KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Ibu kota kerajaan Zorgan


__ADS_3

Ibu kota kerajaan Zorgan....


Zen dan Eri memasuki ibu kota dan segera menuju guild kota kerajaan untuk melapor beberapa tugas yang mereka berdua selesaikan selama di perjalanan.


Tugas-tugas yang secara khusus tidak perlu memandang tempat dimana harus melakukannya, seperti permintaan dari kerajaan tentang kemunculan kawanan serigala taring pisau di dalam hutan Roris, dekat kota Zar rot.


Permintaan itu ditunjukkan kepada semua cabang guild wilayah kerajan Zorgan, karena para Hunter di kota Zar rot tidak mampu menyelesaikannya.


Namun baru saja Zen melangkahkan kaki melewati gerbang utama kota kerajaan, pemandangan di depan mata dipenuhi oleh manusia yang berlalu-lalang.


"Seperti yang di harapkan dari ibu kota, ramai, sesak dan panas... Jika ditambah macet dan banjir, itu akan benar-benar mirip dengan Jakarta." Tawa Zen kecil.


Ibu kota kerajaan memang menjadi satu tempat yang memiliki daya tarik bagi para pelancong mengadu nasib. Mereka semua datang dari seluruh penjuru kerajaan demi mencari pekerjaan atau pun memulai bisnis untuk berdagang.


Tapi Eri berbeda, dia merasa takjub, senang dan bingung, benar-benar mirip seperti orang udik kampungan yang baru pertama kali pergi ke ibu kota.


"Kenapa kau begitu bersemangat Eri."


Dilihatnya Zen dengan ekspresi kesal..."Tentu saja, Zen, ini adalah ibu kota, aku sejak kecil ingin datang kemari. Lihat di atas bukit.... Itu adalah istana kerajaan Zorgan, indah sekali, apa aku bisa melihat sang putri ?."


"Putri ?, Memang apa yang kau harapkan dari seorang putri ?." Tanya Zen bingung.


"Apa kau tidak tahu Zen. Putri kerajaan adalah sosok kecantikan yang dianggap sebagai salah satu keindahan abadi." Ungkap Eri dengan tatapan mata berbinar-binar.


"Keindahan abadi apanya... Ketika manusia beranjak tua, wajah mereka akan berubah menjadi nenek-nenek." Jawab Zen dengan senyum mengejek.


Lengkungan senyum Eri perlahan turun, dia kesal dan tidak menerima pernyataan Zen...."Ada apa dengan mu, apa salahnya jika aku mengagumi sosok putri, bukankah kisah putri dan pangeran yang saling mencintai itu terdengar romantis."


Zen tertawa setelah mendengar itu dari wanita yang lebih mirip lelaki seperti Eri...."Kau ternyata memiliki sisi kewanitaan yang lucu, aku pikir otakmu hanya tentang berpetualang dan berburu binatang saja."


"Terserah kau mau bicara apa, aku tidak peduli, sekarang aku marah denganmu." Eri membuang muka dan melangkah pergi.


Tapi cepat tangan Zen menarik Eri dalam pelukan dan dia pun terkejut ... "Apa yang kau lakukan."


Nyatanya sebuah kereta kuda yang membawa banyak barang dan bergerak cepat sehingga akan menabrak Eri.


"Hei kalau jalan lihat-lihat... dasar orang udik, ceroboh sekali."


"Dia memang wanita yang ceroboh, jadi aku minta maaf tuan." Balas Zen dengan tersenyum bodoh selagi kusir kereta kuda mencibir Eri.


Zen benar-benar paham bagaimana kehidupan orang kota yang begitu keras dan kasar, mereka lebih mementingkan soal urusan pribadi dari pada keselamatan orang lain.

__ADS_1


"Inilah yang tidak aku suka dengan ibu kota, orang-orang seperti mereka selalu bersikap sombong dan bicara seenaknya sendiri, seakan mereka tidak peduli tentang urusan orang lain." Ucap Zen mencibir.


Ternyata Eri cukup betah untuk tetap berada dalam pelukan Zen, sampai dia terkejut dan sadar bahwa suara Zen sedang memanggil namanya.


Eri melepas pelukannya, Zen sedikit khawatir karena bisa dia lihat jika kaki dan tangan Eri gemetar, perlahan Zen mengambil tangan itu.


"Hei Eri, Apa kau baik-baik saja ?."


"Ah iya, mmnn aku baik-baik saja, terimakasih." Eri menunduk malu dengan wajah melihat entah kemana.


Zen melihat aneh ke arah Eri..."Tapi kau gemetar, apa kau takut ?."


"Tidak, aku hanya terkejut saja." Eri tertawa meski pun terdengar kaku dan dipaksakan.


"Baiklah, ayo kita pergi ke kantor guild."


Bangunan yang menjadi kantor guild Hunter di ibu kota jauh lebih besar dan luas, dimana itu adalah kantor cabang utama untuk mengawasi semua guild cabang di seluruh kota wilayah kerajaan Zorgan.


Di dalamnya pula ada banyak Hunter dari bermacam tingkat lencana berdatangan untuk melihat lembar tugas dan permintaan yang ada di papan informasi.


Sebagian besar adalah lencana besi hingga perak, lima belas diantaranya memiliki lencana emas dan hanya ada satu orang dengan lencana platinum.


Bisa dikatakan luar biasa untuk kerajaan Zorgan notabenenya wilayah di ujung benua timur memiliki Hunter lencana platinum. Karena bagi hunter dengan tingkat platinum ke atas, mereka memilih pergi ke wilayah tengah demi mendapat hasil yang lebih menguntungkan.


"Terimakasih tuan Zenhan, aku akan mengambil pembayaran dari tugas serigala taring pisau di kota Zar rot."


Selagi menunggu resepsionis mengambil uang pembayaran, di sisi lain Eri melihat-lihat lembar tugas di papan informasi.


Di ibu kota kerajaan Zorgan ini memiliki lebih banyak permintaan atau tugas bagi para Hunter dari pada guild di kantor cabang kota lain. Begitu juga kesulitannya pun jauh lebih tinggi, karena berhubungan dengan bintang iblis kategori B dan A.


Kali ini Zen tidak ingin mengambil tugas apa pun, dia berniat keliling kota untuk mencari keberadaan orang tuanya disini.


Setelah wanita resepsionis itu kembali dari lantai dua, dia datang kepada Zen.


"Tuan Zenhan, aku diminta oleh guild master agar anda bertemu di kantor." Ucap wanita itu sedikit memohon.


Zen mengeluh enggan..."Kenapa harus bertemu guild master, bukankah nona bisa memberikan uangnya langsung kepadaku."


"Tapi ini adalah perintah dari guild master."


"Aku tidak ingin melakukannya." Meski begitu Zen tetap ikut ke kantor Guild master.

__ADS_1


Di dalam ruangan kantor, seorang wanita paruh baya sudah menunggu kehadiran Zen dan menyambut kehadirannya dengan senyum sopan.


"Tuan Hanzen, silakan duduk, aku Sabria guild master di kota kerajaan ini." Panggil guild master dengan nama samaran Zen.


"Jadi nyonya Sabria ada keperluan apa memintaku bertemu dengan anda ?." Tanya Zen.


"Bukan alasan khusus, aku hanya ingin berterimakasih karena sudah banyak menolong saudaraku."


"Saudara anda ?." Zen bingung karena dia tidak berasa kenal dengan saudara guild master.


"Ya itu benar, Tuan Horsen, guild master kota Ser Din adalah saudaraku." Jawabnya yang mengejutkan.


"Ah jadi begitu...."


Nyonya Sabria sudah menyediakan satu kantong berisi 300 koin emas yang dimana menjadi hadiah atas tugas pembunuhan binatang iblis serigala taring pisau.


Serigala taring pisau memang hanya binatang iblis kategori B, tapi kehadiran mereka selalu ada di dalam kelompok, sehingga kesulitannya menyamai misi tingkat A.


"Ya.... Semuanya sesuai."


"Itu bagus, jika anda memerlukan sesuatu atau meminta informasi tuan Zenhan bisa datang dan bertemu denganku." Ucap Guild master sopan.


"Kalau begitu ada satu hal yang ingin aku tanyakan."


"Apa itu ?." Guild master penasaran.


"Apa nyonya Sabria pernah mendengar kabar tentang Dokter bernama Remus dan istrinya Tifa." Tanya Zen tentang dua orang tuanya.


"Sekitar 8 hari lalu, ada seorang dokter dan satu wanita, tiba-tiba saja muncul dan memberi perawatan kepada Hunter kami karena terluka oleh racun Giant red Scorpion, aku tidak bertanya namanya, mungkin mereka adalah orang yang anda cari." Ungkap guild master mengingat kejadian yang lalu.


Mata Zen terbuka lebar, dia sangat paham atas sifat dari Remus, ayahnya itu akan selalu memberi pertolongan kepada siapa pun yang membutuhkan.


Sehingga bisa Zen pastikan bahwa mereka berdua adalah ayah dan ibunya.


"Apa itu artinya mereka ada di kota ini."


"Tidak, kehadiran tuan dokter itu di guild ini adalah untuk membuat permintaan." Jawab Sabrina dari apa yang dia tahu.


"Permintaan seperti apa ?."


"Tugas pengawalan menuju perbatas wilayah tengah."

__ADS_1


Di wilayah tengah benua terbagi menjadi lima wilayah kekuasaan, diantaranya adalah Teokrasi Ziberus, kekaisaran Dordmon, Republik Salvinza, perserikatan Lomania dan kerajaan Yomna.


Ini menjadi satu petunjuk kemana Zen harus pergi, diantara kelima wilayah itu pastinya Remus dan Tifa menetap di sana.


__ADS_2