
Di tempat lain....
Kini Zen dan kelompok Hunter Orsinan baru saja kembali dari pekerjaan mereka untuk berburu katak emas di rawa hutan besar Orindo.
Di wajah mereka begitu jelas lengkungan senyum yang dipenuhi rasa senang dan kenyang, karena hasil buruan hari ini sangat banyak bahkan bisa mereka makan.
Ada lebih dari 25 katak emas yang tentu sudah terbayang berapa besar pundi-pundi uang koin emas akan mereka dapatkan.
"Aku tidak percaya, untuk pertama kali dalam hidup, aku bisa bertarung dan mengalahkan katak emas besar...." Kapten Drull merasa bangga.
"Itu benar, tubuh katak emas besar benar-benar keras, jika bukan karena busur panah yang kau berikan Zen, aku tidak akan mampu menggoresnya." Eri memberi pujian langsung.
"Semua senjata ini terlalu luar biasa, ketajamannya sama seperti pedang platinum... Tidak, bahkan mungkin setara pedang Mytril." Senko terkagum-kagum.
Zen merasa senang karena semua orang di kelompok Hunter Orsinan menjadi lebih baik dengan sedikit bantuan darinya.
"Hanya itu yang bisa aku berikan, jadi anggaplah sebagai hadiah sebelum aku pergi nanti." Balas Zen tersenyum.
Senko pun tahu perihal permintaan dari kapten Drull kepada Zen...."Jadi bagaimana denganmu Hiyo, apa kau sudah memutuskan untuk ikut ?."
"Ya..." Balas Hiyo sedikit murung.
Tidak hanya Hiyo, tapi semua orang. Setiap anggota kelompok Hunter Orsinan tentu akan merasa kehilangan sosok yang sudah dianggap sebagai adik kecil bagi mereka.
"Aku benar-benar akan merindukan mu Hiyo." Ucap Senko dengan tawa yang terpaksa.
"Jangan bicara seakan-akan kita akan berpisah selamanya, anggaplah saat ini Hiyo akan pergi untuk berlatih, sehingga nanti di kembali, dia bisa menjadi Hunter yang lebih hebat lagi." Jawab Kapten Drull seperti biasa dengan penuh wibawa.
"Itu benar, bagaimana pun juga, kita adalah keluarga, jadi kita harus saling mendukung." Senyum Eland yang terpaksa.
Pada kenyataannya, diantara semua orang kapten Drull yang sangat kehilangan Hiyo, bagaimana pun sejak kedua orang tua Hiyo tewas, dia adalah sosok pengganti mereka.
Sehingga hubungan antara Hiyo dan Drull sudah seperti ayah dan anak.
Semua orang berjalan pergi, hingga dibelakang Drul menunggu Zen untuk berjalan bersama. Raut wajah lelaki paruh baya yang sudah termakan usia itu terlihat sendu.
"Tuan Zenhan, Hiyo sudah aku anggap sebagai anakku sendiri, dia telah banyak melalui penderitaan setelah kehilangan kedua orang tuanya... Jadi aku mohon, tolong jaga dia." Ungkap Kapten Drull seperti yang Zen pahami.
Tanpa perlu ragu, Zen bisa menjawab...."Tentu saja paman Drul, aku akan berusaha melindungi Hiyo."
"Aku tidak tahu harus membalas dengan cara apa, tapi untuk sekarang, aku hanya bisa berterimakasih kepadamu."
__ADS_1
Sekembalinya semua orang kedalam kota Ser Din dan menuju guild Hunter, mereka melihat sebuah kereta kuda mewah dengan lambang khusus terparkir di halaman depan.
"Kenapa kereta kuda dari Teokrasi Ziberus ada di sini." Pertanyaan itu sama seperti dalam pikiran semua orang.
"Memangnya itu aneh paman ?." Tanya Zen yang tidak tahu soal Teokrasi Ziberus.
"Tidak juga, tapi aku mendengar kabar jika Teokrasi sedang membangun pasukan untuk menyerang ras iblis." Jawab Kapten Drull.
"Apa mungkin mereka sedang merekrut Hunter di kota ini ?." Tambah Eri dengan pertanyaan.
Namun Eland dan Senko mereka tertawa..."Itu lucu...."
"Padahal aku tidak sedang melawak, memang apa yang lucu ?." Eri kesal.
"Di wilayah kekuasaan Teokrasi ada banyak Hunter peringkat lencana platinum, Mytril, bahkan Adamantium. Jadi apa yang mereka harapkan di tempat ini ?." Jawab Eland sesuai kenyataan.
"Sepertinya itu benar, jadi ada alasan lain yang lebih penting." Zen pun ingin tahu.
Tiba-tiba saja dari lantai dua kantor guild sebuah tekanan energi sihir muncul dan menghancurkan dinding kayu dengan satu sosok terlempar keluar.
Zen sadar jika orang itu adalah Houran, segera saja dia melompat dan menangkap tubuh Houran sebelum jatuh ke tanah.
Bagi mantan Hunter lencana platinum tidak mungkin Houran akan kalah untuk satu pukulan dari lelaki itu. Sehingga bisa dipastikan orang yang mencari masalah dengan Houran berada di tingkat lebih tinggi.
Hingga satu lelaki melompat turun dengan sebilah pedang emas yang mengeluarkan energi sihir kuat di tangannya. Perlahan lelaki itu pun berjalan mendekat ke arah Zen.
Dia berkata dengan nada keras.
"Orang tua si*alan, kau berani mempersulit tugas kami. Sudah tiga Minggu perjalanan menuju ke kota kecil ini dan itu membuatku bosan setengah mati. Tapi hasilnya akan sia-sia jika kau tidak mau mengatakan siapa yang menyelesaikan tugas di bukit Ribbon. Apa kau tahu seberapa marah aku sekarang ?."
Hanya dari ucapan lelaki itu saja sudah membuat Zen paham untuk tujuannya, sosok yang dia cari adalah Zen, tapi karena Houran memegang janji untuk merahasiakan identitas atas penyerangan koloni semut hitam di bukit Ribbon. Lelaki itu marah dan memaksa dengan tindakan kasar.
Zen tentu merasa bersalah, karena dia bersikeras untuk menyembunyikan identitas dan Houran menepati janji, tapi kini akibatnya adalah Houran harus terluka.
Tidak lama kemudian, empat orang lain berjalan keluar dari dalam guild dengan tergesa-gesa, berdiri di depan untuk menghentikan langkah Haze.
"Tuan Haze, anda terlalu berlebihan, kita disini adalah mencari keberadaan para pahlawan tidak untuk membuat keributan." Wanita itu cukup berani meski aura kemarahan masih jelas di rasakan.
"Kau menyingkirlah Rose. Apa kau sadar apa jadinya jika sudah membuat ku marah." Tatapan mata Haze tajam.
Rose tahu, jika Haze serius untuk melakukan suatu tindakan nekad, maka kekuatannya sebagai pahlawan utusan Dewa sudah cukup membuat kerusakan parah di kota Ser Din.
__ADS_1
"Tolong tuan Haze, aku mohon bersabarlah, jika tidak ketua dewan suci akan memberi anda hukuman." Rose mengancam.
"Memang kau pikir siapa yang di butuhkan untuk menyelamatkan dunia ini dari para iblis, Aku... Sang Pahlawan utusan Dewa atau delapan Orang tua tidak tahu diri yang hanya bisa duduk di kursi panas mereka." Tegasnya dengan berani.
"Ya, tentu saja anda tuan Haze, tapi perbuatan anda ini salah...." Rose menjawabnya dengan kepala tertunduk pasrah.
Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa untuk melawan kekuatan maha dahsyat dari sepuluh penguasa iblis, maka umat manusia pun membutuhkan kesepuluh pahlawan yang memiliki kekuatan setara.
Sehingga bagi Rose Screwing, dia tidak mungkin membantah perkataan dari Haze Ruzan.
"Bagaimana jika kau mau menemani ku malam ini, aku akan melupakan semua yang terjadi." Ucap Haze tersenyum aneh.
Ragu-ragu Rose untuk menjawab, tapi dia juga tidak bisa melakukan apa pun tentang tindakan Haze yang pastinya membuat semua orang celaka.
"Baiklah akan aku lakukan, tapi tolong tuan Haze agar tidak melakukan hal yang membahayakan orang lain."
"Tentu saja, aku merasa senang sekarang." Tawa Haze terasa tidak menyenangkan.
Ketika Haze sudah kembali tenang dan berniat kembali ke kereta kuda untuk diam di sana, satu suara terdengar jelas dari belakang.
"Kau menyebut dirimu sebagai pahlawan utusan Dewa, tapi yang aku lihat, hanya lelaki sombong dan tidak tahu diri."
Houran terkejut, dia tidak menyangka jika Zen berani untuk nyindir pahlawan secara langsung...."Tuan Zen, apa yang kau katakan."
"Menghina ?, Kurang lebih seperti itu." Balas Zen santai.
Tapi pucat Houran melihat jika saat ini sosok Haze berbalik dan menatap tajam ke arah semua orang...."Huh ?, Mulut siapa yang bicara itu."
Tanpa ragu Zen mengangkat tangannya...."Aku."
Haze tertawa terbahak-bahak, dia merasa senang karena melihat keberanian Zen, tapi di balik tawa itu, ditunjukkan emosi dari sorot matanya..."Ini lucu... Apa kau sedang menghina ku ?."
"Memang kau pikir aku sedang memuji mu ?, Ya... aku sih tidak masalah jika kau merasa senang dan menganggap itu sebagai pujian, maka aku bisa lebih banyak memberi pujian." Balas Zen tersenyum mengejek.
"Sekali lagi kau bicara maka jangan salahkan aku apa yang akan terjadi."
"Wah ... Aku takut." Ekspresi Zen terlalu datar hingga tidak sesuai dengan ucapannya.
Sekilas cepat tangan Haze menarik pedang ke belakang, dia bersiap mengayunkan Excalixer dan menebasnya ke arah Zen.
Tapi sepintas senyum itu melengkung di wajah Zen.
__ADS_1