KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
merasa beruntung


__ADS_3

Pangeran Alvardo memanggil satu kehadiran roh cukup kuat, Zen pun mengakuinya, dimana dia bisa merasakan tekanan aura gelap yang keluar dari sosok itu tiga kali lebih besar melampaui roh kesatria hitam.


Tapi bagi para ahli sihir yang menjalin hubungan kerjasama dengan roh memiliki konsekuensi, yaitu janji pertukaran dimana setiap kali sang majikan memanggil mereka maka ada harga untuk dibayarkan.


Jika ketiga roh sebelumnya tidaklah terlalu kuat, sehingga pangeran Alvardo memilih mengeluarkan mereka terlebih dahulu, namun kenyataannya itu masih belum cukup untuk mengalahkan Zen.


"Tuan Alvardo, sudah lama anda tidak memanggil ku. Apa yang bisa aku bantu ?."


"Bunuh iblis itu, Sagam." Tunjuk pangeran Alvardo ke arah Zen.


Sejenak roh kontrak berjubah hitam menatap kemudian tersenyum sendiri.


"Tujuh hari masa hidup." Jawabnya memberi penawaran.


"Lakukan saja, aku tidak peduli apa yang kau inginkan, selama kau bisa membunuhnya."


"Baiklah tuan Alvardo."


Roh Sagam menyerap energi kehidupan yang berasal dari tubuh sang pangeran, itu adalah pembayaran untuk tiap kali dirinya di panggil.


Namun Zen masih bisa bersikap santai, meski tekanan energi roh itu menyamai kekuatan iblis kategori S tidak berarti apa pun bagi dirinya yang sudah pernah melawan monster jauh lebih menyeramkan.


Seketika itu juga sosok roh Sagam lenyap, tanpa bisa Zen ketahui di arah mana dia akan menyerang. Hingga tiba-tiba saja sabit besar berayun dari arah samping sebelah kiri. Secara reflek tubuh Zen bergerak cepat menghindar dengan mengikuti nalurinya saat aura gelap muncul.


Hanya saja, dia melihat ke arah dimana aura gelap itu datang, Zen tidak menemukan sosok Roh Sagam.


"Kau harusnya sadar, roh kali ini berbeda dari tiga roh yang kau kalahkan sebelumnya, Sagam adalah satu dari dua roh khusus tingkat atas yang aku miliki. Jadi jangan harap kau bisa selamat." Pangeran Alvardo mulai mengoceh dengan suara tawa yang begitu bahagia.


Zen tidak ingin mengakuinya, tapi apa yang pangeran Alvardo katakan memang benar. Kekuatan roh spiritual jauh berbeda dengan binatang iblis. Meski tekanan aura mereka sama, tapi kemampuan bertarung mereka jelas berbeda.


Terlebih lagi dia tidak bisa menebak kapan dan dimana serangan roh Sagam itu akan muncul. Dia masih bisa menghindar dari serangan fatal, tapi tetap saja tubuhnya tidak luput oleh luka sayatan.


"Harus aku akui, roh kali ini sangat merepotkan." Gumam Zen sendiri.

__ADS_1


Tawa keras sang pangeran seakan kemenangan sudah ada di genggaman tangan...."Lihat, kau tidak memiliki kesempatan untuk mengalahkannya, jadi menyerah saja dan terima nasibmu untuk mati."


Zen berdiri diam dan memusatkan semua konsentrasi di sekelilingnya, saat sabit itu datang kembali, kini Zen mengayunkan pedang ke arah belakang. Tapi sia-sia saja, karena dia tidak berhasil menebak kemunculan serangan sabit milik Sagam.


Dan saat Zen masih bingung, seketika itu juga dia mendapat satu luka besar yang merobek kulit di punggung. Zen terjatuh, darah hitam membasahi sekujur tubuhnya.


"Biar aku beritahu satu hal kepadamu, jika Roh Sagam memiliki kemampuan untuk memanipulasi ruang, jadi percuma saja, meski kau menyerang dari segala arah, senjata Sagam bisa melewati batas dimensi." Semakin keras pangeran Alvardo tertawa.


Tapi dengan penjelasannya itu, kini Zen tahu cara kerja roh Sagam. Dimana keberadaannya di dimensi lain, sehingga mustahil untuk Zen melawan ketika dia tidak ada di dimensi asli.


Zen melepas pedang ditangan, dia kini hanya berdiri seperti pasrah menunggu serangan Sagam selanjutnya.


"Apa kau sudah menyerah..." Tanya Pangeran Alvardo.


"Mustahil aku mengalahkan musuh yang tidak bisa aku sentuh." Ucap Zen lemas.


Kesempatan tidak Alvardo sia-siakan...."Kalau begitu biar aku selesaikan dengan cepat, Sagam bunuh iblis ini."


Setelah perintah pangeran Alvardo terucap, sebilah sabit menembus perut Zen. Tapi ini adalah rencana yang dia miliki. Meski Sagam ada di dimensi lain, saat dia menyerang tentu wujudnya akan keluar.


"Benarkah begitu." Jawab Zen tersenyum.


Dan ketika Zen melihat Roh Sagam muncul, sorot mata merah menyala menunjukkan tatapan pengendali jiwa milik kaum Ra'e. Sagam berhenti bergerak, dimana kini dia telah terikat oleh kendali Zen.


Sadar bahwa ada yang tidak beres dengan ikatan kontrak roh Sagam.


"Apa yang terjadi, Sagam kembali..." Perintah pangeran Alvardo tidak didengar oleh roh kontraknya.


Sakit bukan main, Zen menarik sabit itu keluar dari perutnya dan sesegera mungkin menggunakan kemampuan regenerasi yang di tambah energi penyembuhan.


"Untuk pertama kalinya, aku merasa beruntung karena lahir sebagai ras iblis." Gumam Zen selagi menahan rasa sakit.


Jika bukan karena kemampuan regenerasi, tentu nyawa Zen benar-benar dalam bahaya setelah menerima luka fatal yang menembus perutnya.

__ADS_1


Setelah beberapa nafas luka pun tertutup kembali, saat ini Pangeran Alvardo menatap bingung dengan terputusnya ikatan kontrak antara dirinya dan roh Sagam.


"Apa yang sudah kau lakukan." Teriak keras Alvardo marah.


"Bukan hal khusus, aku hanya sedang mengendalikan roh yang kau miliki sekarang." Santai saja Zen menjawab.


"Jangan pikir, kau bisa memerintah Sagam untuk membunuhku."


"Memangnya kenapa ini cukup mudah ?."


"Dasar iblis licik."


"Dalam pertarungan hidup dan mati segala cara diperbolehkan bahkan dengan hal licik sekali pun." Balas Zen yang tidak peduli dengan ocehan Alvardo.


Zen tersenyum sendiri, roh yang memiliki kekuatan memanipulasi ruang dimensi sangatlah langka dan juga merepotkan. Seperti pertarungan Zen tadi, tanpa pengorbanan rasa sakit ketika menerima luka secara langsung, tidak ada kesempatan baginya menang.


"AKU PERINTAHKAN KAU MEMUTUS PERJANJIAN DENGAN ALVARDO." ucap Zen memberi perintah.


Cincin batu di jari telunjuk pangeran Alvardo pecah kemudian hancur menjadi debu. Setelah itu Zen menciptakan rangkaian sihir pengikat kontrak untuk mengambil Sagam dari majikannya yang lama.


Sagam membungkuk di hadapan Zen ..."Berikan aku nama tuan."


Sejenak Zen berpikir...."Kalau begitu namamu adalah Rubrum."


"Aku menerima anda sebagai tuanku yang baru." Ucap Rubrum membungkuk patuh.


Ikatan kontrak pun terjalin, dimana wujud roh Sagam setelah mendapat nama baru kini berubah menjadi batu merah tua yang jatuh di atas telapak tangan Zen.


Lutut pangeran Alvardo lemas, jatuh di atas tanah dengan wajah bingung seakan tidak percaya atas apa yang terjadi kepada roh Sagam.


"Ini tidak mungkin, kau... kau... Si*alan. Aku tidak punya pilihan lain."


Pangeran Alvardo mengangkat satu cincin batu di jari tengah yang menjadi roh kontrak terakhir untuk dia gunakan.

__ADS_1


"Argous keluarlah, patuhi perintah dariku."


Letusan suara tawa menggelegar di atas langit yang tiba-tiba saja berubah gelap, kemunculan makhluk hitam bertubuh buntal dengan kapak besar menunjukkan aura kuat setara binatang iblis kategori S.


__ADS_2