KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
masih per*awan


__ADS_3

Setelah semua yang terjadi di dalam mimpi tentang masa lalunya, kini mata Zen perlahan terbuka. Dia bisa melihat langit-langit goa gelap dan tetes air jatuh di sebelah kepala.


Perasaan pusing dan lemas tentu dirasakan oleh tubuh Zen sekarang, karena bagaimanapun juga zona di dalam dunia ilusi yang sudah mereka lewati hampir satu bulan. Kemungkinan besar itu sama artinya tujuh hari di dunia nyata.


Ini mengakibatkan tubuh Zen tidak menerima konsumsi makanan sebagai energi, meski tubuh pahlawan memiliki ketahanan fisik di atas normal. Tapi tetap saja tidak makan selama satu Minggu itu memberi rasa lemas bagi mereka.


Ketika Zen menyetabilkan kondisi energi dalam tubuhnya, suara langkah kaki datang, di dapati oleh Zen sesosok wanita berwajah cantik kini sedang menatapnya penuh rumit.


Sena berlari kecil dan segera menjatuhkan diri dalam pelukan Zen dengan wajah penuh haru.


"Syukurlah kau sudah sadar Zen...." Ucap Sean lirih dan mata berkaca-kaca.


Zen sedikit heran karena sikap Sena terlalu berlebihan..."Hei apa yang terjadi denganmu Sena ?, kenapa kau menangis ?."


"Aku takut kau tidak kembali." Jawab Sena yang tidak mau melepas pelukannya.


"Berapa lama aku tidak sadarkan diri." Tanya Zen.


"Aku tidak tahu, tapi aku rasa itu hampir satu hari penuh."


"Maaf jika membuatmu khawatir." Zen membelai rambut Sena.


Kemungkinan ketidaksadaran Zen adalah karena mimpi masa lalu yang dia alami. Dari kejadian itu membuat Zen terkurung cukup lama untuk melihat kembali penyesalannya.


"Baiklah, sekarang aku sudah sadar, kau bisa melepas pelukanmu dan biarkan aku menyetabilkan kondisi energi ku." Ucap Zen sedikit meminta.


"Hmmm." Sena menurut.


Mereka telah berhasil menghancurkan rangkaian dimensi ilusi yang sudah mengurung mereka selama hampir satu bulan.


Cukup di sayangkan karena apa yang mereka berdua lakukan selama di dunia ilusi tidak pernah terjadi di dunia nyata. Namun semua masih tergambar jelas dalam ingatan. Tentang kisah perjalanan di padang pasir tanpa ujung, pernyataan cinta antara keduanya, serta setiap kegiatan yang mereka nikmati sampai lupa makan dan tidur.


Sena atau pun Zen menolak lupa dan menganggap semua itu berakhir begitu saja, sedangkan perasaan yang sudah mereka alami adalah nyata.


Setelah Zen merasa lega karena energi dalam tubuh mulai mengalir dengan lancar. Kini Sena sedang menatapnya serius.


"Apa kau masih mencintaiku Zen." Ucapnya meminta jawaban pasti.

__ADS_1


"Kenapa kau bertanya sesuatu yang aneh." Balas Zen tersenyum sendiri.


"Ini tidak aneh, aku ingin tahu kau masih mencintaiku atau tidak." Sena memaksa.


"Memang apa yang terjadi diantara kita ?." Tanya Zen sedikit menggoda Sena.


Lemas ekspresi di wajah Sena bercampur sedih, tentu dia tidak berharap jika Zen melupakan semua yang terjadi.


"Bagaimana mungkin kau tidak ingat." Sena seperti ingin menangis.


"Tunggu, jangan menangis, jika kau mengatakan apa yang terjadi mungkin aku bisa mengingatnya." Zen merasa bersalah.


Tapi bukan ucapan yang Sena beri, melainkan ciuman langsung kepada Zen hingga beberapa menit agar dia bisa mengingat kembali tentang cintanya.


"Apa itu cukup Zen ?." Sena berharap.


Zen menyerah untuk menggoda Sena, dia tidak bisa melihat kekasihnya semakin sedih.... "Maaf Sena. Sebenarnya aku tidak lupa tentang semua yang kita lakukan di dunia ilusi."


Mendengar hal itu, satu tamparan keras melayang di pipi Zen. Sena marah, dia tidak percaya kalau ketakutannya akan kehilangan sosok Zen, hanya menjadi suatu lelucon yang tidak lucu sama sekali.


"Ayolah Sena, jangan marah, aku hanya bercanda." Zen coba merayu.


"Aku mengerti, jadi maafkan aku."


Sena dengan mata yang berkaca-kaca dan hampir menangis kembali datang dalam pelukan Zen.


"Aku tidak ingin semua yang kita lakukan di sana hanya menjadi ilusi saja, bahkan perasaan mu, apa itu akan berubah dan menganggapnya tidak pernah terjadi." Ucap Sena.


Tapi Zen tersenyum sendiri..."Kau bodoh, Aku lelaki, lelaki sehat yang menyukai seorang wanita cantik, seksi dan nakal seperti mu, akan sangat di sayangkan jika aku melupakan semuanya."


"Jangan mengatakan sesuatu yang memalukan."


"Kenapa kau malu sekarang ?, Sedangkan kita sudah melakukan banyak hal bersama. Bahkan kau selalu menggodaku dengan ekspresi seperti orang yang kelaparan."


"Tapi apa kau tahu, di dunia nyata ini.... 'Aku masih per*awan'." Bisik Sean di akhir kalimat.


Memang benar, meski di dalam dimensi mereka sudah melakukan banyak hal, tapi secara nyata, itu tidak pernah terjadi.

__ADS_1


"Aku merasa tertarik untuk memastikannya." Ucap Zen melirik ke arah Sena dengan senyum aneh.


"Kalau begitu....". Entah kenapa Sean seperti sudah siap melepas pakaiannya.


Tapi cepat Zen menutup kembali kancing baju yang sudah dia lepaskan...."Tidak jangan sekarang, Sean, aku ingin menyelesaikan Dungeon ini terlebih dahulu, aku yakin jika diluar sana orang tuaku sedang khawatir."


Sedikit ekspresi kecewa di tunjukan oleh Sean, tapi dia pun harus mengerti bahwa masalah mereka belum selesai.


"Baiklah ... Tapi kau harus berjanji, setelah semua ini selesai, kau tidak akan pergi meninggalkan ku." Sena masih ragu dan meminta konfirmasi sekali lagi .


"Ya aku berjanji." Jawab Zen tegas.


Setelah mengistirahatkan tubuh dan menikmati makanan yang di buat untuk pergi menuju lantai 50 agar bisa keluar dari Dungeon.


Mereka tidak bisa bertarung setengah-setengah karena bisa dipastikan, musuh yang akan dihadapi jauh lebih kuat dari setiap penguasa lantai lain.


Kini apa yang Zen dan Sena lihat setelah menyusuri lorong goa adalah sebuah pintu besi besar.


"Jadi ini pintu masuk lantai 50." Ucap Zen.


Lantai terakhir dalam Dungeon, ketika dia bisa menghancurkan inti jiwa Dungeon maka semua selesai. Secara otomatis mereka berdua pun akan di kirim keluar menuju permukaan.


"Apa kau siap Sena ?."


"Aku selalu siap." Jawab Sena penuh percaya diri.


Zen dan Sena membuka pintu perhatian mereka tertuju kepada satu titik cahaya merah yang menyala terang di atas altar. Itu adalah inti jiwa, namun semua tidaklah mudah.


Dimana di lantai 50 juga adalah lantai penguasa, tentu ada satu makhluk yang menjaganya, tapi tidak terlihat di mana pun. Mereka berjalan masuk, mengeluarkan senjata di tangan masing-masing dan waspada melihat sekitar.


"Selamat datang, dua jiwa pahlawan utusan Dewa, sungguh luar biasa kita bisa saling bertemu."


Zen merasa aneh ..."Aku tidak tahu jika sebuah batu bisa memberi sambutan hangat."


Benar saja, tidak lama setelah keduanya masuk, guncangan keras terjadi, satu tangan besar jatuh dari atas langit, segera melompat dan menghindar.


Tampak dua bola mata menyala menatap mereka seperti menjadikan keduanya sebagai target serangan.

__ADS_1


Ukurannya tidak main-main, dan juga membuat Zen ingat, tentang alasan kenapa mereka berdua jatuh ke dasar Dungeon dimana sebuah tangan menghancurkan tanah zona aman. Itu adalah mahluk ini.


__ADS_2