
Hingga bintang pagi pun muncul dari atas langit....
Eri terbangun dari tidurnya dengan rasa sakit dan tidak nyaman di bagian bawah.
Hingga ketika dia melihat sebuah tangan melingkar di di atas perutnya, Eri berteriak keras karena terkejut, dimana saat itu juga sebuah tubuh terlempar jatuh dari atas ranjang.
Keras suara benda jatuh menghantam lantai. Dan Eri masih terlihat syok karena dia tahu bahwa itu adalah Zen.
"Eri apa yang membuatmu ribut sepagi ini." Ucap Zen selagi menguap lebar.
Eri berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut...."Apa yang terjadi, dimana pakaianku ?, dan juga kenapa kau telan*jang."
"Kenapa dengan itu ?, bukankah kau sendiri yang melepaskannya, jangan tanya aku."
"Jangan katakan, kita sudah melakukan sesuatu." Wajah Eri seakan tidak percaya dengan kilas bayangan yang muncul di dalam kepala.
Zen sedikit bingung, semua yang terjadi semalam karena godaan Eri untuk melakukan hal-hal di luar batas sebagaimana lelaki dan perempuan dalam satu kamar.
"Kau tidak tahu malu." Ucap Eri menyalahkan.
"Hei jangan salahkan aku sendiri, kau juga bersalah dalam hal ini." Balas Zen merasa tidak senang.
"Aku ?, kenapa aku juga ?." Eri mencoba melarikan diri dari kenyataan.
"Aku yakin kau mengingat kejadian semalam seperti apa."
Seketika itu juga, Eri menunjukkan ekspresi terkejut, seakan dia tidak percaya bahwa ingatan yang muncul dalam pikirannya adalah bukti tentang kegiatan mereka berdua.
Meski dia menolak percaya, tapi memang nyata terjadi, bahkan tanpa perlu mencari bukti, itu ada di depan mata.
Hanya saja..."Itu bukan aku, aku tidak mungkin berbuat memalukan dengan menggodamu seperti Pela*cur."
"Aku bingung, kenapa kau tidak mau menerimanya."
"Karena...Aku pun tidak tahu kenapa." Eri tidak bisa menjelaskan.
Kini Zen merasa bersalah, melihat betapa bingungnya Eri dan juga dia yang telah berbuat terlalu jauh karena tidak bisa menahan nafsu.
'Hei kau, apa kau tahu sesuatu ?.' tanya Zen kenapa Jiwa Dungeon.
Ternyata setelah Zen meminta Jiwa Dungeon untuk memastikan kondisi yang Eri alami, terdapat satu jawaban.
__ADS_1
"Ada kemungkinan, jika esensi darah iblis tidak secara sempurna mengubah genetika di dalam tubuhnya. Sehingga ketika ada suatu hasrat menguasai pikiran, esensi iblis akan memperkuat emosi itu, tapi ketika dia kembali tenang, maka esensi iblis miliknya mengembalikan kepribadian seperti semula." Ucap jiwa Dungeon.
Kini Zen paham kenapa Eri semalaman menjadi begitu agresif dan itu berbanding terbalik dengan kepribadiannya seperti biasa. Semua terjadi karena esensi iblis memperkuat emosi Eri atas hasrat di dalam tubuhnya.
Perubahan ini termasuk dalam genetik dari ras iblis kaum Ra'e, dimana kaum Ra'e sangat sensitif terhadap emosi, hasrat dan perasaan. Jika ke tiga faktor itu terlalu mendominasi, akan berakibat kehilangan kendali atas akal sehat.
Sama seperti dirinya ketika melihat Eri hampir tewas, emosi dalam tubuh Zen tidak terkendali, melepas skill 'Tanpa Batas' dan bertarung dengan keinginan membunuh Edurali V Doomzar, hingga dia lupa akan konsekuensi apa pun.
Zen tidak bisa mengubah apa pun yang terjadi, meski tubuh iblis memiliki kemampuan Regenerasi setiap luka, tapi bukan berarti Eri akan kembali per*awan meski telah di tusuk benda tumpul.
"Maafkan aku." Ucap Zen dengan rasa bersalah.
Rumit wajah Eri dengan murung...."Bagaimana aku harus menjelaskan ini kepada Hiyo. Aku merasa bersalah karena sudah melakukan hal yang seharusnya tidak boleh terjadi."
Zen tidak tahu kenapa nama Hiyo di bawa dalam masalah ini.
"Bagaimana jika menganggap semua yang kita lakukan tidak pernah terjadi."
"Huh ?, Apa kau bilang ?." Tanya Eri dengan nada kesal.
"Ya seperti itu."
"Jangan sembarangan kalau bicara, kau seenaknya sendiri ingin melupakannya, lalu apa aku harus pasrah setelah kehormatan ku hilang." Eri semakin marah.
"Baiklah, baik, aku akan bertanggung jawab, aku pastikan itu." Tegas Zen tanpa bisa mengelak lagi.
"Aku pegang perkataan mu, tapi aku minta agar kau merahasiakan semua ini dari orang lain." Eri pun menerimanya.
"Aku berjanji." Jawab Zen.
Walau tetap ada rasa bersalah karena sudah menjadi teman yang buruk untuk Hiyo. Nasi sudah menjadi bubur, dia harus bisa menjelaskan semua kepada Hiyo di masa depan nanti.
Setelah masalah antara Zen dan Eri telah menemukan kata sepakat, kali ini mereka sudah bersiap untuk melanjutkan perjalan menuju perserikatan Lomania.
Demi menghindari wilayah konflik kerajaan Zorgan dan negara Lishare, Zen berniat meminta bantuan bandit Olopus yang bermarkas di ujung hutan Roris.
Bandit Olopus adalah kelompok penjahat besar dalam dunia hitam di benua selatan ini.
Mereka selalu memiliki cara untuk melakukan banyak aktivitas seperti penyelundupan, perdagangan manusia, senjata sihir terlarang, barang-barang terkutuk atau pun benda ilegal yang tidak boleh di perjual belikan.
Para bandit Olopus menggunakan rangkaian teleportasi agar bisa keluar masuk dari segala tempat di setiap wilayah tanpa di ketahui oleh publik.
__ADS_1
Salah satunya adalah markas mereka di dalam hutan Roris, itu menjadi satu-satunya jalan aman untuk Zen dan Eri pergi ke perserikatan Lomania.
Sebelum keluar kota kerajaan Zorgan, Zen sudah berpamitan kepada guild master Sabria.
Tapi tidak seperti biasanya, saat Zen berjalan turun dari kantor guild master, di bawah tangga sudah ada lima sosok Hunter sedang membungkuk.
"Kakak Hanzen, mohon ampuni kami." Ucap Hamza.
"Hei apa yang kalian lakukan, jangan membuat ku malu." Balas Zen tidak senang.
Mengetahui bahwa ancaman yang Zen katakan kepada anak buahnya telah sampai ke telinga Hamza, tentu mereka tidak berani berbuat macam-macam untuk sekarang.
"Maafkan kami semua, kakak, kami terlalu sombong sehingga tidak tahu siapa yang kami usik."
Merasa aneh karena sikap Hamza berubah drastis dan itu membuat Zen tidak nyaman.
"Baiklah, aku memaafkan kalian semua, tapi ingat jalan sembarangan mencari masalah dengan orang lain. Masih beruntung aku adalah orang yang pemaaf, jika tidak maka habislah sudah." Tegas Zen memberi nasihat.
"Terimakasih kakak, terimakasih." Membungkuk Hamza berulang kali.
"Aku tidak berlama-lama di kota ini, aku akan pergi sekarang."
"Tunggu, kakak... Aku dengar jika kakak ingin pergi ke perserikatan Lomania menggunakan jasa bandit Olopus." Ucap Hamza.
"Darimana kau tahu ?." Zen bingung.
"Itu tidak penting kakak, tapi aku memiliki sesuatu yang mungkin berguna untuk menjamin kepercayaan dengan para bandit Olopus." Ungkapnya dengan wajah tersenyum cerah.
Sedikit bantuan yang dia berikan tentu dianggap sebagai kompensasi atas perbuatannya selama ini.
"Oh apa itu ?." Zen penasaran.
Hamza mengeluarkan sebuah lencana bergambar aneh dan menyerahkan kepada Zen.
"Kakak hanya perlu menunjukkan ini kepada mereka dan katakan saja namaku, itu akan mempermudah segala urusan kakak disana."
"Aku mengerti... terimakasih." Balas Zen.
"Dan juga...."
"Masih ada lagi ?." Zen merasa malas menanggapi Hamza, tapi dia tidak enak sendiri.
__ADS_1
Kini Zen mendapat informasi dari Hamza tentang lokasi keberadaan bandit Olopus, meski para bandit adalah penjahat, tapi organisasi guild Hunter tidak mau ikut campur dalam urusan yang menyangkut dunia gelap.