
Satu kali pertemuan antara cakar merah dari perwujudan transformasi roh naga Ramzel dengan pedang dewa dari skill sembilan senjata Sena saling melepas kekuatan luar biasa.
Benturan energi itu menghasilkan gelombang ledakan yang meluluh lantakkan bagian lantai arena menjadi kepingan-kepingan kecil hingga terbang ke udara.
Tidak berhenti sampai di situ, getaran hebat mampu di rasakan oleh para murid yang baru saja keluar meninggalkan arena latihan. Salah satu dari mereka adalah Neiya.
Dimana dia tahu bahwa lokasi gelombang energi itu berasal dari tempat arena latihan dan di sana pula masih ada Sena, tentu rasa penasaran datang karena dia pun tahu seberapa kuat dan berbahaya energi yang muncul.
Tanpa perlu berpikir tentang hal lain, Neiya memutuskan untuk pergi dan melihat langsung ke tempat arena latihan.
Benar saja, ketika Neiya datang, sudah banyak murid-murid serta para master melihat dari kejauhan, entah ekspresi mereka sekedar takjub atau pun sebuah rasa kedengkian.
Tapi Neiya seakan paham isi kepala para murid itu, kehadiran pahlawan di akademi Zezzanaza tentu membuat mereka kesal, dimana masing-masing orang berusaha keras dalam berlatih dan belajar untuk mencapai titik tertinggi kekuatan sihir.
Sedangkan para pahlawan mendapat berkah istimewa dari Dewa, tidak perlu berlatih atau merepotkan diri belajar dari seorang master, pada pahlawan akan tumbuh menjadi sosok luar biasa di masa depan.
Neiya melihat dari luar arena, dimana saat ini posisi Sena tidaklah beruntung, kekuatan, kecepatan dan gerakan dari wujud transformasi roh naga milik Ramzel terlalu mendominasi.
Sena berusaha mengimbangi, membalas dan menangkis, tapi semua itu percuma, karena kemampuan Ramzel bukan sekedar kesombongan semata tanpa bukti.
Bagi Ramzel menghadapi musuh yang kuat adalah suatu rasa puas karena selama dia hidup di akademi, tidak satu pun dari para murid senior tingkat atas bisa bertahan setelah Ramzel menjadi serius.
Hingga kini hanya para high master dan grandmaster saja yang mampu mengalahkan Ramzel, itu pun tidak dengan wujud transformasi roh naga. Tapi kali ini kepuasan terlihat jelas di wajahnya.
Sena tidak hanya bertahan, dia masih memiliki kesempatan menyerang, meski begitu untuk memberi serangan telak ke tubuh Ramzel adalah hal yang sulit.
Pedang emas di tangan menerobos masuk ke wilayah pertahanan Ramzel, Sena bergerak maju dengan cepat dan berputar, satu goresan di kulit bersisik itu, berhasil memberi luka walau pun bukan sesuatu yang serius.
"Memang tidak bisa aku pungkiri, bertarung melawan sosok kuat memberi kepuasan, dari sekian banyak murid yang pernah melawanku, hanya kau saja mampu memberikan luka, aku kagum." Ramzel tidak berbohong untuk pujiannya kepada Sena.
__ADS_1
"Aku pun tidak ingin di remehkan oleh anda Senior, setidaknya aku sudah berusaha keras." Balas Sena.
"Lalu bagaimana menurut mu, apa orang bernama Zenhan itu lebih kuat dariku ?." Tanya Ramzel .
"Tidak, aku pikir Zenhan jauh lebih baik." Itu yang Sena bisa pastikan sendiri.
Senyum di wajah Ramzel seketika menjadi datar..."Hmmm aku tidak menyukai pernyataan mu, tapi apa boleh buat, aku tidak bisa menolak pendapat, mungkin nanti di masa depan aku ingin bertarung melawannya secara langsung."
"Kalau begitu, senior harus bisa mengalahkan ku." Sena seperti memprovokasi Ramzel dengan senyuman.
"Itu cukup mudah." Anggapan Ramzel.
Ramzel tertawa senang, aura naga mulai membumbung tinggi ke atas langit dan memunculkan sosok bayangan naga merah yang meraung keras.
Tekanan mental di terima oleh Sena, hanya saja itu belum cukup, Sena tidak ragu lagi dalam pertarungan ini, dia mengeluarkan kesembilan senjata yang kini berputar di sekitar.
Jika sebelumnya dia hanya bisa menggunakan satu senjata secara bergantian. Tapi setelah berhasil menaklukkan Dungeon, skill sembilan senjata pun naik ke tingkat yang lebih tinggi.
Di saat keduanya akan melepaskan pertukaran serangan yang serius, sebuah dinding api muncul membelah arena pertarungan Sena dan Ramzel agar terpisah.
"Sudah cukup." Ucap seseorang yang berjalan mendekat dengan satu tongkat mengetuk lantai.
Mereka menoleh ke arah orang itu, dan Sena segera membungkuk hormat atas kehadirannya.
"Grandmaster." Sena terkejut.
"Guru Ernad." Begitu juga dengan Ramzel.
"Apa kalian berdua sadar dengan pertarungan ini, kalian bisa saja merusak fasilitas latihan." Ucap grandmaster dengan tegas.
__ADS_1
Mereka barulah sadar,.jika seluruh arena kini sudah hancur lebur menjadi kepingan batu dan berserakan seperti sampah.
"Meski pun kalian berdua adalah pahlawan dan memiliki status khusus di akademi Zezzanaza, aku tetap bertanggung jawab sebagai pengawas. Jadi aku berhak meminta kalian untuk patuh dalam peraturan."
Terlihat bagaimana raut wajah Ramzel tidak senang, walau sejak awal dia seperti seorang pembangkang dan sombong, nyatanya lelaki itu tetap patuh ketika Ernad bicara.
Sosok grandmaster Ernad memang tidak memiliki status pahlawan, dia adalah manusia biasa dan lahir di dunia Dios, tapi sepak terjangnya begitu luar biasa, bahkan mendapat anugrah berkah kecil dari Dewa.
Saat ini grandmaster Ernad sudah menginjak usia 400 tahun dan mungkin setara dengan Hunter lencana kerajaan. Hanya untuk statusnya saja, itu cukup membuat sebuah negara gemetar ketakutan.
Dan kini, beliau datang karena merasakan energi tingkat tinggi yang di keluarkan oleh Sena dan juga Ramzel. Sebuah peringatan keras dimana pertarungan antara mereka berdua bisa membahayakan seluruh akademi Zezzanaza.
Wujud Ramzel pun kembali setelah melepas teknik transformasi dengan roh naga, dia begitu patuh kepada sosok grandmaster, bagaimana pun sosok yang kuat selalu mendapat pengakuan olehnya.
"Maaf atas ketidaksopanan ku Adik Sena."
"Ini bukan masalah, aku pun sama-sama terlalu serius dalam pertarungan."
Grandmaster Ernad mengangguk setuju ketika Sena dan Ramzel sudah mengakui kesalahan mereka. Meski begitu, kekacauan yang terjadi di arena latihan memang tidak sederhana, seluruh lantai hancur dan tiang-tiang di sekitar pun runtuh.
Ini jelas akan memakan waktu dan biaya selama perbaikan, sehingga keduanya pun mendapat hukuman untuk memperbaiki kekacauan akibat kesalahan mereka.
Grandmaster Ernad pergi, dia berjalan kembali ke istana utama, dimana itu menjadi tempat bagi para master.
Tapi setelah grandmaster Ernad membuka pintu, beberapa sosok guru datang dengan wajah bertanya-tanya.
"Tuan Ernad, apa masalah Ramzel dan Sena sudah selesai." Ucap salah satu master di sana.
"Ya kurang lebih begitu." Grandmaster pun menganggukkan kepala.
__ADS_1
Sekilas ekspresi wajah dari para master berubah lega, ya mereka khawatir jika pertarungan dua pahlawan itu akan menjadi kerusakan di akademi.
Meski begitu, grandmaster Ernad pun sama khawatirnya dengan mereka, dia tahu seberapa mengerikan sosok Ramzel, dimana dua roh kontrak jenis naga mampu menghancurkan sebuah negara dengan mudah.