KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Hanya bercanda


__ADS_3

Malam sunyi, pemandangan di tepian danau dengan api unggun memberi suasana syahdu nan romantis. Tapi sayangnya itu tidak berlaku untuk Zen dan Sena, hubungan mereka lebih seperti teman seperantauan di dunia Dios, daripada sepasang kekasih.


Begitu juga, Sena lebih tertarik ketika melihat daging yang sedang Zen bakar di atas api unggun. Aroma saus barbeque membuatnya hampir menetaskan air liur.


"Kau tidak mengatakan jika sedang membuat makanan."


"Apa itu penting ?."


"Bagiku sangat penting. Dan kau ingin makan semuanya sendiri, sungguh tidak adil." Sena merasa iri.


Zen tahu keinginan Sena..."Apa itu pantas dikatakan oleh orang yang sudah membuatku kesal."


"Maafkan aku." Sena kembali merasa bersalah.


Tapi Zen mengambil tusukan daging Ular Doua yang sudah matang dan memberikan itu kepada Sena.


"Aku bukan lelaki yang tega melihat seorang gadis kelaparan. Makanlah."


Tanpa perlu basa-basi, cepat Sena menyambar tusukan daging itu dan mulai mengunyah semampu mulutnya untuk menggigit.


"Ini sangat enak, kau benar-benar hebat dalam memasak."


"Aku hanya menambahkan saus barbeque saja, itu tidak bisa dibilang memasak." Balas Zen.


Ada sembilan potong daging ular sebesar kepala yang dia bakar, tujuh diantaranya lenyap dan masuk ke perut Sena. Benar-benar luar biasa, bahkan Zen berpikir jika ada lubang hitam bersarang didalam perut itu.


"Tapi tetap saja, aku ingin makan masakan mu setiap hari." Ucap Sena puas dengan perut yang kenyang.


"Kalau begitu kau bisa menjadi istriku dan bisa makan sepuasnya, haha." Balas Zen tertawa palsu.


Seketika Sena melihat Zen dengan tajam....."Benarkah."


"Hei aku hanya bercanda, jangan anggap serius."


Zen tidak menganggap itu adalah rasa suka atau pun cinta, hanya sebuah keinginan untuk menikmati waktu dengan makanan yang bisa dia dapat.


"Aku tidak akan menolaknya." Ucap Sena.


"Apa harga dirimu tidak lebih besar dari sepotong daging ular bakar saus barbeque."


"Tidak masalah, aku lebih senang kau yang menjadi suamiku daripada pangeran durjana itu." Balas Sena.


"Jika pangeran Alvardo mendengar ucapanmu, dia pasti akan semaput. Kalah saing oleh sepotong daging bakar."


"Jadi ?."

__ADS_1


"Jadi apa ?." Zen bingung.


"Jadi apa aku boleh jadi istrimu." Sekali lagi Sena bertanya.


Sebagai seorang lelaki yang sehat jasmani dan rohani tentu tidak akan menolak tawaran Sena. Bahkan ini seperti dia mendapat hadiah door prize tanpa pernah ikut kuis.


"Sudah aku katakan, itu hanya bercanda kenapa kau sangat serius. Tidak mungkin seorang manusia menikah dengan iblis seperti ku." Zen coba mencari alasan.


"Tapi itu memang pernah terjadi."


"Heh ?."


Sena bercerita....


"Seratus tahun lalu, sesosok lelaki dari ras iblis jatuh cinta kepada seorang putri kerajaan, awalnya putri itu merasa takut, tapi mengetahui ketulusan sang iblis dia mulai membalas cintanya, meski pun di akhir cerita, sang iblis harus berakhir tragis, karena mengorbankan dirinya sendiri agar sang putri tidak di hukum mati."


"Itulah kenapa aku tidak ingin menjadi seperti iblis yang memiliki akhir cerita tewas dengan tragis." Zen bisa membayangkannya.


Disaat Zen dan Sena berbincang-bincang hangat, sebuah getaran terasa kuat, suara ribuan monster meraung-raung keras dari balik dinding dan kini ada banyak Hunter berlarian masuk ke dalam Zona aman.


Mereka adalah Hunter yang menjelajah di bagian lebih bawah dari lantai 10. Tapi sekarang dipenuhi raut wajah ketakutan untuk menggambarkan kondisi yang mereka alami.


"Apa yang sebenarnya terjadi." Zen penasaran.


Tiba-tiba saja, dinding yang menjaga zona aman runtuh oleh serangan para monster Dungeon, muncul juga sosok makhluk tinggi besar sedang berusaha melewati pembatas.


Ini jelas bukan situasi yang lazim untuk siapa pun lihat, dimana penghalang yang dimiliki zona aman memang di buat sebagai bentuk pertahanan mutlak agar para monster tidak bisa masuk.


Namun tidak hanya itu, dari bawah tanah pun muncul sebuah retakan, air di danau menjadi surut, dua pasang kepala luar menjalar naik ke atas permukaan.


Cepat Zen mengangkat tubuh Sena karena runtuhan tanah menjalar ke tempat mereka berdua.


Zen benar-benar terpana melihat ukuran binatang iblis itu..."Huaaah besar sekali...."


Sedangkan dari balik dinding kini di tembus paksa oleh para monster dan seekor minotaur setinggi 4 meter.


Orang-orang tidak bisa percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Bukankah itu penguasa lantai 30, dan 40 kenapa mereka naik ke atas."


"Kita harus laporkan ini kepada guild dan istana kerajaan, situasi benar-benar berbahaya."


"Pastikan semua orang pergi ke lingkaran teleportasi untuk keluar."


"Para Hunter lencana perak ke atas tetap bertahan dan melawan."

__ADS_1


Dua monster penguasa lantai itu datang karena mereka belum di kalahkan oleh para Hunter, sedangkan penguasa lantai 10 dan 20 masih dalam kondisi tewas sampai satu hari kedepan.


Namun melawan Dua penguasa sekaligus bukanlah hal mudah, bahkan dengan 10 Hunter lencana gold datang itu masih belum cukup.


Sena mengambil inisiatif melepas serangan sihir api, dimana satu penguasa lantai berada dekat dengan tempatnya sekarang. Ular berkepala dua, dimana itu harusnya menjadi penguasa lantai 40 yang belum pernah dikalahkan para Hunter.


Tapi sayangnya, serangan sihir Sena tidak memberi efek luka kepada sisik pelindung dari monster ular berkepala dua.


"Apa yang kau lakukan, sebaiknya kita segera pergi menuju lingkaran teleportasi." Zen coba menarik tangan Sena untuk menghindari pertarungan.


"Itu tidak mungkin, ada banyak orang di tempat ini, sebagai pahlawan aku tidak bisa membiarkan mereka begitu saja."


Sena mengeluarkan skill sembilan senjata dan menarik senapan laras panjang untuk melepas tembakan sihir tingkat tinggi kepada satu kepala ular.


Skill pahlawan memang tidak main-main, terlihat jelas semburan darah hijau menjadi luka yang menembus pertahanan sisiknya, padahal Binatang iblis ular kepala dua masuk dalam kategori SS.


"Zen bantu aku." Panggil Sena selagi menghindari semburan api biru yang datang.


"Sungguh menyusahkan."


Zen pun mengangkat satu tangannya, partikel-partikel cahaya berkumpul di sekitar dua kepala ular dan mulai membentuk ratusan bilah pedang yang melayang di udara.


Dalam kendali penuh Zen mendorong tangan maju, ratusan pedang mulai bergerak menghujani dua kepala ular tanpa memberi kesempatan untuk menghindar.


Dari belakang punggung Zen, Sena sudah siap untuk serangan lain yang jauh lebih kuat, dia memaksimalkan energi sihir di dalam senjata senapan.


Satu peluru sihir melesat lurus dan memberi ledakan kuat beserta api panas yang ******* monster ular itu hingga hangus.


Orang-orang di sekitar melihat mereka berdua memberi sorakan, berhasil membunuh penguasa lantai 40 tentu menjadi hal luar biasa. Tapi itu belum berakhir, dimana ratusan monster sudah memasuki zona aman dan orang-orang masih belum semuanya keluar melalui lingkaran sihir teleportasi.


Master Ziza yang sedang mengevakuasi murid akademi Zezzanaza melihat Sena dan Zen, dari kejauhan dia memanggil.


"Sena, kau harus pergi dengan kami...."


"Tidak master, aku harus menyelamatkan semua orang." Ucap Sena menunjukan sikap pahlawannya.


"Jangan keras kepala, cepat kemari." Master Ziza kesal.


Zen coba meyakinkan..."Itu benar Sena, sekarang kau tidak boleh mengambil resiko, perjalanan mu masih panjang untuk melawan para iblis di masa depan."


"Baiklah...."


Meski pun Sena adalah pahlawan, statusnya masihlah seorang murid, dan master Ziza harus bertanggung jawab atas kesempatan semua muridnya.


Tapi baru beberapa langkah Sena dan Zen pergi menuju lingkaran sihir teleportasi, sebuah tangan besar muncul dari bawah tanah. Mereka berdua di tangkap paksa dan jatuh ke bawah Dungeon.

__ADS_1


__ADS_2