KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Camping


__ADS_3

Zen tidak menyukai situasi seperti sekarang, mereka berlima hanya mencari perhatian dari Sena, menganggap diri mereka kuat sehingga bisa membuat seorang gadis keras kepala itu terkagum-kagum.


Namun sebelum keributan semakin panas, Zen pun angkat bicara untuk menghentikan Sena mengoceh.


"Tuan-tuan semua tolong maafkan aku, bukan bermaksud membuat anda semua marah, tapi ini tidak seperti yang kalian kira. Aku hanya orang lemah jadi mohon mengerti."


Mereka berlima tertawa terbahak-bahak ketika melihat Zen membungkukkan kepala untuk mengaku kalah.


"Kalau kau menang lemah, cari teman yang setara denganmu, Sena tidak pantas untuk kau dekati, mengerti." Ditunjuk depan hidungnya.


Zen masih tersenyum bodoh...."Aku mengerti tuan-tuan, harusnya aku sadar bahwa memang aku tidak pantas bersama Sena."


"Putri Sena." Ucap mereka meralat panggilan dari Zen.


Zen mengangguk paham..."Ya ... Putri Sena."


"Benar begitu, rakyat jelata harus tahu bahwa berhadapan dengan kami para bangsawan, aku masih memiliki belas kasih, jadi kau pergilah."


"Tentu saja tuan, aku mengerti."


Zen memutuskan pergi seperti keinginan mereka, dia bukan anak kecil yang semudah itu tersulut emosi dan membalas dengan perkataan kasar.


Namun setelah kepergian Zen, Sena pun datang mengikutinya dari belakang. Dia merasa tidak terima untuk sikap Zen yang tersenyum bodoh di hadapan bangsawan sombong.


"Apa-apaan kau itu Zen, bagaimana bisa kau merendahkan dirimu kepada mereka. Jelas-jelas perkataan mereka adalah penghinaan." Tegas Sena yang kesal sendiri.


Zen berusaha tetap sabar, dia terlalu malas untuk meributkan apa pun...."Sudahlah bukan masalah, ini hanya hal sepele, kau tidak perlu marah."


"Jika aku jadi kau aku sudah hajar mereka." Sena memanas-manasi penuh emosi.


"Itu karena kau tidak perlu takut dengan ancaman para bangsawan, tapi bagaimana denganku ?, Kau harusnya sadar siapa aku dan keluargaku, kami bukan manusia, dan jika ada orang lain tahu, tentu masalah akan semakin lebih buruk." Kini tinggi suara Zen membalas Sena.


"Aku bisa saja melindungi mu."


"Terimakasih, tapi itu tidak perlu. Aku hanya berharap kau tidak membawaku kedalam tujuan egois mu." Zen tidak mengharapkannya.


Semua ini bukan hanya tentang beradu kekuatan saja, selama puluhan tahun keluarga Zen bersembunyi di balik kehidupan manusia, menghindari segala masalah dan berusaha untuk tidak menyakiti mereka.


Jika keributan terjadi, tentu dampaknya adalah para bangsawan akan mengusik kehidupan keluarga Mivea, dimana itu juga akan membuat mereka sadar bahwa Zen, Remus dan juga Tifa bukanlah manusia.

__ADS_1


Misal pun mereka hanya sekedar di usir dari kerajaan, itu bukan masalah besar. Tapi mana kala hukuman mati di tetapkan, mustahil bagi Zen untuk membela diri.


"Sudahlah lupakan, aku ingin kau menjauh, semua masalah ini datang karena kau terlalu dekat denganku." Zen meminta dengan sopan.


Sena berdiri diam ketika zen melangkah pergi meninggalkannya sendirian.


*******


Malam telah datang, di dalam Dungeon pergantian waktu siang dan malam mengikuti dunia luar. Dimana batu cahaya di atas langit-langit zona aman akan menjadi redup.


Para murid akademi Zezzanaza pun memasuki penginapan yang disediakan oleh master Ziza.


Tapi sayangnya tidak dengan Zen, karena dia bukanlah bagian dari murid akademi sehingga memutuskan untuk tidur di tepian danau.


Dia sudah menciptakan tenda dan api unggun, duduk termenung selagi menghangatkan tubuh.


"Tidur di luar seperti ini, tidak terlalu buruk, ini mengingatkan ku seperti camping dulu."


Zen mengambil beberapa daging dari dimensi penyimpanan khusus. Kemudian dia bakar untuk makan malam, saus barbeque sudah cukup membuat cita rasa daging ular Doua berduri jauh lebih nikmat.


Hingga harum aroma daging panggang tercium saus barbeque tercium di hidung beberapa tamu yang datang.


Dia sadar, bahwa masalah siang tadi belum lah selesai, kelima murid itu ingin melampiaskan kekesalan mereka karena sebelumnya ada Sena yang membela.


Hanya saja, jelas dari sifat mereka jika ada niat buruk kepadanya.


"Apakah kau pikir kami akan melepaskan mu begitu saja."


"Harusnya aku tahu itu.... Jadi apa yang kalian inginkan, memintaku untuk bersujud, menjilat kaki atau memijat pundak. Aku tidak masalah." Balas Zen.


"Itu tidak membuat kami senang. Kalian bertiga hajar dia." Perintah satu orang yang menjadi kepala geng.


Tapi baru beberapa langkah maju mendekati Zen, tubuh mereka berlima seketika berhenti bergerak.


"DIAM KALIAN SEMUA."


Tidak ada satu orang pun mampu melepaskan diri atas sugesti dari ucapan Zen setelah mengeluarkan tatapan mata pengikat jiwa kaum Ra'e.


"Padahal aku sudah meminta maaf, tapi kalian benar-benar keras kepala. Sebaiknya apa yang harus aku lakukan." Gumam Zen merasa lelah.

__ADS_1


Sejenak berpikir tentang bermacam cara melenyapkan kelima orang tidak tahu diri itu sebagai efek jera.


"Apa aku memerintahkan mereka berlari telanjang keliling danau sambil bernyanyi.... Itu sepertinya kurang efektif, mereka pasti akan mencurigai ku." Gumam Zen serius.


Kembali dengan ide-ide lain yang terlintas dalam pikirannya.


"Hmmm... Jika ini .. AKU INGIN KALIAN SEMUA PERGI KELUAR DAN MENYERAHKAN DIRI SEBAGAI MANGSA PARA MONSTER.... ya seperti itu lebih baik."


Tidak akan ada bukti selama mereka tewas dan mengkambinghitamkan binatang iblis atas kejadian itu.


Setelah kelima orang itu pergi meninggalkan tempat camping Zen. Dari belakang tenda datang kembali sebuah bayangan yang datang.


Zen waspada, dia tidak bisa membiarkan ada orang lain yang tahu soal perintah itu.


"Zen apa kau sudah tidur."


Lepas nafas lega mendengar suara itu...."Sena ?, Kenapa kau kemari ?."


Sena muncul di sebelah api unggun dengan wajah tertunduk murung...."Aku ingin meminta maaf atas perkataan ku siang tadi."


Terasa salah dia mendengar..."Tidak seperti biasanya, apa kau sakit ?."


"Apa Seaneh itu, jika aku ingin minta maaf." Sena tidak habis pikir.


"Sebenarnya iya, tapi... Sudahlah lupakan saja, anggap semua tidak pernah terjadi."


"Jika kau bilang begitu aku tetap merasa bersalah, aku benar-benar lupa tentang hidupmu sekarang."


"Kalau kau tetap merasa bersalah, apa kau berniat menebusnya ?." Tanya Zen.


"Kalau memang itu yang kau inginkan."


Sepintas pikiran jahat datang di otak Zen, hampir mustahil seorang lelaki yang masih memiliki nafsu tidak tertarik kepada Sena. Namun dia bukan iblis yang selalu memanfaatkan manusia dalam kesempatan.


Berdiri saling berhadapan, mata yang bertatapan langsung, wajah Sena merah padam dan gugup ketika Zen tersenyum kepadanya.


"Tenang saja, aku bukan pendendam, jadi jangan khawatir." Ucap Zen selagi mengusap rambut merahnya perlahan.


"Jangan menganggap ku anak kecil. Padahal kau lebih muda dariku." Sena malu.

__ADS_1


"Tapi aku tetap lebih tua, jika di hitung dari kehidupan yang lalu."


Entah kenapa sedikit hati Sena merasa kesal, dimana dia tidak mendapat apa yang diharapkan dan semua selesai begitu saja.


__ADS_2