KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Potensi besar


__ADS_3

Mereka semua mulai membersihkan mayat-mayat binatang iblis.


Tidak seperti Zen yang memiliki ruang dimensi penyimpanan khusus dengan luas tanpa batas, dia bisa memasukan barang apa pun tanpa perlu takut kelebihan muatan dan busuk.


Tapi para Hunter lain menggunakan kantong dimensi, dimana hanya mampu membawa satu tubuh binatang iblis sudah penuh, tidak muat lagi atau pun kelebihan muatan.


Melihat bagaimana Zen melempar satu persatu mayat binatang iblis itu kedalam ruang dimensi penyimpanan khusus, Senko dan Eland menunjukkan ekspresi melongo.


'Seaneh itu kah aku memasukan semua ini.' pikir Zen merasa risih.


"Apa itu ruang dimensi penyimpanan khusus tuan." Tanya Eland atas apa yang dia lihat.


"Ya begitulah, apa ada yang salah ?." Balik Zen bertanya.


Menggeleng kepala Eland..."Bukan hal yang salah juga, tuan. Tapi aku baru pertama kali melihat ruang dimensi penyimpanan sebesar milik anda tuan."


Hanya sedikit manusia biasa yang memiliki kemampuan ruang dimensi penyimpanan, itu pun memiliki batas muatan dan juga waktu terus berjalan. Sehingga bukan hal aneh jika mereka terkejut ketika melihat bagaimana Zen mengangkut semua mayat binatang iblis itu dengan mudah.


"Kami juga memiliki orang yang bisa menggunakan dimensi penyimpanan khusus." Ucap Senko.


"Oh, siapa itu." Zen penasaran.


Di tunjuk oleh Senko satu orang berjubah hitam yang menunjukkan ekspresi tidak menyenangkan saat melihat mayat binatang iblis beruang cakar perak...."Dia... Hiyo Aquilani, ahli sihir kami yang pemalu."


"Tapi sepertinya, dimensi penyimpanan khusus milik Hiyo sangat terbatas." Lanjut Eland.


Potong Eland coba menjelaskan... "Tidak juga, Eland, kelompok kita saja yang tidak pernah mendapatkan buruan besar, sehingga kita tidak tahu pasti seberapa luas miliknya."


Keduanya tertawa bersama-sama, bukan sesuatu yang lucu, melainkan mengejek diri mereka sendiri karena selama menjadi Hunter tidak pernah sekali pun mendapat hasil buruan besar.


"Kau benar, kita pun tidak pernah melihat Hiyo kerepotan, meski pun dia selalu enggan melihat mayat binatang iblis." Senko setuju.


Senyum lemas di tunjukan Eland .... "Dia harusnya memiliki potensi untuk berkembang menjadi ahli sihir tingkat tinggi, tapi kenapa Hiyo lebih memilih bersama dengan kita."

__ADS_1


"Entahlah, aku pun tidak tahu pasti dengan isi pikirannya, dia benar-benar tertutup jika harus membicarakan tentang dirinya sendiri." Tambah Senko.


Zen tidak bisa mengikuti arah pembicaraan mereka berdua, tapi sebagaimana bentuk rasa hormatnya, dia tetap menjadi pendengar yang baik. Dan ikut tertawa meski pun tidak tahu letak lucunya dimana.


Pada akhirnya, Zen dan wanita bernama Hiyo itulah yang membawa semua tubuh binatang iblis menuju kantor guild Hunter di kota Zer Din. Namun atas nama Hunter Orsinan milik mereka berlima, semua hasil buruan ini akan di jual.


Tepat sebelum memasuki gerbang kota Zer Din, Zen dan kelompok Hunter Orsinan dihentikan oleh prajurit penjaga.


Masing-masing anggota Hunter Orsinan hanya perlu menunjukkan kartu yang berisi data member guild Hunter sebagai syarat masuk. Sedangkan untuk Zen, dia tidak memiliki kartu member guild Hunter atau kartu tanda penduduk di kerajaan Zorgan.


"Kalau begitu, anda harus membayar biaya untuk masuk. 3 koin perak dan harus diperbaharui setiap 7 hari sekali selama anda masih berada di kota Zer Din." Ucap penjaga itu.


"Aku mengerti..."


Setelah Zen memberi biaya masuk, dia mendapat kartu tinggal sementara dari penjaga gerbang.


Tidak ada yang perlu di khawatirkan soal perselisihan antara kerajaan Villian dan kerajaan Zorgan, karena siapa pun bisa keluar masuk sebuah wilayah selama membayar biaya administrasi.


"Bukankah tuan bisa mendaftar sebagai Hunter atau pedagang, itu cukup menguntungkan karena tuan bisa pergi kemana pun dengan bebas." Kapten Drull memberi nasihat.


Zen mengangguk setuju..."Hmmm untuk beberapa alasan aku memang berniat mendaftar sebagai Hunter."


"Kalau begitu jangan buang-buang waktu, setelah menjual semua binatang iblis ini kau harus mendaftarkan diri, tuan... Bukan begitu Hiyo ?." Ucap Eri yang tersenyum manis selagi menarik tangan Hiyo.


Gadis tomboy selalu terlihat penuh semangat, berbeda dengan teman satunya yang sama-sama sebagai seorang wanita namun begitu pendiam, murung, dan selalu ragu-ragu saat akan bicara.


"Ok, ok, baiklah aku akan mencobanya." Jawab Zen.


Kelompok Hunter Orsinan masih terbilang amatiran, mereka terdiri dari Hunter lencana perunggu dan hanya kapten Durl saja yang sudah memiliki lencana perak.


Namun yang cukup menarik perhatian Zen adalah gadis pemalu bernama Hiyo, dia pun hanya terdaftar sebagai Hunter lencana perunggu dan tidak memiliki jubah ahli sihir.


Tapi Zen bisa merasakan aura yang keluar dari dalam tubuh Hiyo itu cukup kuat dan mungkin juga menyamai seorang ahli sihir jubah raja.

__ADS_1


Seperti yang dikatakan oleh Eland dan Senko sebelumnya, jika Hiyo memiliki potensi besar untuk berkembang ke tingkat lebih tinggi. Namun entah atas dasar alasan apa, dia memilih tetap bergabung dalam kelompok Hunter Orsinan.


Di dalam perjalanan menuju guild Hunter kota Ser Din, kapten Drull bertanya..."Tuan Zen, apa anda berasal dari kerajaan Villian ?."


"Ya itu benar." Jawab Zen apa adanya.


"Aku mendengar jika kerajaan Villian mengalami bencana besar, apa yang sebenarnya terjadi di sana ?."


"Dungeon di kota kerajaan Villian mengalami keanehan, monster-monster di dalamnya naik kepermukaan dan menyerang kerajaan."


Berita tentang kerajaan Villian tentu menjadi perbincangan hangat, dimana kerajaan Zorgan notabenenya adalah musuh.


"Aku baru tahu jika monster dari Dungeon bisa keluar." Eri pun bertanya demikian karena selama ini, monster di dalam Dungeon tidak pernah keluar dari sarang mereka.


"Tapi memang benar adanya."


Sesampainya di guild Hunter, Kapten Drull membawa masuk Zen dan keempat anggotanya menemui resepsionis. Sedikit pembicaraan antara mereka, dimana kemudian Zen dibawa ke gudang belakang yang menjadi tempat penyimpanan barang.


"Silahkan tuan, anda bisa mengeluarkan semua hasil buruan di sini." Ucap wanita Resepsionis itu.


Zen tidak ragu-ragu, dimana ada sekitar 26 ekor dan Hiyo 16 ekor binatang iblis kategori B - A total sudah 42 ekor. Tapi itu baru separuh yang dia keluarkan dan sudah membuat mata penjaga resepsionis lupa untuk berkedip.


"Tunggu tuan, maaf ini terlalu banyak."


"Padahal masih ada sekitar dua puluh lagi." Balas Zen.


Rumit wajah wanita resepsionis itu...."Sudah cukup tuan, kami tidak yakin bisa membayar semuanya."


"Baiklah."


Tumpukan mayat binatang iblis seakan menjadi pembantaian sepihak oleh dirinya. Sedikit rasa bersalah, meski pun apa yang Zen lakukan hanya membela diri, sedangkan dia menjualnya karena tidak ingin mayat-mayat itu busuk dan mubazir.


Kapten Drul benar-benar paham kenapa penjaga resepsionis terkejut, karena dia sendiri memiliki ekspresi yang sama saat pertama kali mendengar Zen mengaku sudah membunuh semua binatang iblis itu.

__ADS_1


__ADS_2