
Seorang pelayan membawa gadis elf kecil itu ke ruangan VIP, tangan dan lehernya terikat rantai, tubuh yang kurus penuh luka, wajah pucat dan ketakutan.
Sangat jelas terlihat bahwa gadis kecil ini mengalami nasib buruk selama menjadi budak. Bahkan mungkin dia tidak mendapat makanan yang cukup sehingga tubuhnya begitu kurus.
Zen pun memberikan satu kantong uang pembayaran sejumlah 3.200 koin emas dan menandatangani kontrak perjanjian.
"Sekarang kau adalah miliknya." Ucap pelayan itu menghadapkan kepada Zen.
Berjalan mendekati dengan ragu-ragu, dia pun segera bersujud di depan Zen.
"Elf kecil berdiri lah kau tidak perlu takut kepadaku, aku tidak akan melakukan hal kejam." Ucap Zen mencoba bersikap lembut.
"Baik tuan." Jawabnya lirih.
Lirikan mata gadis kecil itu mengarah ke makanan cemilan dan buah-buahan yang di hidangkan oleh pihak rumah lelang kepada tamu VIP.
"Hei, siapa namamu ?." Tanya Zen.
"Aku ... Lify Orion Zeha."
"Ok, baiklah Lify apa kau lapar ?."
Anggukan kecil dengan wajah takut, dia merasa bahwa majikannya akan marah jika dia mencoba makan tanpa di perintah terlebih dahulu.
Tapi sekarang semua berbeda, Zen bukan manusia kejam dan berlaku kasar kepada gadis kecil, sehingga dari balik ruang penyimpanan khusus, dia mengeluarkan satu panci besar bekal makanan yang dia buat sendiri.
Menuangkan sup kari burung Carmalin, di dalam mangkok dan memberikannya kepada gadis kecil.
"Ambilah dan makan."
"Tapi apa tuan yakin, tuanku sebelumnya melarang ku untuk makan kalau belum bekerja." Ucapnya ragu-ragu.
"Hei sekarang siapa tuanmu, aku atau orang jahat itu ?."
"Benarkah ?." Tanya gadis elf kecil itu penuh harapan.
"Tentu saja, bahkan jika kau tidak makan dengan teratur, kau akan mendapat hukuman." Zen berusaha mengubah cara pandang gadis kecil.
"Baik tuanku."
Penuh semangat dan suara gemuruh perut kosong, Lify mengambil mangkok di tangan Zen untuk dia makan di bawah lantai.
Dia pun mulai mengambil daging serta sayuran dengan tangannya yang kotor, merasa sedikit panas Lify meniup uap agar lebih dingin dan kembali mengunyah.
Tapi si sisi lain, orang-orang di sekitar meja Zen merasa risih karena melihat Lify hanya budak yang kotor dan dekil sedang makan.
Terlebih lagi untuk seorang manusia anggota keluarga kerajaan itu, dia memasang wajah aneh dan menjauhkan diri karena takut Lify membuat pakaiannya kotor.
"Anak muda, kau terlalu baik kepada seorang budak, suatu hari nanti mungkin dia akan membantah perintah mu." Ucap lelaki anggota keluarga kerajaan dengan sinis.
__ADS_1
"Apa peduli mu, dia adalah budak ku, terserah bagaimana aku akan merawatnya." Jawab Zen tersenyum.
Lelaki itu tidak senang mendengar cara bicara Zen kepadanya, tapi dia pun harus menjaga sikap karena di rumah lelang ini, segala tindak kekerasan dilarang.
Pak tua di sebelah Zen semakin dekat, mengendus-endus karena tertarik dengan isi panci yang dia keluarkan.
"Ngomong-ngomong makanan apa yang kau berikan kepada gadis elf kecil itu. Aku mencium aroma sangat enak." Ungkap penasaran.
"Sup burung Carmalin..."
Semua orang terkejut, bahkan anggota keluarga kerajaan itu sampai menumpahkan minuman dari gelasnya.
"Kau bodoh, itu makanan mewah, bagaimana mungkin kau memberikannya kepada budak ini." Lelaki anggota keluarga kerajaan seakan tidak terima.
"Kau tidak perlu berkomentar apa pun, lakukan bisnis mu sendiri, jangan ganggu urusanku." Balas Zen kesal.
Memang benar jika daging burung Carmalin sangatlah berharga, hanya para bangsawan dan anggota keluarga kerajaan saja yang mampu membelinya untuk mereka makan.
Zen melihat betapa elf kecil itu terlalu lapar, hanya perlu sekejap mata, satu mangkok telah habis dan dia pun terlihat murung.
"Apa kau mau lagi ?." Tanya Zen.
"Tidak perlu tuan, jika aku makan lagi bagaimana dengan tuan ?." Ucapnya menolak.
"Hei ini masih banyak, meski pun kau ingin menghabiskannya aku bisa membuat yang lain." Jawab Zen.
Segera makan dan lupa jika sup masih panas.
"Bersabarlah, tidak ada orang yang akan mengambil makanan mu."
"Baik tuan." Jawab gadis itu untuk makan lebih santai.
Sedangkan pak tua yang ada di samping Zen, tampak tertarik setelah mencium aroma kenikmatan masakan sup burung Carmalin.
"Hei anak muda, apa boleh aku meminta sedikit sup itu." Ucapnya memaksa.
"Tentu, jika anda tidak keberatan, karena ini sama saja berbagi makanan dengan seorang budak." Jawab Zen yang tahu bahwa orang lain tidak senang atas perlakuannya kepada Lify.
"Aku tidak peduli, aku merasa ini adalah makanan yang sangat enak."
"Silahkan anda mencobanya sendiri."
Menuangkan satu mangkok penuh kepada pak tua itu, dia pun segera mengambil untuk mencicipinya, tapi barulah kuah masuk kedalam mulut, mata yang tampak tidak bersemangat karena mabuk, kini terbuka lebar.
Dalam beberapa detik semua isi di mangkok pak tua habis tanpa sisa.
"Lagi...." Dia meminta kembali kepada Zen.
"Kau itu hanya ingin mencobanya atau memang lapar pak tua." Tanya Zen rumit.
__ADS_1
"Aku baru pertama kali merasakan kenikmatan luar biasa ini, sungguh... Makanan mu jauh lebih enak dari buatan juru masak yang aku miliki." Puji pak tua begitu besar.
"Aku merasa senang atas pujian mu."
Setelah satu panci besar itu habis oleh dua orang saja, terlihat pula wajah puas dari Lify dan pak tua.
"Aku merasa ini makanan cukup untuk sepuluh orang. Tapi kalian berdua bisa menghabiskannya."
Setelah pak tua merasa kenyang, seketika dia menginginkan sesuatu kepada Zen.
"Hei, bagaimana jika aku membayar mu untuk membuat makanan di pesta hari pernikahan istriku nanti. Aku yakin istriku akan senang makan makanan seenak ini."
"Hmmm aku tidak keberatan, selama anda mau membayar." Jawab Zen.
"Tentu saja, biar setelah acara lelang ini selesai, kita bicarakan di luar."
Dan kini barang ke lima atau yang terakhir di dalam pelelangan pun akhirnya muncul.
Itu adalah satu buah tulang panjang dan besar berwarna putih susu yang mengkilap cerah.
"Ini dia yang paling kita tunggu, benda paling spektakuler untuk kami lelang, daging naga berusia 500 tahun, seberat 150 kilogram."
Siapa pun tentu akan terkejut dengan namanya, daging naga, ya makhluk buas terkuat di dunia, dimana setiap bagian tubuh dari seekor naga adalah harta karun.
Entah itu tulang, kulit, darah, kuku, sayap, daging, jantung, hati, usus, paru-paru, ginjal bahkan kotoran sekali pun, mereka memiliki nilai komersil tinggi dan sangat berharga.
"Baiklah tuan-tuan dan nyonya- nyonya, untuk pertama kami buka harga di angka 2.300 koin emas."
Sebuah nominal yang sangat besar untuk daging naga muda berusia 500 tahun.
"2.500 koin emas."
"2.800."
"3.000...."
Zen pun berharap bisa mencicipi rasa daging dari makhluk iblis kategori Legenda tersebut, tapi bisa dipastikan harga di akhir nanti akan mencapai lebih dari lima ribu koin emas dan itu di luar jangkauan dompetnya.
"Bocah, apa kau bisa memasak daging naga ?." Tanya pak tua.
"Hmmm selama aku bisa mendapat daging naga itu, aku pastikan kau menikmati makanan yang jauh lebih enak dari sup burung Carmalin tadi." Jawab Zen.
"Baiklah kalau begitu." Pak tua memiliki tujuan terhadap daging naga.
Seketika pak tua berdiri, dia mengacungkan tangannya tegas untuk mengajukan harga.
"4.000 koin emas." Ucapnya dan semua orang yang penuh antusias pun segera terdiam.
Zen tertawa senang, pak tua ini benar-benar bukan sembarangan, dia seenak jidat menaikan harga tinggi, seakan-akan itu hanya uang receh untuk dirinya.
__ADS_1