu dan berharap kau bisa memahami itu." Ucap Sena tidak membiarkan Zen lepas.
Sorot mata saling bertatapan, membuat Zen sadar, Sena benar-benar serius soal perasaan yang dia tunjukan kepadanya.
"Jika kau tidak masalah denganku, aku akan memberikan semua yang kau inginkan."
"Kau harus bertanggung jawab dengan perasaan ku ini, Zen." Sena memaksa dan tidak menerima jawaban tidak.
"Akan aku lakukannya."
"Kau harus berjanji."
__ADS_1
"Aku janji."
Lengkungan senyum muncul di bibir Sena, dia membenamkan wajah dalam pelukan Zen, terlalu malu untuk memperlihatkan ekspresi bahagianya sekarang.
"Tapi Sena...." Ucap Zen ragu-ragu.
"Apa ?."
"Aku tidak bermaksud merusak suasana hati mu sekarang, tapi...." Bingung Zen menjelaskan.
"Kau ingin aku pergi ?."
"Tidak bukan seperti itu, aku senang ya, benar-benar senang karena mendapat pelukan darimu, tapi... Jika kau tidak menutupi tubuhmu sekarang, aku merasa sulit mengendalikan diri."
Sena yang terbawa suasana dan emosi untuk menyatakan perasaan, sehingga lupa jika dia masih belum barpakaian.
"Apa kau tidak menyukainya ?."
"Ini bukan masalah suka atau tidak, karena jika boleh jujur aku menyukainya, tapi aku tidak ingin dianggap lelaki jahat yang hanya mengharapkan tubuhmu saja." Zen coba menahan diri.
"Baiklah kalau begitu...."
Entah kenapa Zen yang mendengar jawaban Sena seperti tidak senang.
Bahkan Sena pun berjalan dengan santai setelah melepas pelukannya kepada Zen. Sekilas lirikan mata Zen bisa menyaksikan lekuk tubuh penuh pesona itu hingga lupa bernafas.
Hingga beberapa saat kemudian, Sena berjalan keluar, kini dia sudah berpakaian rapi. Mengambil tempat untuk duduk di sebelah Zen dan menyandarkan kepalanya.
Dia menjadi gugup, suasana romantis yang Zen rasakan setelah enam belas tahun berlalu hidup di dunia baru Dios akhirnya datang.
"Kau tahu Sena, dulu... Jauh sebelum aku hidup di dunia ini, aku berada dalam penyesalan." Ucap Zen.
"Penyesalan seperti apa ?."
"Wanitaku menikah dengan lelaki lain, karena aku terlalu takut untuk mengambil keputusan." Rumit senyuman di wajah Zen.
"Jadi apa kau juga takut dengan keputusan mu sekarang ?."
"Tidak, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama." Zen yakin untuk menjawab pertanyaan Sena.
Zen tidak ingin kepahitan di masa lalu terjadi lagi. Dia yang sekarang memiliki kesempatan mengubah takdir kisah cinta penuh penyesalan dan meyakinkan diri untuk mendapat hidup bahagia seperti keinginannya.
__ADS_1
Meski itu akan sangat sulit dan penuh perjuangan, Zen akan melakukan segala cara walau sama artinya dia melawan seluruh dunia, semua adalah demi Sena.