
Zen hanya berpikir, jika dia tidak terlalu mengenal kota Ser Din, sehingga butuh bantuan Eri atau pun orang lain untuk mengantar ke penginapan nanti.
Tapi sebelum itu, Zen kembali masuk ke dalam guild dan berjalan menuju meja administrasi. Jelas berbeda saat dia ingin menjual mayat binatang iblis, dimana untuk urusan pendaftaran semua diserahkan ke bagian administrasi.
"Ada yang bisa kami bantu tuan." Sopan wanita itu menyambutnya.
Dia tentu harus menunjukkan sikap profesional dalam bekerja, selalu tersenyum kepada semua orang yang datang. Selain itu juga, karena tahu bahwa Zen yang membawa binatang iblis sebelumnya, sehingga dia memberi sikap hormat tinggi.
"Nona, aku ingin mendaftar sebagai Hunter baru." Jawab Zen.
"Kalau begitu silakan isi formulirnya terlebih dahulu."
Semua yang harus Zen isi bukan hal khusus, hanya sekedar nama, usia dan jenis kelamin, ada pun tambahan 'keterangan khusus' itu seperti hewan kontrak, roh kontrak atau pengikut. Zen melewatkannya.
Sedangkan nama yang dia gunakan sekarang, Hanzen, itu bertujuan agar bisa menghindar atas masalah terhadap Pangeran Alvardo beberapa hari lalu.
Cepat kartu member guild Hunter dibuat, dan sebuah lencana besi. Ini adalah tingkat dasar dari para Hunter.
"Baiklah, ijinkan aku untuk menjelaskan beberapa hal mengenai Hunter."
"Silakan nona."
Nona di bagian administrasi pun menjelaskan..."Tuan Zen, tingkat lencana Hunter akan di nilai setelah anda menyelesaikan tugas, semakin banyak tugas di selesaikan, maka tingkat lencana Anda akan semakin tinggi."
"Aku mengerti."
"Peringkat Hunter terbagi menjadi tujuh lencana, besi, perunggu, perak, emas, platinum, Mytril, Adamantium."
"Bukankah ada satu lagi." Tanya Zen.
"Oh, maksud tuan, lencana kerajaan ?."
"Ya itu."
"Untuk lencana kerajaan sendiri tidak di nilai oleh guild, melainkan lencana kehormatan yang diberikan oleh sebuah kerajaan atas kontribusi besar seorang Hunter."
"Aku baru tahu."
Kembali ke inti pembahasan yang diberikan oleh nona administrasi.
"Bagi Hunter baru, paling tidak, selama satu bulan, tuan Hanzen harus menerima satu tugas, jika tidak, maka keanggotaan anda sebagai Hunter akan hangus."
__ADS_1
"Baiklah itu bukan hal sulit." Mengangguk kepala Zen paham.
"Jadi biaya pendaftaran 10 koin perak."
Setelah Zen menyerahkan uang administrasi, maka dia secara resmi menjadi anggota guild Hunter dan menerima kartu keanggotaan.
Di luar sudah menunggu satu wanita cantik yang selalu tertunduk malu dengan poni menutupi mata, Hiyo.
Zen mendekat dan menoleh ke sekitar..."Nona Hiyo, Dimana Eri ?."
"Eri, pergi, katanya dia memiliki urusan lain." Jawabnya ragu-ragu.
"Ah begitu.... Padahal dia sendiri yang menawarkan untuk mengantar berkeliling, tapi kenapa dia yang pergi duluan."
"Kalau tuan Zen mau.... Aku... saja yang membawa anda berkeliling kota." Hiyo bicara tapi suaranya lirih dan tidak berani menatap Zen secara langsung.
"Jika memang tidak merepotkan nona Hiyo, aku akan senang." Zen menerima.
"Tentu saja tidak."
"Tapi sebelum itu, tolong nona Hiyo jangan panggil aku tuan, bagaimana pun juga, kita seumuran."
Kota Zer Din, tidaklah sebesar kota kerajaan pusat, hanya ada kios-kios pedagang kecil di jalanan kota dan penginapan sederhana. Sedangkan para penduduk yang hidup di sekitar, terlihat cukup makmur sebagai petani atau pun Hunter.
Tapi Zen pun tidak berniat untuk menetap di kota Ser Din, dia hanya sekedar singgah dan melanjutkan perjalanan menuju tempat lain.
Langkah kaki Hiyo berjalan perlahan, dia sangat pemalu ketika harus mengikuti Zen di sebelah. Sedangkan dalam pikiran Hiyo ada sedikit kekesalan karena ulah Eri yang membuat dia terlibat bersama Zen.
'Apa-apaan Eri itu, padahal dia yang menawarkan diri untuk menemani Zen, tapi kenapa sekarang harus aku, harusnya dia tahu kalau aku tidak pandai berkomunikasi.' pikir Hiyo.
"Nona, ada apa ?." Tanya Zen melihat Hiyo yang menginjak-injak tanah seperti sedang marah.
"Ti-tidak, aku hanya bingung.... Harus memulainya dari mana." Ucap Hiyo lirih dengan wajah tertunduk malu.
"Kalau begitu, bagaimana dengan penginapan ?."
Sejenak Hiyo tertegun..."Pe-pe Penginapan ?, A...aku... Aku tidak bisa."
"Tidak bisa ?, Kenapa ?." Zen merasa aneh.
Melihat jelas tatapan mata Zen yang sedikit menunduk agar bisa saling pandang.
__ADS_1
"Ini masih terlalu cepat, kita baru berkenalan siang tadi." Jawab Hiyo dengan wajah merah padam.
"Apa ada yang salah dari itu ?." Zen bingung, tapi merasa lucu ketika melihat kegugupan Hiyo.
Seketika Hiyo sadar, jika dia sudah memikirkan hal lain...."Tidak, maafkan aku."
Ekspresi Hiyo terkejut, wajahnya merah merona karena malu akibat imajinasinya yang sudah salah sangka, tentang tujuan Zen.
Setelah mengantar ke penginapan dan mendapat satu kamar untuk Zen beristirahat, Hiyo pun berpamitan pulang, tapi sebagai lelaki yang harus menjaga seorang wanita, dia menawarkan diri menemani Hiyo sampai ke rumah.
Hiyo tidak memiliki alasan untuk menolak tawaran Zen, dimana dia pun tampak ragu-ragu dan takut ketika harus pulang malam tanpa Eri yang biasa menemani dirinya.
Suasana malam di kota Ser Din, tidaklah terlalu ramai seperti ibu kota kerajaan. Meski di bilang kota, tempat ini adalah wilayah ujung di kerajaan Zorgan.
Terdiri dari 168 kepala keluarga, berprofesi sebagai petani, Hunter, pedagang dan buruh yang lebih menikmati hidup di kota kecil dengan santai.
Sedangkan ada juga dari orang-orang di kota Ser Din lebih memilih pergi merantau ke kota kerajaan yang menjadi zona ekonomi utama, pusat perdagangan dan juga wilayah pemerintah. Karena di sana mereka bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik.
Tidak ada bedanya dengan kehidupan orang-orang di negara Zen sebelumnya.
Namun ada sisi baik hidup di tempat seperti kota Ser Din, dikarenakan minimnya penghasilan ekonomi, membuat tindak kejahatan dan kriminalitas sangat rendah.
Benar-benar tempat bagi para Hunter yang ingin menghabiskan masa tua mereka dengan tenang dan santai.
Suasana canggung pun dirasakan jelas oleh Zen karena Hiyo adalah wanita pendiam tanpa mau bicara jika tidak di tanya. Dia pun mengambil inisiatif untuk bicara.
"Nona Hiyo, aku mendengar Senko dan Eland jika kau memiliki potensi besar untuk berlatih energi sihir lebih tinggi. Tapi kenapa kau tidak mau melakukannya ?." Zen cukup pandai dalam mencari topik pembicaraan.
"I-itu tidak seperti yang mereka pikirkan Zen. Senko dan Eland hanya beranggapan terlalu besar, sedangkan aku bukan orang berbakat atau pun memiliki kekuatan luar biasa." Jawabnya sedikit murung.
"Tapi apa yang aku rasakan dari aura mu. Kau sebenarnya bisa saja berkembang lebih tinggi lagi, hanya saja..."
"Hanya saja apa ?." Hiyo penasaran akan kelanjutannya.
"Maaf jika aku menyinggung perasaan mu, nona Hiyo, kau hanya kurang percaya diri dan selalu berpikiran pesimis."
"Biarkanlah seperti ini, aku sudah cukup dengan hidup apa adanya."
"Aku tidak bisa memaksa jika itu yang kau inginkan." Balas Zen tersenyum.
Sesampainya di rumah kecil pinggiran kota Ser Din, di sana ada Eri yang menjadi teman satu kamar Hiyo. Zen pun segera kembali ke penginapan untuk beristirahat.
__ADS_1