
Alam bergejolak, langit cerah kini berganti gelap dengan warna merah padam, setiap binatang iblis yang hidup di dalam hutan pun bisa merasakan tekanan energi kuat hingga semua makhluk menjadi gelisah.
Edurali V Doomzar sadar jika perbuatannya melukai wanita itu memicu kekuatan luar biasa dari satu sosok bernama Zenhan, Ras iblis kaum Ra'e kini menghadirkan aura membunuh yang kuat.
"Sebagai sesama ras iblis kau menaruh perasaan terhadap manusia, itu adalah penghinaan bagi dewa yang kita sembah." Ujar Edurali V Doomzar tersenyum mengejek.
"Apa yang kau tahu tentang ku, kau salah jika menganggap aku peduli soal urusan para dewa, aku hanya hidup seperti keinginanku sendiri. Tapi kau sudah melakukan kesalahan karena mengusik kehidupan ku." Balas Zen yang amarahnya sudah di ujung tenggorokan.
Zen menarik sebilah pedang keemasan di tangan, itu adalah salinan dari pedang dewa Excalixer. Tanpa perlu bicara lebih banyak, satu ayunan pedang yang di selimuti energi sihir dia lepaskan, sayatan energi merobek tanah melaju lurus ke depan.
Edurali segera membentuk sihir sebagai perisai pertahanan di depan tubuh, hingga membuat dua kekuatan itu saling beradu dan memberi efek ledakan besar.
Tubuh Edurali terbang jatuh dan jatuh menghantam tanah, dia menerima luka sayatan yang membuat tangannya tidak bisa bergerak. Namun itu belumlah cukup, efek regenerasi mulai memperbaiki kerusakan otot akibat serangan Zen.
Meski begitu, kesombongan Edurali berubah menjadi rumit...."Sial... Kekuatannya di luar dugaan ku."
Energi yang Zen keluarkan jauh lebih besar dari milik Edurali. Hingga sedikit demi sedikit retakan terbentuk di lapisan luar perisai, semakin melebar dan ledakan menghancurkannya menjadi kepingan cahaya.
Edurali sadar, dia kini akan menghadapi satu sosok yang tidak biasa....
"Sepertinya aku membangunkan sesuatu yang berbahaya..." Dia pun mengakuinya.
Dan saat ini perbedaan antara dirinya dan Zen terlampau jauh, dimana satu kali lagi serangan pedang Excalixer menebas udara, sayatan energi melesat lurus ke arah Edurali.
Merasakan gelombang serangan Zen terlalu kuat, pada akhirnya Edurali pun memutuskan untuk menghindar dari sayatan energi yang baru saja datang.
Meski begitu gerak tubuh Edurali terlambat, sosok Zen sudah bergerak maju, hingga tepat saling berhadapan, tebasan langsung di bagian tubuhnya memberi luka besar.
Tubuh penguasa iblis yang dilapisi sisik keras menyamai logam Adamantium, berhasil Zen robek, tentu Edurali tidak mau mengambil resiko. Dia masih sempat melompat jauh demi menjaga jarak di tempat aman.
"Ini buruk, pedang yang dia gunakan bukan sembarangan..." Edurali tidak mungkin melawan Zen untuk sekarang.
Ketika Edurali bersiap pergi menggunakan portal teleportasi, sosok Zen kembali muncul di sampingnya. Sekali lagi ayunan pedang Excalixer datang dan kali ini dia tidak memiliki kesempatan membuat perisai atau pun menghindar.
"Sial...." Teriak Edurali tidak percaya.
__ADS_1
Darah hitam mengalir keluar dari satu tangan yang terputus, jerit kesakitan meraung keras, Edurali menutupi luka akibat potongan pedang itu.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah..." Ucap Zen yang menodongkan pedang di depan wajah Edurali.
"Hanya karena seorang manusia kau melawan utusan Dewa iblis seperti ku. Kau mengkhianati ras iblis." Tegasnya tanpa tahu apa pun.
Erat genggaman pedang Excalixer penuh emosi ...."Sejak awal, ras iblis lah yang sudah mengkhianati kaum Ra'e, jadi tidak ada salahnya memberi pelajaran untukmu."
"Kau akan menyesal." Edurali siap melawan kembali.
"Jangan bicara seperti kau bisa menang." Tapi Zen tidak memberi kesempatan Edurali pergi.
Tangan Edurali yang sudah terpotong kini tumbuh kembali, dan membuat ledakan langsung di depan Zen. Debu pun menghalangi pandangan mata Zen, itu memberi kesempatan Edurali agar bisa melompat mundur untuk menjaga jarak aman.
Hingga ketika jarak antara Zen dan Edurali cukup jauh, sosok iblis itu mulai memusatkan energi sihir dengan konsentrasi tingkat tinggi di depan dada.
Kilatan cahaya ungu gelap membentuk bola energi di belakang rangkaian sihir berlapis.
Zen tahu jika tujuan Edurali adalah melepas serangan energi dan memberi peningkatan dengan lapisan rangkaian sihir.
Setelah Zen bersiap, Edurali melepas serangan sihir secara langsung, kekuatan energi itu sendiri sudah menyamai tingkat sihir dari seorang Saint. Zen menangkisnya, melempar ke atas langit dan meledak.
Langit seperti terbelah kemudian terbakar dalam balutan warna merah dan ungu. Namun perhatian Zen beralih dari Edurali, dimana saat dia melihat kembali, sosok iblis itu sudah lenyap dari tempatnya.
Ternyata semua itu hanya rencana Edurali, serangan tersebut sebagai bentuk pengalihan Zen agar dia bisa menggunakan sihir teleportasi.
Tidak mungkin Zen mengejar, karena Edurali menggunakan portal teleportasi, sehingga kali ini dia pasrah saja melepaskan iblis itu pergi.
Zen melupakan tentang Edurali V Doomzar, di masa depan nanti, ketika dia bertemu kembali, kemarahannya ini akan di bayar lunas.
Beralih ke tempat Eri yang sekarang hanya berbaring lemas dengan luka besar di sekujur tubuhnya, Zen merasa bingung karena dia tidak tahu harus berbuat apa.
Eri bukan pahlawan yang memiliki kekuatan regenerasi, sehingga luka akibat serangan Edurali sangatlah fatal dan mengancam nyawa.
"Kalau saja, ada Hiyo di sini, dia bisa menggunakan element cahaya penyembuhan." Gumam Zen hanya bisa diam di tempat.
__ADS_1
'Itu pun akan mustahil master, kemampuan penyembuhan tidak memberi keajaiban dengan organ tubuh yang hancur.'
"Lalu apa yang harus aku lakukan, memang kau memiliki cara untuk menyelamatkannya." Keras suara Zen marah.
'Tuan, satu-satunya cara untuk menyelamatkan Eri adalah memberikan esensi energi iblis.' ucap jiwa Dungeon memberi satu-satunya pilihan.
Zen memikirkannya....'Bukankah itu akan mengubahnya menjadi iblis.'
'Hanya dengan mengubah genetik gadis itu menjadi iblis, akan memberi kemampuan regenerasi dan menyelamatkan hidupnya.'
Itu memang benar jika Eri menerima esensi energi iblis milik Zen, itu akan memberi kemampuan untuknya melakukan Regenerasi luka.
'Anda tidak memiliki pilihan lain Master, jika terlambat maka gadis ini akan mati.'
Tatapan mata kosong Eri semakin pudar, nafas yang perlahan naik dan turun kini menjadi lemah, tidak ada senyum, suara cerita dan wajah penuh semangat lagi.
Zen tidak bisa berpikir terlalu lama, satu-satunya pilihan yang ada adalah memberi esensi energi iblis.
Tanpa perlu keraguan, Zen segera menyayat urat nadinya dan menumpahkan darah hitam yang keluar ke tubuh Eri.
Jiwa Dungeon mengambil alih, dia menciptakan rangkaian sihir dan menyelimuti Eri dengan aura gelap pekat ke dalam kubah.
Seluruh darah milik Zen sedikit demi sedikit mengubah struktur genetik manusia milik Eri menjadi sosok iblis dari kaum Ra'e.
Zen harap-harap cemas, dia tidak ingin Eri mati, dia bertanggung jawab menjaganya dan melakukan segala cara agar membawa hidupnya kembali.
"Kau harus hidup...." untuk pertama kalinya Zen memohon dalam doanya.
Lubang besar di dada Eri itu mulai tertutup rapat.
Tidak berselang lama, tatapan mata Eri berkedip, nafas yang sudah lenyap kini ditariknya panjang, hingga sosok gadis muda itu kembali bangkit dengan wajah rumit penuh ketakutan.
"Zen... Zen... Aku..." Eri yang mengingat kejadian sebelum dia hilang kesadaran.
"Tidak apa-apa, aku ada di sini untukmu Eri." Zen bisa bernafas lega karena Eri telah mendapat kesempatan hidup yang kedua.
__ADS_1
Meski begitu, takdirnya sekarang telah berubah, dia bukan lagi seorang manusia, melainkan iblis dari kaum Ra'e seperti Zen.