
Di lantai 50 Dungeon.
Baru pertama kalinya Zen mendengar ada sebuah batu yang bisa bicara. Bisa dipastikan bahwa itu adalah inti jiwa dari Dungeon. Tapi ini menjadi bukti bahwa Dungeon memang dikategorikan sebagai sosok 'makhluk hidup'.
Dari pintu masuk hingga lantai dasar sebagai tubuh yang dimana bisa dikendalikan oleh batu inti jiwa tersebut. Dia mampu menumbuhkan bermacam-macam monster, jebakan dan segala bentuk jenis ruangan.
Namun mengetahui inti jiwa memiliki kesadaran spiritual, ibarat evolusi layaknya binatang iblis sebagai wujud evolusi. Semua itu terjadi karena sudah banyak menyerap energi kehidupan dari para Hunter yang tewas di dalam Dungeon.
Semakin banyak energi Dungeon serap dari para Hunter yang tewas, maka semakin kuat dan cepat perkembangan segala bentuk kesulitan untuk Hunter lawan.
Dan sekarang....
Zen dan Sena tampak takjub ketika sebuah tubuh jatuh dari langit-langit, wujudnya menyerupai sesosok manusia dengan tiga kepala dan enam tangan. Hanya saja makhluk ini memiliki ukuran luar biasa besar.
Bahkan jika ular berkepala dua yang mereka lawan sebelumnya adalah salah satu binatang iblis kategori SS dengan tubuh setinggi puluhan meter, maka makhluk penguasa lantai 50 masuk ke kategori SSS.
Satu kali ayunan tangan guncangan keras yang menghantam tanah bisa dirasakan oleh mereka berdua. Itu baru tepukan tangan seperti ingin membunuh seekor nyamuk, Zen sedikit ketakutan jika kekuatan mahluk besar akan membuat Dungeon runtuh.
Membawa Sena untuk menghindar dari setiap ayunan tangan yang bisa saja memberi luka fatal. Tapi makhluk besar itu membabi buta menghantamkan tangan ke segala arah.
"Bagaimana menurut mu Zen." Sena bertanya dengan senyum pahit.
Tapi Zen paham saat melihat ekspresi Sena...."Bukan sesuatu yang baik untuk di pertanyakan, tapi kita harus membunuhnya dan menaklukkan Dungeon ini agar bisa keluar."
"Kau mengatakan itu seperti mudah dilakukan."
"Jelas tidak, kekuatannya di luar nalar, kemampuan regenerasi seperti membuatnya menjadi makhluk abadi, tapi bukan berarti kita tidak bisa membunuhnya." Zen menjelaskan dengan wajah rumit.
"Apa kau punya rencana." Sena kembali bertanya.
Namun sebelum Zen menjawab, satu tangan datang dari atas, dan sekali lagi mereka menghindar.
__ADS_1
Zen menggunakan skill pencipta untuk melepas serangan dua puluh pedang yang melesat lurus ke arah musuh, tapi dari semua itu tidak memberi hasil, semua senjata terpental jauh tanpa memberi sedikit pun goresan di kulitnya.
Sena coba menyerang, dia sudah mengambil satu busur panah dari skill sembilan senjata.
Melesat satu anak panah yang di lapisi energi element petir, dan itu bisa memberi luka ketika menembus lapisan kulit keras milik sang monster.
Senjata yang Zen ciptakan berbeda dengan busur panah dari skill sembilan senjata, kemampuan Dewa milik Sena memberi satu luka gores dan itu. Cukup dalam, menunjukkan bahwa makhluk yang mereka lawan masih bisa dikalahkan.
Mengetahui hal itu, Sena mengambil senjata lain yang melayang di punggungnya agar lebih efektif, sebuah senapan laras panjang. Serangan dari jarak jauh akan mempermudah mereka menyerang dan menghindar.
Tapi bagi Zen melawan musuh yang jelas memiliki tubuh nyata terasa lebih mudah dari pada jebakan dimensi ilusi, selama mereka terus berusahalah menyerang, maka akan memberi satu kesempatan yang pasti untuk menang.
Zen tidak menyerahkan semua kepada Sena, dia menciptakan pedang dengan tingkat kekuatan lebih tinggi, senjata dengan bahan dasar logam platinum dan itu cukup besar.
Hingga tangan monster datang menghantam mereka, tapi tepat setelah tangan itu jatuh, Zen melepas pedang platinum dari atas langit dan menancapkan telapak tangan ke tanah.
Menghentikan gerak monster untuk beberapa detik, cukup bagi Sena melepas satu tembakan energi sihir tingkat tinggi yang bersarang tepat di kepala hingga menghancurkan separuh wajah.
Raungan keras monster bergemuruh merobek paksa tangannya sendiri dari pedang yang tertancap, namun kecepatan regenerasi fisik milik monster benar-benar luar biasa.
"Huah... Ini akan sulit. Memang diharapkan dari monster kategori SSS." Zen terkejut.
"Jadi apa yang harus kita lakukan."
Zen berpikir, soal kekuatan memang sangat mengerikan, satu tepukan tangan bisa saja membuat mereka luka parah, tapi yang lebih menyulitkan adalah kemampuan regenerasi tubuh itu sendiri.
Jika bukan sihir kuat dan ******* habis tubuh makhluk ini dalam sekali serangan, tentu setiap luka yang mereka berikan tidak akan berarti apa pun.
"Apa aku perlu menggunakan serangan senjata Basoka." Sena memberi saran.
Tapi Zen menolak...."Terlalu berbahaya untuk kita berdua."
__ADS_1
"Jika seperti ini terus tidak akan ada habisnya." Sena pun sadar.
Memang benar, satu tembakan saja akan menghancurkan seluruh tubuh makhluk itu, tapi kerusakan dalam ruangan pun tidak bisa dihindari, sama artinya mereka akan terkena dampak ledakan.
"Sean, apa kau bisa menghancurkan kedua kaki itu." Tanya Zen.
"Sepertinya bisa, tapi aku harus meningkatkan konsumsi energi sihir di dalam senjata."
"Itu bukan masalah, lakukan saja, aku akan menyerang maju." Zen siap bertarung.
"Baiklah, hati-hati Zen."
Sena melompat mundur jauh, dia mencari posisi aman dari pukulan enam tangan yang membabi-buta. Menunggu Sena siap, Zen bergerak maju naik ke atas tangan yang jatuh, mengeluarkan pedang platinum besar dan mulai mencabik kulit agar perhatian Monster tertuju kepadanya.
Satu serangan energi bercahaya kuning keemasan melesat lurus ketika pelatuk ditarik oleh Sena tepat sasaran. Satu kaki monster hancur bersama ledakan besar dan menjatuhkan tubuh itu karena hilang keseimbangan.
Guncangan terasa bahkan seluruh ruangan pun bergetar, tapi ini yang Zen inginkan. Dia yang berdiri di atas punggung melepas skill pencipta, tujuh pedang platinum terbentuk, satu persatu menahan ke enam tangannya dan satu kaki tersisa.
Tapi lebih dari perkiraan Zen, monster itu tidak bisa di jatuhkan dengan mudah, ke tujuh pedang dia lepas paksa meski tubuhnya terkoyak dan kembali regenerasi.
Zen tidak bisa menunggu kesempatan lain, ketika monster itu diam di atas tanah dan Zen menjatuhkan enam pedang besar dari skill pencipta, dia menusuk masing-masing tangan monster agar tidak bergerak.
Hanya saja, monster tetaplah monster, mereka yang belum menumbuhkan kecerdasan spiritual hanya mengikuti naluri luar untuk membunuh musuhnya.
Tidak peduli dengan luka akibat pedang yang menancap di tangan, dia tanpa ragu merobek tangannya sendiri, meski pun perlahan kemampuan regenerasi menutup kembali luka.
"Ini belum cukup..." Keras Zen mengalirkan energi lebih banyak.
Dia tidak memberi kesempatan untuk makhluk itu melepaskan diri.
Kini dua belas pedang besar di jatuhkan kembali oleh skill pencipta dari atas langit dan menumpuk di setiap bagian tubuh hingga benar-benar menghentikan gerak tubuh dari sang monster.
__ADS_1
"Dan yang terakhir...." Ucap Zen keras.
Satu penciptaan lain yang lebih besar datang terakhir, dimana pedang dengan ukuran sama seperti tubuh monster jatuh di tengah-tengah punggung.