KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Keluarga Mivea


__ADS_3

Ribuan monster meraung-raung keras dan mulai bergerak menuju dinding luar wilayah kerajaan yang sudah di jaga ketat oleh para prajurit bersenjata lengkap dari atas dinding.


Selain itu juga sudah bersiap para pasukan pemanah dan ahli sihir untuk melakukan serangan dari jarak jauh. Seorang komandan yang menggunakan zirah perak bernama Darza Volta bersiap memberi tanda kepada semua prajuritnya.


"Semuanya bersiap, dan serang...." Teriakan komandan Darza mengayunkan pedang.


Beratus pasukan ahli sihir mulai merapalkan mantra dan melepas serangan energi sihir dari bermacam elemen.


Pertahanan dari pasukan penjaga cukup kuat untuk menahan gerak para monster agar tidak menerobos masuk ke wilayah dalam kerajaan Villian.


Setiap kali ada monster yang merayap naik, pasukan tombak dan pedang menghujamkan senjata mereka agar tidak ada satu monster bisa lolos.


"Orang-orang yang sudah kehabisan energi, segera mundur dan di gantikan pasukan lain." Darza memberi arahan.


Ratusan Hunter pun mendapat bagian untuk menyerang, dimana mereka tidak mau kalah dengan para pasukan kerajaan. Melompat turun dari atas dinding dan mulai bertarung tanpa ragu.


"Hmmmp, dasar manusia bar-bar, jika kalian tewas, itu menjadi keuntungan untuk kami, agar tidak perlu mengeluarkan uang lebih." Ucapnya dengan pandangan mengejek.


Darza tidak peduli soal keselamatan para Hunter. Dia memberi kebebasan bagi mereka untuk bertarung, karena menurut Darza, selain pasukannya sendiri, para Hunter tidak lebih sebagai alat saja.


Selama dua jam, semua berjalan lancar, ratusan monster berhasil di tumbangkan tanpa ada satu kesalahan. Bahkan puluhan monster yang setara dengan binatang iblis kategori A pun tewas oleh serangan ahli sihir beruntun.


Hal ini membuat komandan Darza senang, dia tentu merasa rencana pertahanan dari atas dinding yang dia buat mampu menghabisi para monster.


"Aku sudah bisa membayangkan kenaikan pangkat saat semua ini selesai." Raut ekspresi bahagia terlintas wajah Darza.


Namun tidak lama kemudian, pergerakan para monster Dungeon berubah, mereka meyebar ke sisi bagian lain dari dinding perbatasan.


Itu tidak membuat Darza khawatir, karena jumlah monster sudah berkurang banyak. Hingga seorang prajurit yang bertugas sebagai pengawas datang untuk melaporkan situasi.


"Komandan Darza, kami melihat ada empat sosok monster besar yang muncul."


"Monster besar ?, Seperti apa ?."


"Dari sepengetahuan kami, itu adalah....."


Tapi belum sempat prajurit pengawas itu menjawabnya, sekilas bayangan besar muncul di atas langit dan terdengar pula suara langkah kaki yang membuat tanah bergetar.

__ADS_1


Darza melihat ke atas langit dan matanya terbuka lebar, itu karena dia pun tahu sosok besar seperti apa yang kini muncul.


Tanpa bisa mereka bersiap, sebuah batu terlempar dari jauh dan menghantam dinding perbatasan hingga hancur dari jarak yang cukup jauh.


Darza terlempar jatuh kebawah dan raungan keras suara menggema. Itu adalah para penguasa lantai Dungeon yang kini naik ke permukaan.


Dan kini bencana datang. Ratusan monster merayap naik melewati dinding perbatasan.


Kemunculan para penguasa lantai adalah mimpi buruk karena mereka masuk dalam kesetaraan kategori tingkat A - SS, terlebih lagi sekarang ada empat penguasa lantai yang memasuki wilayah kerajaan.


Golem elemen api, Raja burung Carmalin, Minotaur, Ular kepala dua.


Bagikan neraka, rumah-rumah hancur, api membakar, ratusan orang tewas, teriakan penduduk yang masih selamat tidak berhenti meminta pertolongan.


Mereka semua berusaha menyelamatkan diri dengan berlari penuh ketakutan menuju dinding perbatasan wilayah tengah.


Namun evakuasi tidak berjalan lancar, para monster yang keluar dari dalam Dungeon sudah semakin dekat setelah menembus pertahanan pasukan kerajaan dan tidak bisa dihentikan.


Sedangkan sekumpulan penduduk di wilayah timur dan selatan berkumpul hingga membuat semua tampak penuh sesak.


Mengetahui kondisi tidak bisa membiarkan terlalu lama, satu prajurit di atas tembok memberi sebuah peringatan berupa suara lonceng tanda bahaya.


"Kami masih di luar, tolong jangan tinggalkan kami."


"Menyingkir kalian semua, kami tidak bisa membiarkan monster-monster itu masuk ke wilayah tengah."


"Tapi...."


Tidak peduli soal teriak ketakutan para penduduk, gerbang besar pun jatuh dan menutup satu-satunya jalan selamat bagi mereka.


Semua orang yang tertinggal di wilayah luar itu merasa tidak memiliki kesempatan untuk bisa selamat dari bahaya. Bahkan saat ini lima ekor monster sudah bersiap menyerang.


Satu wanita paruh baya tidak bisa menyelamatkan diri, nyawa di ujung tanduk, hanya menunggu cakar dari sang monster datang untuk mengakhiri hidupnya.


"Tolong..." Lirih suara wanita paruh baya itu memohon.


"BERHENTI...." Ucap seseorang.

__ADS_1


Merasa takut hingga tidak berani membuka mata. Tapi seakan ada keanehan yang terjadi, dimana dia masih selamat dan setelah melihat, lima sosok monster itu berhenti bergerak.


Semua orang melihat ke arah suara yang tiba-tiba saja muncul.


Dia Tifa yang kini berdiri di depan barisan dan menggunakan mata Ra'e untuk memberi perintah kepada para monster itu.


"Nyonya Mivea, kenapa kau..." Suara seseorang terkejut ketika melihat mata merah yang menyala dari Tifa.


"KALIAN SEMUA BUNUH MEREKA."


Mengikuti apa yang diperintahkan oleh Tifa ke lima monster kini berbalik untuk menyerang monster-monster lain dimana bergerak semakin dekat.


"Nyonya apa kau baik-baik saja, cepatlah pergi ke belakang, biar aku yang menjaga di sini." Ucap Tifa tersenyum tulus.


Seketika tubuh Tifa jatuh, dia menggunakan sebagain besar energi sihir itu untuk mengaktifkan mata Ra'e. Remus datang dan segera membantu Tifa berdiri.


"Sudah aku katakan untuk tidak menggunakan kekuatan sihirmu lagi." Ucap Remus lembut.


"Tapi jika aku tidak melakukannya, orang-orang dalam bahaya."


Keduanya tahu seperti apa sifat masing-masing, begitu juga Remus. Dia sadar bahwa meski pun mereka bukan manusia tapi Tifa tidak bisa meninggalkan siapa pun.


"Kau itu... Selalu saja mementingkan orang lain. Sepertinya kita harus mencari rumah baru untuk nanti." Remus tahu apa konsekuensinya saat menunjukkan kemampuan mata iblis Ra'e.


"Kita pikirkan itu nanti, sebaiknya kita cari cara agar semua orang bisa selamat."


"Aku mengerti."


Penyerangan belumlah berakhir, hanya lima monster yang dia kendalikan itu cukup mudah di kalahkan oleh monster lain.


Remus dan Tifa sudah yakin untuk keputusan mereka, meski keduanya adalah ras iblis, tapi kehidupan di kerajaan Villian memiliki banyak kenangan. Sehingga tidak bisa membiarkan begitu saja.


"Tuan Remus, biar aku ikut membantu..." Ucap seseorang.


"Tenang saja tuan Remus, aku akan berjuang dengan anda." Orang lain pun datang.


"Jadi ini adalah saatnya untuk aku menunjukan kekuatan yang aku miliki."

__ADS_1


Orang-orang itu adalah para Hunter yang benar-benar mengenal siapa sosok Remus, dokter baik hati dimana mereka selalu mendapat bantuan dalam keadaan susah.


Tapi tidak hanya mereka bertiga, kini sekelompok Hunter yang awalnya berusaha melarikan diri membentuk barisan di depan Remus dan Tifa. Bersama-sama berjuang keras untuk menjaga para penduduk yang tidak berdaya.


__ADS_2