
Sudah lima hari Zen dan Eri melakukan perjalanan dari kota Ser Din menuju ibu kota kerajaan. Tapi sebelum sampai disana, keduanya harus melewati kota-kota lain yang masih dalam wilayah kerajaan Zorgan.
Semua cukup lancar, tidak ada kendala yang menghambat perjalanan mereka, sekali pun harus menghadapi binatang iblis di sekitar hutan, itu tidak menjadi masalah besar untuk Eri singkirkan sebagai bentuk latihan.
Sejak awal Eri bukan Hunter yang pandai dalam menggunakan sihir, dia hanya memiliki atribut elemen api tingkat dasar dan hampir tidak pernah digunakan.
Mengandalkan busur panah platinum yang Zen berikan kepadanya, itu sudah cukup mengalahkan Binatang iblis kategori B seorang diri.
Dan saat ini, seekor binatang iblis kategori A yaitu kadal besi muncul di hadapan mereka.
"Harusnya panah platinum cukup untuk menembus kulit besi dari kadal itu, tapi sekarang aku ingin kau membunuhnya hanya dengan satu serangan saja." Ucap Zen sebagai sarana latihan bagi Eri.
Namun Eri terkejut...."Ehh, itu mustahil."
"Jika kau hanya menyerang secara asal, tentu saja mustahil, kau harus coba menggabungkan panahmu dengan sihir api, dan mencari titik vitalnya, tentu itu mudah." Balas Zen.
"Baiklah."
"Jangan mengeluh, kau sendiri yang meminta ku untuk mengajarimu menjadi lebih kuat." Zen tidak ingin membuat Eri manja.
Eri tidak bisa menolak perintah Zen, dia pun segera melompat dan naik ke atas pohon, mencari posisi yang tepat untuk melepas satu anak panahnya.
Dalam lima hari terakhir, Zen sudah mengajarkan kepada Eri tenang pengendalian energi sihir ke tingkat lebih tinggi.
Berada di dahan pohon yang tertuju langsung kepada Kadal besi, Eri mulai menarik tali busur, rapalan mantra membentuk rangkaian sihir ganda merah di ujung anak panah.
Itu seperti yang Zen ajarkan, dimana tidak ada satu orang pun menyadari bahwa mereka bisa menggunakan sihir ganda agar membuat serangan dua kali lebih kuat.
Ketika mata Eri tertuju di bagian tengah punggung kadal besi, dia pun melepas pegangan, melesat anak panah menembus dua lapis rangkaian sihir yang menghasilkan kobaran api besar.
Tepat ketika anak panah itu menyentuh kulit milik kadal, ledakan kuat menghancurkan lapisan besi hingga tubuh kadal terbelah dua dan terlempar jauh.
Eri seakan tidak percaya, jika anak panah dari platinum dan berlapis sihir yang dia gunakan sangatlah kuat. Bahkan jika itu binatang iblis kategori S sekali pun akan mendapat luka.
__ADS_1
"Lihat Zen, aku bisa melakukannya. Apakah mungkin aku ini sebenarnya memang jenius." Ucap Eri membanggakan diri sendiri.
"Kenapa kau merasa sombong sekarang, bukankah tadi kau bilang itu mustahil."
Eri hanya tertawa dengan wajah malu ketika Zen menyindirnya.
"Baiklah, sekarang kau ambil daging kadal." Perintah Zen.
"Itu menjijikkan." Eri mengeluh kembali.
Jika mereka lihat memang tubuh kadal itu terpotong dua, begitu juga dengan semua organ dalamnya pecah dan tersebar ke segala arah. Tentu Eri merasa enggan ketika harus mengambil potongan daging yang sudah tidak berbentuk.
"Kalau kau tidak mau, aku tidak akan membuat jatah makanan untukmu."
"Tunggu, akan aku lakukan." Bergegas Eri mengambil potongan tubuh kadal.
Kadal besi memiliki daging yang lumayan enak meskipun sedikit amis, tapi dengan merebusnya dengan bumbu seperti jahe, lengkuas dan sereh, rasa amis daging kadal akan hilang.
Eri mulai menguliti dan memotong daging menjadi potongan kecil.
Menunggu sejenak hingga semua air dalam daging tiris, Zen menggunakan kuali, minyak, merica, garam, dan gula. Setelah minyak panas, Zen memasukan potongan bawang dan mulai menumis sampai harum, barulah daging dimasukkan.
Sedikit air kaldu dia tuang beserta bumbu penyedap lain, memasak semua dalam satu kuali dan menunggu hingga air kaldu surut. Tambahkan kembali minyak zaitun, kecap manis.
Setelah beberapa waktu yang membuat kecap meresap, barulah dia menyajikan makanan itu di atas piring.
Eri sudah meneteskan air liur ketika mencium aroma manis dan asin dari masakan daging kadal berwarna kecoklatan.
Satu gigitan membuat Eri tersenyum bahagia, ekspresi wajah itu sudah menunjukan seberapa luar biasanya masakan Zen.
"Kau benar-benar pandai soal memasak. Semua yang aku makan sangat enak." Puji Eri seakan bersyukur sudah mengikuti Zen pergi.
"Kau itu wanita, harusnya kau juga bisa memasak."
__ADS_1
"Jangan berharap terlalu banyak." Jawab Eri tanpa merasa malu atas perkataan Zen.
Zen cukup senang dengan adanya Eri di sini, karena dia memiliki seseorang untuk menemani perjalanan dan itu juga membuat Zen tidak merasa kesepian.
"Aku merasa jika ikut berpetualang denganmu menjadi pilihan yang tepat." Ucapnya tersenyum cerah.
"Tetap saja kau harus ingat, tujuanmu di sini adalah berlatih, bukan sekedar berpiknik."
"Aku tahu, aku tahu." Santai saja Eri menjawab dan dia tidak berhenti mengunyah daging di dalam mulutnya.
Pada kenyataannya, Eri adalah sosok wanita tomboi yang cantik, hanya saja dia tidak pandai merawat diri, rambut merah tampak kusut, kulit tangannya kasar dan ada banyak luka di sekujur tubuh.
Zen paham, bahwa itu semua menjadi bukti tentang perjuangan keras dalam hidupnya, hingga tidak ada satu kesempatan bagi Eri untuk mempercantik diri.
"Kalau kau sedikit berusaha merawat dirimu sendiri, para lelaki pasti sadar jika kau sebenarnya cantik."
Tiba-tiba saja Eri tersedak, selama dia hidup, tidak ada satu orang pun memberi pujian tentang penampilannya, tentu mendengar perkataan Zen, itu membuat Eri terkejut
Ragu-ragu Eri untuk bicara, tapi dia tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.
"Apa benar aku cantik ?, padahal jika dibandingkan dengan Hiyo, aku tidak memiliki tubuh seindah dia."
"Aku tidak tahu tentang pendapat orang lain, tapi aku bukan orang yang menilai kecantikan wanita hanya dari satu sisi... Semua wanita memiliki kecantikan mereka masing-masing, termasuk juga untuk mu." Balas Zen seperti apa adanya.
"Tolong jangan buat aku salah paham, aku merasa bersalah dengan Hiyo." Ucap Eri tidak nyaman.
"Kenapa kau berpikir seperti itu ?, Apa hubungannya dengan Hiyo ?."
"Tidak lupakan saja."
Eri sedikit menundukkan kepala, dia tidak ingin Zen melihat wajahnya yang sedang malu.
Lima hari mereka bepergian bersama, tentu Eri menyadari alasan kenapa Hiyo merasa nyaman kepada Zen. Bagi mereka berdua, Zen adalah sosok yang tampan, kuat, dewasa, baik, adil, tegas, cerdas dan juga pintar memasak.
__ADS_1
Terlebih lagi, ketika mereka berada di penginapan, meski dikatakan untuk berhemat dan memesan satu kamar saja. Zen memberikan ranjang itu kepada Eri, sedangkan dirinya tidur di lantai dengan sesuatu alas yang dia ciptakan sendiri.
Sungguh sempurna untuk dikatakan sebagai lelaki idaman bagi para wanita.