KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS

KISAH PAHLAWAN DAN IBLIS
keluarga


__ADS_3

Satu pasang suami istri berjalan keluar dari sebuah rumah yang berada di pinggiran kota Worbrug, sebuah tempat di wilayah perserikatan Lomania, kekuasaan milik keluarga Brownhan.


Mereka adalah tuan Serhan Arta Mivea dan istrinya, Yusari Arta Mivea. Dimana mereka berdua memiliki satu rahasia besar, yaitu sebagai ras iblis kaum Ra'e.


Hidup di dunia yang berisi manusia, Serhan dan Yusari harus bisa menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat di bermacam tempat. Mereka akan terus berpindah-pindah, demi bertahan hidup melanjutkan keturunan bagi kaum Ra'e yang terasingkan.


Termasuk juga dengan identitas mereka yang akan terus berganti nama, tiap kali berpindah tempat karena ketahuan rahasia sejati sebagai ras iblis. Seperti sekarang, dimana sebelumnya mereka bernama Remus Arta Mivea dan Tifa Arta Mivea.


Namun untuk suatu kejadian tidak terduga membuat mereka harus terusir dari tempat tinggal yang lama.


Dan sekarang, Serhan bekerja sebagai seorang dokter selama hampir satu bulan yang membuka praktik di tengah kota Worbrug, sedangkan Yusari hanya menjadi ibu rumah tangga.


"Oh, tuan Serhan, selamat pagi, berangkat kerja ?." Panggil seorang wanita tua yang menjadi tetangga mereka.


"Pagi juga, nyonya Mi'e, seperti biasa, ada banyak orang yang sakit dan harus dibantu." Jawab Serhan.


"Sungguh anda benar-benar dermawan, terimakasih juga untuk bantuan anda, sekarang cucuku sudah lebih baik, aku tidak tahu harus membayar dengan apa, kami hanya keluarga miskin, sehingga sulit untuk membawa cucuku ke dokter." Ungkap nyonya Mi'e penuh rasa terimakasih.


"Tidak perlu membayarnya, nyonya, itu sudah menjadi tugas untuk dokter, jadi aku harus menolong siapa pun." Dengan besar hati Serhan menjawab tersenyum lembut.


Mi'e memberi jabatan tangan yang menunjukkan bagaimana dia sangat bersyukur..."Aku harap semua manusia memiliki hati seperti anda."


"Terimakasih nyonya Mi'e."


Serhan bukan iblis yang menjadikan manusia sebagai musuh, dia sudah hidup lama untuk membantu para manusia sebagai seorang dokter.


Tidak peduli tentang masalah antara iblis dan manusia yang saling bermusuhan satu sama lain, Serhan tetap menjalani hidup sebagaimana mestinya.


Datang ke wilayah kota, ada banyak orang menyapa dirinya, dia tersenyum ramah, sesekali bercengkrama untuk membicarakan hal-hal sederhana seperti soal perekonomian keluarga atau pun berkomentar tentang masakan istri mereka yang itu-itu saja.


Kebaikan seorang dokter dermawan sudah membuat orang-orang di kota Brownhan kagum. Disaat sebagian besar para ahli pengobatan mematok harga tinggi untuk sekali konsultasi.


Dokter Serhan secara cuma-cuma tidak meminta uang bagi mereka yang kurang mampu. Tentu ada banyak dari mereka hidup dalam kesulitan ekonomi, sedangkan penyakit terus menggerogoti tubuh tanpa pernah bisa mereka obati.


Tapi karena perbuatan Serhan itu juga, membuat dokter-dokter lain marah. Seperti halnya sekarang, sudah berkumpul lima orang di depan balai pengobatan yang dia dirikan dengan niat jahat.


"Siapa kalian ?." Tanya Serhan dengan tatapan curiga.

__ADS_1


"Kami mendapat perintah untuk mengusir anda dari kota ini." Jawabnya.


"Memang siapa yang memerintahkan kalian ?, Aku disini sudah membayar pajak, jadi kalian tidak berhak mengusir ku." Balas Serhan tegas.


"Kau tidak perlu tahu, kami harap kau mau pergi tanpa ada perlawanan, dengan begitu kau mempermudah pekerjaan kami agar tidak menggunakan cara paksa." Dia pun menunjukkan ancaman.


"Aku tidak mau melakukannya." Serhan menolak.


"Kalau begitu maaf saja, aku harus melakukan dengan kasar."


Serhan tidak takut, dia pun sudah siap untuk melawan, tapi belum sempat mereka berlima maju, satu pukulan datang dari belakang dan menyingkirkan mereka berlima sekaligus hingga terpental jauh.


"Kalian semua mengganggu jalan ku...." Suara seorang lelaki terdengar kesal.


Melihat apa yang dia lakukan, tentu membuat Serhan terkejut, karena kelima orang itu memiliki tubuh besar dan kekar, tapi olehnya hanya perlu satu kali pukulan saja hingga membuat mereka semua terkapar tidak sadarkan diri.


"Sepertinya aku terlalu berlebihan."


"Itu bukan masalah tuan, aku pikir mereka memang pantas mendapatkannya."


"Salah mereka sendiri karena menghalangi jalanku." Santai lelaki itu menjawabnya.


"Ayah memang terlalu baik...." Ungkapnya.


Namun setelah Serhan pergi bekerja, dia coba bercengkrama dengan para tetangga sekitar. Dan kini Yusari beranjak masuk ke dalam rumah dengan wajah rumit dan murung.


Tatapan matanya kosong, melihat sebingkai gambar anak lelaki terpajang di dinding kamar, dimana dia adalah anaknya yang dinyatakan tewas ketika sekeluarga tinggal di kerajaan Villian.


Kehilangan satu-satunya putra yang dia cintai, membuat Yusari harus menanggung penderitaan mental selama berminggu-minggu, hingga kini bayangan anak lelakinya masih hadir dan itu terasa menyedihkan.


Ketukan pintu keras dan suara Serhan terdengar dari luar.


"Tifa, Tifa cepat kau buka pintunya." Suara Serhan terdengar terburu-buru.


Yusari pun merasa aneh karena suaminya memanggil dengan nama asli...."Ya, tunggu sebentar."


Ketika pintu terbuka, Yusari melihat Serhan kini berdiri dengan wajah lelah namun menunjukkan senyum yang begitu cerah.

__ADS_1


"Lihat siapa yang kembali, Tifa." Ucap Serhan penuh semangat.


"Siapa yang kau maksud ?." Yusari bingung.


Mata Yusari terbuka lebar, tetes air mata membasahi pipi, dia melihat satu sosok lelaki yang selalu hadir di dalam pikirannya.


"Zen...." Lirih suaranya terdengar menyebut nama sang anak.


"Ya ibu, Aku kembali." Lelaki itu memberi pelukan erat setelah sekian lama pergi.


"Kau masih hidup, kau masih hidup." Ucap Yusari atau Tifa tanpa menahan emosi yang dipenuhi tangisan.


Zen menjelaskan semuanya, tentang perjuangan bertahan hidup di dalam Dungeon, hingga ketika kembali, dia hanya menemukan puing-puing bangunan yang sudah hancur oleh penyerangan para monster.


Termasuk juga, perihal diusirnya mereka berdua dari kerajaan Villian, itu membuat Zen marah.


"Tifa, ternyata Zen juga membawa seorang wanita cantik, ini adalah Eri ." Ucap Serhan penuh rasa senang.


"Dimana ?."


Seorang wanita muda pun berjalan maju dan disambut oleh Tifa dengan tersenyum senang. Hanya dengan melihat Zen masih hidup sudah membuat keduanya bahagia.


Di tambah lagi dia bersama wanita cantik. Tentu satu pertanyaan terlintas dalam pikiran Tifa.


"Apa kau pacar Zen ?." Tanya Tifa penuh harapan.


Eri ragu-ragu untuk menjawab, namun saat melihat ke arah Zen, dia diminta untuk mengangguk.


"Ya ibu."


"Baguslah... Aku berpikir karena dia tidak pernah membawa wanita, jadi dia tidak suka dengan wanita." Ucap Tifa asal saja.


"Jangan bicara yang tidak-tidak ibu, aku masih normal." Tegas Zen membantah anggapan dari ibunya.


"Sudahlah, kita bahas itu di dalam, ayo masuk."


(Note : untuk jilid pertama End ya kak... jilid ke dua akan hadir bulan depan, Zen dan Eri akan pergi ke akademi Zezzanaza.

__ADS_1


Bulan Juni author akan melanjutkan the over lord.)


__ADS_2