KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
Golden frog


__ADS_3

Zen bersama kelompok Hunter Orsinan yang di pimpin oleh kapten Drull, kini berada dalam satu pertarungan melawan binatang iblis kategori B, Golden frog atau katak emas.


Katak emas memiliki tubuh kecil hampir sama seperti katak normal pada umumnya, tapi kecepatan dan kekuatan lompat dari binatang iblis satu ini mampu membuat tumbang sebuah pohon.


Hidup di sebuah rawa hutan besar Orindo wilayah kerajaan Zorgan yang memang menjadi habitatnya, katak emas bersembunyi di balik tanah lumpur, dimana kemudian akan menyerang siapa pun ketika merasa terancam.


Katak itu memiliki tubuh seperti besi, kecepatan kaki yang melompat sangat jauh dan menghantamkan tubuh secara langsung. Bagi para Hunter dengan jam terbang tinggi, katak emas bukan hal sulit, mereka hanya perlu waspada serta bersiap menangkis menggunakan perisai.


Tapi lain ceritanya untuk kelompok Hunter Orsinan yang tidak lebih sekedar amatiran, peringkat besi. Karena itu kapten Drull meminta bantuan Zen sebagai bentuk latihan kepada semua anggotanya.


Melangkah di dalam rawa hampir setinggi pinggang orang dewasa, tentu menjadi hal sulit bagi Eri, dia adalah anggota wanita bertubuh pendek, sekitar 153 cm. Perkiraan Zen. Tapi itu juga membuat separuh badan Eri terjebak dan kesulitan bergerak.


Zen membantu Eri dengan mengangkat tubuhnya ke atas pundak, dimana Eri juga bertugas sebagai pengawas wilayah sekitar dan mencari keberadaan katak emas.


Memang kemampuan penglihatan mata Eri sangat tajam, dia berada di posisi sebagai assassin yang bertugas untuk mengamati musuh, menyelinap, mencari posisi menyerang dan membunuh secara sembunyi-sembunyi.


Tidak lama setelah Zen dan semua orang memasuki rawa hutan, Eri sudah menemukan satu ekor katak emas yang berdiam diri di atas akar pohon bakau.


"Kau benar-benar luar biasa, aku bahkan tidak bisa melihatnya dari sini." Ucap Zen kagum.


Jarak antara mereka dan katak emas itu sekitar dua ratus meter, jadi untuk pandangan mata manusia biasa hampir mustahil melihatnya.


"Tentu saja, aku memiliki skill khusus bernama 'Lintasan Mata' jadi apa pun yang ada dalam zona mataku akan terlihat." Eri membanggakan dirinya sendiri.


"Ya harus aku akui, kemampuan Eri adalah skill yang sangat berguna, tapi sayangnya hanya itu yang bisa dia banggakan." Balas Senko tidak memberi kesempatan untuk Eri terlihat hebat.


"Jangan sembarangan kau Senko, aku juga ahli dalam memanah." Saut Eri kesal.


Giliran Zen yang bertanya..."Jadi apa kau bisa menyerangnya dari jarak sejauh ini."


"Itu mustahil, terlalu jauh, panah yang aku miliki tidak cukup kuat menembus tubuh kayak emas dan juga kecepatan angin di rawa ini akan membuat anak panah berbelok tidak teratur." Eri menjawab dengan wajah tersenyum pahit.


Zen pun sadar, jika skill itu bisa melihat dari jarak jauh dan mengukur kecepatan angin, Eri memiliki kemampuan yang cukup luar biasa untuk seorang Hunter amatir.

__ADS_1


Hanya saja, peralatan Eri terlalu biasa sehingga tidak mampu memaksimalkan kemampuan yang dia miliki.


"Kalau begitu coba kau gunakan senjataku."


Zen menggunakan skill pencipta dan memunculkan busur serta anak panah terbuat dari platinum, tentu itu akan menjadi senjata luar biasa di tangan yang tepat.


"Baiklah... Aku akan mencobanya." Jawab Eri mengambil busur panah itu dari Zen.


Eri segera melompat naik ke satu dahan pohon terdekat, dia segera bersiap untuk menargetkan satu katak emas yang kini berada di akar pohon bakau.


Perlahan mengatur nafas, menarik busur ke depan sesuai dengan petunjuk skill 'lintasan mata' dan ketika busur dia lepas, melesat anak panah itu bergerak cepat lurus tanpa terpengaruh oleh kekuatan angin.


Zen dan orang-orang yang ada di bawah penasaran ketika melihat Eri tampak tertegun untuk menunjukkan ekspresi bingung di wajahnya.


"Eri apa itu berhasil ?." Kapten Drull bertanya tapi Eri tidak menjawab.


Dia segera turun dan kembali ke atas pundak Zen, Eri tersenyum lebar yang terlihat seperti anak kecil dengan mainan baru di tangan.


"Syukurlah kalau begitu, jika kau suka, kau bisa memilikinya."


Sejenak tertegun..."Apa kau yakin ?. Aku pikir busur dan panah ini sangat mahal."


"Jangan kau pikir tentang harganya, itu murah." Bagi Zen bahkan dia tidak perlu mengeluarkan sekeping uang dari dalam saku.


Semakin lebar senyum di wajah Eri dan mata yang berbinar-binar karena tahu seberapa berharga senjata pemberian Zen.


"Terimakasih banyak, Zen. Aku menyukaimu." Santai saja Eri mengatakan itu.


"Ya sama-sama, tapi jangan sembarangan bicara, kau bisa membuat lelaki salah paham, Eri."


Tapi lirikan mata Eri tertuju ke Hiyo di dengan senyum aneh seperti sedang menggodanya. Dan memang benar, saat itu juga wajah Hiyo tampak merah merona karena malu.


"Kenapa kau melihatku seperti itu Eri." Hiyo merasa risih.

__ADS_1


"Tidak bukan apa-apa." Balas Eri.


Setelah Senko kembali dengan membawa mayat katak emas yang tewas tertancap anak panah dari Eri. Tentu perasaan iri ketika dia tahu bahwa busur itu sendiri adalah senjata berkualitas tinggi.


"Kau beruntung, karena mendapat senjata yang hebat, kini aku percaya bahwa kemampuan seseorang haruslah ditunjang dengan peralatan berkualitas, jika tidak maka itu akan sia-sia."


Hanya saja kapten Drull merasa tidak nyaman karena sikap Senko yang secara terang-terangan ingin mendapat sesuatu dari Zen.


"Jangan bicara yang tidak-tidak Senko, meski kita memiliki senjata berkualitas tinggi tapi tidak dengan skill tentu semua akan percuma." Kapten Drull coba memberi isyarat agar Senko menjaga sikap.


"Iya aku tahu kapten."


Tapi Zen memang sadar, bahwa setiap peralatan yang digunakan oleh kelompok Hunter Orsinan adalah senjata kelas rendah. Seperti perisai milik kapten Drull itu sudah cukup tua dan usang, andaikan harus menahan serangan katak emas tidak akan mampu bertahan lama.


"Kalau begitu bagaimana jika kita buktikan tentang perkataan saudara Senko." Ucap Zen.


Tanpa perlu ragu-ragu dia mulai menciptakan banyak senjata serta peralatan bertarung yang lain.


"Apa kau yakin dengan ini Zen ?." Kapten Drull merasa tidak nyaman.


"Tentu saja, pilih yang cocok untuk digunakan."


Kapten Drull mendapat pedang besar dan perisai. Senko sebilah pedang panjang ukuran biasa, Eland mendapat sebuah kapak, dan Eri pula ingin belati dari Zen. Semua peralatan itu adalah senjata berkualitas tinggi atas bahan platinum.


Hiyo tampak murung, dimana dia tidak bisa menemukan tongkat sihir yang menjadi senjata untuknya.


"Hiyo, kau bisa memiliki ini." Zen mengeluarkan tongkat sihir dari dalam dimensi penyimpanan.


Secara khusus Zen memberikan senjata kepada Hiyo, karena tongkat sihir bukan sesuatu yang bisa dia ciptakan. Dimana batu energi di ujung tongkat adalah batu jiwa milik binatang iblis dan sudah dimodifikasi.


Tongkat berbahan dasar platinum dan satu batu jiwa dengan warna hitam pekat sebesar kepala manusia. Itu berasal dari binatang iblis kategori SS, Ratu semut hitam yang dia kalahkan kemarin.


Tentu tongkat itu sendiri bukan sembarangan, di kerajaan Zorgan sekali pun, mustahil ada orang yang bisa memiliki batu jiwa dari binatang iblis kategori SS.

__ADS_1


__ADS_2