KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
perserikatan Lomania


__ADS_3

Perserikatan Lomania sendiri terbentuk dari wilayah kekuasaan yang di pegang oleh sepuluh keluarga bangsawan sebagai pemimpin di setiap kota.


Dimana ratusan tahun silam sebelum terbentuknya perserikatan Lomania, wilayah itu adalah satu buah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Dorfon, dipimpin oleh seorang raja kejam dan juga rakus.


Dia tidak peduli soal kemakmuran rakyat, penderitaan mereka sendiri dan menganggap bahwa itu adalah hidup yang sudah di takdirkan.


Kekejaman raja pun semakin menjadi-jadi di saat kemarau panjang datang di wilayah kerajaan Dorfon. Panen-panen gandum gagal, kurangnya pasokan makanan, kekeringan, dan raja tetap tidak peduli, dia hanya mementingkan kehidupan keluarga kerajaan sendiri.


Di saat itulah, sepuluh keluarga bangsawan menggabungkan diri untuk membentuk suatu rencana kudeta dan mengambil alih kerajaan Dorfon dari sang raja kejam.


Hanya perlu satu malam...


Kerajaan Dorfon pun akhirnya runtuh, dan sepuluh keluarga bangsawan yang memberontak, mengeksekusi setiap anggota keluarga kerajaan karena telah membuat seluruh rakyat kerajaan Dorfon sengsara.


Hingga setelah semua berakhir, kesepuluh keluarga bangsawan membentuk suatu sistem kepemimpinan yang dimana masing-masing dari mereka akan mengatur satu wilayah dalam sebuah perserikatan.


Dan kini kerajaan Dorfon berubah nama menjadi perserikatan Lomania.


"Jadi seperti itulah cerita asal muasal perserikatan Lomania ini terbentuk, anak muda...." Ungkap lelaki paruh baya mendongengkan kepada satu lelaki yang sibuk memakan sup di mangkoknya.


"Hmmm aku merasa itu kurang menarik, dalam segi alur hingga *******


semua terdengar biasa saja, konflik tentang perebutan kekuasaan sudah ada banyak, dan pada akhirnya kebenaran lah yang akan menang." Jawab lelaki itu memberi komentar.


"Memang kau pikir aku sedang mengarang cerita apa ?, Ini kejadian nyata, kau harus tahu, bagaimana orang-orang terdahulu yang berjuang demi masa depan para rakyat." Balas lelaki paruh baya itu merasa tidak dihargai.


Zen coba memahamimya..."Ya itu memang terdengar mengesankan, sangat patriotisme, atau apa lah terserah... Tapi aku hanya berpikir, jika sebenarnya musuh setiap manusia adalah manusia itu sendiri, mereka selalu berperang dan saling membunuh untuk kepentingan pribadi dan mencari keuntungan."


"Aku tidak bisa menyangkalnya." Dia pun setuju.


"Berbeda dengan ras iblis yang berperang melawan manusia, karena itu sudah menjadi ketetapan Tuhan sejati dan takdir hidup mereka." Tambah pula Zen.


Di sebelah lelaki yang berkomentar, satu wanita muda hanya mendengarkan, dia tetap sibuk menikmati makanan tanpa sedikitpun peduli.


Hingga selesai menghabiskan satu mangkuk sup di tangannya, dia pun angkat bicara...

__ADS_1


"Jika kalian sudah selesai dengan makanan ini, sebaiknya kita segera melanjutkan perjalanan." Ucapnya santai.


Entah lelaki paruh baya itu atau anak muda yang ada di hadapannya, mereka melihat wanita dalam diam saat berdiri untuk


"Wanitamu itu terlihat mengagumkan." Ungkapnya.


"Hmmm kau salah, dia hanya bersikap seperti itu karena sudah bosan mendengar kita bicara panjang lebar." Jawab Zen fitness anh paham atas sikap Eri.


Lelaki itu mengangguk paham..."Kau harus berhati-hati anak muda, yang aku tahu, wanita seperti dia sangat keras dan menyusahkan."


"Ya aku sudah tahu...." Zen mengakuinya.


Beberapa waktu sebelumnya.


Zen dan Eri di kirim melalui rangkaian teleportasi ke sebuah goa tersembunyi oleh sihir ilusi di kaki gunung Dum, wilayah keluarga bangsawan Cainer, perserikatan Lomania.


Setiap rangkaian teleportasi memang secara sengaja di sembunyikan cukup jauh dari perbatasan suatu kerajaan dan di jaga ketat oleh orang-orang yang berhubungan langsung dengan dunia gelap.


Mereka pun segera turun dari kaki gunung untuk pergi ke kota terdekat yang di pimpin oleh keluarga bangsawan Cainer.


Zen dan Eri pun datang untuk menyelamatkannya, terlebih mereka mendapat beberapa uang sebagai imbalan.


Karena tujuan mereka satu arah, pada akhirnya Zen dan Eri ikut bersama dengan kereta kuda menuju kota.


Dan kini, setelah mereka selesai sarapan, ketiganya melanjutkan perjalanan.


Memasuki wilayah bangsawan Cainer, kini Zen tidak perlu lagi membayar pajak masuk, dikarenakan dia adalah seorang Hunter lencana platinum dan segala hal untuk biaya keluar masuk sebuah wilayah kerajaan akan di tanggung oleh guild Hunter.


Tanpa perlu menunggu lama, Zen pun segera mencari keberadaan kedua orang tuanya yang dipastikan tinggal dalam wilayah perserikatan Lomania.


Namun semua tidaklah mudah, karena di perserikatan Lomania, terbagi menjadi sepuluh wilayah kekuasaan keluarga bangsawan dan tempat Zen sekarang adalah sebuah kota yang dipimpin keluarga Cainer.


Selama satu hari penuh Zen mencari informasi, tapi tidak ada satu orang pun mengenali dua sosok dalam gambarnya.


Begitu juga Zen bertanya ke guild Hunter jika mereka memiliki beberapa informasi tentang sesosok dokter yang begitu baik hati untuk memberi bantuan secara cuma-cuma.

__ADS_1


Tapi tetap saja, hasilnya adalah nihil.


"Aku pikir ayah dan ibumu tidak ada di kota ini." Ucap Eri yang begitu iba melihat perjuangan Zen berkeliling kota.


Rumit wajahnya sebelum menjawab...."Sepertinya memang begitu, tapi aku merasa jika mereka ada di salah satu kota yang ada di perserikatan Lomania."


"Jadi apa kita harus mencari ke sembilan kota lain ?." Tanya Eri.


"Kalau harus aku lakukan, maka aku tidak akan berpikir lagi." Jawab Zen.


Hingga ketika Zen dan Eri tengah duduk di guild Hunter, dia mendengar beberapa orang membicarakan sesuatu yang menarik perhatian Zen.


"Aku tahu, jika ada satu dokter yang memberikan perawatan kepada seorang Hunter secara cuma-cuma." Ucapnya begitu kagum.


"Itu tidak mungkin." Tapi teman di sampingnya menolak percaya.


"Apa kau menganggap kalau aku ini berbohong ?." Dia merasa kesal.


Terlihat bahwa dia meremehkan dan menganggap perkataan itu hanya omong kosong belaka...."Memangnya tidak ?, Karena tidak mungkin ada seorang dokter mau memberikan perawatan tanpa mengharapkan bayaran, jika pun ada aku yakin dia adalah pahlawan."


"Tapi aku melihatnya sendiri, dan aku disana saat Hunter itu sekarat."


Hanya mendengar percakapan kedua orang itu membuat Zen sadar, bahwa kemungkinan besar dokter yang dimaksud adalah Remus.


Beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekat untuk bertanya.


"Tuan, maaf jika aku boleh tahu, dimana dokter yang anda maksudkan itu sekarang ?." Tanya Zen terburu-buru.


"Hmm apa kau ingin berobat secara gratis juga ?."


Zen tidak tahu harus menjawab apa...."Anggap saja begitu, jadi dimana tempat aku bisa bertemu dengannya ?."


"Dia sekarang membuka balai pengobatan di pusat kota Brownhan."


"Terimakasih banyak tuan."

__ADS_1


Segera saja Zen menarik tangan Eri dan pergi keluar menuju kota di bagian barat perserikatan Lomania. Kota Brownhan.


__ADS_2