KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Rumah lelang


__ADS_3

Setelah keduanya sepakat, begitu juga Zen memberi satu kantong penting berisi koin emas, mutiara hitam kini telah ada di tangan.


Tapi tidak lama kemudian, muncul satu kelompok manusia yang datang ke tempat lelaki paruh baya itu.


"Kakek dimana mutiara hitam nya, aku sudah membawa uang yang kau inginkan." Tanya salah satu dari kawanan bandit itu


"Maaf tuan tapi itu sudah terjual." Jawabnya sedikit ketakutan.


"Apa kau mau main-main dengan bandit Sanziu." Bandit itu mengancam.


"Tidak tuan bukan begitu. .."


Tanpa sengaja Zen mendengar dia sangat marah karena tahu benda yang dinginkan oleh ketua kelompok bandit Sanziu telah berada di tangan orang lain.


"Padahal kami sudah mempersiapkan seribu lima ratus koin emas seperti yang kau minta. Tapi kau ...." Rumit wajahnya kesal.


"Memang benar tuan, tapi aku membutuhkan uang dalam waktu dekat, tentu tidak mungkin aku menolak tawaran dari tuan tersebut." Penjual itu semakin ketakutan.


Tidak ada yang menyadari jika keberadaan Zen hanya sepuluh langkah dari tempat mereka.


Hanya saja, di sisi lain Zen terkejut, karena penawaran dari kakek itu kepadanya adalah Dua ribu koin emas, sedangkan dia membuka harga untuk para bandit hanya seribu lima ratus.


Merasa kesal karena telah di permainkan, hingga Zen berniat kembali menghampiri orang tua penjual mutiara hitam itu dan mengajukan komplain.


Baru beberapa langkah, dia mendengar perkataan para bandit... "Kepada siapa kau menjualnya ?."


Sejenak Zen terdiam, dia jelas berada dalam masalah karena niat para bandit seperti ingin mengambil mutiara hitam dengan paksa.


"Itu dia, aku menjualnya kepada tuan tersebut." Ungkap pak tua dengan menunjuk ke arah Zen.


Demi menyelamatkan dirinya sendiri, si pedagang tidak segan-segan mengarahkan para bandit untuk bicara dengannya.


"Sungguh beruntung, kami tidak perlu repot-repot mencari mu." Ucap salah satu dari sepuluh bandit Sanziu.


Zen merasa harus waspada..."Apa yang kalian inginkan ?."


"Tenang saja tuan, kami hanya ingin mengajukan bisnis kepada anda." Ungkapnya.


"Soal mutiara hitam ?." Zen paham tentang tujuan mereka.


"Aku senang kau cepat tanggap dan tidak perlu menjelaskan lagi."


"Tapi maaf, aku tidak berniat menjualnya kembali." Jawab Zen.

__ADS_1


Sebuah benda yang langka dan hanya bisa terwujud setelah ribuan tahun, tentu mustahil Zen mendapatkannya dalam waktu dekat.


Dia memberi penawaran...."Seribu koin emas, tentu itu cukup untuk mengembalikan uang mu."


"Huh ?, Apa kau bodoh, aku membelinya seharga dua ribu koin emas, jelas tidak sebanding." Tapi Zen jelas menolak.


Seakan tidak senang untuk jawaban Zen, lelaki itu menunjukkan ekspresi kesal dan berniat memaksa.


"Apa kau tahu dengan siapa kau berhadapan sekarang ?."


"Rentenir ?." Asal saja jawaban Zen.


Dia terkejut dan merasa aneh atas ucapan Zen...."Bukan, apa kau tidak tahu siapa kami ini ?."


"Tidak ." Santai Zen membalas.


Satu bandit itu memperkenalkan diri..."Aku yakin kau orang baru disini, baiklah, aku adalah Rolfo, kepala bagian di bandit Sanziu, kelompok yang menguasai wilayah ini. Jika kau memberikannya setengah harga, aku pastikan kau mendapat perlindungan dan tidak akan ada yang berani mengusik mu di sini."


"Maaf, aku tidak butuh kalian hanya untuk mengurus diriku sendiri."


Senyum di wajah Rolfo jatuh, dia semakin kesal mendengar penolakan dari Zen meski dia tahu bahwa jawabannya itu sama saja dengan mempermalukan nama bandit Sanziu.


"Jangan salahkan aku kalau kami sedikit memaksa." Ancamnya keras.


"Peduli apa." Tertawa Rolfo .


Zen di tarik paksa untuk ikut mereka ke sebuah tempat sepi yang tidak akan ada orang lain melihat.


Meski pun begitu, di dunia gelap setiap makhluk yang datang ke tempat ini, seakan tidak peduli soal urusan mereka dan lebih memilih untuk mencari aman tanpa perlu membuat masalah.


Namun baru saja mereka masuk ke dalam gang sempit, Zen sudah berjalan keluar dengan santai. Semua bandit itu sudah terkapar jatuh tidak sadarkan diri.


Setelah Zen pergi menjauh, para bandit pun akhirnya sadar dan berlari keluar untuk mencarinya.


"Si*al, cari orang itu, ketua mungkin akan marah, jika kita tidak mendapatkan mutiara hitam Dolam."


Mereka berpencar, berlari ke segala arah demi menemukan Zen untuk mengambil mutiara hitam yang dia miliki.


Zen merasa tidak nyaman karena dia telah melanggar satu peringatan dari Hanna, agar menghindari masalah dengan tiga kekuatan di Dunia gelap, namun sekarang kelompok bandit Sanziu sedang mencari dirinya.


Meski begitu, ini adalah bisnis, Zen sudah memilikinya dan tidak bisa diganggu gugat lagi.


Menyelinap diantara kerumunan makhluk-makhluk dari bermacam jenis itu, kini Zen bertujuan untuk menghadiri acara lelang.

__ADS_1


Berada tepat di wilayah pusat.


Rumah lelang memang menjadi salah satu tujuan dari orang-orang yang ingin mendapat barang antik dan juga langka.


Keluarga iblis kaum Gouna adalah pemilik rumah lelang, mereka menyajikan para tamu dengan pelayanan terbaik tanpa membandingkan siapa pun dari golongan lain.


Di pintu depan Zen di sambut oleh wanita-wanita iblis cantik yang mengantarkan dirinya ke meja administrasi.


"Apa tujuan anda tuan.... Siapa ?." Tanya lelaki di meja administrasi.


"Aku Hanzen, aku ingin ikut dalam lelang dan juga membawa barang yang aku miliki untuk di lelang." Jawab Zen menyamarkan identitas.


"Bisa kami lihat barang seperti apa yang ingin anda lelang ?. Karena kami harus memastikan kualitas sebagai tolak ukur harga jualnya."


Zen mengeluarkan batu jiwa binatang iblis besar yang jelas membuat lelaki administrasi tertegun. Itu adalah batu jiwa dari binatang iblis kategori SS di dalam Dungeon.


Baru jiwa ular kepala dua, penguasa lantai 40.


Secara binatang iblis kategori S - SSS sangatlah berharga karena binatang itu sendiri memiliki sumber energi yang begitu banyak dan bisa diserap untuk memperkuat kekuatan mereka.


"Baiklah tuan, kami akan menerima barang anda ini untuk di lelang, silakan masuk dan nikmati acaranya."


"Terimakasih."


Secara khusus, Zen diberikan sebuah topeng agar identitasnya bisa di rahasiakan, namun ajaib, topeng itu juga mampu menekan aura mereka hingga tidak bisa di rasakan oleh makhluk lain.


Dia pun dibawa ke sebuah tempat VIP yang hanya terdiri dari beberapa orang saja.


Mereka semua tamu-tamu khusus dan mungkin memiliki nama besar di dunia permukaan, sehingga tidak aneh jika ada salah satu diantaranya adalah anggota kerajaan.


Mengambil satu kursi di sebelah lelaki tua yang menikmati segelas minuman keras untuk dirinya sendiri.


"Aku seperti melihat ada orang baru." Ungkapnya dengan menyindir kepada Zen.


"Apa aku tidak diperbolehkan untuk ikut dari ruangan ini, tuan ?." Jawab Zen bersikap sopan.


"Tidak bukan begitu, tapi aku baru pertama kali melihat anda, jadi tidak perlu tersinggung atas perkataan ku." Perjelas lelaki tua itu tertawa senang.


"Tentu saja tidak, aku yang muda masih tahu sopan santun kepada orang lebih senior."


"Aku suka dengan cara mu bicara." Balasnya selagi menenggak minuman.


Sedikit obrolan antara Zen dan lelaki tua yang duduk di sampingnya, hingga beberapa saat kemudian, tirai pelelangan pun terbuka dan acara pun di mulai.

__ADS_1


__ADS_2