KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Sisi lain


__ADS_3

(note : untuk yang berpuasa, dimohon bijak dalam membaca, sebaiknya menunggu berbuka puasa, karena update pas di bulan Ramadhan..... Resiko di tanggung pembaca,Terimakasih.)


Tujuh hari dalam hitungan dunia Dios, Dia melakukan perjalanan menjelajah Dungeon bersama Zen, Sena sudah menahan diri untuk waktu yang lama.


Dia adalah wanita, wanita pun memiliki hasrat akan keinginan pribadi yang dipenuhi rasa penasaran atas anatomi tubuh seorang lelaki.


Kini hubungannya dengan Zen sudah berada di titik untuk saling menyukai satu sama lain. Sehingga Sena tidak bisa bersikap biasa saja dengan kondisi tanpa siapa pun di sekitarnya.


Di tambah lagi setelah lima hari mereka berdua menyusuri padang pasir tak berujung membuatnya ingin melampiaskan kebosanan untuk hal lain. Namun sayang, sudah menjadi tanda bahwa Zen adalah tipe lelaki yang sabar dan tetap mengendalikan diri kepada seorang wanita.


Sena berinisiatif memangsa bukan menunggu di mangsa. Meski pun dia sendiri merasa malu, karena pertama kali baginya coba merayu seorang lelaki.


Hasrat Sena lebih besar dari akal sehatnya, dia tidak peduli jika harus memaksa, tapi dengan baju tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya tanpa celah, .


"Zen..." Panggil Sena yang berjalan mendekat ke tempat Zen duduk sekarang.


"Kau sudah selesai mandi." Jawab Zen melirik ke arah panggilan Sena.


Seketika Zen terdiam. Itu cukup efektif untuk menarik perhatian Zen hingga lupa berkedip saat memandanginya.


"Aku sudah..." Balas Sena.


Berusaha sadar, Zen segera memalingkan wajah..."Baiklah sekarang giliran ku untuk mandi."


Tapi cepat Sena menarik paksa tangan Zen agar tidak pergi. Mata bertatapan satu sama lain, keduanya tidak saling bicara, hanya merasakan aroma harum yang membuat mereka ingin lebih dekat lagi.


Berada di tengah-tengah gurun pasir tanpa ada orang lain di sekitar mereka. Tangan Sena mulai melingkar di pinggang Zen, dia tidak mau lelakinya berubah pikiran dan Sena ingin memberi sentuhan bibir sebagai isyarat.


"Sena Tunggu, aku harus mandi." Zen coba mencari alasan.


"Kau bisa melakukannya nanti."


"Aku tidak nyaman, seharian aku sudah berkeringat dan ini bau."


"Aku tidak masalah."


Setelah mereka saling menyatakan perasaan di malam sebelumnya, Sena terlihat begitu agresif, dia kini lebih sering mendekati Zen dan selama perjalanan menyusuri gurun pasir pun, tangan mereka tidak lepas.


Zen sadar jika Sena adalah wanita penuh keinginan untuk sesuatu yang romantis. Dia tidak membenci itu, bahkan Zen merasa senang, karena sudah cukup lama tidak merasakan hubungan antar lawan jenis.


"Apa kau akan membiarkanku tetap seperti ini." Sena secara sengaja memancing Zen.


Dia benar-benar menunjukkan sisi lain dari seorang pahlawan utusan Dewa, Zen tidak bisa menolak keindahan di depan mata yang membuat siapa pun hilang kendali.


Zen mulai mengikuti keinginan sena, dia mendekat dan mulai menikmati bibir mungil yang sangat menggoda milik Sena untuk waktu lama. Itu sangat lembut, seakan-akan akan hancur jika dia terlalu kasar.

__ADS_1


Sena mendominasi dan mendorong jatuh tubuh Zen ke atas pasir, baju tipis yang dia gunakan dilepaskan begitu saja, adrenalin meningkat, detak jantung berdetak kencang, termasuk suhu tubuh yang mulai terasa panas.


Dia tidak memberi kesempatan untuk Zen menghindar lagi, kuat cengkraman tangan agar tetap diam, sedangkan Sena begitu bersemangat untuk terus menikmati ciuman hangat yang tidak ingin dilepaskan.


Tapi Zen lebih kuat, dia mengangkat tubuh langsing itu dengan mudah, wajah Sena tampak kecewa.


"Apa kau tidak menyukai ku ?." Tanya Sena.


Zen merasa bersalah...."Tidak bukan itu, aku menyukaimu, hanya orang bodoh saja yang rela meninggalkan mu."


"Itu artinya kau orang bodoh."


"Kenapa begitu ?."


"Kau tidak mau melakukannya." Ucap Sena seperti memberi lampu hijau.


"Kau itu..... Aku hanya ingin membawamu masuk ke dalam tenda." Balas Zen tersenyum sendiri.


"Kalau begitu bawa aku bersamamu." Bisik Sena tanpa penolakan.


Senyum indah muncul di wajah Sena, dia merasa malu, tapi juga ingin meminta lebih banyak lagi.


Di dalam tenda...


Zen menciptakan sebuah ranjang empuk untuk mereka menikmati waktu, merebahkan tubuh Sena yang kini tidak lagi tertutupi oleh pakaian.


Zen mulai merayap naik, menggoreskan jari jemarinya ke tubuh putih mulus yang tidak tampak sedikit pun cacat, semakin ke atas, semakin bersemangat untuk menjelajahi lekuk aset pribadi penuh kesombongan itu.


Sena tidak menolak, dia menikmati setiap belaian lembut jari Zen yang hinggap di atas aset pribadi. Sedangkan satu tangan lain menelusuri lembah lebih kebawah dengan perlahan dan hati-hati.


Nafas saling memburu, rasa lelah seperti sudah selesai bertarung melawan ratusan monster seorang diri.


"Hei apa kau hanya puas dengan tanganmu saja, sedangkan 'itu' sudah terlihat bersemangat." Ucap Sena menggoda dengan nada lembut yang nakal.


"Apa kau yakin dengan ini Sena." Tanya Zen sedikit rumit.


"Jika aku ragu, kenapa aku tidak menolakmu sejak awal."


Sekali lagi kegundahan hati Zen muncul...."Tapi aku iblis, bagaimana kalau orang lain tahu ...."


"Kau memikirkan hal yang tidak perlu, sudah aku katakan, meski kau raja iblis sekali pun, aku tidak peduli." Jawab Sena.


Meski dikatakan semua baik-baik saja, tapi tetap Zen memikirkan hal lain... "Lalu bagaimana dengan pangeran, bukankah kau sudah bertunangan dengannya."


"Jangan pikirkan orang lain, saat ini hanya ada aku dan kau sekarang, aku ingin lebih, aku benar-benar menginginkan mu, karena kau adalah milikku."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, aku akan memberikan semua yang kau minta." Zen meyakinkan diri.


Sena tampak pasrah, dia tidak menutupi apa pun untuk Zen lihat dan memulai kembali. Ini barulah permulaan dimana Zen sudah siap dengan senjata pusaka yang berdiri tegak tanpa lawan.


"Tolong sedikit lembut, ini adalah pertama kalinya untukku." Ucap Sena dengan wajah merah menggoda.


"Tentu saja, tuan putri."


Senjata sudah berada di posisi yang tepat dan menusuk tubuh Sena perlahan namun pasti, sedikit demi sedikit, hingga separuh bagian telah masuk ke dalam.


Namun seketika, Zen merasa ada sesuatu yang muncul di dalam pikiran, jiwanya di tarik paksa untuk masuk ke alam bawah sadar.


Di dalam ruang serba putih itu partikel cahaya serupa skill pencipta mulai membentuk suatu benda persegi yang Zen pernah lihat.


Tapi kejadian ajaib yang dia alami hanya berlangsung beberapa detik, dia kembali ke mendapat kesadarannya sendiri. Melihat wajah Sena berusaha menahan sensasi sakit yang tidak pernah dia rasakan sepanjang hidupnya.


"Apa kau baik-baik saja. Jika itu sangat sakit aku akan menariknya kembali." Ucap Zen.


"Jangan.... lanjutkan, aku baik-baik saja."


Zen mengakui bahwa ini juga adalah pertama kalinya melakukan sesuatu yang lebih intim kepada seorang wanita. Sehingga dia khawatir, jika Sena merasa sakit atau tidak menyukai perlakuannya.


Tapi mendengar jawaban itu, Zen kembali menusuk tubuh Sena semakin dalam, hingga seluruh bagian ditelannya habis.


"Aaaaaaaaaaahhhhh." Keras suara Sena menjerit.


Tubuh Sena gemetar, kakinya menahan tubuh Zen agar tidak bergerak pergi.


Bagi Zen dia merasa sedang di remas oleh sesuatu yang lembut namun luar biasa kuat, namun ada hal lain muncul, begitu hangat dan basah mulai mengalir bersama noda darah dari luka tusukan senjata miliknya.


Menunggu sejenak hingga kondisi nafas Sena menjadi stabil, Zen perlahan menarik dan mendorongnya lembut. Tapi sekarang Sena terlihat lebih baik, dia tidak seperti menahan rasa sakit, melainkan sesuatu yang terlihat sangat seksi.


"Apa itu masih sakit." Zen merasa khawatir. Takut jika caranya membuat Sena tidak nyaman.


"Hanya sedikit perih, tapi ini lebih baik dan terasa aneh."


"Aneh ?, Apa itu buruk ?."


"Tidak bukan begitu."


Zen seakan paham tentang keinginan Sena, dia mulai bergerak sedikit lebih cepat, menarik dan mendorong, hingga dia bisa merasakan sesuatu menahannya masuk lebih dalam.


Tangan saling berpegangan, bibir terus melekat memberi ciuman, dua aset pribadi Sena menggoda dengan sentuhan lembut dan kenyal.


Hanya lima kali gerakan, senjata itu diremas kuat hingga sulit untuk ditarik keluar. Tubuh Sena kembali gemetar, tapi semangat Zen ingin tetap menghujamkan senjatanya tidak berhenti.

__ADS_1


Sebagai dua orang terpilih dengan ketahanan fisik pahlawan yang sangat kuat, tidak membuat mereka lelah untuk bertarung melawan banyak musuh.


Kali ini berbeda, entah itu Zen atau pun Sena keduanya seperti beradu stamina, energi di kuras habis, tapi tidak ada niat ingin berhenti, bahkan terlihat ranjang sudah basah oleh keringat dan sesuatu yang keluar dari tubuh mereka berdua.


__ADS_2