
Di sisi lain.... Zen yang tahu bahwa keramaian parade raja akan membuatnya kerepotan, sehingga dia lebih memilih untuk menyelinap pergi dari sana dan segera pulang.
Melihat wilayah kerajaan perbatasan timur memang tidak bisa dikatakan baik-baik saja, sebagian besar rumah-rumah penduduk sudah hancur rata dengan tanah.
Zen segera pergi ke rumahnya karena dia pun khawatir akan keselamatan Tifa dan Remus. Tapi apa yang Zen temukan hanya puing-puing saja, sedangkan dua orang tuanya tidak terlihat.
Hanya ada satu orang yang kini menghampiri Zen, dia adalah tetangganya. Nyonya Ashley, Ibu dari teman baiknya Fugo.
Wajah nyonya Ashley tampak terkejut, menatap sendu dengan langkah kaki sedikit pincang karena luka yang terlihat masih baru.
"Nak kau selamat.." ucapnya.
"Iya Bu, dimana ayah dan ibu ?." Tanya Zen bingung.
"Mereka....." Rumit wajah tetangganya itu untuk menceritakan kejadian tentang Tifa dan Remus.
Semua yang terjadi saat penyerangan monster-monster dari dalam Dungeon, dimana separuh kerajaan Villian hancur lebur, sehingga Tifa dan Remus berjuang untuk membantu orang-orang agar bisa selamat dari serangan para monster.
Hanya saja, bantuan yang kedua orang tua Zen lakukan, membuat penyamaran mereka sebagai ras iblis diketahui oleh semua orang. Raja memerintahkan prajurit untuk menangkap Remus dan Tifa karena dianggap menjadi dalang atas kekacauan itu.
Tapi ada banyak orang yang pernah di tolong oleh Remus memberi pembelaan, mereka berusaha melawan keputusan sang raja dan membebaskan mereka dari kesalahan.
Pada akhirnya, keputusan sang raja adalah mengusir mereka berdua dari kerajaan Villian.
"Si*al... Orang-orang itu berani-beraninya." Marah Zen dengan tangan mengepal kuat.
Nyong Ashley menggenggam tangan Zen...."Nak jangan buat masalah lagi untuk tuan Remus dan nyonya Tifa, mereka pasti akan senang setelah tahu jika kau berhasil selamat."
Zen sedikit melunak, dan berusaha untuk memahami kondisinya sekarang.
"Jadi kemana Ayah dan ibuku pergi." Tanya Zen.
"Aku pun tidak tahu, tiga hari lalu mereka terlihat putus asa dan pergi begitu saja tanpa memberi tahu kemana tujuannya nanti." Ucap Nyonya Ashley dengan kepala menggeleng perlahan.
Zen pun sadar dia tidak bisa tinggal di tempat ini lagi, tapi seperti yang di janjikan kepada ibunya, jika dia akan pergi ke akademi sihir Zezzanaza.
__ADS_1
"Mungkin sekarang waktunya, aku harus pergi dari kerajaan ini."
Malam harinya....
Zen mendatangi kediaman keluarga bangsawan Ars, dimana itu adalah tempat tinggal keluarga Sena yang terletak di wilayah pusat kerajaan.
Sebelum dirinya pergi meninggalkan kota kerajaan Villian, tentu dia ingin memberi salam perpisahan kepada Sena, bagaimanapun juga hubungan keduanya sudah sangat dekat untuk berbagai alasan.
Menerobos masuk dengan melewati pagar pembatas, karena gerbang utama di awasi ketat oleh para penjaga. Lepas berada di halaman luar rumah, dia mulai mencari keberadaan Sena.
seperti yang di harapkan dari kediaman seorang bangsawan sekelas keluarga Ars, Ada lebih dari 37 ruangan dan sebagian besar dari itu adalah tempat untuk bersenang-senang.
Zen melompat naik ke atas rumah mencari keberadaan dengan merasakan aura Sena yang kini ada di dalam salah satu kamar.
Mengintip melalui jendela kamar, Zen bisa melihat kini Sena sedang merebahkan diri di atas ranjang.
Ketukan kaca menarik perhatian Sena. Dia pun melihat sedikit terkejut karena sosok Zen muncul dari balik jendela.
"Zen kenapa kau disini." Ucapnya bingung.
"Apa perlu alasan untuk aku datang ke rumahmu karena rindu." Itu cukup menjadi alasan ketika Zen harus menjawab pertanyaan Sena.
Melangkah masuk kedalam kamar Sena dan memberi pelukan erat. Hanya saja, ekspresi Zen berubah, dia terlihat serius untuk bicara tentang hal lain.
"Dan juga aku ingin berpamitan. Sepertinya aku tidak bisa menetap di kerajaan ini lagi."
"Kenapa ?..." Sena bingung karena terlalu mendadak.
"Orang-orang tahu tentang rahasia orang tuaku dan mengusir mereka, aku tidak tahu dimana sekarang keberadaannya, sehingga aku harus pergi sebelum masalah datang." Ucap Zen sedikit bercerita.
"Tapi bagaimana denganku, apa kau juga akan meninggalkan ku, melupakan semuanya dan mencari wanita lain." Itu yang menjadi kekhawatiran Sena.
Mengambil tangan Sena dan menggenggamnya erat..."Tentu tidak Sena, aku akan tetap mencintai mu, tapi untuk sekarang aku harus pergi."
Tiba-tiba saja tangan Sena menarik paksa tubuh Zen hingga ikut merebahkan diri di atas ranjang dengan tubuh yang saling berpelukan.
__ADS_1
"Kenapa tiba-tiba ?, Apa kau tidak bisa bersabar."
"Untuk apa aku harus bersabar, sedangkan kau akan pergi meninggalkan ku." Sena mengeluh.
"Jangan beranggapan seperti aku adalah bajingan yang begitu saja pergi tanpa alasan." Ucap Zen merasa tidak nyaman.
"Aku tahu itu. Tapi biarkanlah malam ini kita berdua bisa melakukannya." Bisik Sena menggoda Zen.
Merasakan benda bulat dan kenyal di pelukan itu, Zen menjadi bersemangat, terlebih Sean mulai menggoda dengan sentuhan jari jemari lembut yang ingin memaksa keluar senjata di balik celana.
Berbeda dari dunia ilusi dimana keper*awanan Sean sudah hilang, tapi di dunia nyata ini, semua masih utuh dan tetap tersegel.
Bagaimana pun juga semua kejadian yang mereka lakukan selama tiga Minggu lebih di dimensi ilusi benar-benar nyata jelas dalam ingatan. Sean tersenyum nakal, bibir mulai menggoda dan bermain-main dengan senjata milik Zen.
Di luar ruangan Suara ketukan pintu terdengar.
"Sena, pangeran datang untuk bertemu denganmu." Ucap suara wanita dan itu adalah ibunya.
Begitu terkejut dan kebingungan, dimana kehadiran pangeran mahkota Alvardo sangat mendadak di waktu yang tidak tepat. Karena barulah dia mulai bermesraan tapi pengganggu pun datang.
"Aku masih lelah, tolong jangan ganggu aku sekarang hmmmmm." Ucapan Sean di akhiri rintihan yang tertahan.
"Jangan bicara seperti itu, pangeran jauh-jauh datang untuk bertemu denganmu, berikan dia waktu." Paksa sang ibu tegas.
"Ahhhhh.... Tapi aku benar-benar tidak bisa ibu. Besok saja, tol.... long." Suara Sena tertahan dengan nada yang lemas.
Dari luar kamar Sean, pangeran mahkota Alvardo berusaha bersikap sopan sebagaimana keluarga bangsawan penuh wibawa.
Meski sedikit hati ada kekesalan terlintas di wajah Alvaro, dia yang hidup di penuhi segala macam kenikmatan duniawi, tidak perlu memilih atau memohon kepada para wanita agar mendapat perhatian.
Mereka akan senantiasa datang untuk bertemu dengan dirinya dan suka rela menyerahkan jiwa raga. Tapi Sena berbeda, dia wanita yang memiliki kecantikan luar biasa dan harga diri sulit di taklukan.
Tentu pangeran Alvardo merasa tertantang dan ingin mendapatkan seorang Sena, sang pahlawan utusan Dewa, sehingga dia tidak bisa bersikap arogan di depan keluarga Ars, karena ini akan memberi citra buruk di hadapan Sena.
"Tidak apa ibu. Mungkin putri Sean memang butuh istirahat." Jawab Pangeran tersenyum pahit.
__ADS_1
"Kau benar-benar lelaki baik hati pangeran." Balas sang ibu sebagai bentuk pujian agar membuat Pangeran tidak merasa tersinggung.
Pangeran Alvardo adalah pembohong besar, dia seorang lelaki yang rakus untuk segala kecantikan wanita. Dewa berpihak kepadanya, tentang status, kekayaan dan juga ketampanan, semua faktor itu menjadi pendukung bagi sang pangeran agar menikmati hidup dengan semua wanita yang dia inginkan.