KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Evolusi


__ADS_3

Kembali ke tempat Zen dan Sena di dimensi ilusi...


Dua Minggu berlalu sejak Zen mulai mempelajari sistem kerja dari kekuatan dimensi ilusi.


Lempengan logam lingkaran besar yang tertimbun di dalam pasir menjadi komponen utama terbentuknya sebuah sihir dimensi ilusi ini, memiliki diameter hingga 200 meter dan ada ribuan simbol terbentuk di atas lingkaran sihir.


Zen tidak bisa sembarangan menganalisa setiap simbol sihir itu, dia takut apa bila sedikit saja lempengan logam rusak maka berakibat membuat mereka terkurung selamanya.


"Apa yang harus aku lakukan ?." Bertanya kepada dirinya sendiri.


Ini jelas menjadi sebuah pekerjaan rumit yang harus dia selesaikan.


Tapi rangkaian sihir bukan sesuatu yang mustahil di pelajari oleh semua orang, dia pun sudah pernah membentuk rangkaian sihir sederhana untuk menciptakan sebuah lubang jebakan, ketika ada sesuatu menginjaknya.


Selagi Zen memikirkan tentang rangkaian sihir itu, Sena berjalan datang dengan pakaian tipis yang biasa dia gunakan untuk bersantai. Perubahan Sena jelas terjadi setelah mereka saling memahami luar dan dalam.


Sena sekarang sangat terbuka, ya benar-benar terbuka karena pakaian yang dia gunakan bisa memperlihatkan lekukan tubuh dari pandangan mata normal.


"Zen, jangan dipikirkan terlalu serius, kau bisa sakit nanti." Ucap Sena yang memeluk Zen di punggung.


Tidak ada lagi kecanggungan untuk mereka berdua, Sena bermanja dan sedikit menggoda yang secara sengaja menempel aset pribadi itu agar Zen bisa merasakannya.


Hanya saja, kebingungan Zen jauh lebih besar dari pada nafsu, dia tetap diam meski pun Sena mulai menciumi dari belakang.


"Kalau aku tidak serius, maka kita tidak akan bisa keluar." Jawab Zen.


Sedikit kesal, tapi Sena tidak mungkin marah, karena dia sadar jika Zen saat ini benar-benar berpikir keras demi keselamatannya.... "Aku tahu itu, tapi aku ingin kau sedikit bersantai."


"Bukankah setiap malam kita sudah bersantai."


"Dari pada disebut sebagai bersantai, aku merasa apa yang kau lakukan adalah kerja keras." Jawab Sena tersenyum menggoda.


"Ya aku selalu keras untuk beberapa alasan... Dan alasannya adalah kau yang sengaja membuatku keras." Balas Zen sembari mencubit hidung Sana.


Ini hanya menjadi kejahilan kecil bagi sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta. Mereka berdua saling menggoda satu sama lain, tidak peduli soal urusan pahlawan dan iblis, hanya menunjukkan harapan agar tidak pernah berubah.


Sena yang tertawa-tawa karena kejahilan Zen, kemudian jatuh di pangkuannya..."Apa kau tidak senang dengan itu ?."


"Tentu saja.... Aku tidak bisa menolaknya."


Meski hari masih siang, Zen tidak bisa menahan diri karena dia tentu tergoda akan pesona milik Sena.

__ADS_1


Ketika malam tiba dan selesai pula untuk kegiatan khusus yang selalu mereka berdua lakukan setiap hari.


Melihat bagaimana cantiknya wajah Sena di atas ranjang ketika masih tertidur dalam pelukan. Tangan yang perlahan membelai rambut pirang Sena dan sedikit menyentuh pipi yang halus merah merona.


Sejenak Zen teringat bahwa ketika pertama kali dia melakukan sesuatu kepada tubuh Sena, ada keganjilan yang muncul secara tiba-tiba.


Merasa penasaran atas kejadian saat itu, Zen mengambil posisi duduk bersila, memusatkan pikirannya dalam konsentrasi yang tinggi. Dia coba memasuki alam bawah sadarnya.


Zen kini berada di sebuah ruang serba putih, itu menjadi dunia alam bawah sadar miliknya, dan dimana juga dari atas langit bisa terlihat tiga benda besar.


Benda pertama adalah bentuk bidang Piramida 3 dimensi delapan sisi dengan warna merah menyala.


Tentu dia tahu benda apa yang dilihatnya sekarang... Sebuah perwujudan skill pencipta... Tapi Zen sadar, bahwa ada perubahan dari benda itu.


"Ini aneh, sejak kapan memiliki delapan sisi, bukankah terakhir aku melihatnya ada enam sisi... Dan juga apa ukuran benda itu semakin besar ?." Zen bertanya kepada dirinya sendiri.


"Apa skill pencipta ini berevolusi." Hanya itu satu-satunya jawaban yang bisa dia pahami sekarang.


Benda kedua adalah skill Over limit, dimana itu diwujudkan dalam bentuk lingkaran berlapis dan bergerak saling beraturan dengan warna kuning keemasan.


Zen pun bisa melihat perubahan di wujud skill over limit miliknya.


Tapi setelah beberapa saat memperhatikan, Zen ingat sesuatu.


"Tunggu, ini seperti wujud kemampuan dari Sena, ya tidak salah lagi.... Apa mungkin." Ucap Zen sedikit ragu.


Sudah berulang kali dia mencoba menyalin kemampuan dari skill sembilan senjata, tapi itu selalu gagal. Tapi secara tiba-tiba wujud kemampuan milik Sena berada di dalam alam bawah sadar.


kemungkinan besar ini adalah keuntungan saat Zen melakukan 'itu' kepada Sena. Dia mendapat semua informasi yang dibutuhkan untuk menyalin kemampuan skill sembilan senjata.


"Jika memang benar, apa itu artinya aku bisa bertambah kuat dengan begituan."


Tentu Zen merasa senang karena dia mendapat suatu keuntungan untuk hal yang begitu nikmat.


Zen melihat kembali ke wujud skill pencipta, dimana dia kini mencari informasi tentang kemampuan lain yang dia dapat dari evolusi skill pencipta miliknya.


Ketika menarik wujud Piramida merah delapan sisi untuk mendekat, tangannya menyentuh dan dalam ingatan itu secara otomatis ditanamkan ke otak Zen.


"Skill pencipta mampu memberi bentuk benda nyata dari imajinasi ku sendiri, kini aku bisa melakukan sebaliknya, mengubah bentuk nyata sebuah benda menjadi imajinasi yang bisa aku kendalikan."


Ini bisa dia gunakan sebagai cara keluar dari sihir dimensi ilusi.

__ADS_1


'Ya aku harus mencobanya.'


Kemampuan skill pencipta ini sangatlah sederhana, seorang manusia mampu membuat sebuah kertas, apa pun bisa mereka lakukan dengan kertas itu, tapi pada akhirnya struktur awalnya tetaplah sebuah kertas.


Lempengan logam itu ibarat kertas, meski pun sudah dibentuk untuk menjadi lingkaran sihir, tapi tetap saja tidak mengubah kenyataan bahwa itu tetap sebuah lempengan logam.


Menggunakan skill pencipta maka Zen harusnya mampu mengubah bentuk rangkaian sihir menjadi seperti yang dia inginkan.


Keesokan harinya segera saja Zen ingin mencoba kemampuan evolusi skill pencipta yang sudah dia lihat semalam.


Kini dia berdiri di titik pusat rangkaian sihir dengan sebuah batu bulat berwarna merah seperti bola kristal. Tangan Zen menyentuhnya, mengeluarkan sedikit energi dan mulai mengaktifkan skill pencipta.


Seluruh lempengan logam lingkaran sihir terselimuti energi sihir dari skill pencipta.


Masuk kedalam alam bawah sadar. Zen berdiri melayang di ruang serba putih dengan satu buah lempengan bundar yang berada tepat di bawah kakinya.


Mulai mengimajinasikan tentang rangkaian sihir perusak Dimensi.


Posisi masing-masing simbol di atas lempengan besi berubah, dimana setiap Rune atau simbol-simbol sihir itu memiliki fungsi masing-masing yang harus terhubung satu sama lain agar menjadi sebuah rangkaian layaknya Zen melakukan Coding dalam program komputer.


Hingga cukup lama Zen untuk menggabungkan setiap Rune menjadi sebuah rangkaian sihir baru. Kini dia kembali masuk dalam kesadarannya.


"Ini harus berhasil, aku mohon." Ucap Zen penuh harapan.


Tiang cahaya menyambar naik ke atas langit dan membentuk sebuah pusaran energi.


Dari dalam Tenda, Sena berlari mendekat, dia tahu ada suatu kejanggalan tiba-tiba saja muncul.


"Zen apa yang terjadi." Tanya Sena.


Zen tersenyum bahagia..."Aku selesai mengubah bentuk semua rangkaiannya."


"Jadi ini..."


"Ya seperti yang kau harapkan, kita bisa kembali tanpa perlu mencoba bunuh diri." Balas Zen.


Sena cepat memeluk erat tubuh Zen, sebuah ciuman melekat lembut dengan gigitan kecil diberikan kepadanya.


Langit-langit diatas kepala yang awalnya terang, kini menjadi redup dan mulai terhisap masuk kedalam pusaran energi, milyaran butir pasir melayang-layang berhamburan.


Semua menjadi buram, warna perlahan pudar, hingga segala yang ada di dalam dimensi ilusi telah lenyap.

__ADS_1


__ADS_2